
Queensha Putri pulang duluan setelah dirinya berhasil mendapatkan bukti-bukti tentang kencan Bagaskara dengan banyak wanita.
"Hemmm, masih mencari bukti kencannya Bagas dengan Dela juga Chika, jika semua sudah terkumpul baru aku akan memberitahukan semua teman-teman ku agar mereka percaya jika ustadz tampan yang mereka gandrungi itu tidak sebaik yang mereka kira." Queensha Putri terus membatin dalam hatinya. Setidak-tidaknya, ia menang satu langkah tanpa harus bersusah payah mencari bukti, mangsa pun datang sendiri menghampiri.
"Alhamdulillah, untuk hari ini penguntitan ku berjalan dengan lancar!" gumam Queensha Putri sambil mengendarai motor maticnya menuju di kediamannya.
***
"Ini kartu nama ku, di situ tertera nomor telfon ku jika terjadi apa-apa dengan mu. Aku yang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan Abang sepupu ku yang telah tega menonjokmu!" ucap Alina kepada seorang pemuda yang sudah dua kali menyelamatkan dirinya dari bahaya, selama ia berada di Garden Cleopatra.
"Terima kasih nona, perkenalkan nama ku Guntara Arjuna Winata! panggil saja Guntara!" ucap Guntara dengan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Alina Cahya Kirani.
"Alina Cahya Kirani!" ucap Alina hendak mengulurkan tangannya pada Guntara, namun Bagaskara secepatnya bangkit dan menarik tangan Alina agar jangan sampai bersentuhan dengan Guntara.
"Kita pulang!" ucap Bagaskara dengan menghalangi pergerakan Alina untuk berkenalan dengan Guntara Arjuna Winata.
Alina ingin melepaskan diri dari Bagaskara, namun Bagaskara begitu kuat mencekal pergelangan tangannya.
"Bagaskara, tunggu! Aku tidak ingin pisah dari mu!" teriak Desi dengan tangis memilukan. Harga dirinya seolah-olah di injak-injak oleh Bagaskara.
Namun, Bagaskara seolah tuli dan bisu. Tak peduli semua orang menatapnya tajam, yang terpenting baginya Alina dalam genggamannya.
Sorot mata Bagaskara tiba-tiba kembali merah menyala, ia seperti kesetanan ingin menerkam mangsanya. Darahnya terasa mendidih melihat interaksi antara Alina dan Guntara barusan, ingin rasanya ia membunuh Guntara dengan kedua tangannya. Sebab, telah berani-berani menyentuh wanitanya.
"Lepas, Mas! kasian kak Desi. Mas benar-benar tidak punya hati nurani!" ucap Alina sambil meringis menahan rasa sakit oleh cekalan tangan Bagaskara.
__ADS_1
Guntara ingin menegahi tindak kejahatan Bagaskara terhadap kaum wanita, namun pergerakannya di tahan oleh teman-temannya.
"Jangan ikut campur urusan pribadi mereka, Bro! lebih baik kau obati wajah mu yang memar itu! kalo jodoh nggak bakal kemana!" ucap salah satu teman Guntara. Sebab, mereka membaca gelagat rasa suka dari pandangan Guntara terhadap Alina.
Guntara berusaha menguasai dirinya, agar tidak terlalu larut dalam keterpanaannya. Entah mengapa saat bertemu muka dengan Alina rasa yang berbentuk hati tiba-tiba bersarang di benaknya.
"Ya Allah, sepertinya aku jatuh cinta pada gadis ayu tersebut!" bathin Guntara yang tiba-tiba didera rasa suka yang teramat dalam pada Alina.
"Entah mengapa aku melihatnya seperti Nyi Blorong seperti yang dikisahkan dalam film-film misteri itu. Auranya benar-benar terlihat cantik alami dan bercahaya!" bathin Guntara yang mulai terhipnotis dengan pesona Alina. Guntara tidak menyadari jika aura mistis yang berasal dari Alina adalah gangguan dari makhluk tak kasat mata yang bersemayam di tubuh Alina yang sengaja membuat kaum Adam tertarik dengan Alina, jika sudah saling menyukai barulah makhluk yang bernama jin itu mengacaukan hubungan cinta Alina pada lelaki mana pun.
Sementara Desi dengan penampilan acak-acakan dan compang-camping ia pun terus meratapi kedukaannya. Ia menyesal telah menyerahkan dirinya untuk dikecup-kecup dan di gerayangi oleh Bagaskara meskipun tak sampai mengambil mahkota berharganya.
