
Bagaskara telah berhasil menundukkan Desi untuk menjadi pacarnya, ia pun melancarkan aksinya untuk kembali mendekati Maharani, juga Dela, Chika, Putri, temannya Alina Cahya Kirani.
Sayangnya, hal yang paling sulit baginya adalah mendekati Putri. Sebab, Queensha Putri Fayanna sama sekali tidak merespon ketika Bagaskara berusaha untuk mendekatinya.
"Queensha Putri Fayanna, aku ingin mencoba mendekati mu secara murni. Kau benar-benar telah memikat hatiku setelah Alina Cahya Kirani, namun bukan berarti aku benar-benar menginginkan mu, di hatiku hanya ada Alina. Aku hanya ingin melumpuhkan kesombongan mu!" bathin Bagaskara dengan menyusun segala rencana untuk mendekati Putri.
Malam ini ibarat satu tali sepuluh nyawa terenggut, Bagaskara telah berhasil menundukkan beberapa wanita, misi selanjutnya adalah hendak melumpuhkan Putri meski kesulitan untuk mendapatkannya. Sebab, Putri sama sekali tidak pernah menatap mata Bagaskara Ardhana Putra, sehingga kesulitan untuk Bagaskara menghembuskan buhul-buhul cintanya secara langsung pada wanita tersebut.
"Sekali ini aku gagal mendapatkan mu, Putri. Tapi, malam selanjutnya aku yakin bisa menundukkan mu!" bathin Bagaskara menyeringai licik.
"Aku ingin menemui Alina kenapa dari sejak pagi tadi hingga sekarang ia menjauhi ku? sepertinya ia benar-benar marah pada ku, aku harus membujuknya agar memaafkan ku dan kembali mempercayai ku. Ia tidak boleh meyakini jika aku memiliki pacar selain dirinya. Aku hanya ingin berpetualang mencari jati diriku!" bathin Bagaskara dengan bergegas menuju rumah Alina setelah selesai mengajar semua santrinya mengaji.
Bagaskara nampak bersemangat, hatinya pun merasa dipenuhi senyum kemenangan, pasalnya kini ia sudah berhasil melumpuhkan hati banyak wanita. "Hemmm, ternyata ilmu pengasihan ku sangat ampuh. Semua wanita jatuh hati dan tunduk pada ku!"
Bagaskara menuntun langkahnya menuju kediaman Alina, tidak butuh waktu lama menuju kediaman yang terkasih yang hanya berjarak 5 langkah.
Barulah akan menemui Alina, Bagaskara di buat emosi, pasalnya Alina terlihat santai duduk manis di kursi teras rumahnya dengan ngobrol asyik dengan seseorang lewat ponselnya. Alina terlihat sangat bahagia, berbeda saat bersama Bagaskara selalu di dera rasa sakit hati dan cemburu buta.
"Alina, ia telfonan dengan siapa? pantas saja ia mengabaikan ratusan panggilan telfon dan pesan dari ku!" bathin Bagaskara terlihat sangat kesal dan mengepalkan tinjunya.
__ADS_1
Menyadari akan kehadiran Bagaskara, Alina pun sengaja tidak mematikan telfonnya. Ia begitu asyik berbicara di seberang telfon dengan Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.
"Jadi, kakak sekarang magang dibagian politik dan manajemen diperusahaan ternama di ibu kota? berarti kakak pintar dalam mengatur segala perencanaan dong?" timpal Alina Cahya Kirani.
"InsyaAllah, bukan hanya perencanaan diperusahaan atau yang semisalnya yang kakak pikirkan, termasuk perencanaan masa depan pun sudah kakak pikirkan dari sejak dini. Kakak telah menyusun dan menulis 100 cita-cita dan impian, salah satunya menikah diusia muda. Ingin mempunyai keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Di mana keluarga yang selalu menghadirkan ridho dan cinta Allah didalamnya."
Alina mendengar dengan seksama penuturan Muzzaki Ansori, hatinya semakin tersentuh rasa oleh kesantunan akhlak dan kesholihan pemuda tersebut.
"Jika kakak menikah muda, bagaimana dengan Alina? berarti Alina tidak punya teman curhat lagi." Alina terlihat sangat sedih, namun ia tidak ingin kentara jika hatinya mulai tersentuh rasa pada sosok Ansori yang belakangan ini telah menyentuh hati dan jiwanya setelah Bagaskara Ardhana Putra.
Ansori yang memahami akan kesedihan Alina pun berusaha untuk menghiburnya.
