Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 12. Kau Hanya Milikku Alina.


__ADS_3

Bagaskara ngos-ngosan keluar dari semak-semak belukar tempat dimana dirinya dan Maharani sempat bercumbu rayu. Setelah pun keduanya saling menyerang satu sama lain dengan ilmu pengasihan yang telah mereka amalkan sehingga menyeret keduanya tenggelam dalam kemaksiatan dan perzinahan yang teramat dalam.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari hutan ini!" ucap Bagaskara yang masih mengingat kalimat pujian dan rasa syukur yang dulu pernah ia pelajari di sekolahnya. Sebejat-bejatnya Bagaskara ia masih meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun karena lemahnya biduk keimanannya kini dirinya harus terjerat dalam lingkaran syetan yang seolah menuntunnya dalam kesesatan yang menyengsarakan jiwanya, dunia terpenjara di akhirat sengsara jika memang ia tidak berhenti berbuat dzolim dan menyekutukan Allah dalam amal ibadahnya, maka semua amalannya akan tertolak dan sia-sia dalam pandangan ajaran agama Islam jika memang tak ada niat dihatinya untuk bertaubat pada Rabb-Nya.


Tap ... tap ... tap, langkah kaki Bagaskara menyusuri jalan raya, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Udara dingin seolah merasuki pori-pori dan aliran darahnya.


"Cuaca malam ini begitu dinginnya, hawanya sampai menusuk ke kulit ari ku." Bagaskara terus melangkahkan kakinya menuju kediamannya diperjalanan ia pun bersua dengan orang-orang desa setempat yang sedang berlalu lalang.


"Eh, pak Ustadz darimana saja? kenapa tadi tidak kelihatan di Mesjid?" sapa seseorang yang bernama Yadi.


"Oh, maaf tadi ada kesibukan penting yang tidak bisa di tinggalkan! sehingga mengharuskan saya sholat di rumah saja!" timpal Bagaskara dengan menyembunyikan kebejatannya.


"Bukankah, sholat di Mesjid itu wajib ya Pak Ustadz untuk kaum laki-laki, jika dirumahkan baiknya di peruntukkan untuk kaum wanita?" timpal Yadi sehingga membuat Bagaskara merasa tertohok.


"Ya, kamu benar. Tapi, yang lebih benar lagi harus tetap mengerjakan ibadah shalat di mana pun kita berada sesempat mungkin, yang salah itu jika enggan sholat!" timpal Bagaskara membela diri. Al hasil Yadi yang masih awwam mengenai ilmu agama pun magut-magut mendengarkan penuturan Bagaskara.


"Aaummm ... aaummm ... aaummm," suara lowongan anjing bergema mengikuti arah langkah kaki Bagaskara Ardhana Putra.


"Kok aku merinding ya pak Ustadz? mana malam Jum'at Kliwon pula," ucap seorang warga yang bernama Yadi tersebut.


"Nggak kok, biasa saja Mas. Mau malam Jum'at Kliwon atau malam apa pun sama saja, tidak ada bedanya. Hanya perasaan kita saja yang mungkin merasakan keanehan!" ucap Bagaskara, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Bagaskara yang terbiasa dengan aura mistis terlihat begitu santai, sebab sudah menjadi ritualnya setiap malam Jum'at melakukan semedi di kamarnya mengamalkan ilmu-ilmu yang bertentangan dengan syari'at peninggalan dari almarhum ayahnya Arya Arnenda.


Di dalam silsilah keluarga Bagaskara Ardhana Putra dirinyalah yang memegang tampuk kekuasaan dan warisan peninggalan mendiang ayahnya. Kakak dan adiknya tidak berminat menganut aliran ilmu hitam tersebut, mereka lebih memilih hidup normal ketimbang menganut ilmu yang menurut mereka sangat bertentangan dengan syari'at.


"Kalau begitu aku masuk ke dalam rumah dulu, mari mampir Pak Ustadz!" ucap Mas Yadi menawarkan diri, padahal tubuhnya terasa merinding mendengar lolongan anjing yang bersahut-sahutan seolah-olah melihat hal-hal yang buruk disekelilingnya.

__ADS_1


"Lain kali saja, Mas. Aku terburu-buru, sudah ditunggu Mama Laras dirumah," ucap Bagaskara terlihat santun membuat warga yang bernama Mas Yadi tersebut tersanjung padanya.


"Maa syaa Allah, Pak Ustadz benar-benar anak yang shaleh, sangat berbakti pada orang tua," ucap Mas Yadi dengan menyanjung Bagaskara. Hingga membuat Bagaskara merasa bangga, sebab ia memang suka pujian.


"Terima kasih Mas, sudah semestinya seorang anak berbakti pada orang tuanya." Bagaskara berbicara sesantun mungkin, agar orang-orang beranggapan jika dirinya adalah orang yang paling berwibawa dalam pandangan semua masyarakat di sekitarnya.


Bagaskara pun mempercepat langkahnya menuju rumahnya, ia hendak melihat Alina yang semula pingan apakah sudah sadarkan diri.