"Aku benci dengan mu Bagaskara Ardhana Putra! aku sumpahi tujuh turunan mu dapat malapetaka!" umpat Desi dengan mengacak-acak kasar rambutnya yang sudah seperti orang gila. Desi meluapkan kekesalannya dengan terus-menerus mengumpat hal-hal yang buruk pada Bagaskara Ardhana Putra.
Hujan pun tiba-tiba turun dengan derasnya di sertai oleh angin kencang, kilatan petir pun menyambar-nyambar seiring sumpah serapah Desi yang ditujukan pada Bagaskara.
"Aku ingin mati saja, daripada hidup. Ia benar-benar telah menginjak-injak harga diri ku!" Desi menangis dalam rangkulan sahabatnya.
"Sudahlah, jangan terlalu larut dalam kesedihan! Ia tak pantas untuk kau tangisi." Teman Desi yang satunya pun ikut menenangkan Desi yang terus meratapi kedukaannya.
"Iya Nona, benar kata teman mu, jangan terlalu memikirkan sesuatu yang memang telah pergi meninggalkan kita! ini jaket kulit ku untuk menutupi pakaian mu yang telah acak-acakan. Agar terlihat lebih baik!" ucap Guntara yang kini pun ikut berteduh bersama Desi dan teman-temannya di salah satu pondok Garden Cleopatra.
"Terima kasih!" ucap Desi dengan di bantu oleh temannya untuk mengenakan jaket kulit tersebut menutupi tubuhnya yang terlihat semerawut setelah aksi gontok-gontokannnya dengan seorang wanita yang telah menghinanya.
***
__ADS_1
Jedarrrrr! bunyi suara petir menggelegar membelah angkasa. Alina nampak basah kuyup, ia merasakan kedinginan di sekujur tubuhnya akibat diguyuri hujan deras.
Bagaskara pun menepikan motor spotnya, mereka pun berteduh di pondokan dekat mushola yang tak jauh dari Garden Cleopatra.
Bagaskara hendak menghangatkan tubuh Alina dalam pelukannya, namun Alina menolaknya dengan ketus. Alina merasa jijik bersentuhan dengan Bagaskara.
"Alina, jangan menolak ku! jangan coba-coba untuk membangkitkan emosi ku! lihatlah kau sangat kedinginan."
"Apa peduli mu terhadap ku? kau laki-laki bejat yang pernah ku temui! kau telah menyakiti banyak wanita, aku tidak ingin lagi menjadi kekasih Mas. Cukup sampai di sini hubungan kita!" tegas Alina dengan bulir air mata yang kini mengalir deras di pipinya.
"Apa kau bilang Alina? tatap mata ku sekarang!" ucap Bagaskara dengan bola mata yang tiba-tiba berubah merah menyala, seperti bola mata syaitan.
Alina membuang wajahnya, ia tidak ingin melihat tatapan mata Bagaskara yang kerap kali dapat melumpuhkan jiwanya ketika melihat tatapan dari sepupunya itu.
"Kau mulai berani menentang ku Alina!" Bagaskara menarik dagu Alina dan mengecup lembut bibir ranum Alina yang kini terlihat keunguan sebab kedinginan yang menderanya.
"Jangan salahkan aku berbuat lebih pada mu Alina!" ucap Bagaskara dengan menjilati pipi Alina.
"Astaghfirullah! apa yang ingin kau lakukan, Mas!" pekik Alina dengan mendorong tubuh Bagaskara yang telah mencuri kecupan bibirnya.
"Alina, Mas sudah tak tahan lagi, ingin menghangatkan mu!" ucap Bagaskara dengan meraih tubuh mungil Alina untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Mas Bagas, kenapa matanya tiba-tiba merah menyala? apa ia sedang kerasukan setan penunggu Garden Cleopatra!" bisikan hati Alina yang bergidik ngeri oleh tatapan Bagaskara yang seakan ingin menerkamnya.
Bagaskara hendak memberikan sentuhan hangat pada bibir ranum Alina yang sekian lama membuatnya mabuk kepayang, namun ketika ia hendak memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Alina, dengan gesitnya Alina menggigit lidah Bagaskara hingga mengeluarkan darah segar, tautan itu pun terlepas. Sehingga Bagaskara pun mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Arggghhh! Alina Cahya Kirani, apa yang kau lakukan!" pekik Bagaskara ketika merasakan sensasi rasa sakit yang perih menyelimuti lidahnya. Hingga ia pun tersadar dari aksi bejatnya yang hendak menodai bibir Alina dengan ciuman panasnya.
"A-alina, maafkan Mas!" ucap Bagaskara pelan setelah pun ia menguasai dirinya yang semula seperti orang kesetanan yang hendak menodai kesucian Alina, wanita yang sangat dicintainya.