Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 70. Janji Bertemu


__ADS_3

"Memangnya Alina istimewa di hati kakak!" tanya Alina pada Ansori.


"Tentu saja, sangat istimewa dari semua bidadari yang ada di dunia ini!" ucap Ansori yang kini mulai blak-blakan dengan perasaannya terhadap Alina.


"Oh ya, mulai pintar ngegombal sekarang ya?" seru Alina dengan mengerjai Ansori.


"Bukan gombal, tapi memang itu adanya! apakah kau pun merasakan hal yang sama?" tanya Ansori dengan nada serius.


"Aku, aku ... iya Alina juga merasakan hal yang sama dengan kakak!" Alina nampak tersimpul malu menjawab pertanyaan Ansori.


"Kalau begitu, maukah kamu membuat janji bertemu denganku 6 bulan lagi di kampusku. Insya Allah kakak akan segera wisuda setelah pulang dari magang nanti!" terang Ansori.


Alina merasa tersanjung dengan ajakan Ansori terhadapnya."Oh ya, benarkah kakak mengundangku di acara wisuda kakak nantinya?" tanya Alina dengan rasa tak percayanya.


"Memangnya kakak terlihat bercanda? tentu saja kakak akan mengajak mu sekalian berkenalan dengan kedua orang tua ku!" pungkas Ansori dengan meyakinkan Alina.


Alina nampak salah tingkah. Ada rasa gugup dan malu menyelubungi hatinya. Ia merasa bingung harus bagaimana jika nantinya bertatap muka dengan kedua orang tua Ansori pada acara wisuda nantinya.


"Insya Allah ... Alina akan datang menghadiri wisuda kak An!" Alina mengiyakan permintaan Muzzaki Ansori.


"Maa syaa Allah, kakak tunggu kedatangannya ya?" Ansori nampak bahagia sebab Alina berkenan hadir di acara wisudanya. Karena baginya Alina adalah yang teristimewa untuknya.


"Insya Allah Kak, jangan kaget ya jika bertemu Alina. Alina bukanlah wanita yang sempurna. Begitu banyak kekurangan dalam diri ini!" ucap Alina merendah diri. Ia merasa tak pantas bersanding dengan Ansori yang memiliki pendidikan dan ilmu agama yang tinggi jika dibandingkan dengan dirinya sangatlah tidak sepadan. Begitulah dalam pikiran Alina saat ini.

__ADS_1


"Kenapa harus kaget? bukankah ketika pertemuan kita dimobil angkot yang lalu aku sudah melihat mu dengan jelas. Bagiku kau sangat sempurna. Aku berharap pertemuan kedua kita nantinya menjadi awal yang baru untuk kita merajut kebersamaan ke jenjang yang lebih serius!" timpal Ansori dengan meyakinkan Alina mengenai hubungan mereka selanjutnya.


Perasaan Alina semakin bertumbuh terhadap Ansori. Ia merasa Ansori adalah pemuda yang tepat untuknya sosok laki-laki sholeh yang insya Allah bisa membimbingnya menuju keridhoan Rabb-Nya, bisa membimbing dirinya di dunia dan akhirat. Begitu harapan yang terpatri di hati seorang Alina Cahya Kirani.


"Baiklah Kak, terima kasih untuk segalanya. Semoga Allah meridhoi niat baik kita!" jawab Alina dengan menaruh harapan penuh terhadap sosok Muhammad Al Faris Muzakki Ansori.


Keduanya pun terus berbincang-bincang membahas perkara-perkara yang berkaitan dengan religi sehingga membuat Alina semakin bersemangat menjalani hari-harinya.


"Oh ya kak, insya Allah nantinya Alina ingin mencari tempat pengajian yang baik. Alina ingin mencoba berkumpul dengan teman-teman yang sholih, untuk belajar memetik hikmah dan ilmu agama yang lebih baik lagi. Selain itu, nantinya aku akan mencari pengobatan yang syar'i untuk penyakit non medis yang aku alami saat ini. Sebab, akhir-akhir ini aku merasakan gangguan yang ada di tubuhku semakin menjadi-jadi!" terang Alina dengan kejujuran hatinya yang tanpa ditutup-tutupi terhadap sosok Muzakki Ansori.


"Alhamdulillah, itu adalah rencana yang terbaik. Kakak mendukungmu untuk berobat ruqyah syari'yyah. Kakak yakin Alina akan sembuh!" Ansori terus memberikan motivasi dan semangat untuk Alina dalam kebaikan.


"Apakah nantinya kakak dan orang tua kakak akan menerima Alina sebagai seorang yang istimewa untuk kakak dengan penyakit yang menggerogoti tubuh Alina saat ini?" Alina seolah ragu dengan itu semua, mengingat anehnya penyakit yang diderita olehnya akhir-akhir ini.


