Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 126. Di Tikung Dalam Do'a


__ADS_3

''Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengantarkan pesanan dari ummi Zainab untuk kamu dan kak Nur Syifa. Boleh aku masuk?'' tanya Fajar dengan sekilas melirik wajah Alina yang nampak bersemu merah.


''I-iya, boleh! Sebentar aku buka gerbangnya,'' ujar Alina yang terlihat gugup. Entah kenapa semenjak mimpi malam tadi membuat hati Alina gemetar tak karuan ketika berhadapan langsung dengan Fajar Guntur Ramadhan. Padahal, sebelumnya ia begitu percaya diri ketika berhadapan dengan anak muda yang ada di hadapannya itu.


Fajar tersenyum, tak lupa ia mengucapkan salam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil menenteng rantang yang berisi lauk pauk untuk sarapan pagi dari umminya special untuk Alina dan kakaknya Nur Syifa.


Alina menjawab salam tersebut dengan degup jantung yang mulai tak karuan. ''Ya Allah, ada apa dengan hatiku? mengapa jantungku berdebar-debar ketika berhadapan dengannya? padahal sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal yang asing seperti ini setelah dengan kak Muzzaki Ansori dahulu. Sudah banyak sekali pemuda yang mendekatiku, mulai dari Reno, Guntara dan banyak lagi sejumlah pemuda lainnya yang tidak bisa lagi ku hitung berapa jumlahnya. Tidak satupun dari mereka yang mampu bertahan dan menyentuh hatiku. Kenapa hari ini rasa dihatiku harus terpikat pada pria yang memiliki rentang usia 2 tahun lebih muda dariku? ayah dan ibu, juga kak Andara apalagi kakak iparku Dimas yang super menyebalkan itu pasti akan menertawakanku, jika ia mengetahui aku tertarik pada laki-laki yang lebih muda dariku!''


Alina terus mengoceh di dalam hatinya, ia tidak ingin Fajar tahu akan perasaannya. Namun, Fajar tetap berharap dalam do'anya suatu saat nanti hati Alina akan terbuka untuknya.


''Ya Allah, tolong pegangi rasaku. Agar aku tak tersesat dengan perasaan ini, aku tidak ingin Alina membenciku jika ia tahu aku terus berharap agar dirinya mau menerima ku suatu saat nanti. Aku percaya Engkau adalah zat yang membolak-balik hati dan jiwa. Mudah bagi-Mu untuk merubah hati Alina agar menyukaiku. Izinkan hamba dapat menghapus segala dukanya. Menyelimuti kesedihannya dengan seulas senyum kebahagiaan. Aku sadari jika diriku hanyalah butiran debu, akan tetapi salahkah aku ingin merubah diriku menjadi lebih baik berharap bisa menjalani bahtera hidup bersamanya. Mungkin seluruh dunia menganggap ini terlihat konyol, tapi bagiku ini adalah sesuatu yang teramat berharga dalam hidupku. Karena wasilah dirinya aku bisa berubah seperti ini ya Rabb!'' Fajar terus mendo'akan agar gadis di hadapannya luluh hatinya dan merasakan bahwa ia begitu menginginkannya.


Alina yang tidak menyadari jika dirinya ditikung dalam do'a oleh Fajar seketika ia pun merasakan getaran aneh di dadanya.


''Ya Allah, apa yang terjadi padaku? kenapa jantungku semakin berdebar-debar?'' Alina bingung, entah kenapa ia begitu merasakan kedamaian ketika mendapati Fajar berjalan beriringan dengannya.

__ADS_1


''Ehemmm, Fajar. Kau di sini, Dek?'' tanya Nur Syifa yang hendak keluar rumah untuk menghirup udara segar di pagi hari. Ia nampak kaget melihat dua anak muda di hadapannya terlihat saling canggung satu sama lain.


''Jangan-jangan mereka sama-sama merasakan getaran yang asing?'' Nur Syifa menerka-nerka. Nampak jelas dari bahasa tubuh keduanya. Akan tetapi, Nur Syifa tidak ingin berandai-andai. Sebelum Alina sendiri yang mengakuinya.


''Iya, Kak. Fajar mengantarkan opor ayam dan beberapa makanan lainnya untuk kakak dan juga Alina.'' Fajar terlihat mengulum senyumannya. Sedangkan Alina berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan, untung saja ada Nur Syifa sehingga Alina bisa sedikit tenang.


