
Alina tersenyum bahagia ketika mendengarkan ungkapan rasa cinta dari bibir manis Bagaskara Ardhana Putra yang membuatnya semakin terbang ke puncak nirwana.
"Mas Bagaskara, Alina juga merasakan hal yang sama seperti yang Mas rasakan!" bathin Alina dengan perasaan yang begitu besar terhadap Bagaskara. Tidak terpikirkan lagi untuknya lepas atau pun berpisah dengan Bagaskara Ardhana Putra. Rasa itu pun semakin merasuk ke dalam jiwanya.
"Alina, kita pulang dulu ya? sudah kesorean, khawatir nanti di cari oleh Bibi Chintya!" kata Bagas dengan menarik lengan adik sepupunya itu untuk segera meninggalkan Pantai Teluk Indah.
"Baiklah!" ucap Alina dengan tersenyum manja.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Alina pun terus di dera oleh perasaan yang bergelora terhadap Abang sepupunya itu. "Ya Tuhan, aku benar-benar sudah gila, kenapa mulanya aku bersikeras ingin lepas darinya. Namun, mengapa aku seolah-olah tidak bisa lepas dari genggamannya? apa yang terjadi dengan ku sebenarnya? mengapa perasaan di hatiku semakin menggila terhadapnya? Aku berasa seperti sangat bodoh dan lemah ketika berhadapan dengannya?" bathin Alina seolah merasakan suatu keanehan dalam dirinya.
"Alina, kok bengong? Kita kan sudah sampai di rumah, mari turun!" ucap Bagaskara dengan kembali bersikap seperti orang baik.
"Iya, Mas. Alina masuk dulu! sampai bertemu lagi!"
"Iya, nanti malam ba'da Isya Mas mampir kemari. Ba'da Magrib Mas hendak mengajar anak-anak mengaji. Salam untuk Bibi Chintya dan juga Om Farel."
"Baik Mas, hati-hati!" ucap Alina.
Bagaskara pun mengangguk pelan, tak lupa pula ia menerbitkan senyumannya di kedua lesung pipinya.
"Hemmm, kita ini di ibaratkan pacar 5 langkah! rumahnya sangat berdekatan dan gilanya sudah tahu saudara sepupu, masih tetap kita jalani hal yang sangat tabu dalam masyarakat ini! walaupun sebenarnya sepupu itu tetap bukan mahram. Jadi boleh untuk memiliki ikatan dengannya! tapi kan dalam silsilah keluarga kita, kita tidak mungkin untuk menikah keluarga kita pasti menentangnya!" bathin Alina dengan tertunduk lesu.
"Entah apa jadinya jika keluarga kita sampai mengetahui akan hal ini?" bathin Alina lagi.
__ADS_1
Alina sama sekali tidak menyadari jika ia dalam pengaruh sihir Bagaskara Ardhana Putra. Namun, satu hal yang patut ia banggakan, dirinya masih punya setetes cahaya iman dihatinya. Ia masih bisa membedakan antara yang hak dan yang bathil. Dan satu hal ia tidak pernah meninggalkan kewajiban sholat 5 waktunya dalam keadaan apapun. Ilmu sihir yang mengenainya tersebut terjadi ketika ia dalam keadaan lengah dan banyak melamun. Sehingga energi negatif mudah merasukinya.
***
"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya ibu Chintya yang baru keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual mandinya.
"Sudah, Bu." Alina bergantian masuk ke kamar mandi, ia merasa sangat gerah setelah menghabiskan waktu di pantai bersama Bagaskara Ardhana Putra.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya Alina buru-buru melaksanakan ibadah shalat Ashar.
"Astaghfirullah, sudah pukul 17.05 Wib!" pekik Alina dengan buru-buru menghamparkan sajadahnya.
"Semua ini gara-gara mengikuti Mas Bagaskara, dan anehnya kenapa aku pun menurutinya hingga membuat ku lalai!" bathin Alina, ia pun melaksanakan ibadah shalat Asharnya yang sempat tertunda.
Alina merasakan keanehan di dalam tubuhnya, ia merasakan energi negatif perlahan merasuki tubuhnya, ketika ia sedang melaksanakan ibadah shalat. Semakin ia melafalkan ayat demi ayat Qur'an di dalam shalatnya semakin ia merasakan hawa panas didada dan punggungnya. Kepalanya pun terasa berat, keringat dingin bercucuran didahi, leher, dada juga punggungnya.
