
Dimas Sidqi Amrulloh tergopoh-gopoh menuju pelaminan menemui istrinya Andara yang masih setia menunggunya diatas pelaminan. Nafasnya terasa tak beraturan ketika tak sengaja mendekap tubuh Alina dan menatap manik mata indah milik adik iparnya itu.
"Ya Allah, Alina dia terlihat sangat cantik dan mempesona meskipun dalam keadaan tak sadar sekalipun. Akan tetapi aku membaca gelagat aneh dari Alina, itu seperti bukan dirinya. Aku mulai curiga ada hal mistis yang mengelabuinya, akan tetapi apa? dari sejak mula bertemu dengannya, ia seumpama magnet yang kuat, pesonanya benar-benar menarik ku untuk mengaguminya. Akan tetapi anehnya, semakin aku mengaguminya semakin aku merasakan keanehan di sekujur tubuhku. Seolah-olah ada yang merintangi ku untuk mendekatinya. Ah, apa yang kupikirkan? Alina sekarang adalah adik ipar ku, aku sudah menikah dengan kakaknya Andara Albiya Finzani, jadi sudah semestinya aku menjaga pandangan ku dari yang bukan mahram ku!"
Dimas terus memikirkan tentang Alina, dalam hatinya ia akan terus memantau perkembangan Alina apakah kecurigaannya terhadap hal mistis yang menimpa Alina adalah benar adanya.
"Kak Dimas, kakak dari mana saja? lama sekali ke toiletnya, Andara laper ni, Mas. Sudah jadwalnya makan siang, sebentar lagi sudah masuk waktu Dzuhur, khawatir nanti tamu undangan semakin banyak berdatangan lagi!" gerutu Andara dengan memanyunkan bibirnya.
"Iya, maaf sayang. Tadi, kakak benar-benar kebelet, toilet di dapur banyak antri. Jadi, kakak putar arah ke toilet umum agak sepi. Iya, kakak ambilkan makan siang untuk kita, nanti kakak suapin!" ucap Dimas dengan menenangkan istrinya yang sedang merajuk.
Andara pun menerbitkan senyumannya, ketika mendengar suaminya untuk pertama kalinya hendak menyuapinya makan di hari pertama pernikahannya.
Sementara, orang tua kedua belah pihak saling bercengkrama satu sama lain. Ayah Farel dan Ibu Chyntia nampak bercengkrama dengan besannya. Mereka semua sudah selesai bersantap siang bersama.
Adzan Dzuhur pun berkumandang, acara hiburan gambus pun di hentikan sejenak, segenap orang-orang yang membantu diacara walimahan Andara dan Dimas pun sholat berjama'ah di Mesjid khusus laki-laki, ada yang sholat di rumah keluarga Alina terutama untuk para wanita. Kecuali tamu undangan, mereka masih bersantai ria sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Begitu pun dengan pengantin baru tersebut mereka menyempatkan diri untuk menunaikan kewajiban shalat Dzuhur sebelum melanjutkan acaranya.
"Dek, kakak sholat di Mesjid dulu ya? kamu sholat dulu di rumah!" timpal Dimas dengan mengecup lembut kening Andara istrinya."
"Iya, Kak. Hati-hati!" ucap Andara dengan mencium punggung tangan suaminya untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1
Setelah kepergian Dimas, Andara melepaskan gaun pengantinnya dan segera mengambil wudhu untuk melakukan ibadah shalat Dzuhurnya.
"Kak Andara, Alina ingin sholat bersama kakak!" ucap Alina dengan nyelonong masuk ke kamar pengantin kakaknya.
"Oh boleh, mumpung kak Dimas sedang pergi ke Mesjid, kita sholat bersama-sama ya? biar kakak yang jadi imamnya." Andara pun menghamparkan sajadahnya, ia pun segera berniat menjadi imam shalat adiknya.
"Terima kasih, Kakak!" ucap Alina terlihat manja.
Di dalam shalatnya, Alina merasa hawa panas meresapi tubuhnya, terutama di bagian dada dan punggungnya. Kepalanya luar biasa terasa sakitnya. Tubuhnya pun terasa melayang, ia merasakan kekosongan dalam shalatnya, pikirannya seolah menjadi dangkal, ia tidak bisa meresapi bacaan sholatnya seperti biasanya. Tanpa di sadarinya gangguan Jin dan sihir yang dihembuskan oleh Bagaskara kini semakin mendarah daging dan menggerogoti tubuhnya.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada ku? kenapa gangguan di tubuh ku semakin hari semakin menjadi-jadi?" Alina berusaha untuk melawan rasa sakitnya. Keringat dingin semakin bercucuran di sekujur tubuhnya akibat perlawanannya melawan rasa sakitnya.