''Maa syaa Allah, ummi baik sekali!'' ujar Nur Syifa yang mulai mengerti maksud dan tujuan ummi Zainab, sebab tidak seperti biasanya ummi mereka bersikap seperti ini. Ia yakin umminya sengaja ingin mendekatkan Alina dan Fajar agar lebih akrab satu sama lain.


Secara tidak langsung ummi Zainab merestui jika Fajar bisa seiring sejalan dengan Alina di masa depan nanti. Nur Syifa pun sebenarnya merestui jika seandainya Alina ingin menerima Fajar dalam hidupnya tentunya Syifa dan keluarganya akan menerima dengan senang hati, akan tetapi Alina masih menutup diri untuk itu semua, mengingat dirinya yang masih trauma untuk menerima seorang laki-laki dalam hidupnya.


''Terima kasih sudah mengantarkan makanannya kemari, tolong sampaikan kepada ummi Zainab, terima kasih atas semua kebaikannya semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik!'' ujar Alina sambil menerbitkan senyum termanisnya. Membuat hati sang Fajar semakin berbunga-bunga ketika melihat kelopak merekah dari bibir manis Alina Cahya Kirani.


''Masya allah, sungguh sempurna engkau diciptakan wahai bidadari bermata jeli!'' Fajar semakin terpukau dengan gadis yang ada di hadapannya kini.


''Aku pulang dulu ya? jangan lupa sarapan pagi, insya Allah masakan buatan ummiku sangat nikmat dan cocok di lidahmu!'' ujar Fajar dengan pamit undur diri.

__ADS_1


''Terima kasih, nanti aku dan kakakmu akan segera mencicipinya, sebelum anak-anak PAUD datang kemari kami akan sarapan dahulu!'' jawab Alina sekenanya.


''Sama-sama, aku pamit dulu. Selamat menikmati aktivitas hari ini, jangan terlalu lelah dan jangan terlalu memaksakan tenaga dan pikiran untuk bekerja. Nikmatilah hari ini dengan semangat dan seutas senyum kebahagiaan. Sehat selalu untuk dirimu,'' ujar Fajar sambil menatap nanar wajah Alina.


Alina pun menundukkan pandangannya, ia tidak ingin larut dalam pesona sang Fajar. ''Ya Allah, kalau terus ditatap olehnya seperti ini aku tidak tahu bagaimana harus menjaga hati ini, semoga perasaan ini hanya semu. Aku tidak ingin jatuh hati pada pemuda yang lebih muda dari ku!'' Alina terus menyangkal perasaannya, yang entah kenapa semenjak mimpi itu hadir kini seolah terjadi dalam dunia nyata. Ia merasakan perasaan layaknya seorang wanita mencintai lelakinya.


Sampai Fajar hilang dari hadapannya Alina pun masih termangu, ia bingung menafsirkan perasaannya sendiri.


''Hemmm, kok bengong? ayo kita sarapan bersama!'' ujar Nur Syifa sambil menepuk bahu Alina yang terlihat sedang melamun memikirkan perasaannya pada Fajar yang mulai bertumbuh di hatinya.


Alina tidak menyadari jika perasaan yang bertumbuh itu karena untaian do'a yang diucapkan oleh sang Fajar di setiap harinya semenjak mengenal Alina. Alina sama sekali tidak mengetahui jika ia telah ditikung dalam do'a oleh laki-laki yang sama sekali sebelumnya tidak disukainya.


''Emmm ... a-anu tidak apa-apa, ayo kita sarapan!'' ucap Alina terbata, ia tidak ingin Nur Syifa mengetahui akan perasaannya saat ini yang tertuju pada Fajar Guntur Ramadhan.


Alina tidak ingin disebut menjilat ludahnya sendiri, lantaran kini ia juga mulai tertarik dengan Fajar, pria yang sebelumnya sedikit pun tidak menarik di hatinya. Entah mengapa semuanya kini justru berbanding terbalik, ia justru terus memikirkan laki-laki tersebut.

__ADS_1


''Ya Allah, ini benar-benar di luar kendali ku!" batin Alina dengan memegang dadanya yang masih berdebar-debar semenjak kepulangan Fajar dari paud penitipan Khansa Day Care.


__ADS_2