
"Iya, sebentar ummi." Laki-laki itu pun membawa masuk anaknya ke dalam, mau tidak mau Alina menyambut baik kehadiran pria itu bersama anak bayi yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya.
"Silahkan letakkan di box bayi anaknya, pak!" titah Alina yang sengaja memanggil pemuda tersebut dengan sebutan pak. Pria itu pun meletakkan bayinya di box.
"Apa kabar mu Alina Cahya Kirani?" ujar pria yang ternyata adalah seorang di masa lalu Alina, yakni Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.
"Baik, seperti yang kau lihat!" jawab Alina ketus, ia memalingkan wajahnya dari Ansori.
''Aku minta maaf atas masa lalu yang membuat mu tersakiti oleh diriku ketika itu," ujar Ansori ketika Alina enggan menatap wajahnya.
''Jangan kau bahas kenangan dan luka yang telah menggores hatiku. Itu tiada maknanya, bukankah kau pun bahagia dengan pilihan mu? jadi, tak ada gunanya kau membahas hal yang telah usang!" pungkas Alina dengan dada yang bergemuruh meredam emosinya yang berusaha untuk ia tahan.
''Maafkan aku Alina, aku tidak bermaksud--?''
"Stop, jangan kau bahas tentang itu lagi, pergilah! jangan pernah bahas itu lagi, anggap saja kita tak pernah kenal! cukup sekarang kita bersikap seperti orang asing, kau pun sudah memiliki keluarga dan aku pun masih betah dengan kesendirian ku. Kau tahu betapa kala itu aku menggilaimu, memendam kerinduan pada seseorang yang tak pernah menganggapku ada. Aku menyesal telah mengenal mu Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori!" Alina masih mengingat jelas nama yang terukir di hatinya hingga detik ini, namun semua rasa itu kini terkubur bersama kekecewaannya ketika mendapati sosok pemuda yang dicintainya kini benar-benar telah menikah dengan wanita lain dan telah memiliki satu orang anak.
''Alina, aku benar-benar minta maaf. Tolong jaga anak ku dengan baik, sungguh aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini!" ujar Ansori yang sebenarnya masih banyak hal yang ingin ia utarakan akan tetapi waktu tidak mendukung untuk ia mengungkapkan isi hatinya.
''Aku akan menjaganya dengan baik, sebab itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang pengasuh. Kau tidak perlu merasa khawatir jika aku akan berbuat hal yang tidak baik, anak kecil tidak bersalah, yang salah adalah orang tuanya!" ketus Alina dengan mememalingkan wajahnya dari laki-laki yang sebenarnya masih bertahta di hatinya.
__ADS_1
''Terima kasih, aku pergi! assalamu'alaikum." Ansori bergegas pergi dari ruangan penitipan bayi tersebut, ia pun segera menemui istrinya di dalam mobil.
''Lama sekali, Bi. Apa dedek Aslannya bangun, Bi?'' tanya istri Ansori yang bernama Khumaira Az Zahra.
"Tadi sedang berkomunikasi dengan pengasuhnya umm agar menjaga anak kita dengan baik,'' ujar Ansori yang sebenarnya sedang gamang dengan perasaannya sendiri setelah bertemu dengan Alina.
"Oh, syukurlah. Di sana juga ada pengasuh baru, Bi. InsyaAllah orangnya baik, ummi suka dengan kelembutannya, ummi sudah bertemu dengannya kemarin," terang Khumaira sambil memangku laptopnya. Jari jemarinya begitu lentik mengetik pada tombol keyboardnya. Ia begitu semangat mengerjakan tugasnya sebagai seorang bendahara dikantornya.
''Alhamdulillah, jika ummi menyukai wanita itu,'' ujar Ansori yang merasa bersalah pada istrinya, ia pun merasa berdosa dengan Alina karena telah menyakiti gadis itu dimasa lalunya.
