Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 79. Bertahan Hidup


__ADS_3

Alina dan Dimas pun saling menjauhi, keduanya tidak ingin berlama-lama saling bersitatap. Sebab godaan syaitan itu sangat berat. Setangguh-tangguhnya kedudukan iman seseorang jika terus dihadapkan dengan hal-hal yang menggoda iman pasti akan luluh dan rapuh juga.


Alina pun berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun setelah mengucapkan kata terimakasih kepada Dimas Sidqi Amrulloh kakak iparnya. Ia pun segera melaksanakan shalat malamnya.


Seperti biasanya Alina tetap berusaha menjalankan ibadah sholatnya dengan mengumpulkan seluruh kemampuannya meskipun gangguan energi negatif terus menyerangnya.


Rasa panas seperti bara api terus menyerang tubuhnya ketika ia berusaha untuk tetap berdiri dalam shalatnya. Sehingga kekuatan energi positif dan energi negatif saling berperang di dalam tubuhnya. Namun, Alina tidak peduli dengan rasa sakit yang menderanya. Ia tetap khusyuk dalam shalatnya walaupun rasa sakit terus menyerangnya.


"Ya Allah, jantung hatiku dan dadaku sakit sekali! panassss ... seperti ada yang menarik-narik jantungku!" rintih Alina menahan rasa sesak di dadanya.


"Ya Allah berikan hamba kekuatan untuk tetap bertahan hidup. Sesungguhnya hamba ingin lepas dan sembuh dari rasa sakit ini!" batin Alina lagi dengan memegang dadanya yang sakit. Ia pun terkapar di sajadahnya, Alina kembali pingsan tak sadarkan diri.


Dimas tidak sengaja mendengar rintihan Alina di dalam kamarnya. Ia tidak sampai hati melihat keluhan yang dialami oleh adik iparnya. Namun, ia tidak tahu jika Alina sedang ambruk dan pingsan di atas sajadahnya.


Sebab kamar Alina tertutup rapat, hanya terdengar rintihan suaranya yang sayup-sayup berharap kesembuhan dari sakit yang dideritanya.


"Kasihan dirimu Alina, insya Allah kami akan membawamu berobat untuk mengatasi penyakitmu pada seorang guru yang memang terkenal sebagai seorang yang meruqyah orang-orang yang memang terkena gangguan mistis."


Dimas pun, berlalu pergi menemui istrinya yang telah selesai membangunkan orang tuanya untuk mendatangi rumah Mama Laras, ibunya Bagaskara yang sedang terdengar histeris dari arah rumahnya.


"Kak Dimas, ayo kita ikut ayah dan ibu mendatangi rumah tante Laras!" ajak Andara dengan bergelayut manja di lengan suaminya.


"Apa kamu tidak usah ikut, Dek? kamu di rumah saja bersama Alina. Dia sedang shalat di kamarnya. Kamu kan sedang mengandung anak kita, jangan dibawa keluar untuk angin malam ini. Khawatir nanti masuk angin!" Dimas beralasan, sebab dirinya tidak ingin istrinya dan calon buah hatinya sampai menginjak kediaman Bagaskara dan melihat Bagaskara di sana.


Dimas tidak ingin istrinya dan calon anaknya diganggu oleh Bagaskara dengan ilmu hitamnya.


"Tapi Anadra mau ikut, Kak!" ucap Andara manja. Ia terus memohon agar suaminya memenuhi permintaannya.


"Baiklah" ucap Dimas setengah hati. Ia pun mengelus pucuk kepala istrinya dan mencium kening istrinya dengan penuh kasih kemudian berlanjut mengelus calon buah hatinya yang ada di perut Andara.


"Anak Ummi dan Abi, sehat-sehat ya Nak!" Dimas pun mengecup perut istrinya yang telah membuncit, yang insya Allah 5 bulan lagi akan lahir ke dunia menghiasi dan warnai hari-hari mereka.


"Hemmm, yang lagi honeymoon! sampai tidak mengenal tempat," goda ibu Chintya ketika melihat anak menantunya begitu sangat romantis.


