
Alina terus memandangi jendela kamar Bagaskara dari bilik kamarnya, jiwanya merasa tenang. Apalagi melihat jendela kamar Bagaskara seketika terbuka. Bagaskara menelfon Alina dengan melambaikan tangannya dari jendela.
"Handphone ku berbunyi, siapakah gerangan?" gumam Alina dengan setengah berlari mengecek benda pipih tersebut.
"Mas Bagas!" bathin Alina dengan tersenyum bahagia. Hatinya terasa berbunga-bunga ketika mendapat panggilan telfon dari sepupunya Bagaskara Ardhana Putra.
"Assalamu'alaikum, cinta? coba lihat Mas disini! Mas yakin dirimu akan terpikat oleh pesona Mas," ucap Bagaskara dengan memakai peci lengkap dengan baju koko berwarna hijau botol berpadu dengan sarungnya. Sehingga menampakkan sisi religiusnya, yang sebenarnya hanya berkedok Ustadz demi menutupi kebobrokannya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, maa syaa Allah Mas sangat tampan dan religius sekali! sudah seperti Ustadz kondang saja, Mas!" seloroh Alina yang tidak pernah menyadari jika dirinya dibawah pengaruh ajian pemikat dari saudara sepupu yang sangat dicintainya itu.
Melihat wajah ayu Alina, membuat Bagaskara semakin tergila-gila pada sosok Alina Cahya Kirana yang begitu terlihat sangat mempesona dalam pandangannya.
"Alina, senyuman manis itu, sungguh aku tak rela sampai ada yang memandangnya. Aku akan mengirimkan ajian pemikat yang lebih ampuh lagi agar tidak ada satu orang pun yang bisa mendekati mu apalagi sampai memiliki mu menjadi pasangan yang halal, sungguh tak kan ku biarkan hal itu terjadi!" Bathin Bagaskara Ardhana Putra.
"Jika pun ikatan cinta kita tidak bisa berlanjut ke jenjang pernikahan, lantaran adanya hubungan silsilah keluarga di antara kita, aku pastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menikahi mu. Karena aku akan menikahi ragamu lewat hembusan ajian pemikat dan mantra-mantra yang memiliki keampuhan yang sangat luar biasa yang bisa memisahkan seseorang dengan orang yang di cintainya, sekalipun orang tersebut mulanya saling mencintai." Bagaskara semakin menjadi-jadi, cinta butanya terhadap Alina benar-benar telah membuatnya gelap mata.
"Mas, kenapa diam? buruan ke Mesjid, sebentar lagi sudah Magrib. Matikan telfonnya!" titah Alina dengan memandang wajah manis milik Abang sepupunya itu, lesung pipi yang selalu menerbitkan senyuman yang meneduhkan tersebut membuat Alina terpikat dengan pesona Abang sepupunya itu.
"Oh, iya. Mas akan kumandangkan adzan untuk mu, kau pasti akan terpukau mendengarnya."
"Subhanallah, Mas hakekatnya adzan itu adalah panggilan sholat untuk semua insan yang mengaku dirinya seorang muslim, khususnya untuk masyarakat yang ada di desa kita ini, bukan untuk Alina saja. Setidaknya Mas menyeru semua masyarakat di sini agar segera menjalankan ibadah shalat wajib ketika mendengarkan kumandang adzan tersebut. Insya Allah, Mas Bagas pun akan mendapatkan pahala disisi-Nya sebab telah menyeru orang-orang agar menunaikan kewajibannya terhadap Allah Subhana wata'alla." Alina mengingatkan Abang sepupunya tersebut agar tidak ujub dan berbangga diri, apalagi niatnya hanya untuk riya' atau pamer bukan karena mengharapkan ridho Allah semata.
"Iya, iya. Mas melakukannya hanya karena Allah semata!" ucap Bagaskara yang dibumbui kemunafikan. Padahal niatnya hanya ingin terlihat sempurna di mata manusia. Akal sehatnya benar-benar sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Ia benar-benar telah terpedaya bisikan dan rayuan syetan. Hingga membuat ilmu pengetahuan dan Agama Islam yang pernah ia pelajari dahulu hanya kedok semata untuk menutupi sisi buruknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, jika begitu Alina tutup telfonnya Mas. Alina juga ingin mempersiapkan diri guna melaksanakan ibadah shalat Maghrib." Alina menutup telfonnya dengan salam. Sementara Bagaskara justru menyibukkan dirinya agar terlihat disegani oleh setiap lapisan masyarakat, dan yang paling utama bisa memikat hati para wanita, khususnya Alina yang menjadi tujuan utamanya.
***
Alina hendak menyimpan ponselnya di nakasnya, namun ponselnya kembali berbunyi menandakan adanya notifikasi pesan masuk.
Alina membuka pesan masuk tersebut, "Kak Muzakki Ansori?" bathin Alina.