"Ya Allah, apa yang terjadi padaku sebenarnya?" Alina tetap melanjutkan ibadah shalatnya, kemudian berlanjut dengan dzikir dan do'a. Setelah itu ia melanjutkan dengan mendaras Qur'an yang memang sudah menjadi kebiasaannya dari sejak duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Sampai sekarang pun Alina masih tetap merutinkan mendaras Qur'an serta mentadabburi makna yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur'an yang kini sedang dibaca olehnya.
"Ya Allah, dada dan punggung ku terasa ingin terbakar!" Alina merasakan keringat ditubuhnya semakin mengucur deras menetes dan membasahi baju yang dikenakannya. Ia pun menyudahi bacaan Qur'annya.
"Tidak biasanya aku merasakan keanehan seperti ini, ada apa dengan ku?" Alina terus berperang melawan pikiran dan perasaan buruk yang kini sedang di alaminya.
Alina pun kembali termenung di dalam kamarnya, tatapannya menjadi kosong. Ia tiba-tiba melamun. Perasaannya pun tiba-tiba terlihat sedih dan murung tanpa sebab dan akibat. Ia merasakan tubuh dan pikirannya melayang entah kemana.
__ADS_1
***
Di sisi Lain.
Bagaskara sedang melakukan ritual mandinya sebelum menyambut kumandang adzan shalat Maghrib. Di setiap anggota tubuhnya ia bacakan mantra sakti yang bertentangan dengan syari'at. Setiap untaian kata-kata yang di komat-kamit olehnya sangat menyimpang meskipun ada nama Allah didalamnya. Namun, bercampur dengan kebatilan di dalamnya.
Bagaskara seolah merasakan seluruh tubuhnya ada yang membentengi. Ia tidak menyadari jika ilmu yang merasuki didalam tubuhnya adalah berasal dari mahluk yang bernama Jin yang hendak memporak porandakan biduk keimanannya. Menyesatkan perjalanan hidupnya, meskipun ia berhasil menundukkan seluruh penduduk bumi sekalipun tetap saja ia terjatuh dalam kesyirikan yang sangat jauh dari kebeningan iman.
Bagaskara menghadap ke cermin, ia menyisir rambutnya dan berpakaian ala Ustadz yang terlihat sangat religius.
"Hemmm, ternyata diri ku semakin terlihat berkharisma. Aku yakin nanti aku bisa menundukkan murid-murid yang mengaji dengan ku! Maharani kau akan menjadi pelabuhan cinta ketiga ku setelah Alina dan Desi. Namun, Alina tetaplah menjadi ratu pertama di hatiku."
Sorot mata Bagaskara terlihat merah menyala ketika mengucapkan kata-kata tersebut. Energi negatif yang berasal dari hembusan Jin dan sihir yang di bacakan olehnya lewat mantra sakti yang bacakannya, kini benar-benar telah mendarah daging.
Bagaskara seolah merasa dirinya kini terlihat sangat berwibawa dan tampan luar biasa sehingga semua kaum hawa pun pasti akan tertarik dan bertekuk lutut padanya.
"Aku yakin, siapa pun pasti akan terpikat oleh pesona ku! tidak akan ada yang mampu meredam langkah ku!" bathin Bagaskara dengan senyuman devilnya.
"Alina Cahya Kirani, engkaulah jantung hatiku yang menghembus kedalam darah ku. Aku dan dirimu telah menyatu dalam ikatan batin cinta yang tak satu orang pun mampu mencegahnya!" Bagaskara terus komat kamit membaca mantra-mantra yang hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya, seuntai mantra-mantra pemikat yang di tujukan pada sosok Alina, adik sepupu yang sangat digandrungi olehnya.
Alina yang sedang duduk termangu, bersandar di tempat tidurnya pun tiba-tiba di dera oleh perasaan rindu yang teramat dalam pada sosok Bagaskara Ardhana Putra, tubuh dan pikirannya pun tiba-tiba terasa melayang. Hasratnya pun tiba-tiba memuncak. Hingga menuntunnya menyingkap tirai jendela kamarnya. Ia mengintip dari balik jendela adakah Bagaskara di sana.
"Ya Allah angin apa yang membawaku dan biduk hawa nafsu ku? kenapa hasrat ku tiba-tiba memuncak dan ingin bercumbu rayu dengannya?" sebisa mungkin Alina meredam keinginannya.
__ADS_1
Dengan cukup mengintip atap rumah Bagaskara yang bersebelahan dengan rumahnya sudah cukup mengobati bulu perindu yang tiba-tiba mendera hati, pikiran dan jiwanya.
"Mas Bagas, aku merindukan mu!" bathin Alina dengan menatap jendela kamar Bagaskara yang tertutup rapat dari kejauhan.