"Ibu!" Andara nampak tertunduk malu.

__ADS_1


"Mana adikmu, Nak?" ibu Chintya mencairkan suasana ketika melihat anaknya jadi salah tingkah oleh godaannya.


"Alina lagi shalat malam ibu," ucap Andara dengan tersipu malu ketika mengingat kemesraan ia dan suaminya barusan tertangkap indera penglihatan ibunya. Sedangkan Dimas nampak tersenyum simpul, ia pun merasakan tidak enak pada mertuanya. Namun dirinya berusaha untuk setenang mungkin.


"Ayo bu, apa sudah siap?" tanya ayah Farel yang baru selesai mencuci wajahnya setelah bangun dari tidurnya. Mereka berempat pun berjalan menuju rumah kediaman Bagaskara yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya.


Tok ... tok ... tok, "Assalamu'alaikum, kak Laras buka pintunya!" teriak ibu Chintya setengah histeris memanggil kakak kandungnya yang masih menangis pilu dari dalam rumahnya.


"Yah, sepertinya kak Laras tidak mendengarkan panggilan suara ibu!" ujar ibu Chintya kepada suaminya Farel.


"Coba ayah labrak saja pintunya! Sepertinya Laras sedang dalam masalah!" ayah Farel nampak khawatir dengan keadaan kakak iparnya Laras yang tidak menyahut dari dalam rumah.


"Tidak dikunci Yah, Bu." Dimas tidak sengaja menyentuh gagang pintu ruang tamu keluarga Bagaskara Ardhana Putra. Mereka pun segera masuk menemui Larasati ibunya Bagaskara.


"Astaghfirullah!" keempat orang berbeda generasi tersebut nampak kaget ketika melihat Larasati menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Bagaskara anaknya yang kini tak sadarkan diri dengan semburan darah yang keluar dari mulutnya.


"Ya Allah, apa yang terjadi dengan keponakanku!" ibu Chintya histeris melihat tubuh Bagaskara terbujur kaku.


"Hiks ... hiks ... hiks." Mama Laras memeluk tubuh Ibu Chintya adiknya, ia terus menangis tersedu-sedu melihat keadaan anaknya yang tak sadarkan diri.


"Apa tidak langsung dibawa ke rumah sakit saja, Yah?" tanya ibu Chintya sambil memeluk tubuh kakaknya Larasati.


"Sepertinya ini bukan sakit biasa, Bu." Ayah Farel pun bergegas menuju dapur untuk membuat ramuan khusus Bagaskara. Ia mengerti jika Bagaskara telah mengamalkan ilmu hitam peninggalan mendiang ayahnya Arya Arnenda.


Ayah Farel yang mengetahui tentang hal yang berkaitan dengan ilmu mistis pun sangat mengetahui jika Bagaskara terserang oleh ilmunya sendiri. Ia pun buru-buru membuat ramuan penangkal khusus untuk Bagaskara agar bisa bertahan hidup dari kejadian yang telah menimpanya saat ini.


Sementara Dimas terus beristighfar dalam hatinya ketika melihat hal yang tak wajar dalam diri Bagaskara. "Apa mungkin terjadi perlawanan antara aku dan dirinya, di saat ia hendak menyerangku dengan ilmu sihirnya!" batin Dimas dengan dipenuhi rasa yang berkecamuk dalam dadanya.


"Kak, kenapa mas Dimas sampai muntah darah?" tanya Andara sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Dimas pun mengusap lembut punggung istrinya, untuk menenangkannya agar tidak ketakutan.


"Sepertinya ada hal yang negatif yang terjadi padanya!" ucap Dimas pelan.


"Maksudnya apa kak?" tanya Andara lagi.

__ADS_1


"Nanti kakak jelaskan jika kita sudah pulang ke rumah!" terang Dimas dengan memeluk erat tubuh istrinya yang terlihat ketakutan.


