Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 118. Merindu Kembali ( Berontak )


__ADS_3

Bagaskara nampak frustasi, kabar yang ia dapatkan dari orang-orang jika Alina kini sedang merantau dan jauh dari kampung halamannya. Membuat Bagaskara semakin meracau dan bertingkah seperti orang gila.


''Sayang, kau dimana? mas sangat merinduimu,'' ucap Bagaskara dengan menatap bingkai wajah Alina yang masih tersimpan di ponselnya.


''Maafkan Mas Alina, sebab telah mengguna-gunai mu dengan buhul-buhul cinta. Mengikat mu hingga tak ada seorang pun yang dapat memiliki mu, itu semua demi rasa cinta dan sayang mas pada mu,'' ucap Bagas sambil meratapi kesedihannya yang tak bermakna.


Tubuh Bagaskara semakin kering kerontang dan tak terawat, semenjak ia bercerai dengan Queensha Putri dan mengidap penyakit aneh yang menggerogoti tubuhnya beberapa pekan ini. Tubuh Bagaskara semakin tak terawat, bola matanya terlihat cekung. Rambutnya pun sudah terlihat gondrong dan tak terawat. Kumis dan bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya kini tampak tak beraturan.


Bagaskara sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Ia bahkan jarang mandi dan sering berbicara layaknya orang gila yang kehilangan akal sehatnya.


''Nak, sampai kapan diri mu terus seperti ini? mama tidak pernah lagi melihat mu menghadap kiblat, biar mama rapikan rambut dan dan bulu-bulu halus yang membuat rahangmu seperti dipenuhi semak belukar? agar kelihatan sedap dipandang mata,'' ujar mama Laras dengan tatapan yang di liputi kesedihan ketika melihat anaknya yang dulu gagah kini terlihat tak berdaya oleh sebab penyakit aneh yang akhir-akhir ini menggerogotinya.


Bagaskara hanya terdiam, dirinya kini tak lebih seperti seonggok daging yang tak bermakna. Ia benar-benar seperti seseorang yang kehilangan akal sehatnya.


''Ya Allah Nak, kenapa dirimu menjadi seperti ini? mungkinkah semua ini adalah karma atas segala perbuatan mu di masa lalu. Mohon ampun kepada gusti Allah, Nak! minta maaf lah, kepada semua orang yang pernah kau dzolimi, terutama saudari sepupu Alina. Juga om Farel dan Tante Chintya jika dirimu telah menyakiti lahir dan batin anak mereka Alina. Mama juga mohon kau minta maaf pada mantan istri mu dan keluarganya. Sebab kau telah mendzolimi mantan istri mu Queensha Putri Fayanna setelah 4 tahun pernikahan kalian,'' pinta mama Laras dengan mengusap lembut pucuk kepala anaknya.


''Hentikan ocehan mu Nenek tua!'' bentak Bagaskara dengan membanting gunting dan juga sisir yang ingin di gunakan mama Laras untuk merapikan rambut Bagaskara yang terlihat gondrong.


Mata Bagaskara merah menyala seperti bola mata syaitan, dirinya seolah dibisiki untuk mencekik ibunya sendiri.

__ADS_1


''Matiiii ... kau tua bangka!'' sentak Bagaskara hendak mencekik ibu yang telah melahirkannya.


''Hoekkkkk.'' Nafas Mama Laras seakan tersengal, ia semakin merasa sesak dan kesulitan bernafas.


''Ja-jangan, le-lepaskan Nak! i-ini mama, i-ibu yang telah melahirkan mu!'' ucap mama Laras dengan memulihkan kesadaran Bagaskara yang sedang kesurupan akibat pengaruh ilmu sihirnya sendiri yang tidak bisa untuk ia kontrol akhir-akhir ini.


''Brukkkkk.'' Tubuh Bagaskara yang sedang berontak dan kesetanan hendak menyakiti ibunya sendiri pun jatuh tersungkur ke tanah akibat dorongan ayah Farel yang tak sengaja mendengar keributan tersebut dari teras rumah mereka yang memang berdekatan.


Chintya, ibunya Alina pun segera mengangkat tubuh kakaknya Larasati. ''Kau tidak apa-apa Kak?'' tanya Chintya sambil menyodorkan air putih ke mulut kakaknya.


