
Ansori terus termenung membayangi sosok imut dari wajah Alina Cahya Kirani yang dulu sangat dikagumi olehnya.
"Ya Allah jika memang ia jodohku, dekatkan aku dengan dirinya ya Allah. Namun jika dia bukan jodohku jauhkanlah diriku dengannya dan hapuskanlah segala rasa cinta di hati yang hanya bersifat semu ini. Ikhlaskanlah hatiku dan hatinya menerima segala takdirmu yang memang telah engkau tetapkan dalam jejak kehidupan kami, dan gantikanlah jodoh yang lebih baik yang lebih engkau ridhoi!" do'a Ansori dalam hatinya.
"Ini semua salahku, aku yang telah memberi harapan di hatinya sedangkan diriku tahu bahwa cinta yang terikat sebelum janji suci pernikahan itu adalah semu. Maafkan aku Alina!" ucapan Ansori berkali-kali. Ia benar-benar merasa bersalah terhadap Alina.
Setelah untaian doa tersebut terbisik dari kedalaman hati Ansori, lamunannya pun buyar ketika mendengar dering ponselnya berbunyi. Ia pun mengangkat telepon tersebut dengan rasa bahagia sebab yang meneleponnya adalah bidadari surganya yakni ummi tercintanya nun jauh di sana.
"Assalamu'alaikum, Ummi?" sapa Muzzaki Ansori dengan penuh kerinduan kepada bidadari tak bersayapnya itu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, nak apa kabarmu?" tanya ummi Ansori dari seberang telepon dengan penuh rasa kerinduannya pada putra terkasihnya.
"Alhamdulillah, Ansori baik ummi."
"Syukur lah, Nak. Ummi senang mendengarnya, oh iya umi ingin menyampaikan kabar bahagia untukmu!" ucap Ummi Ansori dengan wajah berbinar.
"Masya Allah kabar bahagia apa Ummi?" tanya Ansori yang terlihat penasaran.
"Ummi dan Abi hendak menjodohkan mu dengan anak teman Ummi namanya Annisa Nur Fadhilah. Ia seorang hafizah, Annisa sudah hafal 30 juz Al-Qur'an diluar kepalanya. Insya Allah 6 bulan lagi ia akan lulus kuliah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Ummi rasa kalian sangat cocok. Tidak ada yang perlu diragukan lagi dari sosok wanita Sholihah seperti Annisa. Ummi harap kamu menerima Annisa untuk menjadi istri mu, Nak!" ucap Ummi Ansori penuh harap.
__ADS_1
Mendengar jika dirinya telah dijodohkan oleh orang tuanya, Ansori merasa bingung dan gelisah. Ia tidak tahu harus menolak atau menerima, sedang dirinya dan Alina masih belum jelas bagaimana hubungan mereka kedepannya. Ansori tidak tega jika nantinya harus mengecewakan Alina jika ia tiba-tiba mengambil keputusan dan menerima tawaran dari Umminya.
"Maaf Ummi, untuk saat ini Muzzaki belum bisa untuk memastikan menerima Annisa sebagai calon istri Muzakki. Sebab, Zakki saat ini memiliki teman yang sangat istimewa di hati Muzzaki. Kami sudah saling mengenal selama 6 bulan terakhir ini. Dan Zakki mereka cocok dengannya Ummi!" terang Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori dengan kejujuran hatinya. Ia tidak ingin keluarga dari Annisa berharap penuh padanya, sedangkan dirinya sendiri masih bersama Alina.
Ummi Ansori diam sejenak. Ada rasa kecewa dari lubuk hatinya ketika mendengar putra sholihnya telah memiliki teman istimewa dan terkesan menolak perjodohan dengan Annisa Nur Fadilah anak dari temannya.
"Ummi harap kau pikirkan lagi nak tawaran Ummi. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Kau tentunya memahami jika ridhonya orang tua adalah ridhonya Allah juga. Dan Ummi meridhoi kamu bersama Annisa. Dia adalah wanita sholihah jadi tidak ada alasan untukmu menolaknya. Ummi tidak setuju jika dirimu memiliki teman istimewa. Sebab kau sendiri pun tahu, tidak ada namanya pacaran dalam agama Islam kecuali pacaran setelah nikah!" ucap Ummi Ansori penuh penegasan.
"Kami tidak berpacaran Ummi, kita hanya berteman. Tapi, Zakki merasa cocok dengannya. Namanya Alina Cahya Kirani, insya Allah bertepatan dengan wisuda Zakki nanti. Zakki akan memperkenalkan Alina pada Ummi dan Abi. Alina adalah wanita yang baik. Dia pun dalam proses menggapai hijrahnya, dia juga wanita sholehah Ummi!" terang Muzakki Ansori dengan meyakinkan Umminya.
