Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 22 . Penyemangat Hidup ku


__ADS_3

Tante Inggrid, ibunya Maharani kembali mengetuk pintu kamar Maharani sebab tidak ada sahutan dari dalam kamar putrinya.


"Maharani, kau dengar ibu tidak! apa yang kau lakukan di dalam? kegaduhan apa yang kau buat? hari sudah larut malam, tidurlah!" seru ibu Maharani. Namun, Maharani tidak menjawab. Ia terpaksa mengenakan handsetnya, agar ibunya tidak curiga padanya.


Ceklek, pintu kamar di buka oleh Tante Inggrid. "Maa syaa Allah ternyata ia sudah tertidur pulas. Pantesan ia tidak mendengar seruan ku!" gumam Tante Inggrit pelan.


Tante Inggrid pun menyelimuti tubuh putrinya dan melepaskan handset dari telinga Maharani, ia pun segera mematikan ponsel anaknya itu. "Hemmm, ini anak gadis kalau sudah tertidur pulas selalu lupa mematikan ponselnya." Ia pun segera keluar dari kamar putrinya tersebut setelah mengecek keadaan kamar Maharani.


"Alhamdulillah, akhirnya aku selamat! ibu sudah pergi," bathin Maharani dengan mengerjapkan matanya setelah kepergian ibunya.


"Semua ini gara-gara dirimu kak Bagas, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu dengan menikahi ku!" celoteh Maharani di dalam hatinya. Ia terus mengingat kejadian panas yang telah ia lakukan bersama Bagaskara barusan.


"Kau harus menjadi milik ku seutuhnya kak Bagas, tidak ada yang boleh memiliki mu kecuali aku!" bathin Maharani yang mulai tergila-gila dengan Bagaskara Ardhana Putra. Semula ia tidak ingin terjerat oleh cinta Bagaskara, namun kejadian barusan membuat dirinya rindu setengah mati pada pria dewasa yang sepuluh tahun lebih tua dari usianya itu.


"Kak Bagas, hadirlah dalam mimpi indah ku!" bathin Maharani dengan berusaha memejamkan matanya.


***


Di kediaman Alina Cahya Kirani.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 wib, ponsel Alina berdering-dering seolah-olah membangunkan dirinya dari tidur panjangnya.


"Astaghfirullah, mengapa kepala ku terasa berat sekali! Seluruh tubuh ku terasa dipukul dengan rotan. Pegal-pegal semua," ucap Alina dengan mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Ia pun perlahan mengangkat telfonnya yang sudah ratusan kali panggilan.


"Hallo, assalamu'alaikum ... siapa?" tanya Alina tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, ini kak Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori. Apa Alina sudah lupa dengan kakak?" tanya Muzzaki dari seberang telfon.


"Subhanallah, maaf Kak. Alina tidak melihat nama yang menelfon." Alina mengumpulkan kesadarannya yang masih terlihat ling-lung.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa, apa kau masih mengantuk? coba cuci wajah dahulu, setelah itu ambil wudhu dan lakukanlah sholat malam. Masih ada waktu untuk sholat tahajjud." Muzzaki Ansori terus memotivasi dan mengingatkan Alina. Sehingga Alina terlihat sangat bersemangat sekali.


"Terimakasih, kak Muzzaki sudah mengingatkan dan juga membangunkan Alina. Kalau begitu Alina wudhu dulu, Kak!"


"Iya silahkan! jika mau di temani, kakak temani. Ponselnya tidak usah di matikan!" timpal Ansori dari balik telfon.


"Maa syaa Allah, terimakasih Kak!" Alina bergegas mengambil wudhu dengan ponselnya yang ia letakkan di saku bajunya. Ia merasa bahagia di temani oleh sosok pemuda yang sholih seperti Ansori.


Ansori yang mulai memberikan signal-signal rasa untuknya membuat Alina begitu bersemangat menjalani hari-harinya. Rasa sakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya secara perlahan tidak di hiraukan olehnya.


Gangguan sihir dan makhluk yang tak kasat mata yang menguasai raganya tak sedikit pun disadari olehnya, yang ia rasakan tubuhnya dari hari ke hari semakin melemah. Namun, Alina memahami itu hanyalah penyakit biasa. Setiap orang bisa saja imun tubuhnya menurun begitu pikirnya. Sakit kepala yang berulang kali dirasakan olehnya, baginya itu hanyalah sakit biasa. Alina benar-benar tidak mengetahui jika hal-hal mistis yang akhir-akhir ini menimpanya adalah ulah sepupunya Bagaskara Ardhana Putra.


"Kak An, Alina sholat tahajjud dulu, ya? ponselnya Alina letakkan di tempat tidur dulu."


"Iya, silahkan Alina! kakak akan menunggu mu sembari membaca buku novel realigi yang kemarin baru kakak beli."


"Maa syaa Allah, novel apa Kak?" tanya Alina penasaran.


"Maa syaa Allah, judulnya sangat menjiwai sekali! kakak lanjutkan membaca novelnya. Alina sholat dulu!" ucap Alina dengan menghamparkan sajadahnya.


Alina fokus menjalankan ibadah shalat malamnya, dengan khusu'nya. Semakin ia memperjelas bacaan sholatnya, semakin ia merasakan keanehan dalam dirinya.


"Ya Allah, kenapa tubuhku terasa panas. Dada dan punggung ku seperti terbakar, tubuh ku pun terasa melayang. Rasanya aku ingin tumbang, aku harus kuat!" bisikan hati Alina. Kekhusyukan sholatnya terasa terganggu, keringat nampak mengucur deras di leher, punggung juga dadanya.


