Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 36. Mengumpulkan Bukti ( Salah Masuk )


__ADS_3

Queensha Putri Fayanna terus mengumpulkan bukti untuk membuka kedok Bagaskara Ardhana Putra dengan menyimpan semua aksi bejat Bagaskara terhadap semua wanita yang dikecaninya di file-nya.


Queensha Putri nampak duduk santai di pondokan yang tak jauh dari tempat Bagaskara dan Alina yang sedang menikmati bakso beranak di salah satu warung makan di Garden Cleopatra. Kedua anak muda itu nampak menikmati kebersamaannya.


"OMG, mereka menikmati bakso beranak dalam satu mangkok? kenapa Alina begitu mudah terpedaya dengan Bagaskara? sepertinya Alina dalam pengaruh sihir Bagaskara Ardhana Putra, tidak mungkin Alina dengan begitu mudahnya menuruti semua keinginan laki-laki bejat itu? Menjijikkan sekali, pakai adegan suap-suapan segala, belum halal juga. Eh, tunggu dulu! mereka kan sepupu? mana boleh menikah, dalam masyarakat Indonesia itu sangat tabu, meskipun ada beberapa yang menikah antar sepupu? kalau di desa ini, tentunya Bagas dan Alina bakal jadi gunjingan," celoteh Queensha Putri dengan menatap tajam ke arah Bagaskara.


"Aku harus menyelamatkan Alina dari tipu daya Bagaskara, setelah semua bukti-bukti terkumpul. Baru aku akan melancarkan aksi ku!" bathin Queensha Putri sambil memasukkan cemilan stick kentang kedalam mulutnya. Ia pun mengecek kembali kamera digitalnya. Senyuman mengembang di bibirnya, setelah bukti-bukti tentang Bagaskara tersimpan rapi di filenya.


Queensha Putri pun mengecek ponselnya, "Ini bukti video mesum Maharani dan Bagas malam itu, mereka benar-benar menjijikkan hendak bergumul layaknya pasangan suami istri!" Putri rasanya ingin memuntahkan isi perutnya setelah melihat adegan mesum itu. Setelah mengumpulkan bukti tersebut, Putri menyimpan ponselnya di tas selempangnya. Ia pun menyandarkan kepalanya di pondokan tersebut.


"Aku benci pada mu Bagaskara Ardhana Putra! kau telah mengambil paksa ciuman pertama ku! Aku benci, aku benci!" bathin Putri dengan menahan sesak di dadanya. Air matanya pun berlinang membasahi pipi mulusnya, ketika kembali membayangkan Bagaskara dengan brutalnya mencium bibirnya yang masih tersegel sempurna dan belum pernah di sentuh oleh seorang pun.


"Kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal dari perbuatan bejat mu Bagaskara. Pengumpulan bukti-bukti ini tak sebanding dengan tersiksanya lahir dan batin ku oleh kebejatan mu!" gumam Putri dengan menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir dengan derasnya, mewakili perasaan hatinya yang terlihat remuk redam.


Sementara Bagaskara nampak asyik menyuapi Alina, "Besar sekali baksonya Mas? Alina baru sekali ini makan bakso beranak!" ucap Alina jujur.


"Berarti Mas adalah orang pertama yang sangat istimewa. Sebab, telah menemani mu menikmati bakso yang enak dan sebesar ini!" ucap Bagaskara dengan memandangi wajah ayu Alina.


Semua orang nampak tertuju pada kemesraan yang di tampakkan oleh Bagaskara dan Alina.


"OMG, so sweetnya?" ucap orang-orang yang mengira Bagaskara dan Alina adalah pasangan suami istri.


Semua orang nampak terpukau dengan pesona Bagaskara dan Alina.


"Yang satu cantik dan yang satu tampan. Pasangan yang sempurna!" ucap orang-orang hingga terdengar di telinga Bagaskara dan Alina. Mendengar pujian itu semua, membuat telinga Bagaskara merasa tersanjung dengan ucapan orang-orang tersebut.

__ADS_1


"Kau lihat sayang! semua orang memandang kita serasi," ucap Bagaskara dengan mengerlingkan pandangannya pada sosok Alina Cahya Kirani.


"Wajarlah Mas, mereka kan tidak tahu jika kita ini sebenarnya saudara sepupu. Jika mereka tahu, mungkin mereka akan memandang rendah pada kita!" pungkas Alina dengan terus menikmati bakso beranak tersebut yang tampak cocok dilidahnya.


"Jangan pernah mengatakan itu Alina! anggap saja saat ini kita adalah pasangan kekasih, bukan saudara sepupu!" ucap Bagaskara pelan.


