
Bagaskara nampak berang mendengar penuturan Alina yang nampak acuh padanya dan menganggap dirinya seolah tak ada.
"Ini tetap menjadi urusan Mas, Alina! kau masih berstatus kekasih ku, berani-beraninya kau bertelfonan dengan laki-laki lain selain diriku. Pantas saja kau mengabaikan telfon dan pesan ku sampai ratusan kali. Ternyata kau asyik berduaan dengan laki-laki lain selain diriku!" pungkas Bagaskara dengan mata yang mulai merah menyala antara rasa cemburu, benci dan dendam terhadap Alina Cahya Kirani.
Bagaskara tidak rela melihat Alina berkomunikasi dengan laki-laki lain, baginya Alina adalah miliknya seutuhnya.
Alina menghembus nafasnya kasar, ia yang juga tak terima Bagaskara bersama wanita lain dihadapannya pun tak tinggal diam, ia pun membela dirinya.
"Lalu apa bedanya Mas dengan Alina? bukankah Mas pun melakukan hal yang sama dibelakang Alina? Mas juga memiliki hubungan spesial dengan Maharani dan juga kak Desi, jadi Mas nggak punya hak untuk melarang Alina untuk bersama siapa pun. Selain itu, hubungan kita pun tak layak untuk di perjuangkan. Ingat Mas, kita ini adik sepupu!" Alina beranjak dari kursinya dan hendak masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Bagaskara dirumahnya. Namun, pergerakan di tahan oleh Bagaskara Ardhana Putra.
"Ikut aku sekarang!" Bagaskara menarik lengan Alina dengan paksa.
"Lepaskan, Mas! kau sudah gila!" bentak Alina dengan berusaha melepaskan pegangan tangannya dari Bagaskara Ardhana Putra.
Namun, Bagaskara menggenggam erat tangan Alina dan membawa Alina menjauh dari rumahnya. Ia menarik Alina untuk duduk di bangku santai dibawah pohon rambutan.
Untung saja keadaan sedang sepi, tidak ada orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang. Ibu Chintya dan Ayah Farel, orangtuanya Alina sedang di dapur menikmati hidangan makan malam. Sehingga tidak mendengar pertengkaran Bagaskara dan Alina di teras rumah.
Bagaskara menarik dagu Alina agar mendekat dengan wajahnya. ia pun memandangi wajah Alina dengan deru nafas yang memburu, membuat degup jantung Alina terasa tak beraturan. Bagaskara menyusuri setiap inci wajah Alina dengan menggunakan jemari tangannya dan berakhir di bibir ranum milik gadis belia tersebut.
"Alina Cahya Kirani, kau hanya milik ku seorang! jangan mencoba untuk berpaling dari ku!" ucap Bagaskara dengan mengecup bibir Alina. Namun Alina menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Hingga yang di kecup Bagaskara adalah punggung tangannya bukan bibir manisnya.
__ADS_1
"Kenapa kau terus menolak ku Alina?" Bagaskara melepaskan Alina dari kungkungannya. Nafsunya perlahan meredup melihat Alina yang tidak merespon keinginannya.
"karena aku tidak ingin menodai diriku, aku hanya akan memberikan kesetiaan ku dan seluruh yang ada pada diri ku pada insan yang memang telah halal untuk menjadi imam ku. Bukan untuk sembarang orang!" pungkas Alina dengan menjaga jarak dengan Bagaskara.
"Kau semakin berani menentang ku Alina! sebenarnya apa mau mu, aku sudah berusaha untuk meyakinkan mu jika Maharani atau pun Desi atau yang lainnya bukan siapa-siapa untuk ku. Aku hanya mencintaimu Alina!" tegas Bagaskara dengan menarik Alina dalam dekapannya.
"Aku tidak sanggup lagi bertahan dengan Mas, semakin kita menjalani hubungan ini. Semakin terasa sakit, aku ingin lepas dari Mas Bagas. Kenapa Mas selalu mengikat ku? Aku ingin bebas, Mas!" pungkas Alina dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Bagaskara Ardhana Putra.
Alina menangis sesenggukan, mengeluarkan segala isi hatinya. Entah kenapa dirinya begitu sensitif sekali akhir-akhir ini. Ia terlihat sangat sedih dan murung semenjak Bagaskara menghembuskan dirinya dengan ajian pengasihan yang membuat perasaannya selalu tertuju pada Bagaskara walaupun sekuat apapun ia ingin lepas dari jerat cinta sepupunya itu.
Bagaskara menyeringai licik, di elusnya pucuk kepala Alina sembari menghembuskan kembali ajian pemikat hati agar Alina tetap bertahan untuknya dan tidak bisa lepas dari ikatan cintanya.