Alina tetap menjalankan ibadah sholatnya, meskipun konsentrasinya buyar, ia tidak menyerah untuk beribadah pada Rabb-Nya. Di akhir sholatnya ia pun melanjutkan dzikir dan do'anya. Alina merasa lebih nyaman ketika ia mampu berperang melawan rasa sakitnya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb atas nikmat sehat dan nafas hidup yang telah Engkau karuniakan dalam kehidupan hamba. Ya Allah, jadikanlah dunia hamba ini diatas telapak tangan hamba, bukan dihati hamba. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam keadaan beriman pada-Mu dan matikanlah pula kami dalam keadaan beriman pada-Mu!" do'a yang teruntai dari kebeningan hati Alina Cahya Kirani.


Alina pun bangkit dari sajadahnya, ia kembali meraih telfonnya di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, ternyata ponselnya masih menyala. Kak Muzzaki memang betul-betul laki-laki yang baik. Ia mampu menunggu ku selesai menjalankan ibadah sholat ku, tanpa mengenal kata lelah. Kak Muzzaki Ansori memang sosok laki-laki yang memiliki sisi berbeda dari sekian banyak laki-laki yang ku temui!" bathin Alina dengan seutas senyuman indah menghiasi wajah cantiknya.


"Assalamu'alaikum, kak Ansori. Maaf, membuat kakak menunggu lama."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, tidak apa-apa Alina. Kakak senang melihat mu semangat untuk beribadah!"


"Terimakasih, kak An. Kakak sudah berkenan menjadi penyemangat hidup ku, aku merasa beruntung dan bahagia bisa berkenalan dan berjumpa dengan kakak." Alina mengutarakan isi hatinya yang memang saat ini ia merasa bahagia bisa merajut kebersamaan dengan Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.


"Alhamdulillah, kakak pun merasa bersyukur bisa memiliki kesempatan berkomunikasi dengan mu!" ucap Ansori dengan menutup buku novel yang dibaca olehnya. Ia kembali fokus berbincang-bincang dengan Alina.


"Kak, Alina takut jika satu saat nanti kehilangan kakak. Tidak ada lagi teman yang baik tempat Alina berkeluh kesah dan mencurah hati!" ucap Alina yang tiba-tiba terlihat murung.


Entah kenapa semenjak dirinya terkena ajian pelet dari Bagaskara sepupunya, perasaan sedih, takut kehilangan terhadap apa yang ada disisinya begitu kuat. Ia seolah-olah merasakan sakit dan tersiksa lahir batinnya, tanpa tahu apa sebab dan akibatnya. Yang ia rasakan hatinya tiba-tiba sedih dan gelisah.


"Alina, dengarkan kakak jika memang kita ditakdirkan berjodoh, kemanapun kita melangkah, sejauh apapun jarak membentang dan memisahkan kita. Yakinlah, jika dirimu adalah bagian dari tulang rusuk kakak, kita pasti akan bersua dan bertemu dalam ikatan suci pernikahan. Jadi, jangan bersedih! Karena sejatinya Allah sudah mempersiapkan kebahagiaan yang indah untuk masa depan kita. Kakak tidak ingin melihat duka dan kesedihan di mata mu! tetaplah tersenyum, jadilah bidadari sholiha yang baik dan lembut akhlaknya, agar bidadari syurga pun iri melihat keindahan dan kesempurnaan akhlak mu!" tutur Muzzaki Ansori dengan menenangkan Alina.


Alina merasa sedikit tenang mendengar penuturan Ansori, setidaknya ia mempunyai semangat hidup. Muzzaki Ansori seolah menjadi lentera penyejuk dalam kehidupannya.


"Alina, maafkan kakak jika satu saat nanti ikatan diantara kita terlerai. Sebab, kakak pun tidak tahu pasti perjalanan hidup ini dimasa depan nanti, namun untuk saat ini kakak merasa nyaman bersama mu!" bathin Muzzaki Ansori yang tidak ingin terlalu memberikan harapan yang tinggi pada Alina. Ia tidak ingin mengumbar janji, jika memang nanti Alina adalah jodohnya, ia akan memberikan segenap hati dan cintanya pada Alina. Setelah cintanya pada Allah dan Rasul-nya, juga cintanya pada Umminya.


Obrolan Alina dan Ansori pun semakin berlanjut, keduanya pun semakin semangat untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan realigi. Tiga puluh menit sudah mereka saling bertukar pikiran, sampai akhirnya keduanya sepakat mengakhiri percakapannya.


"Oh, iya sudah pukul 04.15 wib, jika kakak ingin itiqaf di mesjid sembari menunggu sholat Shubuh silahkan, Kak!" timpal Alina.


"Iya, terimakasih. Kakak pamit undur diri dulu, jangan lupa menunaikan ibadah sholat shubuh! silahkan dimatikan ponselnya!" Muzzaki Ansori mempersilahkan Alina untuk mengakhiri percakapannya.


"Baiklah, Kak! untuk yang kesekian kalinya, terima kasih sudah menjadi penyemangat hidup ku! Assalamu'alaikum ...."


"Sama-sama Alina, wa'alaikumsalam warahmatullahi!" Ansori tetap dengan kesantunan dan kelembutannya.

__ADS_1


Alina mengakhiri percakapannya, ia pun mematikan ponselnya dengan seksama.


"Kak Ansori kau lah penyemangat hidup ku! tak kutemui sosok laki-laki sesempurna dirimu!" bathin Alina yang mulai dipenuhi sejuta rasa cinta yang bertumbuh dihatinya terhadap sosok Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.


__ADS_2