
Alina menghembuskan nafasnya pelan, "Saudara sepupu ku, Kak! ia hendak mengajak ku makan siang!" ucap Alina dengan menekan kata sepupu.
Bagaskara yang hendak merebut ponsel Alina yang sedang digunakan berkomunikasi dengan Muzzaki Ansori saat ini. Namun, ia pun mengurungkan niatnya. Ia merasa kecewa mendengar penuturan Alina yang tidak mengakui dirinya kekasih dihadapan semua orang.
"Alina, sesungguhnya kau anggap aku apa?" batin Bagaskara dipenuhi rasa kekecewaan yang teramat dalam.
"Jangan salahkan aku Alina, jika aku akan melakukan sihir dan guna-guna yang lebih dahsyat lagi terhadap mu!" tegas Bagaskara didalam hatinya.
"Ya sudah, silahkan lanjutkan rutinitas mu! makan siang yang banyak biar sehat dan kuat. Satu lagi jangan lupa sholat! Salam juga untuk keluarga mu, salam juga untuk kakak sepupu mu. Silahkan dimatikan telfonnya!" ucap Ansori seperti biasanya.
Alina pun segera mematikan ponselnya. Setelah ia dan Ansori saling berucap salam.
"Kak Bagas!" ucap Alina santai.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Alina Cahya Kirani!" ucap Bagaskara terdengar tegas.
"Alina sedang telfonan dengan teman, Mas! saling tukar pikiran saja." Alina terlihat tanpa beban, tak peduli semarah apapun Bagaskara padanya. Alina tetap terlihat tenang tanpa ada rasa takut yang menderanya.
Bagaskara berusaha menekan emosinya, demi untuk menjalankan aksinya. "Sayang, mari kita makan siang!" ucap Bagaskara berusaha bersikap semanis mungkin, niatnya semakin bulat untuk melumpuhkan Alina dengan cara yang lebih halus.
Alina pun menuruti langkah Bagaskara, "Tumben Mas Bagas tidak kebakaran jenggot!" bathin Alina yang merasa aneh dengan sikap Abang sepupunya yang tiba-tiba semanis madu.
Bagaskara menggenggam jemari tangan Alina dan menuntunnya untuk mengambil nasi dan lauk di meja khusus lauk-pauk.
"Sayang, biar Mas ambil makanannya, kamu duduk manis di sini dulu!" ucap Bagaskara seolah-olah meratukan Alina.
Alina menuruti saja inginnya Bagaskara, ia sama sekali tidak terpikirkan jika Bagaskara memiliki niat buruk terhadapnya.
"Baiklah Mas, Alina maunya daging rendang, sup sama sate telur saja Mas! tambah kerupuk boleh," ucap Alina terlihat santai dan selalu berusaha berpikir positif pada Abang sepupunya itu.
"Oh ya, boleh-boleh, apa segini cukup sayang?" tanya Bagaskara, penuh kelembutan.
"Iya, cukup Mas!" ucap Alina terdengar lembut.
__ADS_1
Maharani yang menjaga dibagian lauk-pauk pun merasa kepanasan melihat sikap Bagaskara yang tiba-tiba menunjukkan perhatiannya terhadap Alina.
"Apa-apaan sih Mas Bagas, benar-benar tidak punya perasaan! apa ia tidak memikirkan bagaimana perasaan ku? dia maunya enak dan manisnya doang!" gerutu Maharani yang tak terima atas kedekatan Bagaskara dan Alina.
Sementara pacar-pacar Bagaskara lainnya, Chika dan Dela terlihat biasa meskipun sebenarnya ada kecemburuan yang terselip di hati mereka, namun mereka berpikir Alina dan Bagas adalah saudara sepupu, jadi tidak mungkin ada hubungan spesial di antara mereka.
Queensha Putri yang sudah mengetahui hubungan antara Bagaskara dan Alina pun sudah paham betul akal bulus Bagaskara, namun Queensha Putri tidak terpikirkan jika Bagaskara sampai tega ingin melakukan hal yang lebih keji terhadap Alina.
"Dasar buaya darat! sepupu pun di embat, sok ja'im pula!" bathin Maharani merasa ilfeel melihat tingkah Bagaskara.
"Itu Pak Ustadz perhatian betul ya sama Alina, perhatiannya sangat sempurna. Apa mungkin karena Alina tidak punya kakak laki-laki ya? jadinya ustadz Bagas perhatian tulus sama Alina sepupunya?" ucap Reno yang sama sekali tidak mengetahui jika Bagas dan Alina memiliki hubungan spesial.
"Hemmm," jawab Putri enggan menanggapi ucapan Reno yang sama sekali tidak sedikit pun ada dalam diri Bagaskara, yang ada justru Bagas tak pantas menyandang gelar ustadz mengingat akan kebejatannya.
"Kamu kok, hemmm saja Put, kasih pendapat dong!" ucap Reno sedikit manyun lantaran Putri cuek bebek padanya.
"Jadi aku harus jawab apa?" ucap Putri santai sambil menyeruput es buah.
