
Alina membuka pesan dari Ansori dengan senyuman ceria yang kini terukir dari wajah ayunya. Ia pun menatap sekilas pada wajah Bagaskara yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.
"Untung saja Mas Bagas terlelap, jika tidak ia pasti akan mengamuk jika aku chatting-an dengan laki-laki lain selain dirinya!" gumam Alina pelan.
📲 "Assalamu'alaikum, Alina sedang apa dirimu? Maaf, kakak seharian ini sibuk, ada penceramahan di Mesjid yang tak jauh dari apartemen kakak ini. Jadi kakak tidak bisa menghubungi mu sejak tadi."
📲 "Wa'alaikumsalam, Alina habis jalan dengan sepupu, Kak. Qodarullah sekarang kehujanan dan berteduh di pondokan yang tak jauh dari Mushola tempat wisata yang kami kunjungi.
📲 "Maa syaa Allah, kamu jaga diri baik-baik. Pasti di sana dirimu sangat kedinginan. Oh ya, apakah dirimu membawa jaket atau perlengkapan lainnya nggak?" Ansori nampak khawatir mengenai kesehatan Alina, jika cuaca yang sedang tidak bersahabat seperti ini.
📲 "Alina hanya bawa tas selempang kulit, kecil pula. Hanya untuk menyimpan gadget sama uang saja, Kak!" ucap Alina seadanya.
📲 "Ya sudah, nggak apa-apa. Nanti, jika hujan sudah reda, cepat pulang! kemudian mandi air hangat, jangan lupa untuk melaksanakan ibadah shalat Ashar. Kakak sekarang sedang menanti kumandang adzan Ashar!" ucap Ansori dengan penuh perhatian. Membuat Alina merasa tersanjung dengan perhatian Ansori terhadapnya.
"Ya Allah, jika terus begini, sebagai wanita yang mendambakan sosok pemuda yang sholih tentunya akan meleleh jika mendapat perhatian khusus seperti ini!" bathin Alina yang selalu merasakan kesejukan hati ketika berkomunikasi dengan Muzzaki Ansori.
"Kak An, bersama mu aku merasa bahagia. Dirimu selalu mampu menyejukkan hati dan jiwa ku ketika aku sedang di landa duka dan nestapa. Ketika aku tersesat dalam langkah ku, kau mampu mengarahkan ku dalam kebaikan!" bathin Alina dengan sejuta rasa bahagia yang bertumbuh dihatinya.
Percakapan Alina dan Ansori pun berakhir, Ansori melanjutkan aktivitasnya di ibu kota. Sedangkan, Alina masih menunggu hujan reda untuk kembali pulang ke rumahnya. Selain itu, Alina juga harus sabar memangku Bagaskara yang sedang terlelap di pangkuannya.
Kumandang adzan Ashar pun bergema seiring berhentinya rintik hujan, Bagaskara mengerjapkan netranya. Sosok yang ia lihat pertama kali ketika membuka matanya adalah Alina Cahya Kirani yang begitu setia memangkunya dalam waktu yang lama.
"Alina, maaf. Kau pasti kecapean memangku Mas!" ucap Bagaskara yang kini berubah menjadi lembut pada Alina.
"Tidak Mas, aku tidak kecapean. Mari kita ke Mushola untuk menjalankan ibadah shalat Ashar, habis itu baru kita pulang!" ucap Alina, sebab kini bajunya yang semula basah kuyup, kini kering di badan.
Bagaskara yang terlihat masih menyipitkan matanya pun segera bangkit, ia tidak ingin mengecewakan Alina. Entah di terima atau di tolak oleh bumi dan langit segala amalan ibadahnya, namun Bagaskara pun tetap menjalankan ibadah sholat tersebut demi Alina.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita ke Mushola di ujung sana!" ajak Bagaskara dengan membonceng Alina menuju Mushola, setelah sampai di Mushola, keduanya pun segera mengambil wudhu dan bergabung dengan jama'ah lainnya.
Setelah semua selesai, barulah keduanya pun bergegas pulang, mengingat hari sudah semakin sore.
"Alina, Mas minta maaf jika hari ini banyak merepotkan mu! maaf juga atas serentetan kejadian yang ada. Tapi, percayalah dihati Mas hanya ada namamu!" ucap Bagaskara sebelum sampai di rumah masing-masing.
Bagaskara terlihat sangat takut, jika Alina benar-benar murka padanya dan memutuskan temali cinta mereka yang sejak lama terjalin.
