Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 8 . Kemusyrikan dan Kebejatan Bagaskara Ardhana Putra


__ADS_3

Satu persatu santri yang belajar mengaji di tempat Bagaskara kini pun telah kembali kerumahnya masing-masing, tinggal Maharani yang masih menyelesaikan bacaannya.


Maharani ingin segera berpamitan dengan Bagaskara, namun tangannya tiba-tiba digenggam oleh Bagaskara dengan penuh kelembutan.


Maharani yang masih sangat belia tersebut merasa sangat tersanjung dengan perlakuan manis Ustadz tampan yang ada dihadapannya. Sepanjang hematnya dan juga keawwamannya Maharani mengira Bagaskara sangat menyukainya. Ia pun belum memahami tentang keharamannya bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya. Yang ia pahami hanya rasa cinta dan rasa suka terhadap lawan jenisnya.


Di masyarakat awwam banyak yang belum memahami jika pacaran dan sejenisnya itu tidak diperbolehkan dalam syari'at Islam. Yang mereka pelajari adalah tentang kewajiban sholat, puasa Ramadhan, bisa mengaji atau baca Qur'an itu sudah cukup. Padahal begitu banyak ilmu tentang syari'at yang belum mereka ketahui. Itulah pentingnya berilmu sebelum beramal, agar jangan sampai tersesat dan salah langkah. Seperti hal yang terjadi dengan Maharani dan Bagaskara khususnya.


"Kak, kak Bagas ma-af Maharani hendak pulang!" ucap Maharani dengan tertunduk malu. Rasa gugup tengah menyergapi relung hatinya. Pasalnya Bagaskara mengecup lembut jemari tangannya.


"Kak, kak Bagas. I-ini maksudnya apa?"Maharani semakin didera rasa gugup, tubuhnya tiba-tiba gemeteran menerima perlakuan manis Bagaskara terhadapnya.


Kemunafikan dan kebejatan Bagaskara pun semakin menjadi-jadi, "Neng Maharani, dengarkan Kak Bagas! kakak sangat menyukaimu," ucap Bagas dengan memandangi wajah Maharani yang sangat imut dengan bibir mungil juga hidung mancung, mata bulat dengan bulu matanya yang lentik semakin membuat Bagaskara terdorong untuk menggoda gadis belia tersebut.


"Ta-tapi, Kak." Maharani tiba-tiba terpikat dengan pesona Bagaskara ketika manik matanya tidak sengaja menatap ustadz tampan tersebut. Seketika Maharani terpana akan pesona Bagaskara Ardhana Putra.


"Kak Bagas, ia tampan sekali!" bathin Maharani yang tiba-tiba terhipnotis akan kharisma yang terpancar dari sosok Bagaskara.


"Berhasil! ini yang ketiga kalinya aku bisa menundukan wanita dengan ajian pemikat yang ku miliki. Benar-benar sangat ampuh! tapi meskipun ada 1001 wanita yang hadir dalam hidupku hanya Alina Cahya Kirani yang bertahta dihatiku. Sedangkan kaum hawa yang lainnya hanyalah sekedar pelampiasan ku, hanya untuk pelarian ku!" bathin Bagaskara yang semakin dipenuhi rasa yang menggila dihatinya.


Bagaskara benar-benar tenggelam dalam kesyirikan dan kemaksiatan yang merapuhkan benteng keimanannya. Tak terpikirkan lagi olehnya jika perbuatan syirik atau menyekutukan Allah Subhana wata'ala adalah dosa yang paling besar yang tidak diampuni oleh Allah.


Gelar Ustadz yang disandang olehnya memang benar hanya sekedar kedok untuk mengharumkan namanya di masyarakat. Ilmu yang berkaitan dengan syari'at yang pernah di pelajarinya di sekolahnya dulu tidak sedikitpun diamalkan olehnya. Bagaskara Ardhana Putra lebih memilih ajaran yang menyimpang dan menyesatkan dari kebenaran. Ia benar-benar tenggelam dalam kemusyrikannya.


Ditengah keheningan Bagaskara dalam memusatkan pikirannya untuk menghembuskan buhul-buhul cintanya pada Maharani ponselnya pun berbunyi, sehingga konsenterasinya pun seketika buyar.

__ADS_1


"Siapa gerangan yang menganggu konsenterasi ku?" bathin Bagaskara kesal dengan sorot mata merah menyala laksana bola mata syetan yang hendak memangsa musuhnya.


Bagas pun mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang menelfonnya, "Kau siapa? kenapa mengganggu ritual ku?" bentak Bagaskara dengan mata yang merah menyala seperti bola api.


"Mas Bagas, aku Alina Cahya Kirani. Ada apa dengan mu? maksudnya ritual apa, Mas?" Alina nampak terkejut mendengar ucapan Bagas yang tak seperti biasanya, terlihat kasar dan sangat menyakitinya.


"A-alina, ma-af." Bagaskara mengumpulkan kesadarannya, ajian pemikat hati yang ingin ia hembuskan pada Maharani santriwatinya pun seketika buyar dari pikirannya. Maharani pun tersadar dari keterpanaannya terhadap sosok Bagaskara Ardhana Putra yang berperan sebagai guru mengajinya.


