
"Kenapa diam, Mas? ibu berbicara pada mu!" pungkas Alina ketika melihat Bagaskara terdiam dan nampak berpikir keras.
"Tidak apa-apa, Alina. Mas hanya bingung harus berkata apa, ini tangan sudah terlanjur terluka. Semoga tidak infeksi seperti yang dikatakan oleh bibi Cynthia."
"Makanya Nak Bagas, dirimu harus lebih berhati-hati lagi! jangan ceroboh," timpal Ibu Cynthia yang sama sekali tidak mengerti duduk perkaranya.
"Iya, Bi. Bagas tadi tidak sengaja terkena pecahan cermin," ucap Bagaskara mencari alasan.
"Kok bisa seperti itu? apa dirimu adu jotos dengan cermin?" tanya Ibu Cynthia lagi.
"Hehe, biasalah Bi, anak muda!" ucap Bagaskara cengengesan.
"Ya sudah, Bibi hendak masak dulu! khawatir nanti Om Farel mu pulang dari perkebunannya, masakan belum terhidang di atas meja!" sarkas Ibu Cynthia tanpa menaruh curiga pada Bagaskara dan Alina yang memang masih mempunyai hubungan spesial.
"Oh, iya Bi. Silahkan!" Bagas bersikap seolah-olah dirinya lah pemuda yang paling baik dan santun, sehingga Ibu Chintya membiarkan kebersamaan Bagaskara dengan putrinya Alina.
Ibu Chintya pikir, Bagaskara adalah sosok kakak laki-laki yang bisa menjaga putri kesayangannya. Padahal pada kenyataannya Bagaskara adalah serigala berbulu domba.
"Alina, Ibu tinggal dulu! oh iya nanti jangan lupa hubungi kakak mu Andara Albiya Finzani, insyaAllah Minggu lusa ia akan pulang kemari sekalian mengatur rencana pernikahannya dengan Dimas Sidqi Amrulloh."
"Maa syaa Allah, jadi kak Andara benar-benar ingin menikah diusia mudanya ibu?"
"Ya, begitulah kakak mu Nak. Katanya, ia juga akan resign dari pekerjaannya dan memilih menjadi IRT mengabdi pada suaminya saja."
"Maa syaa Allah, sosok istri sholihah ya Bu? lebih memilih untuk diam dirumah saja!" ucap Alina dengan seutas senyum tulusnya.
"InsyaAllah, do'akan yang terbaik untuk kakak mu ya, Nak!"
Ibu Chintya pun berjalan menuju dapur, melanjutkan rutinitas memasaknya, sedangkan Alina masih duduk di sofa tamu bersama Bagaskara sepupunya.
"Mas, jika kau ingin pulang silahkan Mas! siapa tahu Mas punya kesibukan tersendiri. Alina sudah membaik hanya sedikit pusing saja!"
"Mas tidak bisa meninggalkan mu sendiri Alina, sampai kondisi mu benar-benar pulih!" Bagaskara mencari alasan untuk bisa merajut kebersamaan dengan Alina dan memperbaiki lagi hubungan mereka yang sempat retak.
__ADS_1
Alina memijit kepalanya yang sakit, ia merasa pusing melihat Bagaskara di sampingnya. Bagaimanapun keadaannya, ia masih sakit hati ketika mengingat kedekatan Bagaskara dan Maharani ketika itu.
"Jadi, Bagaimana hubungan Mas dengan Maharani? benarkah jika Mas dan Maharani mempunyai hubungan spesial?" tanya Alina yang masih penasaran dengan kedekatan Maharani dan Bagaskara.
"Dengarkan Mas, Alina! Maharani itu hanya sebatas santriwati yang belajar mengaji di tempat Mas, kejadian hari kemarin itu hanya kesalahpahaman. Mas ingin menarik tangan mu, namun Mas tidak sengaja menggandeng tangan Maharani. Mengenai pacaran itu, itu semua bohong! Maharani sengaja ingin ngeprank kalian! lagian mana mungkin Mas menyukai gadis belia, dirimu pun sudah cukup untuk Mas!" ucap Bagaskara yang di bumbui kemunafikan.
"Hemmm, lalu kak Desi bagaimana? apa Mas akan mengatakan jika kak Desi itu teman Mas semasa putih abu-abu? Mas memang pandai menyembunyikan rahasia!" ucap Alina dengan tersenyum kecut.
"Astaghfirullah, Alina. Dengarkan Mas Alina, Mas hanya mencintai mu!" timpal Bagaskara dengan membawa-bawa nama sang pencipta untuk menutupi kebobrokannya.
Alina nampak berpikir keras, ia bingung dengan perasaannya sendiri harus bertahan atau lepaskan hubungan yang tak wajar antara dirinya dan Bagaskara Ardhana Putra. Di satu sisi hatinya sudah terpikat hati yang lain, namun disisi lainnya, ia pun tidak bisa lepas dari jerat Bagaskara yang seolah-olah mengikat hatinya. Semakin ia berusaha menghindari Bagaskara hatinya semakin tersakiti dan tersiksa.
"Beri Alina waktu untuk memikirkan semua ini, Mas! Alina bingung, sampai kapan kita akan terus seperti ini? Alina tidak ingin terus seperti ini, Mas!" Alina merasa hatinya semakin tertekan dengan keadaan yang ada.
"Hey, dengarkan Mas Alina, selagi Mas masih berdiri di samping mu, tidak ada yang perlu dirimu khawatirkan!" pungkas Bagaskara dengan menarik Alina dalam dekapan dada bidangnya.
Alina pun menyandarkan kepalanya di dada Bagaskara. Bagaskara pun mengelus dan mengecup kening Alina dengan penuh kasih.