Alina terpaksa mengiyakan ucapan Bagaskara. Sebenarnya, ia merasa sangat risih, namun ia tidak ada jalan lain kecuali tetap berpura-pura menjadi kekasih Bagaskara sepupunya. Ia tidak ingin membuat Bagaskara kembali mengamuk jika terus ditolak olehnya.
***
"Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga!" ucap Alina senang, pasalnya ia benar-benar sudah tidak tahan untuk selalu berada di samping Bagaskara yang kerap kali menarik ulur jantung hatinya.
Setelah memberi salam pada seisi rumah, Alina pun di sambut baik oleh seisi rumahnya.
"Alhamdulillah, sudah Bu." Alina pun balas memeluk erat ibunya.
"Maa syaa Allah, yang masih anak ibu, manjanya sangat luar biasa!" ucap Andara dengan menggoda adiknya Alina.
"Kakak?" Alina nampak tertunduk malu. Ia pun segera bergegas menuju dapur dengan memasak air hangat untuk membersihkan tubuhnya yang sempat basah kuyup oleh air hujan yang mengguyurinya sewaktu dirinya masih berada di Garden Cleopatra.
***
Singkat cerita.
Hari-hari pun di lalui oleh Alina dengan begitu banyak cerita, hubungannya bersama Bagaskara kini terlihat samar-samar.
__ADS_1
Setelah dua bulan pasca insiden di Garden Cleopatra, kini Alina pun menjalani hari-harinya dengan baik. Ia pun terus merajut kisahnya bersama Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori, meskipun cerita yang terjalin hanya lewat jejaring sosial.
Ansori masih fokus dengan magangnya yang tinggal sepuluh bulan lagi di ibukota. Ia pun semakin menaruh harapan terhadap sosok Alina Cahya Kirani, harapan Ansori dapat menjadikan Alina bukan hanya sekedar teman istimewa, namun bisa menjadi makmum untuk masa depannya nanti.
Hari ini pun bertepatan dengan pernikahan sekaligus walimahan Andara Albiya Finzani dengan sosok imamnya Dimas Sidqi Amrulloh.
Semua orang yang ada di dalam anggota keluarga Alina nampak bersukacita. Mereka pun menyambut baik hari pernikahan Andara.
Andara nampak terlihat cantik dengan kebaya pengantin bernuansa putih yang dikenakannya.
"Maa syaa Allah, kakak cantik sekali!" ucap Alina dengan memperhatikan wajah kakaknya Andara di pantulan cermin.
"Terima kasih, Dek. Kau pun nampak cantik dengan kebaya panitia yang dirimu kenakan! semoga dirimu pun segera menyusul kakak setelah ini!" do'a Andara untuk Alina adik semata wayangnya.
"Aamiin ... aamiin ... aamiin, ya rabbal 'aalaamin!" ucap Alina dengan mengaminkan do'a Andara kakaknya. Sekilas bayangan Muzzaki Ansori yang selalu mampu menyejukkan hatinya, membuat Alina menaruh sejuta pengharapan terhadap sosok Ansori yang kini telah menyentuh hati dan jiwanya walaupun baru sekali ia bersua dimobil angkot tempo hari, sebelum Ansori berangkat magang menuju ibukota.
Alina nampak tersenyum-senyum membayangkan wajah tampan nan teduh milik Ansori.
"Semoga dirimu adalah jodoh pilihan Allah, untuk diriku!" do'a yang teruntai dari kedalaman hati Alina yang di tujukan atas nama Muzzaki Ansori, pemuda yang sangat ia harapkan untuk menjadi calon imamnya nanti.
Alina merengkuh tubuh kakaknya Andara yang sedang duduk manis di kursi riasnya, "Kak, do'akan Alina agar bisa berjodoh dengan sosok pemuda yang sholih, yang kini hadir dalam bayangan Alina!" ucap Alina manja.
"Jadi, ceritanya adek kakak ini juga sudah punya calon?" goda Andara sehingga mampu membuat wajah Alina pun bersemu merah, karena menahan rasa malunya.
"Insya Allah, Kak!" ucap Alina dengan terus membayangkan wajah Muzzaki Ansori sosok pemuda yang sangat dirindukannya.
"Kak Muzzaki, semoga kita dapat bersua kembali dan bertemu dalam ikatan yang halal!" bathin Alina dengan sejuta pengharapan terhadap Muzzaki Ansori.
__ADS_1