Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 77. Haerdang Berujung Tamparan Pedas


__ADS_3

Alina merengkuh tubuhnya, ia merasakan nafsunya telah sampai di ubun-ubun.


"Apa yang harus aku lakukan?" rintih Alina sambil menahan gejala nafsunya.


Area sensitifnya seolah-olah digerayangi oleh sesuatu yang tak kasat mata, "Kenapa rasanya semakin meningkat!" Alina menahan hasratnya dengan berpegang erat di sisi tempat tidurnya.


"Kenapa wajah mas Bagas tiba-tiba menghiasi alam bawah sadarku!" gumam Alina dengan merasakan lenguhan kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia merasa dirinya benar-benar seperti dipompa oleh sesuatu di area sensitifnya.


Alina terpaksa merasakan sensasi bercinta dalam alam bawah sadarnya, Ia merasa tubuhnya dikuasai oleh sesuatu.


"Kenapa ini begitu sangat nikmat sekali!" racau Alina dengan menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tidak bisa menguasai gejolak hasratnya, ia pun terus menikmati sesuatu yang tak kasat mata yang kini berada di atas tubuhnya yang menjadi bahasa pengantar tubuh Bagaskara seolah-olah menggerayangi dirinya.


"Mas Bagas, ini benar-benar sensasi yang sangat luar biasa!" batin Alina yang merasakan seolah-olah Bagaskara terus mencumbuinya. Keringat sebesar biji jagung terus membasahi sekujur tubuh Alina, seolah-olah bertempur di malam panasnya layaknya pasangan pengantin baru. Hati dan tubuh serta pikiran Alina merasa kosong dan melayang, ia tidak menyadari atas apa yang dirasakan olehnya saat ini. Ia benar-benar dikuasai oleh makhluk tak kasat mata yang kini berada di dalam tubuhnya. Yang berbuat semaunya atas hembusan buhul-buhul cinta dari Bagaskara Ardhana Putra.


"Mas Bagas!" lenguh Alina sambil memejamkan matanya. Bagaskara benar-benar merusak kesucian diri Alina melalui ilmu gaibnya. Sukma Alina seolah-olah terus dipanggilnya dalam aura mistisnya. Namun Alina tetap dalam keadaan suci atau perawan. Hanya sukma atau raganya saja seolah-olah digerayangi oleh Bagaskara melalui makhluk tak kasat mata yang ada di dalam tubuhnya.


"Alina, aku yakin kau saat ini sedang menikmati sensasi bercinta denganku dalam khayalmu!" Bagaskara pun keluar dari dalam kamar pengantinnya. Ia pun melangkahkan kakinya dengan cepatnya, seolah-olah terbang di atas angin.


Tidak ada yang tahu jika Bagaskara diam-diam keluar dari kediaman keluarga Putri yang kini telah menjadi istrinya. Mengingat Putri kini tak sadarkan diri terkapar di ranjang pengantinnya, sebab oleh perlakuan bejat Bagaskara terhadapnya. Jadi, Bagaskara bebas melangkahkan kakinya ke mana saja mau malam ini.


"Aku sangat merindukanmu!" ucap Bagaskara dengan berjalan kencang menuju kediaman Alina.


Hanya butuh waktu 15 menit Bagaskara pun sampai di kediaman Alina dengan berjalan kaki di tengah pekatnya angin malam disaat semua orang-orang sedang tertidur lelap.


Bagaskara berjalan menuju belakang rumah Alina dan berhenti di salah satu pohon yang besar. Ia pun kembali melafalkan mantranya dan memanggil Sukma Alina yang kini sedang terbaring lemas di kamarnya setelah pertempuran panasnya yang seolah-olah digerayangi oleh sesuatu yang tak kasat mata.


"Alina ... Alina ... Alina, datanglah kemari!" sukma Alina seolah-olah terpanggil, ia pun tiba-tiba membolehkan matanya dengan sempurna. Matanya, tiba-tiba terlihat menyeramkan seperti orang yang sedang kerasukan.