"Ummi tidak melarang anak Ummi berteman dengan siapapun. Akan tetapi maaf, jika masalah jodohmu. Ummi sangat selektif, Ummi berharap Allah membolak-balikkan hati dan pikiranmu agar menerima Annisa menjadi calon istrimu!" tegas Ummi Ansori dari seberang telepon.
Ansori nampak tertunduk lesu, antara rasa cintanya terhadap Alina dan baktinya kepada ibunya menjadikan dirinya berada dalam dilema yang besar. Apalagi sosok wanita yang dipilihkan oleh Umminya adalah wanita sholehah yang luar biasa sempurnanya.
Akan tetapi, Ansori sangat menyukai Alina. Sebab Alina mudah untuk dibimbing, apalagi dalam hal kebaikan yang berhubungan dengan syari'at Islam. Alina sangat menyukai itu.
"Maafkan Zakki Ummi, tolong beri waktu Zakki untuk berpikir. Izinkan Zakki untuk bertemu dengan Alina di saat wisuda Zakki nanti. Zakki mohon pengertian Ummi."
"Baiklah, Ummi izinkan! namun bukan berarti Ummi merestui hubunganmu dengan wanita yang bernama Alina itu. Yang kita sendiri belum tahu silsilah keluarganya seperti apa. Ummi mendambakan sosok wanita Sholihah yang akan menjadi pendamping hidupmu!" terang Ummi Ansori dengan setengah hati memenuhi permintaan putranya.
__ADS_1
"Terima kasih Ummi, izinkan Zakki nantinya shalat istikharah untuk memilih diantara dua pilihan pada saat yang tepat nantinya. Alina atau Annisa yang akan menjadi pilihan Allah untuk Muzakki Ansori!" ucap Ansori lagi.
"Iya nak, maafkan Ummi jika terlalu mengekangmu. Ini semua demi kebaikanmu!" ujar Ummi Ansori dengan mode serius.
Kedua ibu dan anak itu pun mengakhiri percakapannya setelah berbincang-bincang sangat lama.
Ansori menyandarkan kepalanya, di balkon kamarnya. "Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? hamba benar-benar dilema. Alina maafkan aku, jika nantinya takdir berkehendak lain. Aku berharap, dirimu selalu dalam lindungan Allah. Maafkan aku, yang tidak bisa mengukirkan kebahagiaan di hatimu. Aku mencintaimu namun aku lebih mencintai ibuku yang telah melahirkanku. Aku tidak ingin mengecewakannya!" batin Ansori dengan hati yang terluka perih.
Ansori benar-benar bagaikan buah simalakama. Antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau tetap bertahan memilih Alina Cahya Kirani menjadi pendamping hidupnya? semua seolah masih menjadi misteri. Ia pun memejamkan matanya, sambil terus menghirup hembusan udara di pagi hari yang kini menerpa wajah dan kulitnya.
"Alina aku sangat mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu!" batin Ansori dengan meneteskan air matanya. Ini yang pertama kalinya dalam hidupnya dia menangis karena seorang wanita. Ia baru menyadari jika dirinya, benar-benar sangat mencintai Alina kendati kerap kali gangguan mistis hendak menyerangnya ketika dirinya terus berusaha bertahan dengan Alina.
***
Sementara di kediaman Alina.
Alina nampak termenung di kamarnya. Tubuhnya terasa bergetar dan ketakutan, sebab hari ini dirinya akan dibawa oleh kakaknya Andara dan Dimas kakak iparnya untuk berobat ruqyah dengan ustadz Habiburrahman yang bertempat tinggal di kota S.
"Belum bertemu ustad tersebut pun, aku sudah menggigil kedinginan dan ketakutan. Apalagi hendak di ruqyah, entah apa jadinya nanti!" batin Alina dengan memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara mas Bagaskara! ia benar-benar laki-laki yang jahat dan tak punya hati. Aku semakin membencinya!" Alina mengoceh-ngoceh sendiri di kamarnya seperti orang yang sedang di dera oleh rasa stress berat.
"Tapi aku harus sembuh, ketika bertemu kak Ansori di acara wisudanya nanti aku harus terlihat lebih baik dan lebih bersemangat. Apalagi nantinya akan bertemu kedua orang tuanya di sana, tentu aku harus lebih menjaga kesehatanku sendiri. Agar nantinya aku bisa mendapat restu dari kedua orang tuanya kak Ansori!" gumam Alina harap-harap cemas.