Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 59. Butir-butir Cinta


__ADS_3

"Kak An, kakak tahu nggak siapa insan yang paling istimewa di hatiku setelah ayah ku?"


"Siapa, ya? Pasti kakek atau saudara laki-laki mu?" tebak Ansori dengan senyum-senyum sendiri dari seberang telfon.


"Oops ... salah! Alina nggak punya saudara laki-laki, tapi Alina punya seorang yang sangat spesial di hati Alina saat ini!" ucap Alina dengan perasaan berbunga-bunga memenuhi relung hatinya.


"Lalu siapa?" tanya Ansori dengan perasaan yang berdebar-debar. Ia merasa sangat gemas dengan tingkah Alina yang sangat lucu dan manja untuknya.


"Bilang nggak ya? bilang nggak ya?" ucap Alina dengan suara manjanya.


"Kakak nyerah deh, kalau soal yang ini!" Ansori terlihat tidak sabaran menunggu jawaban dari Alina.


"Orang yang sangat istimewa di hati Alina setelah Ayah adalah kak Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori!" ucap Alina terdengar santai dan sederhana, namun dapat menyentuh relung hati Ansori yang paling terdalam.


Detak jantung Ansori berdegup sangat kencang, ketika mendengar untaian nada indah dari sosok Alina Cahya Kirani, wanita yang memang sangat dicintai olehnya setelah ibunya.


"Alina Cahya Kirani, dirimu benar-benar sangat menggemaskan!" Ansori kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa bahagia di hatinya. Yang ia rasakan saat ini, detik ini juga ia jatuh hati pada gadis yang berusia 4 tahun lebih muda darinya itu.


"Kak An, andai rasa dihati ini tertuju pada mu, mungkinkah kau bisa menjaga hati dan rasa cinta mu untuk ku sebagai seorang yang sangat istimewa di hatimu? masihkah kau meragukan segenap rasa cinta yang memang kini telah berpatri pada mu? meski jarak membentang luas di antara kita dan perjumpaan dengan mu baru satu kali dalam seumur hidupku, mungkinkah kita bisa menyatu dalam ikatan yang sakral sedang kita melalui segala prosesnya dari jarak jauh, tanpa bertatap muka secara langsung. Entah seperti apa rupa mu dan rupa ku saat ini, mungkinkah butir-butir cinta akan tetap bertumbuh jika kita bersua nantinya?" tanya Alina yang sedikit meragukan tentang cintanya bersama Ansori yang hanya berkomunikasi lewat benda pipih saja.

__ADS_1


"Alina Cahya Kirani, dengarkan kakak! dirimu terlalu sempurna dan berarti dalam hidup kakak. Entah dari mana rasa itu bermula, namun semenjak mengenal mu 6 bulan terakhir ini, diriku menemukan titik kebahagiaan bersama mu. Sepanjang nafas kehidupan ku, baru dengan mu aku merasakan keistimewaan. Hadirmu mampu mengalihkan duniaku, mengetuk palung hatiku yang terkunci sekian lama perjalanan hidup ku. Do'a dan harapan ku, semoga dirimulah bidadari dunia akhirat ku yang dipilihkan oleh sang maha penggenggam kehidupan untuk ku, semoga dirimulah tulang rusuk kesetiaan ku yang akan memenuhi setengah dien ku!" Butir-butir cinta itu pun terungkap sudah dari lisan Muzzaki Ansori, setelah sekian purnama ia mampu memendamnya.


"Ya Allah, maafkan atas rasa cinta ini yang tiba-tiba berpihak padanya. Berlabuh pada sesuatu yang belum halal untuk ku miliki!" bathin Ansori dengan memohon ampunan pada Rabb-Nya atas segala rasanya terhadap sosok Alina Cahya Kirani yang belum halal untuk dimiliki olehnya.


"Kak An, Alina takut satu saat nanti kakak pergi dan menghilang dari kehidupan ku dan aku menjadi sosok wanita yang paling menyedihkan sebab di tinggalkan oleh sosok kekasih yang sangat dipuja-puja oleh ku setengah hati dan jiwa ku. Sebab perjalanan hidup ini begitu penuh dengan misteri. Terkadang kita telah merajut janji untuk hidup bersama, namun takdir hidup terkadang begitu kejamnya, merenggut kebahagiaan yang mulai terpupuk dan bertumbuh dengan indahnya. Sungguh, diriku tak ingin menjadi bunga yang layu gugur sebelum berkembang!" Alina tiba-tiba terlihat murung, pikirannya kembali dikacaukan oleh kekuatan energi negatif yang kini bersarang di tubuhnya.


Air jeruk jampi-jampi, pinang muda juga bawang putih dari ritual Mbah Rohimah kini telah terserap di dalam tubuhnya, setelah tadi di gunakan olehnya.