''Kau keterlaluan Bagaskara, apa kau sudah gila ingin membunuh ibu mu sendiri? sudah Om peringatkan berhentilah mengamalkan ilmu sihir itu jika memang kau ingin menjadi orang yang berguna. Om tak habis pikir dengan cara picik mu, sudah Alina anak Om yang kau dzolimi lahir batinnya, dan sekarang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan mu hendak kau habisi,'' geram Farel hendak menonjok batang hidung Bagaskara yang sudah terlihat lemah dan tak berdaya oleh akibat serangan Farel ayah Alina yang membabi-buta terhadapnya.


''Sudah, Yah! sepertinya kesadaran Bagaskara sudah pulih, jika ia masih terus berontak mau tidak mau kita harus membawanya ke rumah sakit jiwa dan di pasung di sana, khawatir ia berbuat kerusuhan di desa kita,'' sela Chintya pada suaminya.


''Jangan menyesali segala yang terjadi Kak, semua sudah kehendak Allah Subhana wa ta'ala. Kita do'akan semoga Bagaskara bertaubat dari segala kemusyrikannya hingga ia melepaskan ilmu sihir yang hendak menyesatkannya.''


Chintya memeluk erat tubuh kakaknya Larasati yang terlihat kerontang akibat dari hari ke hari memikirkan nasib anaknya yang seolah tak bisa lagi untuk diatur dan di ubah.


Bagaskara pun berusaha untuk bangkit, perlahan kesadarannya pulih. Ia menatap sekelilingnya, sebejat-bejat dirinya hatinya nampak terenyuh ketika melihat bidadari tak bersayapnya terisak dalam tangisnya.

__ADS_1


''Mama, apa yang terjadi?'' tanya Bagaskara dengan memijat kepalanya yang terasa sakit, ia sama sekali tidak menyadari jika dirinya hendak menghabiskan nyawa ibunya sendiri.


''Kau hendak mencekik ibumu, hampir saja kau ingin menghabiskan nyawanya!'' cecar Farel dengan nada tinggi.


Ingin rasanya Farel menghabisi nyawa Bagaskara saat ini. Tapi hati nuraninya masih terus berfungsi dengan baik, agar tidak main hakim sendiri.


Bagaskara nampak menyesali perbuatannya, ia mendecak frustasi dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia melemparkan ponselnya hingga retak seribu.


''Ini semua gara-gara dirimu Alina Cahya Kirani, kenapa aku harus jatuh cinta pada mu. Kenapa kau menggantungkan perasaan ku? kenapa kau terus menolak ku untuk berada di sisi mu? kenapa, hahh?'' Bagaskara menoreh ibu jarinya dengan pisau dan meneteskan darah segar tersebut pada bingkai foto Alina yang masih tersisa padanya.


''Alina, aku merindu kembali pada mu, tak akan ada seorangpun yang mampu mencegah ku. Sukma mu adalah milik ku, tetap milik ku selamanya! Di mana pun dirimu berada aku akan terus menghantuimu dengan buhul-buhul cinta ku!''


Bagaskara terlihat berontak dirinya pun kembali menghembuskan buhul-buhul cintanya yang di tujukan pada Alina setelah sekian purnama ia tidak melafalkan mantra-mantranya.


Bagaskara seperti kesetanan, rindu dendam yang menyatu dalam dirinya semakin membuatnya gelap mata untuk terus menghantui Alina dengan cara yang mistis dan lebih sadis dari sebelumnya.


***


''Astaghfirullah, jantung ku sakit sekali. Seperti tersusuk-susuk ribuan jarum,'' gumam Alina pelan dan masih terdengar jelas oleh indera pendengar Fajar Guntur Ramadhan yang fokus belajar mengaji dengan Alina di Mesjid Baiturrahman saat ini.

__ADS_1


Dapat Alina rasakan kekuatan energi negatif kembali menyerangnya dan ia pun memegang kepalanya yang terasa sakit. Alina pun perlahan memejamkan matanya, ia pingsan tak sadarkan diri dalam dekapan Fajar Guntur Ramadhan yang kini duduk di sampingnya.


''Alina, apa yang terjadi pada mu?'' Guntur menepuk-nepuk pipi Alina yang kini sedang terbaring tak sadarkan diri dalam pangkuannya.


__ADS_2