Ansori pun mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang, ia mengantarkan istrinya ke kantor perpajakan sedangkan ia sendiri bekerja di kantor departemen agama. Ansori dan istrinya sama-sama bergelut di dunia kerjanya masing-masing. Mereka selalu disibukkan dengan urusan kantornya setelah kurang lebih setahun lebih pernikahan mereka. Di usia tiga bulan pernikahan mereka barulah Khumaira mengandung anak mereka. Dan sekarang Aslan kecil baru berusia 2 bulanan dan di titip di penitipan Khansa Day Care, tempat di mana Alina kini sedang bekerja. Siapa sangka takdir mempertemukannya kembali dengan sosok masa lalunya yang sudah lama dirindukannya.
Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, kekasih yang diimpikan kini telah i7 menjadi milik orang lain. Maksud hati nak peluk gunung, apa daya gunung meletus, dan Alina pun tersembur lahar panas yang tak bisa membuatnya bangkit lagi.
Sakit, luka yang perih itu yang dirasakan oleh Alina saat ini. Alina terisak dalam tangis saat kepergian Ansori dari hadapannya. Di tatapnya bayi mungil yang tak berdosa itu.
''Ya Allah, kuatkan hamba dalam menghadapi ujian yang kau berikan ini. Semua ini sungguh berat namun, aku harus kuat!'' Alina menyemangati sendiri sendiri.
Ding, satu pesan masuk di ponsel Alina. Ia pun membaca pesan masuk itu, Alina sedikit terhibur walaupun hatinya terluka mengingat kenangannya bersama Ansori yang begitu menguras qolbu dan menghujam jantung hatinya.
__ADS_1
Assalamu'alaikum, selamat beraktifitas ukhti sholiha. Jangan lupa jaga kesehatan, makan yang banyak. Jika pun lelah segera istirahat, pikiran, hati dan jiwa punya hak untuk istirahat!" by : Fajar Guntur Ramadhan.
Alina pun menjawab isi pesan Fajar sambil mengusap air matanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, terimakasih atas perhatiannya." by : Alina Cahya Kirani.
"Ya Allah, sedikit sekali isi pesannya." Fajar mencebikkan bibirnya.
"Sabar ... sabar," Fajar mensupport dirinya sendiri demi mendapatkan perhatian Alina, wanita yang telah membuatnya gila setengah mati karena rasa cinta yang begitu dalam pada gadis yang lebih tua dua tahun usia darinya itu.
"Kenapa, dek? Di tolak lagi? nggak apa-apa, sabar ya? jodoh tak kan kemana, kakak berangkat kerja dulu, sudah telat 5 menit. Kasian Alina sendiri di sana." Nur Syifa menepuk bahu Fajar agar tak patah arang. Ia pun segera pergi menuju penitipan Khansa Day Care, tinggal lah sang Fajar yang masih termangu.
"Aku yakin ia adalah jodoh yang telah ditakdirkan Allah untuk ku, cepat atau lambat aku yakin ia akan segera menjadi milik ku!" begitu keyakinan dari hati Fajar untuk Alina.
"Hiks ... hiks ... hiks," Alina masih terisak dalam tangisnya. Setelah bertemu kembali dengan Ansori membuat suasana hatinya menjadi kacau.
Kenangan dan luka itu pun tergores kembali, membuat dunianya seakan runtuh. Niat hati ingin lepas dari Bagaskara Ardhana Putra sepupunya, Alina justru terjebak dengan masa lalunya bersama Ansori yang tidak bisa ia lupakan hingga detik ini pria itu pun hadir di saat dirinya sedang ingin menyembuhkan luka hatinya.
Rumit, itulah yang terjadi dengan hati dan pikiran Alina kini.
__ADS_1
"Alina, kau kenapa?" tanya Nur Syifa yang baru hadir di paud penitipan tersebut, ia tidak sengaja melihat Alina menangis di pojokan kamar bayi dengan memeluk kedua lututnya dan bersandarkan pada dinding tembok, gadis itu terlihat sangat rapuh dan butuh tempat bersandar.
''Syifa!" Alina pun menghamburkan diri kedalam pelukan Nur Syifa.