"Iya, iya. Ini bakso terakhir untuk Mas!" ucap Alina dengan menyuapi Bagaskara.


"Dan ini, es jeruk special untuk mu cantik!" ucap Bagaskara dengan mengaduk es jeruk tersebut menggunakan sedotan, sebelum esnya berpindah tangan pada Alina.


"Terima kasih, Mas!" ucap Alina dengan penuh ceria. Akan tetapi keceriaannya perlahan memudar, ketika kebersamaannya dengan Bagaskara di ricuhkan oleh kedatangan teman-teman Bagaskara sewaktu zaman putih abu-abu dulu.


"Bagaskara, ternyata kau disini? setelah pagi tadi kau meninggalkan ku sendiri di bebatuan pantai!" ucap Desi dengan menarik kursi di samping Bagaskara. Membuat Bagaskara spot jantungnya, dengan kehadiran Desi seperti Jailangkung, datang tak dijemput langsung nyelonong duduk di sampingnya.


"Desi, kau disini?" tanya Bagaskara yang terlihat gugup dengan kehadiran Desi disisinya.


"Ini maksudnya apa, Mas?" tanya Alina dengan rasa cemburu yang kini memenuhi ruang hatinya.


Bagaskara yang nampak kebingungan pun tidak serta-merta menjawab. Ia mencari alasan yang logis untuk meyakinkan Alina jika Desi bukan apa-apa untuknya.


"Hai, kita bertemu lagi di sini? bukankah kau Alina sepupunya Bagaskara?" tanya Desi yang sok kenal, sok dekat, sok akrab."


"Iya, aku adik sepupunya Mas Bagas!" ucap Alina yang berusaha menahan bulir bening jatuh dari kelopak matanya.


Alina menatap Bagaskara dengan penuh tanda tanya, "Jadi, Mas Bagas membohongiku lagi, ternyata ia memiliki hubungan khusus dengan kak Desi!" bathin Alina dengan wajah yang memerah menahan gejolak emosi dihatinya.

__ADS_1


"Aku ketoilet dulu, Mas!" pungkas Alina yang tidak kuat lagi menahan rasa sakit dihatinya.


"Alina!" ucap Bagaskara yang tak tahan melihat kekecewaan di hati Alina.


Alina melangkahkan kakinya pergi membawa luka di hatinya.Toilet menjadi tempat khusus untuk Alina meluapkan emosinya saat ini. Ia menangis sejadi-jadinya meluapkan emosinya yang tertahan.


"Aku benci pada mu Mas Bagas! Aku ingin kita putus, tidak peduli sebesar apa rasa yang bersarang di hatiku terhadap mu. Daripada diriku terus makan hati dengan ikatan terkutuk ini!" oceh Alina dengan mengeluarkan unek-unek yang terpendam di hatinya.


"Baru saja aku merasakan manisnya mengukir kebersamaan dengan mu. Begitu mudahnya kau hempas rasaku!" ucap Alina meringis pilu.


Tok ... tok ... tok, "Apa ada orang di dalam? lama betul? aku sudah kebelet ni!" ucap seseorang dari balik pintu toilet.


"Ya Allah, kok suara laki-laki? jangan-jangan aku salah masuk toilet?" bathin Alina dengan cepat-cepat membasuh wajahnya yang habis menangis.


Alina segera keluar dari toilet.


"Brukkk!" dan benar saja, Alina bertabrakan dengan tubuh kekar.


"Awww, sakit!" Alina terhuyung dan hampir terpental dilantai toilet, untung saja pemuda tersebut dengan sigap menarik Alina masuk kedalam dekapan sang pemuda yang bertubuh tinggi besar itu.


"Lain kali hati-hati, Neng! maaf aku sudah kebelet, dan satu lagi diri mu salah masuk toilet. Toilet wanita di sebelah sana!" tunjuk pemuda tersebut dengan sekilas menatap wajah polos Alina Cahya Kirani.


"Cantik!" satu kata yang berhasil keluar dari lisan pemuda tersebut.


"Ma-af, terimakasih!" Alina melepaskan dirinya dari dekapan pemuda tersebut. Ia tidak terlalu menanggapi ucapan pemuda tersebut yang tiba-tiba menyebutkan jika dirinya cantik.

__ADS_1


Alina berjalan terburu-buru, pasalnya ia merasa malu sebab salah masuk toilet pria.


"Ini semua gara-gara dirimu, sehingga diriku salah masuk seperti ini, Mas Bagas!" dumel Alina dalam hatinya.


__ADS_2