"Jangan bersedih dan jangan terlalu dipikirkan, boleh jadi jodoh yang telah Allah tetapkan untuk kakak adalah dirimu Alina Cahya Kirani!" ucap Ansori mulai menenangkan Alina.
Jika memang Alina adalah jodohnya memang itu harapan dan impian Ansori setelah ia selesai magang dan lulus kuliah, ia akan mencari pekerjaan tetap dan menikah diusia mudahnya untuk mengikuti Sunnah Rasul-nya dan juga memenuhi setengah dien-nya. Ansori tidak ingin terjerat dalam kemaksiatan yang dapat menghancurkan biduk keimanannya dan masa mudanya. Ia tidak ingin menempuh jalan pacaran. Akan tetapi satu hal yang membuatnya dilema semenjak mengenal Alina ia memiliki rasa yang lebih dari sekedar teman, baginya Alina adalah wanita yang istimewa di hatinya setelah Ummi-nya.
"Maafkan aku Alina, bukannya aku menggantungkan perasaan mu, akan tetapi aku tidak ingin mengumbar rasa ku terhadap mu. Semoga dirimu nantinya adalah jodoh yang di pilihkan oleh Allah untuk ku!" untaian do'a Ansori penuh harap pada sang maha pemilik cinta dan kehidupan.
Keduanya pun hening sejenak tanpa bicara, Alina dan Ansori berusaha menetralkan detak jantung masing-masing.
__ADS_1
"Apakah mungkin, Alina berjodoh dengan kakak? Alina hanya orang biasa, yang masih awwam mengenai ilmu agama. Sedangkan kakak adalah pemuda yang sholih, yang memiliki ilmu agama yang tinggi. Tentunya kakak pun akan mendambakan sosok wanita sholihah untuk mendampingi kakak, bukan seperti Alina yang masih jauh dari kata sempurna!" timpal Alina dengan sedikit merasa rendah diri.
"Subhanallah, bagi kakak kau begitu sempurna Alina Cahya Kirani. Asal dirimu tahu baru dengan dirimu kakak memiliki teman yang istimewa." Ansori memberikan keyakinan pada Alina, membuat Alina mulai menaruh harapan pada sosok Ansori, berharap bisa memiliki jodoh yang baik seperti Ansori, lupa lah ia akan perasaan terlarangnya pada sosok Bagaskara Ardhana Putra.
"Alina Cahya Kirani, kau telfonan dengan siapa?" pekik Bagaskara dengan emosi yang bergemuruh di dadanya.
Alina tidak menggubris perkataan Bagaskara, ia masih saja terus berkomunikasi dengan Muzzaki Ansori. Ia merasa sakit hati ketika melihat Bagaskara menggenggam erat jemari tangan Maharani di hadapannya, apalagi Maharani sempat mengatakan jika ia dan Bagas berpacaran, membuat Alina didera rasa kecewa yang amat dalam terhadap Abang sepupunya yang juga merangkap sebagai kekasih hatinya itu.
"Alina, siapa yang berbicara itu?" Ansori bertanya dibalik telfon.
"Abang sepupu ku, Kak!" ucap Alina santai.
"Oh, kalau begitu silahkan lanjutkan keperluannya dengan Abang sepupu mu! kakak juga hendak belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Oh ya, jangan tidur terlalu larut agar bisa bangun subuh di awal waktu. Sempatkan juga membaca buku yang berhubungan dengan realigi atau buku yang bermanfaat lainnya untuk menambah wawasan meskipun hanya 5 menit, setidaknya ilmu pengetahuan bertambah dan ada hal yang dipelajari setiap harinya. Kakak pamit dulu, silahkan di matikan telfonnya! Assalamu'alaikum."
Ansori segera meminta Alina mengakhiri komunikasinya lantaran menghargai kehadiran Bagaskara Ardhana Putra. Ansori tidak mengetahui jika Bagaskara dan Alina memiliki hubungan spesial.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi," Alina segera mematikan telfonnya. Ia merasa bahagia sebab Muzzaki Ansori selalu memotivasinya dengan kebaikan. Membuat Alina terlihat bersemangat.
***
__ADS_1
"Katakan pada ku siapa yang menelfon mu!" bentak Bagaskara dengan wajah yang merah padam lantaran cemburu dengan kedekatan Alina dengan Muzzaki Ansori.
"Bukan urusan, Mas!" sarkas Alina dengan menatap layar ponselnya.