
Alina terdiam, ia masih terus memikirkan ucapan Ansori. Ia merasa tidak pantas untuk berdampingan dengan Ansori, mengingat tingkatan keimanan antara dirinya dan sosok Ansori seperti bumi dan langit.
Alina tiba-tiba kembali murung, ia merasa takut untuk menghadapi masa depan. Ia merasa akan tersakiti oleh keadaan, mengingat penyakit yang di deritanya terus-menerus menggerogoti tubuhnya. Seolah-olah melumpuhkan kekuatannya. Melemahkan semangat hidupnya, menyurutkan keyakinannya untuk bisa mengukir masa depan yang lebih cerah.
"Alina, kenapa diam? adakah yang ingin dirimu tanyakan?" Ansori terus memberikan ruang untuk Alina bertanya.
"Ti-tidak ada, Kak. Alina hanya sedih memikirkan masa depan, mungkinkah aku yang lumpur hitam ini bisa bersanding dengan mu! dengan segala kelemahan dan kekurangan ku? Aku merasa tak sempurna untuk berdampingan dengan kakak. Dari sisi religius pun Alina tak sepadan dengan kakak!" terang Alina merasa rendah diri.
"Alina, dengarkan kakak! untuk kesekian kalinya kakak katakan dirimu begitu sempurna dari apapun yang pernah kakak temui. Dirimu begitu istimewa, jadi jangan pernah merasa tak bermakna. Untuk menjadi lebih baik itu butuh proses, tidak langsung menjadi baik. Sabar, iman dan taqwa itu mesti di pupuk secara perlahan tidak langsung menjadi sempurna."
"Seperti anak bayi, ia harus melewati berbagai proses dulu baru bisa tengkurap, merangkak, duduk dan berjalan sesuai dengan tahapan usianya. Begitu pun biduk keimanan kita mesti di cas dulu, mesti di isi ilmu-ilmu pengetahuan tentang agama dulu, agar kita bisa menjalankan segala bentuk ketaatan semuanya butuh ilmu, tidak langsung menjadi paham dan pandai dengan sendirinya. Yang Allah nilai itu adalah prosesnya, proses kita menapaki kehidupan menuju keridhoan-Nya." Ansori terus memberikan motivasi terhadap Alina.
Alina pun mendengarkan ucapan Ansori dengan seksama, ia merasakan sedikit ketenangan ketika mendengarkan untaian kata-kata dari Ansori.
"Berarti jika Allah menjodohkan Alina dengan kakak, kakak pasti akan menerima Alina apa adanya!" pungkas Alina dengan penuh tanda tanya.
"Insya Allah jika Allah ridho, why not? karena bagi kakak yang paling utama adalah ridho Allah, jadi kakak harap Alina jangan bersedih lagi."
"kakak memang berharap Alina adalah jodoh kakak, semoga Allah kabulkan doa kita ya? Jadi mulai hari ini, mari kita sama-sama belajar untuk menggapai ridho Allah, agar apa yang kita harapkan dikabulkan oleh Allah."
"Insya Allah, 6 bulan lagi kakak akan pulang dan menyelesaikan magang kakak. Kakak berharap kita akan bertemu kembali, untuk mewujudkan segala harapan dan impian kita. Semoga Allah meridhoi niat baik ini."
__ADS_1
"Semoga Alina sabar menunggu kedatangan kakak, begitupun sebaliknya semoga rasa ini tetap ada sampai akhirnya Allah menyatukan kita dalam ikatan yang halal! " ucap Ansori penuh kesungguhan.
"Insya Allah, Alina akan menunggu kakak, semoga rasa ini akan terus ada dan kakak tidak pernah berubah. Karena jika itu terjadi, mungkin Alina akan merasakan kekecewaan yang teramat dalam. Sebab, bersama kakak lah Alina bisa merasakan senyum kebahagiaan, jadi Alina berharap penuh dengan kak Ansori, semoga Allah menjodohkan kita dalam waktu yang tepat, aamin ya robbal alaamin." Harapan yang terpatri di hati Alina Cahya Kirani terhadap sosok Muzzaki Ansori.
"Insya Allah kakak pun berharap seperti apa yang Alina harapkan, apapun yang terjadi nantinya kakak harap Alina tetap menjadi wanita yang baik, terus belajar menggali ilmu agama untuk masa depan dunia dan akhirat. Karena kita tidak tahu takdir Allah di masa depan itu seperti apa untuk kita. kakak tidak ingin melihat kesedihan di wajahmu, kau terlalu indah untuk terus meratapi kesedihanmu. Kakak sangat berharap dirimu bisa menjadi wanita Sholihah, tetaplah hiasi dirimu dengan iman dan taqwa. karena hanya dengan itu kamu mampu menjalani segala proses kehidupan ini meski seribu gelombang coba uji menghadang."
"Alina, kakak doakan semoga Allah menenangkan hatimu melembutkan jiwamu dari segala kerumitan hidupmu. Berusahalah untuk selalu meraih cintanya, agar kau senantiasa menemukan kebahagiaan di dalam hidupmu! sungguh kaulah insan yang terpatri di hatiku saat ini, dan ku berharap rasa ini tetap ada di saat perjumpaan kita nanti."