Alina pun melangkahkan kakinya keluar kamarnya, ia seperti dituntun untuk melangkah menemui Bagaskara yang kini ada di belakang rumahnya. Di saat semua keluarganya sedang terlelap.

__ADS_1


Hawa mistis seolah-olah membuat tubuh merasa merinding ketika alunan langkah kaki Alina hendak menuju ke arah pohon besar untuk menemui Bagaskara.


Hawa dingin seolah menusuk kulit sebab kini waktu menunjukkan pukul satu malam setelah aksi haerdang Bagaskara menikmati sensasi bercinta dengan istrinya dengan menyebut nama Alina Cahya Kirani di dalamnya.


Alina yang aslinya penakut tidak menyadari jika dirinya sedang dalam ajian sukma Bagaskara Ardhana Putra yang hendak memanggilnya untuk berjumpa dengannya di tengah pekat malam yang sangat menyeramkan disertai lolongan anjing yang bersahut-sahutan di kediamannya.


Bagaskara nampak menunggu Alina dengan rasa rindu yang bergelora di jiwanya terhadap sosok Alina yang sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di acara resepsi pernikahannya.


"Alina ... Alina ... Alina, datanglah secepatnya kemari!" suara aneh yang menyeramkan terus memanggil-manggil nama Alina hingga raga Alina terus menelusuri di mana tempat Bagaskara kini berada.


Gerak langkah Alina tinggal satu langkah lagi menuju pohon yang rindang di belakang rumahnya yang terlihat sangat menyeramkan di tengah hembusan angin malam yang begitu terlihat sepi hanya ada suara-suara aneh yang saling bersahutan.


Alina tidak menyadari jika di belakangnya ada seseorang yang diam-diam mengikuti pergerakan langkahnya yang kini telah berada di balik pohon yang rindang tersebut.


"Mau apa Alina berjalan ke pohon itu malam-malam begini? mencurigakan sekali," ucap Dimas Sidqi Amrulloh yang tidak sengaja mengikuti pergerakan Alina.


Dimas berniat untuk melakukan shalat malam, namun ia urung mengambil wudhunya ketika tidak sengaja melihat ada yang keluar dari pintu dapur menuju belakang rumah di saat cuaca masih sangat gelap dan pekat.


"Alina kau sudah datang sayang?" tanya Bagaskara kegirangan dengan memegang kedua pipi Alina dengan rasa rindu yang teramat dalam pada adik sepupunya itu.


Bagaskara merengkuh tubuh Alina dengan rasa rindu yang bergejolak di dalam hatinya. Rasanya ia tidak ingin melepas tubuh mungil itu dari dekapan dada bidangnya.


Alina yang masih dalam pengaruh ajian sukma Bagaskara nampak masih berlaku seperti orang bodoh. Tatapan dan pikirannya pun kosong, dirinya persis sekali seperti orang yang sedang dihipnotis sehingga menuruti keinginan orang yang menghipnotisnya.


Pelukan hangat itu, masih membuat Alina melongo. Bagaskara hendak menempelkan bibirnya pada bibir ranum Alina. Dia tidak merasa puas ketika dengan istrinya Putri dengan menyebut nama Alina hanya dengan ilusi saja. Ia ingin menuntaskan hasratnya yang terpendam pada Alina dalam dunia nyata bukan hanya dalam fantasi semata.


"Alina!" ucap Bagaskara hendak menyesap bibir Alina dalam keadaan wanita tersebut tidak sadar akan langkah kakinya kini telah berada dalam dekapan lelaki yang sangat dibencinya sebab telah mengguna-gunai dirinya dengan sangat kejinya.


"Hentikan aksi bejatmu Bagaskara Ardhana Putra! jangan kau sentuh Alina dengan tangan kotormu!" pekik Dimas Sidqi Amrulloh dengan melayangkan tinjunya di wajah Bagaskara yang hendak menodai Alina.