"Terima kasih kak, Alina senang mendengarnya!" ucap Alina dengan wajah berbinar.


"Sampai bertemu kembali di kampus kakak 6 bulan lagi ya? Rasanya, ada terbesit rasa ingin cepat-cepat bersua denganmu!" Ansori berusaha untuk berkata jujur, setelah sekian purnama memendam perasaannya terhadap Alina.


Mendengar kejujuran hati Ansori, perasaan Alina semakin kuat dan berbunga-bunga terhadap sosok pemuda yang telah menyentuh hatinya tersebut.


"Kak An, berjanjilah untuk tetap bersama Alina walau apapun terjadi nantinya! sebab aku telah menaruh harapan penuh pada kakak. Jika kakak pergi dari hidupku, Alina tidak tahu bagaimana untuk menjalani hari-hari ini. Sebab Alina terbiasa dengan kehadiran kakak mengisi hari-hari ku. Walaupun hanya lewat alat komunikasi sebagai bahasa pengantarnya semua itu teramat bermakna bagiku. Alina akan menjadi sosok wanita yang tidak akan percaya lagi dengan cinta jika sampai harus kehilangan kakak!" Alina berkata jujur dari lubuk hatinya yang terdalam, jika dirinya memang benar-benar mengharapkan Ansori menjadi sosok imamnya.


"Insya Allah, jika Allah ridho kita pasti akan berjodoh! jadi jangan takut! jodoh, rezeki, maut kita telah diatur oleh Allah. Jika memang Alina adalah tulang rusuk kakak, kita akan bertemu sejauh apapun jarak membentang di antara kita!" terang Ansori dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


Alina tiba-tiba murung dan sedih ketika mendengar ucapan Ansori tersebut. Ia merasa seolah-olah dirinya akan berpisah selamanya dengan sosok pemuda yang sangat dicintainya itu.


"Sudah dulu ya kak, Alina ada kesibukan yang harus dikerjakan!" ucap Alina menyembunyikan kekecewaannya. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tersakiti dan terbebani kekuatan energi negatif kembali menyerangnya sehingga dirinya merasa lemah dan tak berdaya dalam menjalani kehidupannya.


Ansori merasa ada yang aneh dengan Alina tiba-tiba ingin mengakhiri percakapannya. Padahal mulanya Alina begitu terlihat bersemangat berkisah dengannya. Namun, dirinya tetap berpikir positif. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan. Dia sangat memahami gangguan-gangguan yang mungkin akan terjadi ketika merajut kebersamaan dengan orang yang memiliki penyakit non medis seperti Alina.


"Apa dia marah padaku? apa ada kata-kataku yang salah? kenapa dirinya tiba-tiba bersikap dingin?" Ansori bertanya-tanya di dalam hatinya.


Alina pun mematikan ponselnya setelah mengucapkan salam.


"Rasanya aku benci pada diriku sendiri, apakah di dunia ini tidak ada cinta yang tulus untukku?" Alina menangis tersedu-sedu menghempaskan dirinya di atas kasurnya.


Kepalanya tiba-tiba terasa berat, tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Alina seolah-olah di buat stress dengan keadaannya. Ia pun mengambil buku hariannya dan menuliskan isi hatinya di atas kertas putih tersebut. Air matanya berlinang membasahi pipinya. Alina merasakan kesedihan yang teramat dalam atas takdir hidup yang kini harus dijalaninya.


Tidak mudah untuknya, berperang melawan rasa sakitnya.


"Aku benci padamu mas Bagas!" Alina mencorat-coret foto kebersamaannya dengan Bagaskara 1 tahun yang lalu.


"Andai ku tahu dirimu begitu kejam dan berbisa tak ingin aku menjalin kasih bersamamu. Kau telah menghancurkan separuh hidupku, mencabik hatiku. Merebut rasa bahagiaku. Mengapa kau semaikan cinta di hatiku? namun akhirnya kau menjatuhkanku dalam jurang kehampaan yang teramat dalam!" Alina terisak-isak dalam tangisnya, ia seolah berada di dalam sangkar emas terkurung terkukung tanpa bisa lepas dari jerat cinta Bagaskara yang memporak-porandakan hidupnya.


Alina seperti sosok orang yang sudah kehilangan akalnya, ia melorotkan tubuhnya, menenggelamkan wajahnya dan bertumpu pada lututnya.


Namun, anehnya kesedihannya tiba-tiba lenyap ketika kembali mengingat janji bertemu dengan Ansori dalam waktu setengah tahun lagi.

__ADS_1


"Semoga kak An tidak mengecewakanku seperti apa yang dilakukan mas Bagas terhadapku!" batin Alina penuh harap di sela-sela isak tangisnya.


__ADS_2