Alina ingin menjerit sejadi-jadinya, ketika kekuatan energi negatif kembali menyerangnya.


Alina meringis kesakitan, hingga terdengar isak tangisnya yang tertahan.


"Alina apa yang terjadi dengan mu? kakak minta maaf jika ada untaian kata-kata kakak yang tidak menyenangkan di hatimu. Sungguh, diriku tidak bermaksud memberikan harapan palsu untuk mu. Akan tetapi sungguh, kakak sangat mengistimewakan mu Alina!" ucap Ansori dengan mode serius.


"Alina tenangkan diri mu! perbanyak istighfar! amalkan almatsurat atau dzikir dan do'a pagi petang sebagai penangkal diri dari segala macam bentuk kejahatan. Sekarang fokuskan pikiran mu, kita ruqyah mandiri, dari kejauhan kakak akan membimbing mu, letakkan tangan mu pada bagian yang terasa sakit, bacakan surah Al Fatihah, Al Baqarah, kemudian Al ikhlas, Al Falaq dan An-Nas masing-masing 3x, teruskan sambil di usap dan tepuk-tepukkan pada bagian yang sakit."


Alina pun menuruti bimbingan Ansori, ia pun perlahan mengamalkan itu semua, sehingga gangguan yang di alaminya sedikit demi sedikit berkurang. Alina merasakan hawa panas menyergapi dadanya, juga leher dan punggungnya, keringat dingin mengucur dari pori-pori tubuhnya. Ia merasakan sedikit ketenangan.


"Bagaimana, apa lebih baik?" Ansori harap-harap cemas.

__ADS_1


"Alhamdulillah Kak, lebih tenang!" Alina merubah posisi tubuhnya, iapun bersandar pada kepala ranjang.


"Syukurlah kalau begitu, kakak turut senang mendengarnya."


"Kak, apakah boleh kita melakukan pengobatan ke orang pintar, sejenis dukun misalnya? sebab Alina sekarang dalam proses pengobatan ke orang pintar!" Alina pun menceritakan proses pengobatannya di kediaman Mbah Rohimah.


"Astaghfirullah! kita berlindung dari hal-hal yang sedemikian. Ketahuilah pengobatan yang diwasilahkan lewat bantuan orang pintar dan perdukunan itu tidak di benarkan dalam syari'at Islam. Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka tidak akan di terima sholatnya selama 40 hari. Jadi, sebisa mungkin kita menghindari dari jerat syaitan dan perdukunan yang hendak menyesatkan biduk keimanan kita. Sehingga jatuh kedalam perbuatan syirik dan menyekutukan Allah Subhana wa ta'ala dalam keimanan kita."


"Seandainya saja, ada yang sembuh dari gangguan jin karena datang ke tempat dukun atau tukang ramal, maka itu hanyalah pengusiran jin dengan bantuan jin lain yang lebih besar, kemudian di pasangi pagar jin penjaga. Tentu akan menimbulkan gangguan yang lain dari sebelumnya."


"Maka kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita terjerumus dalam perdukunan terselubung dan kita harus bertaubat kepada Allah dari berhubungan dengan dukun dan sejenisnya!" terang Ansori dengan rasa prihatin terhadap kondisi yang di alami oleh Alina.


"Jadi, Alina harus bagaimana, Kak? jadi, selama ini Alina telah terjerat dalam kesyirikan yang maha besar?" Alina nampak risau menghadapi segala kemelut hidupnya.


"Allah maha mengetahui akan ketidaktahuan kita. Ia pun zat yang maha mengetahui atas segala kelemahan, kehinaan dan kerendahan kita. Kembalilah kepada Allah, bertaubatlah atas segala dosa-dosa yang telah kita perbuat, tinggalkanlah segala bentuk kemungkaran dalam hal apa pun itu, sejatinya tidak ada ketaatan dalam kemungkaran!" terang Ansori lagi.


Alina nampak berpikir keras, ia pun membenarkan kata-kata Ansori.


"Terima kasih kak An, atas untaian nasehat dan ilmunya, insya Allah Alina akan mencoba untuk menerapkannya."

__ADS_1


"Alhamdulillah, kakak mencintaimu karena Allah Alina Cahya Kirani! semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi mu dalam keridhoan-Nya, aamiin ya rabbal'alaamiin!" untaian butir-butir cinta lewat untaian do'a yang di sematkan oleh Ansori terhadap sosok Alina Cahya Kirani mampu menggetarkan hati dan jiwa gadis yang sedang di rudung nestapa itu.


"Ya Allah mungkinkah ia jodoh ku, jika iman ku pun tak sepadan dengannya, diri ini sangat jauh dari kata sempurna!" batin Alina Cahya Kirani meringis pilu.


__ADS_2