__ADS_1


"Kau!" teriak Bagaskara kaget dengan memegang pipi dan hidungnya yang terasa kebas oleh tonjokan Dimas kakak ipar Alina dengan tiba-tiba tanpa sempat dia untuk menghindarinya.


Perlahan Alina pun tersadar, "Apa yang terjadi denganku? Aku di mana?" Alina mengingat kembali potongan-potongan kecil kejadian sebelum dirinya sampai di belakang rumahnya.


"Bukankah aku tadi ada di kamarku? kenapa tadi tubuhku seolah-olah digerayangi sesuatu dan aku sangat menikmati adegan haerdang itu! ini pasti ulah bejat mas Bagas?" batin Alina ketika merasakan hal yang tak lazim kembali terjadi padanya.


"Plakkkkk!" Alina tiba-tiba langsung mendaratkan tamparannya di pipi Bagaskara dengan emosi yang meluap-luap.


"Kenapa kau memukulku, Alina? bukankah kau sangat menikmati sentuhanku baik secara ghaib ataupun nyata?" ucap Bagaskara dengan mengusap pipinya yang mendapatkan hadiah tamparan pedas dari Alina, wanita yang masih ia cintai sampai hari ini.


"Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa langkah kakiku sampai di sini? bisa-bisanya kau perlakukan aku dengan cara kotormu. Aku membencimu Mas Bagas! sangat benci! enyahlah dari hadapanku!" teriak Alina dengan setengah berlari meninggalkan Bagaskara yang masih mematung di tempatnya.


Air mata Alina jatuh berderai, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bagaskara yang selalu berusaha untuk memilikinya dengan cara yang tidak halal.


"Alina tunggu!" Bagaskara melambaikan tangannya hendak mengejar Alina.


"Kau sudah gila Bagaskara, hentikan aksi konyolmu!" teriak Dimas dengan emosi yang meledak-ledak. Ia pun menahan pergerakan Bagaskara untuk mengejar Alina di tengah pekat malam tersebut.


"Jangan coba-coba untuk menyakiti Alina lagi! kau akan berhadapan denganku kakak iparnya!" tegas Dimas dengan berusaha mengontrol emosinya agar tidak terdengar oleh semua orang yang berada di dalam rumah Alina yang mereka semuanya masih terlelap termasuk istrinya Andara.


Bagaskara terdiam, ia mulai khawatir sebab aksi bejatnya terhadap Alina semakin tercium oleh keluarga Alina sepupunya. Ia khawatir akan menjadi masalah yang besar dalam silsilah keluarga mereka.


"Aku tidak akan mengganggu Alina lagi! tapi jangan coba-coba untuk mengadu kepada Om Farel jika aku hendak menodai Alina!" ucap Bagaskara pura-pura setengah memelas.


"Aku tidak semudah itu percaya padamu!" pungkas Dimas dengan meninggalkan Bagaskara sendirian di bawah pohon yang rindang tersebut. Di mana hawa dinginnya semakin menusuk dalam kulit ari bagi yang masih berdiri di hembusan angin malam tersebut.


Bagaskara masih meringis memegang pipinya bekas bogem Dimas dan juga tamparan Alina.


"Sial*n, aksi haerdang ku berujung tamparan pedas! Awas saja, aku akan kembali melampiaskan hasratku pada Putri istriku! ia harus menanggung akibat dari tamparan dan kebencian Alina terhadapku!" gumam Bagaskara pelan dengan menyeret langkah kakinya pulang ke rumah orang tuanya. Dia berniat besok pagi-pagi baru akan kembali ke kediaman Putri yang masih berjarak sekitar 15 menit dari rumahnya.

__ADS_1


"Malam ini aku menginap di rumah Mama Laras aja!" batin Bagaskara yang menyadari jika rumah Mama Laras dan Alina hanya berjarak 5 langkah saja.


__ADS_2