"Insya Allah kak, Alina masih butuh bimbingan dan arahan, jadi Alina harap kakak jangan pernah bosan untuk terus mengingatkan Alina ketika Alina lalai dan lupa, banyak hal yang belum Alina pahami tentang kehidupan ini. jadi jangan pernah lelah untuk terus mendampingi Alina dalam melewati segala proses perjalanan hidup ini. Alina harap kakak jangan pernah pergi dari kehidupan Alina, karena jika itu terjadi sungguh detak nafas kehidupan ini, tiada artinya untukku. sungguh aku akan mati dalam hidupku, jika aku sampai kehilanganmu. Kehilangan cintamu yang saat ini telah bersarang di hatiku!" ujar Alina penuh keseriusan.
"Sungguh aku ini adalah wanita yang lemah, yang jika tanpa ada tiang penyangganya aku akan rapuh dalam hidupku. Karena jika aku telah jatuh hati pada seseorang tidak mudah bagiku untuk melupakannya. Kak An, maafkan aku atas segala rasaku yang berpihak padamu, yang sangat sulit untuk aku menepisnya. Jadi jangan pernah untuk pergi dariku! aku di sini akan selalu setia menunggu kehadiranmu sampai saat itu tiba aku dan kamu akan bersanding di pelaminan dalam ikatan yang halal. Semoga Allah kabulkan doa dan harapanku aamin ya mujibassailin." Alina pun mengakhiri kalimatnya, dengan perasaan yang bercampur aduk antara sedih dan bahagia."
"Alina, insya Allah kakak akan menjaga hati ini untukmu, jadi jangan pernah kau merasa ragu dan merasa sendiri, kakak akan selalu ada untukmu menemani hari-harimu, meskipun jarak membentang luas namun hati kita tetap terikat dan menyatu dalam cinta yang semoga Allah meridhoinya."
"Terima kasih kak an, untuk semua rasa yang telah kakak semaikan di hatiku. Hari ini, aku merasa sangat bahagia karena ada seseorang yang begitu sangat memperhatikanku. Aku janji aku akan berusaha aku untuk belajar mencintaimu karena Allah seperti apa yang kakak sebutkan tadi."
"Aku akan berusaha memperbaiki diriku agar lebih baik lagi, aku akan belajar menggali ilmu agama yang belum aku pahami agar nantinya semua itu bisa menjadi bekal untukku menjalani kehidupanku di masa depan nanti. Sekali lagi, terima kasih untuk segala cinta, untuk segala kesabaranmu menemaniku selama ini dan hari ini aku bahagia mendengarkan karena ternyata dirimu pun memiliki rasa yang sama terhadapku, aku bahagia untuk semua itu Muhammad Al Faris Muzakki Ansori!" Alina pun mengakhiri kalimatnya dengan sejuta kata indah dan bahagia yang mewarnai hatinya saat ini.
Sementara Ansori pun merasakan hal yang sama, dia merasa bahagia sebab telah mengukir senyum kebahagiaan di hati gadis yang sangat dicintai olehnya. Ia berjanji di dalam hatinya tidak akan mengecewakan wanita yang sedang berjuang untuk melawan perihnya duri-duri kehidupan tersebut.
Ansori selalu berusaha untuk menghibur Alina, agar gadis yang dicintainya itu terus semangat menjalani kehidupan ini. Alina pun mengembangkan senyum kebahagiaannya, ia tidak menyangka hari ini dirinya mendapat surprise berupa ungkapan cinta dari seorang Muhammad Al Faris Muzakki Ansori.
__ADS_1
"Kak An, kok kita jadi serius seperti ini!" ucap Alina dengan gaya cutenya.
"Oh iya, kamu benar kok kita jadi serius seperti ini sih? kakak jadi tegang juga, habis Alina mendalami sekali cara penyampaian rasanya, kakak jadi nggak bisa berucap lagi. Tapi, kakak bahagia ternyata Alina juga memiliki rasa yang sama terhadap kakak." Ansori tampak mengembangkan senyum di bibirnya setelah beberapa menit yang lalu tercipta ketegangan di antara dirinya dan Alina.
"Berarti, kita deal untuk saling menjadi yang istimewa!" timpal Alina dengan senyum semeringahnya.
"Insya Allah, semoga Allah meridhoi!" ucap Ansori penuh dengan senyum kebahagiaan. Kedua anak manusia itu pun saling bercanda ria, setelah meluahkan isi hati masing-masing. Hari ini keduanya merasa dunia seolah-olah berpihak kepadanya, tidak ada lagi kesedihan yang mewarnai keduanya yang ada hanyalah seuntai senyum kebahagiaan. Bahwa cinta mereka memang telah saling terpatri di hati masing-masing, tanpa ada sesuatu yang merintanginya.
"Kak An, sepertinya sudah masuk waktu maghrib deh sebentar lagi, apa kita akhiri saja percakapan kita dulu dan kakak seperti biasanya harus bersiap-siap ke masjid, gimana? "tanya Alina dengan penuh kesungguhan.
"Astagfirullah, kamu benar juga kakak hampir melalaikannya!" Ansori melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.45 WIB.
"Iya maaf kak, semua ini gara-gara Alina!" ucap Alina terdengar sendu.
"Tak ada yang perlu disalahkan Alina, kita saja yang mungkin terlalu asyik berkisah sehingga tidak menyadari waktu berputar begitu cepatnya," timpal Ansori yang tidak ingin menyalahkan Alina.
"Baiklah, Alina matikan dulu ya kak, teleponnya? Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah!" Ansori pun mengakhiri percakapannya dengan salam yang lebih sempurna.
kedua anak manusia itu pun melanjutkan aktivitasnya masing-masing dengan beranjak menjalankan ibadah shalat magrib yang tinggal 15 menit lagi, dengan keimanan yang sangat luar biasa terpatri di hati keduanya saat ini.
__ADS_1