"Apa yang terjadi pada mu, Dek? wajah mu pucat sekali! sepertinya kau sedang sakit, aneh padahal tadi kau sehat-sehat saja!" Andara menaruh tangannya di kening Alina.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada mu! kau sakit apa? malaria bukan atau jangan-jangan gangguan mistis? sebab, akhir-akhir ini kakak kerapkali melihat keanehan dalam diri mu!" ucap Andara pelan. Ia khawatir adiknya merasa tersinggung atau ketakutan mendengar ucapannya.
"Tidak tahu, Kak. Semuanya terjadi dengan begitu saja, seperti ada yang menguasai diriku. Saat sholat pun rasanya tubuh ku beku. Ada banyak keanehan dan gangguan yang terjadi pada ku. Sekarang pun terasa ada yang menghisap darah ku lewat jempol kakiku!" ujar Alina dengan memperlihatkan jempol kakinya, seperti bekas gigitan sesuatu.
"Ya Allah, pantesan wajah mu seperti mayat hidup, Dek. Apa mungkin ada sejenis makhluk gaib atau apa yang menghisap tubuh mu!" ucap Andara yang mulai curiga dan ngelantur kemana-mana mendeteksi penyakit Alina.
"Apa salah dan dosa Alina kak, hingga sampai ada makhluk tak kasat mata yang mencoba mengganggu Alina?" tanya Alina yang berusaha menutupi kecemasannya.
__ADS_1
"Terkadang ada makhluk gaib yang suka pada manusia lho, Dek. Itu biasa dinamakan Jin. Maka jangan kelamaan menjomblo, buruan cari jodoh. Agar ada yang menjaga!" celoteh Andara.
"Kakak sudah ngelantur kemana-mana? buruan kita keluar, kenakan lagi gaun pengantinnya! nanti Alina panggilkan penata riasnya!" ucap Alina yang kini tiba-tiba terlihat sehat dan bugar kembali.
"Aneh betul si Alina bisa terlihat segar kembali, tadi seperti hidup segan mati perlahan. Aku yakin ada apa-apanya dengan Alina. Tapi, aku tidak bisa asal tebak sebelum mendapatkan bukti kebenarannya. Itu anak mesti di bawah berobat ke orang pintar mungkin! oops, salah mesti di ruqyah maksudnya!" ucap Andara yang baru mengetahui tentang pengobatan ruqyah syar'iyyah. Sebab, dari sejak kecil ia didik oleh orang tuanya jika ada sakit yang berkenaan dengan non medis di kampung mereka kerap kali berobat ke orang pintar alias dukun.
Dan sekarang pun ia sedang dalam proses hijrahnya, baru-baru ini, ilmu yang ia pelajari sudah sampai pada hal-hal mistis, ia baru mengetahui jika ilmu syaitan dan perdukunan itu adalah hal yang musyrik yang tidak diridhoi Allah Subhana wa ta'ala. Andara tidak ingin adiknya tersesat atau salah langkah.
***
Acara walimahan Andara dan Dimas pun telah usai, masih tersisa beberapa orang-orang yang membantu membersihkan alat-alat dan perabotan bekas pesta dan lain-lainnya.
Susunan kepanitiaan pun telah bubar, masih tinggal beberapa orang saja yang masih selonjoran duduk di teras rumah Alina.
Reno dan Putri masih terlihat melakukan kesepakatan, "Tolong comblangin aku dengan Alina, ya Put? aku serius ingin menjadi teman dekatnya!" seru Reno dengan memainkan ponselnya.
"Iya, iya. Kau tenang saja, aku akan melakukannya untuk mu!" Putri terlihat bersemangat untuk menyatukan Alina dengan Reno. Sebab, rasa tidak sukanya pada Bagaskara, membuatnya nekad untuk memanas-manasi Bagas dengan cara mendekatkan Alina dengan Reno.
"Itu dia Put, dia cantik sekali! kharismanya sangat luar biasa!" Reno memuji kecantikan alami Alina. Ia benar-benar di dera rasa suka terhadap Alina. Namun, anehnya Alina justru merasa benci melihat wajah Reno.
Menyadari Reno menatap ke arahnya, Alina menjadi risih dan tiba-tiba memalingkan wajahnya dari Reno, "Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku? kenapa aku menjadi benci pada kak Reno? gangguan dalam diri ku semakin menjadi-jadi saja, sepertinya aku harus mencari orang pintar untuk mengetahui perihal sakit dan gangguan yang akhir-akhir ini mendera ku!" bathin Alina yang mulai curiga jika sakitnya ini bukan sakit biasa.
__ADS_1
Alina yang masih awwam dalam ilmu agama pun belum mengetahui jika berobat ke orang pintar adalah dosa yang sangat besar dan tidak di ampuni oleh Allah, jika tidak segera bertaubat dari segala keyakinan yang menyesatkan tersebut.