
Bagaskara memuntahkan darah segar dari mulutnya, ketika ia sedang komat-kamit membaca mantra-mantra syeitan yang kerap kali diamalkannya. Ilmu yang selama ini dipelajarinya seolah-olah menyerang dirinya sendiri dan melumpuhkan segala kekuatannya, melemahkan sendi-sendi benteng pertahanannya.
Sekujur tubuhnya merasakan getaran yang sangat hebat, keringat sebesar biji jagung tampak membasahi dahinya dan seluruh pori-pori tubuhnya.
''Hoek ... hoek ... hoekkkk.'' Bagaskara terus memuntahkan darah segar, hingga tubuhnya melemas dan hampir meregang nyawa.
''Ma-ma,'' Bagaskara pun pingsan tak sadarkan diri ketika memanggil mama Laras.
''Bagassss, bangun Nak! maafkan mama telah mengucapkan kata yang tabu hingga kau terkapar seperti ini,'' sesal mama Laras.
Bagaimanapun naluri seorang ibu tidak akan tega melihat putra kesayangannya jatuh terkapar dan tak berdaya meskipun seribu kesalahan yang telah diperbuat oleh anaknya.
''Bangun Nak, sadarkan anakku ya Allah ... berikan ia kesempatan untuk bertobat. Jangan kau ambil nyawanya, sebelum dirinya berubah menjadi lelaki muslim seperti dulu lagi. Ia yang dulu nampak soleh dan menjalankan segala perintah-Mu serta menjauhi semua larangan-Mu. Ampuni dosa-dosa putra ku ya Rabb!'' Mama Laras tetap mendoakan kebaikan untuk putranya meskipun ia tahu putranya bergelimangan dosa.
Larasati berteriak histeris ketika melihat putranya bersimbah darah dan tidak sadarkan diri sehingga mengejutkan seisi kampung. Semua orang nampak mengerumuni kediaman Bagaskara Ardhana Putra. Mereka sangat terkejut menyaksikan keadaan Bagaskara yang sangat mengenaskan.
''Apa yang terjadi dengan ustadz Bagas?'' pikir masyarakat setempat.
Segenap orang pintar dan para sesepuh desa pun berkumpul menyaksikan kejadian aneh tersebut. Termasuk Kyai Sholeh yang memang di kenal sebagai orang yang paling sepuh di desa tersebut.
''Astagfirullah, sudah kuduga anak ini sudah sejak lama mengamalkan ilmu hitam. Naudzubillah, semoga kita semua terhindar dari hal-hal yang sedemikian!'' gumam Kyai Sholeh, sambil berusaha untuk mengobati Bagaskara dengan ayat-ayat ruqyahnya.
__ADS_1
''Panasss!'' pekik Bagaskara dengan jeritan suara seperti sedang terbakar oleh kobaran api neraka. Hingga membuat orang-orang yang hadir di sana merasa sangat miris melihat keadaan Bagaskara yang sangat mengenaskan.
''Taubat Nak, taubat! kau pasti akan sembuh. Kyai Sholeh tolong sembuhkan anak ku!'' pinta mama Laras dengan tangisan pilunya. Ia tidak tega melihat keadaan putranya yang hampir meregang nyawa.
''Alina, Mas sangat mencintaimu. Datanglah! sungguh, hidup tanpa dirimu membuat ku gila. Kau lah cinta sejati dalam hidup ku. Kau lah nafas hidup ku, Mas sangat mencintai mu Alina!''
Dalam keadaan mata terpejam Bagaskara terus menyebut-nyebut nama Alina. Dirinya benar-benar di buat mabuk kepayang dengan sosok adik sepupunya itu. Semua orang yang mendengar celotehan Bagaskara di buat terkejut karenanya. Mereka sampai menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengar hal yang sangat tabu di telinga mereka.
''Astaghfirullah, jadi selama ini ustadz Bagas mencintai adik sepupunya sendiri, lalu apa artinya ia sampai menikahi neng PutrÃ? kasian, Neng Putri hanya dijadikan istri pelampiasan hasrat,'' sela para ibu-ibu yang baru mengetahui akan kebejatan Bagaskara Ardhana Putra.
''Naudzubillah, sepertinya ia kena adzab. Mengamalkan ilmu hitam pula, mana anak ku setiap hari belajar mengaji dengannya. Tak tahu rupanya ia adalah ustadz cabul, hanya berkedok ustadz saja, dalamnya bobrok.'' Salah seorang ibu-ibu tampak membuang ludahnya membuat mama Laras merasa tersinggung akan sikap para warga yang terkesan merendahkan anaknya.
''Jika kalian hendak mencerca anakku dan hendak menyudutkannya lebih baik kalian pergi dari sini!'' usir Larasati pada sekelompok ibu-ibu yang terlihat sangat comel dan terkesan merendahkan anaknya.
''Sudah, sudah ... semua harap tenang! saya akan berusaha untuk mengobati nak Bagas. Sepertinya, ia terserang oleh ilmunya sendiri.'' Kyai Sholeh nampak menduga-duga.