"Kak Bagas, aku dimana?" tanya Maharani yang baru tersadar dari pengaruh mantra yang dihembuskan Bagaskara padanya barusan.


Bagaskara refleks menempelkan telunjuknya di bibir mungil Maharani. Sebab ucapan Maharani yang sangat berisik dan sangat mengganggu komunikasinya dengan Alina kekasihnya.


Maharani terdiam, ia memandangi wajah tampan Bagaskara yang kini begitu dekat dengannya.


"Siapa itu, Mas. Ini maksudnya apa?" tanya Alina mulai curiga dibalik telfonnya.


"Itu Maharani, murid mengaji ku. Kau tenang sayang, jangan berpikiran macam-macam!" sarkas Bagaskara dengan menenangkan Alina yang seolah-olah dilanda cemburu buta padanya.


"Baiklah, asal jangan sampai Mas ketahuan bermain hati dibelakang Alina. Jika itu terjadi Alina tidak akan pernah memaafkan Mas, walau dengan seribu kata maaf yang Mas lontarkan. Sebab, Alina tidak suka dikhianati dan dibohongi!" tegas Alina dengan mematikan telfonnya sepihak.


"Alina, tunggu! Mas bisa jelaskan semuanya," ucap Bagaskara. Namun, Alina sudah mematikan telfonnya sepihak.


"Hallo, hallo, Alina. Arghhhhh! betapa repotnya mengurusi wanita," pekik Bagaskara setengah frustasi. Namun, kegalauannya sedikit berkurang ketika melihat bibir mungil yang terlihat ranum milik Maharani yang masih duduk didekatnya. Di tariknya dagu dari gadis belia itu, hanya dengan persekian detik Bagaskara dapat merenggut ciuman pertama milik gadis belia itu.


"Kak, hmptttt!" ucap Maharani dengan deru nafas yang memburu. Sebab, itu pertama kalinya hal intim yang dialami Maharani sepanjang nafas umur hidupnya.

__ADS_1


Maharani yang masih dalam pengaruh ajian pemikat dari sosok Bagaskara Ardana Putra pun membiarkan pria dewasa yang memiliki rentang usia 10 tahun darinya itu beraktivitas di atas bibirnya yang memang belum pernah disentuh oleh pria mana pun.


Bagaskara menyudahi permainannya, ketika mendengar deru langkah kaki yang berjarak 2 meter dari rumahnya. Semenjak ia mempelajari ilmu hitam peninggalan almarhum ayahnya, Arya Arnenda. Bagaskara seolah dibisiki oleh sesuatu yang gaib ditelinganya jika ada sesuatu yang hendak mengintai dan membahayakan nyawanya.


"Jangan sampai ada yang mengetahui jika aku pernah menyentuh mu, ini demi kebaikan kita. Kau kan tahu aku seorang guru ngaji. Selain itu, nama dan popularitas ku sangat baik dimata masyarakat, jadi jangan pernah kau mencorengnya! tentunya kau dan orang tua mu akan menanggung malu dimata masyarakat jika kita ketahuan berbuat mesum seperti ini!" tegas Bagaskara dengan berbisik lembut ditelinga Maharani, membuat tubuh gadis manis nan ayu itu pun meremang.


"I-iya, Kak. Maharani akan menjaga rahasia kita!" ucap Maharani yang baru menyadari jika ciuman pertamanya telah direnggut oleh Bagaskara Ardhana Putra. Ia pun terisak dalam tangisnya. Menyesali hal yang telah terjadi diluar nalarnya.


"Jangan menangis! kau masih suci, hanya bibir manis mu yang ku resapi. Nanti pun dirimu akan terbiasa!" pungkas Bagaskara dengan kembali menghembuskan mantra pembungkam agar Maharani menuruti segala keinginannya.


Tanpa disadari kini telah berkumpul dua macam dosa besar yang semakin menyesatkan pemuda yang dulu pernah menjadi sosok laki-laki sholeh tersebut.


Kemusyrikan dan kebejatan Bagaskara Ardhana Putra kini semakin berkobar membakar jiwanya. Ia benar-benar telah tersesat dari jalan kebenaran. Tidak ada lagi setetes cahaya iman dihatinya kecuali hanya keburukan dan kedzoliman. Kejahatan dan hanya kejahatan yang terpatri dihatinya. Makhluk yang bernama Jin, Syetan dan Iblis pun seakan berhura ria menyaksikan kebejatan seorang Bagaskara Ardhana Putra.


Pintu api neraka seolah-olah menganga lebar menyambut kedatangan kelompok pembangkang dari Jin, manusia, syetan dan Iblis yang akan menyiksa para pendosa yang enggan bertaubat dan tetap bertahan dengan kejahatan, kesyirikan dan kemungkaran yang dilakukan oleh setiap makhluk yang bernyawa tersebut.


***


Tap ...


Tap ....


Tap ....


Bunyi langkah kaki menuju rumah kediaman Bagaskara Ardhana Putra, membuat ia dan Maharani mengatur nafas berat. Seperti seseorang yang didera rasa kekhawatiran jika sedang ketahuan mencuri.

__ADS_1


__ADS_2