"Kau benar-benar lemah Alina, mudah sekali untuk menundukkan mu menjadi milik ku! kalau bukan memikirkan jika dirimu memiliki ikatan keluarga dengan ku, ingin rasanya saat ini juga ku miliki segala ragamu. Namun, melihat hati mu masih terpaut dengan ku setidaknya itu cukup membuat ku tenang!" bathin Bagaskara dengan terus mengusap pucuk kepala Alina.
"Mas, Alina merindukan Mas!" ucap Alina dengan air mata yang berderai. Di peluknya erat kekasih hatinya tersebut. Alina merasa berat dan tak ingin berpisah dari Bagaskara Ardhana Putra.
"Berjanjilah Mas, untuk tidak menyakiti Alina lagi! Alina tidak ingin Mas berhubungan dengan wanita manapun, kecuali hanya Alina seorang Mas!" timpal Alina yang tiba-tiba didera rasa cinta yang sangat luar biasa pada Bagaskara.
Alina menyentuh pipi Bagaskara dengan kedua telapak tangannya, "Alina sangat mencintai Mas Bagas!" ucap Alina dengan perasaan yang tiba-tiba bergejolak di hatinya.
"Mas juga mencintaimu, Alina!" ucap Bagaskara dengan mengusap air mata Alina Cahya Kirani.
__ADS_1
Bagaskara kembali mendekatkan wajahnya pada bibir mungil Alina. "Izinkan Mas menyentuh mu, Alina!" Alina pun memejamkan matanya, ia yang masih dibawah pengaruh sihir cinta Bagaskara pun seketika menuruti Bagaskara. Ia seolah-olah pasrah dengan segenap jiwa raganya untuk disentuh oleh lelaki yang katanya begitu sangat mencintai dirinya.
Baru saja Bagaskara ingin menyesap bibir mungil Alina pun harus gagal untuk yang kesekian kalinya, pasalnya ponsel milik Bagaskara berdering-dering mengganggu ritual cintanya yang hendak mencicipi manisnya bercinta dengan kekasih hatinya tersebut.
"Berdebah! siapa yang menganggu ritual ku!" umpat Bagaskara dalam hatinya. Ia pun mengecek ponselnya dengan sorot mata yang merah menyala seperti ingin menerkam mangsanya.
Alina yang sedang memejamkan matanya pun perlahan membuka matanya, ketika mendengar bunyi ponsel yang berdering-dering mengganggu indera pendengarannya.
"Apa yang terjadi, Mas? kenapa kita berada di dalam kegelapan malam, Alina takut disini! kenapa tubuh ku terasa melayang, kepala ku sakit sekali!" gumam Alina dengan memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Tidak ada apa-apa Alina, mari kakak antarkan kerumah!" Bagaskara mematikan ponselnya. Ia sangat kewalahan, sebab Desi, Maharani, Dela dan Chika yang barusan menjadi pacarnya kini bergantian menghubunginya, membuat Bagaskara merasa gusar. Pasalnya, dirinya masih bersama Alina. Ia khawatir tertangkap basah telah mendua dibelakang Alina.
Bagaskara memapah Alina yang terlihat sempoyongan berjalan menuju rumahnya, mereka berdua di sambut oleh ibu Chyntia dan Ayah Alina di ambang pintu.
"Kalian darimana? ada apa dengan Alina?" tanya Ayah Farel dengan bersedekap dada.
"Ma-af, Om. Tadi, kami keluar sebentar sekedar ingin mencari angin!" ucap Bagaskara gemetaran. Ia khawatir akan dimarahi oleh om Farel sebab telah lancang membawa Alina tanpa izin dari kedua orang tuanya.
"Astaghfirullah! Alina, ada apa Nak? kenapa kau tiba-tiba terlihat lemah bagini? bawa masuk ia kedalam!" pungkas Ibu Chyntia dengan mengarahkan Bagaskara untuk memapah Alina agar segera istirahat di kamar pribadinya.
***
__ADS_1
"Ha ... ha ... ha, syukurin kau Bagaskara Ardhana Putra! siapa suruh semua wanita kau embat, aku tidak akan berhenti untuk terus memata-matai mu! jangan harap kau bisa terus bahagia dengan rencana burukmu!" pungkas Maharani yang sejak tadi mengintip kejadian yang terjadi antara Bagaskara dan Alina.
"Hemmm ... aku puas melihat mu, merasakan segala kepedihan di hatimu Bagaskara Ardhana Putra!" bathin Maharani menyeringai licik.