"Kamu ini, aku protes malah balik nanya. "Reno merebut es buah milik Putri dan menyeruputnya habis.
Reno meringis menahan pukulan Putri, ia merasa lucu melihat wajah Putri yang terlihat sangat imut menurutnya.
"Ternyata si Putri imut juga, tapi aku sudah jatuh hati pada Alina Cahya Kirani!" bathin Reno yang tidak sengaja melihat wajah cute Putri.
"Emang kamu nggak jijik bekas minuman ku?" tanya Putri.
"Kenapa harus jijik, memangnya di bekas bibir mu ada kotoran? nggak kan?" ucap Reno dengan gaya kocaknya. Membuat Putri jadi salah tingkah.
"OMG, kenapa jantungku mendadak berdebar-debar seperti ini melihat perlakuan Reno terhadap ku, meskipun kocak namun mampu membuat jantungku dag-dig-dug tak karuan!" bathin Queensha Putri dengan wajah yang merona.
"Ciyeeee ... ciyeee ... yang sedang PDKT!" goda teman-teman panitia lainnya.
"PDKT apanya kita kan sohib, iya kan Ren?" ucap Putri dengan berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak karuan.
__ADS_1
"I-iya, sohib." Reno pun mengiyakan ucapan Queensha Putri.
"Terserah kalian berdualah! yang jelas jatuh hati itu tidak akan pernah mengenal tempat untuk berlabuh!" sarkas salah seorang teman panitia lainnya.
"EGP! Emang Gue Pikirin!" sarkas Putri dengan nyelonong pergi dari hadapan teman-temannya, ia menuju tempat nasi dan lauk-pauk.
"Mumpung tamu undangan sedang sepi, aku pengen mengisi perut ku yang kosong, lapar sekali!" ucap Putri dengan memegang perutnya yang sudah keroncongan minta di isi.
"Eh, Putri. Tunggu!" pekik Reno dengan setengah berlari mengekori Putri, ia pun sudah lapar dan ingin ikut makan bersama Putri.
Gelak tawa teman-teman yang lainnya pun seketika riuh menertawakan tingkah Reno dan Putri yang sangat kocak menurut mereka.
***
"Eh, mau kemana tuh kecebong membawa Alina? mau makan siang saja di tempat yang jauh dari keramaian. Seolah-olah Alina adalah wanitanya, padahal dia statusnya hanya sepupu doang! gagal deh aku ingin mendekati Alina!" bathin Guntara Arjuna Winata, padahal ia sengaja pergi undangan di kloter terakhir, agar bisa terus melihat Alina lebih lama.
"Apes, apes, udah ganteng-ganteng dan sekeren ini dapatnya angin. Ini semua gara-gara kecebong itu, coba kalau tidak ada dia, mungkin saat ini aku sudah bersenda gurau dengan Alina!" bathin Guntara yang kesal terhadap perilaku Bagaskara yang menghalanginya untuk mendekati Alina.
"kita disini sayang!" ucap Bagaskara dengan mengajak Alina untuk segera duduk santai di bawah pohon yang rindang yang ada tempat duduk santai yang terbuat dari kayu dan sebuah meja bulat yang juga terbuat dari bahan kayu.
Tanpa Alina sadari, Bagaskara mendawamkan mantra-mantra sesatnya lewat makanan yang sedang di makan oleh Alina. Hanya dengan sekejap saja kekuatan energi negatif tersebut telah merasuki tubuh Alina lewat nasi dan lauk-pauk yang ia makan.
Alina yang tidak menyadari akan ke dzoliman Bagaskara terhadapnya, ia pun terus menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.
Bagaskara tersenyum devil, "Akhirnya aku berhasil, aku yakin ajian pelet ku kali ini akan mampu memisahkan mu dari orang-orang yang hendak mendekati mu Alina." Bagaskara tertawa ria di dalam hatinya, ia merasa telah menguasai jiwa dan raga Alina sepenuhnya.
Di tengah meriahnya pesta Andara dan Dimas tidak ada satu orang pun yang mengetahui akan kepicikan dan kedzoliman Bagaskara terhadap Alina.
Aura wajah Alina tiba-tiba bersinar terang, ia terlihat sangat cantik seperti putri keraton. Akan tetapi orang-orang hanya bisa mengaguminya dan tidak bisa memilikinya. Sebab, sukma Alina kini dalam genggaman dan pengaruh Bagaskara Ardhana Putra.
Di tengah hembusan angin yang menerpa wajahnya, Alina pun telah menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Minumnya, sayang!" ucap Bagaskara dengan menyodorkan secangkir air minum beserta sedotannya pada mulut mungil Alina.
__ADS_1
Alina pun meminum air tersebut dengan perlahan-lahan menghisapnya lewat sedotannya.
Manik mata Alina tidak sengaja menatap wajah Bagaskara, "Mas Bagas, ia sangat tampan sekali, kenapa perasaan ku mendadak luar biasa padanya. Rasanya di dunia ini, hanya dirinya lah yang bertahta di hatiku!" bathin Alina yang mulai terkena sihir dan guna-guna Bagaskara Ardhana Putra yang lebih dahsyat lagi.