"Assalamu'alaikum," ucap Bagaskara seolah-olah bersikap seperti pemuda yang sholih.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, masuk Nak!" ucap Mama Laras dengan memijit kepala Alina yang meringis kesakitan, setelah sadar dari pingsannya.


"Aku dimana?" tanya Alina seperti orang linglung.


"Kamu dirumah Tante Laras, Nak. Memangnya apa yang terjadi pada mu?" ucap Mama Laras penuh tanda tanya pada Alina, sambil melirik ke arah Bagaskara. Mama Laras merasa ada yang aneh dengan putranya.


Alina memijit-mijit kepalanya dan mengingat kembali apa yang telah terjadi sebelum ia tak sadarkan diri.


"Mas Bagas, kau tidak apa-apa? bukankah tadi Mas meringis kesakitan? Alina pun melihat mata Mas merah menyala seperti orang kesurupan?" timpal Alina tanpa filter. Membuat Bagaskara didera rasa gugup, sebab mamanya dari sejak tadi menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Kau salah lihat Alina, Mas baik-baik saja. Mungkin kau hanya bermimpi, sebentar Mas ambilkan minuman untuk mu! sepertinya kau baru terbangun dari mimpi mu," sarkas Bagaskara dengan berjalan menuju dapur.


Bagaskara pun mengambil segelas air putih, dibacanya mantra-mantra di dalam minuman tersebut agar Alina melupakan tentang kejadian yang menimpanya barusan.


"Maafkan Mas Alina, kau harus melupakan segala hal yang telah terjadi. Mas tidak ingin kau terus mengingatnya." Bagaskara pun segera berjalan menuju ruang tamu dengan membawakan segelas air putih yang telah dibacakan mantra-mantra untuk membuat Alina melupakan segala hal mistis yang di lihat olehnya sebelumnya.


"Ini minum dulu airnya, biar lebih tenang!" ucap Bagaskara dengan membimbing Alina untuk segera meminum air putih tersebut.

__ADS_1


Alina pun segera meminum air putih tersebut, "Minum sampai habis Alina! setelah ini Mas akan mengantarkan mu pulang, kau pasti akan terlelap dan melupakan semua masalah mu!" bathin Bagaskara dengan seringai liciknya.


Alina merasa lebih tenang, rasa kekhawatirannya pun seketika hilang. Pikirannya pun terasa kosong.


"Tante Laras, Mas Bagas. Alina ingin pulang," ucap Alina sempoyongan hendak bangkit dari kursi sofa tersebut.


"Kamu tidak apa-apa, Nak? sebenarnya apa yang terjadi? ceritakan pada Tante!" ucap Tante Laras dengan seribu pertanyaan yang terlontar dibenaknya.


"Alina tidak apa-apa Tante. Hanya pusing sedikit, tadi Alina ketiduran. Mungkin benar kata Mas Bagas, Alina hanya bermimpi." Alina merasakan antara ada dan tiada, tubuh dan pikirannya terasa melayang. Ia berada di alam mimpi.


Bagaskara yang menyadari ajian yang dihembuskan olehnya tersebut perlahan telah merasuki tubuh Alina, ia pun segera ingin mengantarkan Alina pulang.


"Kita pulang dulu, ya? khawatir bibi Chintya dan om Farel mencari mu! kau harus istirahat, sudah malam!" ucap Bagaskara dengan menuntun Alina agar segera beranjak dari duduknya.


Sementara Mama Laras menatap penuh tanda tanya pada putranya juga Alina.


"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa Bagaskara seperti menyembunyikan sesuatu? jangan sampai Bagaskara melakukan hal yang tak wajar pada Alina. Aku khawatir jika putra ku menganut ilmu hitam peninggalan ayahnya. Aku tidak ingin putra ku sampai salah langkah. Aku ingin ia hidup normal, ia telah ku sekolahkan di sekolah yang islami, jangan sampai ia menyimpang dari jalan kebenaran!" bathin Mama Laras dengan menatap punggung anaknya dan juga Alina yang telah beranjak pergi dari kediamannya.


***


Bagaskara menuntun langkah Alina sampai didepan rumah, "Kamu istirahat dulu ya? Mas pulang dulu, jangan macam-macam dan jangan chat atau telfonan dengan laki-laki lain. Ingat, kau hanya milik ku Alina!" ucap Bagaskara dengan tatapan penuh arti, menyiratkan bahwa Alina hanya miliknya seorang.


"Insya Allah, Mas!" ucap Alina dengan tatapan sendu, sebab ia masih di bawah pengaruh ajian yang di hembuskan oleh Bagaskara lewat air putih yang diminumnya.


Bagaskara pun segera beranjak dari kediaman Alina dan melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya, ia hendak melakukan ritual rutinnya yang biasa ia lakukan di dalam Jum'at Kliwon. Mengamalkan ilmu hitam peninggalan ayahnya lewat mantra-mantra saktinya.


"Alina, kenapa harus dirimu wanita yang kucintai? kenapa dirimu juga termasuk salah satu wanita yang harus ku tundukkan lewat ajian pengasihan ku?" bathin Bagaskara dengan terus melangkahkan kakinya sampai di kediamannya.

__ADS_1


__ADS_2