''Minum ramuan ini, sebagai penangkal sakitnya. Ia memang salah mengamalkan ilmunya sehingga menyerangnya sendiri.'' Farel, ayah Alina pun terpaksa membantu pengobatan Bagas meskipun Farel mengetahui dengan sangat jelas, jika Bagaskara telah mengguna-gunai Alina anaknya.
Farel tidak ingin menyimpan rasa dendam, sehingga dapat merusak kesucian hati dan jiwanya.
Kyai Sholeh pun menuangkan ramuan tersebut kedalam mulut Bagaskara yang masih terbaring lemah. Entah keajaiban apa, Bagaskara tersadar dari komanya yang seperti terhipnotis dalam acara Uya Kuya yang mengakibatkan Bagaskara meracau sembarangan dan terus-menerus memanggil-manggil nama Alina.
__ADS_1
''Alina, kau di mana? Mas sangat merindukan mu!'' erang Bagaskara seperti orang yang sedang kesurupan. Matanya membola sempurna seperti bola mata syeitan.
''Astaghfirullah ... sepertinya Bagaskara dalam pengaruh ilmu sihirnya,'' terang Kyai Sholeh sambil mengusap wajah Bagaskara dengan air putih yang telah diruqyah.
''Panassssss!'' pekik Bagaskara yang merasakan seperti di bakar oleh gemuruh api yang panas.
Kyai Sholeh pun terus membaca ayat-ayat ruqyah untuk menenangkan Bagaskara. Tidak mudah mengobati seseorang yang sudah terjerat lingkaran syeitan dan perdukunan. Apalagi sampai menganut aliran ilmu hitam garis keras seperti Bagaskara.
Alina yang masih khusuk di atas sajadahnya pun mendengar pekikan suara Bagaskara yang terdengar memilukan. Akan tetapi, Alina terus fokus dengan dzikir dan do'anya juga lantunan ayat-ayat Qur'an demi untuk mengimbangi kekuatan spritualnya dan mengurangi gangguan penyakit non medis yang diderita olehnya.
Alina bangkit dari atas sajadahnya, ia pun mengintip melalui jendela kamarnya melihat kerumunan orang-orang di sana.
''Ya Allah, apa yang terjadi dengan Mas Bagas? aku ingin melihatnya, tapi langkah kaki ku terasa berat untuk kesana,'' gumam Alina yang masih terus mempertimbangkan keinginannya antara rasa iba dan juga benci jika mengingat kekejian Bagaskara terhadapnya.
''Apa yang kau pikirkan, Nak? kau tidak boleh pergi kesana, ini sangat berbahaya, cukup ayah mu saja yang kesana. Bagaskara sedang menerima ganjarannya. Ia hampir meregang nyawa akibat ilmu sihir yang telah diamalkannya. Ayah mu telah membuatkan ramuan khusus untuknya sebagai penangkal penyakitnya. Kau pun tahu, dirimu dalam proses kesembuhan. Jadi kau tidak boleh dekat-dekat atau bertemu dengannya. Ibu tidak suka dengan Bagaskara, semenjak ibu tahu dia telah mendzolimi mu. Rasanya, ingin ibu melenyapkannya dari atas muka bumi!''
Ibu Chintya nampak berang mengingat kekejian Bagaskara terhadap anaknya. Alina hanya mendengarkan dengan seksama ocehan ibunya. Ia pun sebenarnya merasa jijik jika mengingat kekejian yang dilakukan oleh abang sepupunya terhadapnya, akan tetapi Alina berusaha untuk ikhlas dan lapang dada meskipun semua itu terasa berat.
''Iya Ibu, Alina juga tidak ingin kerumah tante Laras. Alina berharap Mas Bagas mendapat teguran dari Allah atas segala kebejatannya,'' pungkas Alina dengan perasaan yang diselimuti kesedihan jika mengingat kembali semua kenangan masa lalunya dengan Bagaskara yang berujung luka dan kepedihan yang menyayat hati yang tak bisa Alina lupakan sepanjang nafas kehidupannya.
''Andai bisa ku putar masa lalu tak ingin aku mengenalnya apalagi sampai merajut kasih dengannya,'' sesal Alina dengan segala kedukaannya dan juga luka hati yang tak kunjung sembuh mengingat begitu kejamnya Bagaskara memperlakukannya dengan buhul-buhul cinta yang tak wajar. Dan semua itu menyisahkan segala kepedihan yang sulit untuk Alina menghapus segala jejak luka yang ada.
__ADS_1
''Ya Allah, ya Rabbi ... maafkan hamba atas segala kelemahan kehinaan dan kerendahan hamba yang sama sekali tidak menyadari akan hal itu sehingga membuat luka hatiku semakin dalam dan jejak langkahku kehilangan arah. Terima kasih untuk secerca hidayahmu yang dapat menyentuh hati ini hingga diriku dapat bangkit dari segala keterpurukan ini!'' bathin Alina dengan terus memanjatkan rasa syukur kepada Rabb-nya.