📲 "Assalamu'alaikum, Alina Cahya Kirani. Jangan lupa sholat Maghrib!" by : Muzzaki.
Alina tersenyum membaca pesan dari Muzakki, entah kenapa ia merasa nyaman mendapatkan pesan yang berisi tentang nilai-nilai realigi dari Muzzaki.
📲 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi, terimakasih kak Zakki. Alina sedang menanti kumandang adzan Maghrib, semoga kak Zakki juga demikian." by : Alina Cahya Kirani.
📲 "Alhamdulillah, kakak sekarang sedang bersiap-siap menuju Mesjid." by : Muzzaki.
📲 " Iya, terimakasih. Wasalam." by : Zakki.
Keduanya pun mengakhiri percakapannya. Ada semburat rasa bahagia di hati Alina ketika mendapatkan perhatian khusus dari Muzzaki. Ia kembali teringat saat pertama ia bersua dengan Zakki di angkutan umum. Hingga berujung Zakki memberikan kartu namanya untuk Alina, sehingga mereka bisa saling menyapa seperti ini.
"Betapa beruntungnya wanita yang bisa menjadi pendamping hidup mu kak Zakki!" bathin Alina dengan membayangkan rupa Zakki yang sangat berwibawa menurutnya.
"Bersama kak Zakki aku sungguh merasa seperti bumi dan langit, tidak mungkin pemuda seperti kak Zakki menyukai lumpur hitam seperti diriku!" bathin Alina terus memikirkan tentang Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori yang kini entah bersarang di benaknya.
__ADS_1
"Awww, kepala ku kenapa tiba-tiba sakit luar biasa!" Alina meringis kesakitan memegang kedua pelipisnya yang terasa di tusuk ribuan jarum ketika dirinya hendak memikirkan laki-laki lain selain Bagaskara dalam hidupnya.
"Astaghfirullah, Mas Bagas kenapa tiba-tiba wajah dan nama mu tiba-tiba hadir dalam pikiran ku, ketika diriku mencoba untuk memikirkan sosok laki-laki lain selain dirimu!" Alina bingung dengan hati dan perasaannya.
"Ya Allah, kenapa Mas Bagaskara selalu terngiang-ngiang di benak ku? padahal jelas-jelas aku sedang memikirkan kak Zakki!" bathin Alina merasa tersiksa.
"Aku benar-benar seperti berada di dalam sangkar emas, aku ingin bebas namun kenyataannya aku pun terkurung di dalamnya tanpa ada yang berkenaan untuk menyelamatkannya." Alina memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit dan berat.
***
Di Mesjid Al Hidayah, Bagaskara mengumandangkan adzan dengan begitu merdunya. Semua orang terpukau mendengar suaranya, namun sangat disayangkan semua itu hanyalah sekedar kedok semata untuk meningkatkan popularitasnya di mata masyarakat tanpa merasa takut atas adzab yang akan ditimpakan oleh Allah Subhana wa ta'ala bagi orang-orang yang lalai dari mengingatnya. Apalagi sampai menyekutukan-Nya terhadap sesuatu selainnya. Sungguh, orang-orang yang merugi adalah orang yang enggan untuk menaati perintah Rabb-Nya sedangkan ia sendiri mengetahui akan segala kekeliruan yang di perbuat olehnya.
"Maa syaa Allah, Mas Bagas suaramu sangat merdu sekali!" bathin Alina yang merasakan denyutan di kepalanya berangsur-angsur pulih setelah mendengar suara Bagaskara Ardhana Putra.
Alina pun segera menunaikan ibadah shalat Maghribnya. Walaupun ia merasakan hawa mistis kembali menyerangnya, ia masih tetap melakukan gerakan sholat tersebut sehingga ia pun merasakan panas di dadanya, juga dipunggungnya.
"Ya Allah, ada apa dengan diriku sebenarnya?" bathin Alina dengan melanjutkan Dzikir dan do'anya.
***
Di kediaman Bagaskara Ardhana Putra.
Para santri yang terdiri dari anak-anak dan remajapun berbondong-bondong datang ke rumah Bagaskara guna ingin belajar mengaji dengannya. Tidak ada yang mengetahui jika penampilan Bagaskara hanyalah berkedok Ustadz guna menutupi keburukannya semata. Bukan benar-benar tulus melakukannya karena mengharapkan keridhaan Allah Subhana wa ta'ala, namun justru sebaliknya.
__ADS_1
Kini, manik mata Bagaskara tertuju pada Maharani remaja berusia 15 tahun yang mendapat giliran mengaji setelah berapa menit menunggu gilirannya setelah teman-temannya pun selesai mengaji.
"Dia sangat manis dan menarik sekali! Maharani, sungguh kau harus menjadi bahan uji coba ku, untuk melihat sebatas mana keampuhan ajian ilmu pelet yang kumiliki!" bathin Bagaskara dengan seringai liciknya. Ia pun segera membimbing Maharani untuk belajar mengaji dengannya.