"Mas, berjanjilah untuk tidak menyakiti Alina lagi!" timpal Alina dengan nada manjanya, entah angin apa yang dihembuskan oleh Bagaskara hingga membuat Alina masih bertahan dan tidak melepaskannya.
"Mas!" Alina mendorong tubuh Bagaskara dari dekapannya. Ia pun mengusap bibirnya yang dengan tiba-tiba dikecup oleh Bagaskara tanpa sempat ia menghindarinya.
"Maaf, kau sangat menggoda Alina!" ucap Bagaskara dengan tersenyum devil. Ia merasa bahagia tiada tara. Akhirnya bibir manis itu bisa di kecup olehnya, meskipun itu hanya sebatas mencuri kecupan, setidaknya ia merasa beruntung bisa menyentuh bibir ranum wanita yang dikasihinya.
"Alina, bibirmu lebih memabukkan daripada Maharani meskipun sering aku menyesapnya!" bathin Bagaskara licik.
"Kau mencuri kesempatan dalam kesempitan Mas! sana pulang, Alina ingin istirahat! Alina pun ingin menelfon dan ngobrol dengan kak Andrara. Mas mandi, bersihkan tubuh sana! sudah pukul 8 pagi. Bantu Tante Laras beres-beres rumah! anak laki-laki pun kudu gercep. Biar pas menikah bisa menjadi suami idaman yang serba bisa!" Alina sudah terlihat bersemangat, setelah sebelumnya di dera rasa kecewa pada Bagaskara. Ia pun berusaha menanamkan kepercayaan pada Bagaskara.
"Mas akan pergi, tapi katakan dulu jika kau akan tetap bertahan dengan Mas dan tidak akan melepaskan Mas!"
"Iya, iya, untuk kali ini Alina maafkan Mas, dan memberikan kesempatan untuk Mas! namun, jika Mas berulah lagi Alina tidak akan pernah lagi menerima Mas dalam hidup Alina!" timpal Alina dengan menatap manik mata Bagaskara dengan tatapan penuh cinta.
Entah kenapa rasa cintanya tiba-tiba membuncah pada Abang sepupunya itu, tatapan mata Bagaskara seolah menghipnotis dirinya. Membuat dirinya kembali melabuhkan hatinya pada sosok Abang sepupunya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Alina sayang!" ucap Bagaskara dengan mengecup kening belahan jiwanya itu. Sementara, Alina hanya memejamkan matanya menikmati indahnya kecupan dari laki-laki yang selalu berusaha mengikat dirinya tanpa enggan untuk melepaskan dirinya.
"Maafkan hamba ya Rabb, hamba tidak tahu kenapa semua menjadi begini? hamba tidak tahu kenapa hamba masih terus bertahan dengan Mas Bagas." Alina benar-benar tidak menyadari jika dirinya terkena pelet cinta Bagaskara sepupunya.
"Akhirnya, kau kembali bisa ku rengkuh Alina!" sorot mata Bagaskara kembali merah menyala, menandakan jika dirinya terus berhasil mengamalkan ilmu sihir yang menyesatkannya.
"Hehe, aku belum mengecek ponsel ku. Pasti si Desi, Dela dan Chika mengirimkan pesan cinta untuk ku!" bathin Bagaskara menyeringai licik.
"Hemmm, ternyata ada Maharani juga, ia benar-benar tergila-gila pada ku!" Bagaskara melebarkan senyumnya ketika melihat isi pesan para soulmatenya.
"Hanya Queensha Putri Fayanna yang belum bisa ku lumpuhkan! ia benar-benar sosok wanita yang tangguh, bertolak belakang dengan Alina ku." Bagaskara berguling-guling di kamarnya. Ia terus memikirkan cara untuk mengatur jadwal kencannya bersama pacar-pacarnya.
Mama Laras terlihat mondar-mandir di depan kamar Bagaskara, kepalanya merasa pusing melihat Bagaskara yang nampak betah berada di dalam kamarnya yang masih acak-acakan yang belum sempat dirapikan setelah aksi Bagaskara ngamuk-ngamuk di pagi hari melampiaskan segala kekesalannya pada Alina Cahya Kirani yang berkali-kali menolaknya.
***
"Assalamu'alaikum, kak Andara?" sapa Alina dari sebrang telfon.
"Wa'alaikumsalam, Dek. Apa kabar keluarga kita, Ayah beserta Ibu ? kakak merindukan kalian."
"Alhamdulillah, kita semua baik, Kak. Besok pagi kakak pulang nggak?"
"Insya Allah, pulang Dek!"
"Ciyeee, yang ingin menjadi calon pengantin?" Alina menggoda kakaknya.
Wajah Andara bersemu merah, ketika mendengar godaan adiknya.
"Alhamdulillah, Dek. Jika memang sudah bertemu jodoh dan merasa cocok tunggu apalagi! dari pada menumpuk maksiat," timpal Andara. Ia yang dalam proses hijrah tidak sengaja bertemu dengan Dimas Sidqi Amrulloh di sebuah Majelis Ilmu di kota P. Hingga keduanya pun sama-sama memiliki ketertarikan dan memilih untuk mengakhiri masa lajangnya untuk mengikuti Sunnah Rasul-nya dengan mengikat janji suci pernikahan.
"Maa syaa Allah, kakak sangat luar biasa! Alina tunggu kepulangan kakak, besok kita sambung lagi ceritanya."
"Baiklah, adik semata wayang ku!" Andara dan Alina pun mengakhiri komunikasinya, setelah menutup sambungan telfonnya dengan salam.
__ADS_1
"Beruntung sekali dirimu kak! tidak seperti kisah cinta ku yang merindu dendam," bathin Alina dengan duduk bersandar di bilik kamarnya.