"Chintya, apa apa anak ku Bagaskara masih bisa bertahan hidup?" Larasati bertanya pada adiknya Chintya dengan penuh pengharapan agar anaknya bisa sembuh seperti sedia kala.


"Insya Allah, jangan takut Kak! Suamiku sedang membuat ramuan untuk Bagaskara!" ucap ibu Chintya dengan menenangkan kakaknya Larasati.


Ayah Farel pun keluar dari arah dapur dengan membawa ramuan sebagai obat penawar rasa sakit untuk Bagaskara. Ramuan tersebut pun sudah dibacakan mantra-mantra oleh ayah Farel yang juga memiliki ilmu untuk mengobati orang-orang yang sakit secara non medis.


Ayah Farel, hanya menggunakan ilmunya untuk mengobati orang-orang yang terserang penyakit aura mistis. Namun, dirinya tidak langsung mempraktekkan hal tersebut pada Alina anaknya. Mengingat Alina, sudah berobat alternatif dengan mbak Rohimah tempo hari. Ia tidak ingin ada campuran pengobatan yang dapat menambah gangguan yang dialami oleh Alina anaknya.


Ayah Farel pun, menuangkan air ramuan tersebut ke dalam mulut Bagaskara secara perlahan. Sehingga air tersebut telah menyerap di dalam tubuhnya, Bagaskara pun perlahan menggerakkan jemari tangannya. Ia pun mengerjapkan matanya, pandangannya masih buram dan belum jelas dengan keadaan di sekelilingnya.


"Apa yang terjadi padaku?" batin Bagaskara dengan berusaha mengingat-ingat kejadian yang telah menimpanya berapa waktu yang lalu. Ia pun memegang dadanya yang masih terasa sakit.


"Kau sudah sadar Nak!" ucap Mama Laras dengan merengkuh tubuh putranya yang sedang terbaring lemah tak berdaya.


"Ma-ma," ucap Bagaskara dengan terbata.


"Jangan dipaksa untuk bergerak dulu, Nak! kondisimu belum pulih." ayah Farel nampak telaten mengobati keponakan mereka Bagaskara.


"Alhamdulillah, kau masih bertahan hidup Nak!" ucap ibu Chintya yang ikut andil memberikan semangat untuk kesembuhan keponakannya Bagaskara.


Sementara Bagaskara berusaha untuk tenang. Pasalnya, ia merasa takut jika sampai ketahuan bibi dan omnya jika dirinya telah mengirimkan sihir dan guna-guna pada anak mereka Alina. Netra Bagaskara pun tertuju kepada sosok Dimas Sidqi Amrulloh sedang memeluk istrinya Andara.


"Di-dia?" Bagaskara nampak ketakutan ketika tidak sengaja melihat wajah Dimas Sidqi Amrulloh kakak ipar Alina yang kini berada di hadapannya menatapnya dengan tatapan yang menghunus tajam menurut pandangannya.


Padahal kenyataannya, Dimas terlihat santai dan baik-baik saja. Namun karena rasa bersalah dan takutnya, Bagaskara menjadi ketakutan sendiri sebab telah berani-beraninya menyerang Dimas dengan ilmu sihirnya yang akhirnya mengenai dirinya sendiri.


"Ga-gawat, apa yang harus kulakukan?" wajah Bagaskara terlihat pucat pasi karena rasa takut yang menderanya.


"Kenapa ia ketakutan melihatku? aku yakin ada yang tidak beres dari dirinya!" Dimas berusaha untuk terlihat tenang di hadapan semuanya. Walau ia sendiri mengetahui akan kebejatan Bagaskara Ardhana Putra yang sudah di luar batasnya.


***


"Ya Allah, apa yang terjadi pada ku!" gumam Alina pelan, ketika ia tersadar dari pingsannya. Ia melihat di sekeliling kamarnya seolah-seolah menjadi saksi bisu atas rasa sakit yang tiba-tiba menyerang nya

__ADS_1


"Ternyata aku masih terkapar di atas sajadahku!" batin Alina yang mulai mengumpulkan semua kesadarannya.


__ADS_2