
Bagaskara membopong tubuh Alina dan meletakkannya di kamar tamu, sebab ia tidak mungkin memasukkan Alina ke kamar pribadinya yang kini acak-acakan oleh amukannya sendiri.
Mama Laras berjalan menuju dapur, ia mengambilkan minyak angin dikotak P3K, berharap Alina segera terbangun dari pingsannya. Tinggallah Bagaskara terpaku melihat belahan jiwanya yang kini terpejam tanpa suara.
"Alina sayang, bangun! Ini Mas." Bagaskara menepuk-nepuk wajah Alina yang terbaring lemah.
Bagaskara pun kembali menyerap ilmu hitamnya, ia pun membangunkan Alina dengan bantuan makhluk gaib yang hanya dirinya yang bisa melihat sekutunya tersebut.
Bagaskara membisikkan kata azimat di telinga Alina, hingga Alina pun perlahan mengerjapkan netranya.
"Aku dimana?" Alina memegang kepalanya yang sakit, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Mas Bagas, kau disini?" Alina menatap Bagaskara dengan penuh arti.
"Iya, Mas disini sayang!" Bagaskara mengamit jemari tangan Alina dan mengecupnya pelan.
Bagaskara tidak menyadari jika jemari tangannya terluka dan berdarah. Ia belum sempat membalut tangannya dengan perban setelah aksi brutalnya melayangkan tinjunya pada cermin yang tak bernyawa.
"Mas Bagas tangan mu berdarah! apa yang terjadi pada mu?" Alina hendak bangkit dari pembaringannya. Namun, kepalanya masih terasa berat.
"Ini tidak apa-apa Alina, dibandingkan sakit hati Mas ketika di acuhkan oleh mu. Noda merah berdarah ini hanya luka biasa, yang nanti pun akan sembuh. Namun, luka hati karena tidak di pedulikan oleh yang terkasih itu lebih perih lagi!" timpal Bagaskara dengan membiarkan noda merah itu menetes tiada henti.
"Tidak bisa begini Mas, kau akan kehabisan darah jika terus di biarkan menetes!" Alina menarik tangan Bagaskara Ardhana Putra. Ia pun nekad merobek kerudung segi empatnya untuk membalut tangan Bagaskara yang telah berlumuran darah.
"Biarkan begini Alina, Mas tidak ingin merepotkan mu!" ucap Bagaskara dengan mode ngambek.
"Mas berhenti lah bersikap ke kanak-kanakan! kesehatan Mas lebih penting dari pada sekedar perasaan cinta yang Mas utarakan yang mungkin satu saat nanti pun Mas tiba-tiba mengingkarinya lantaran hadirnya orang ketiga!" Alina sengaja menyindir Bagaskara yang kerap kali mempermainkan perasaannya.
"Alina dengarkan Mas! Ini yang ke sejuta kalinya Mas menegaskan, Mas sangat mencintai mu!" timpal Bagaskara dengan menarik dagu Alina pelan. Ia memandangi bibir ranum Alina dengan penuh nafsu.
__ADS_1
Alina yang mendapatkan perlakuan manis dari Bagaskara pun menatap wajah tampan dari sosok Abang sepupunya itu.
Bagaskara semakin mendekatkan wajahnya pada Alina, Alina yang masih dalam pengaruh ajian Bagaskara pun memasrahkan segala hal yang akan terjadi dengan mereka berdua.
Bagaskara hendak mencium bibir ranum Alina, namun ia harus kembali gagal menuntaskan segala hasratnya yang terpendam.
"Alina, kau sudah siuman?" tanya Mama Laras yang memang sengaja mengacaukan aksi romantis putranya dan Alina.
"Alhamdulillah, sudah Tante." Wajah Alina terlihat bersemu merah, ia merasa sangat malu lantaran hampir tertangkap basah ingin berciuman dengan Bagaskara.
"Syukurlah kalau begitu, silahkan di minum jahe-nya biar tubuh mu hangat!"
"Terima kasih Tante!" Alina pun segera menyeruput minuman jahe tersebut. Sementara Bagaskara di tangani oleh mamanya.
"Kamu kemari, Nak! lainkali lebih berhati-hati lagi jangan ceroboh, untunglah hanya cermin yang babak belur bukan dirimu!" pungkas Mama Laras.
"Jadi, noda merah berdarah itu akibat kakak berseteru dengan cermin!" tanya Alina dengan berusaha menahan tawanya.
"Tante, Mas Bagas, Alina mau pulang! khawatir Ayah dan ibu mencari Alina. Soalnya, Alina pun tidak tahu mengapa Alina bisa berada di sini!" ucap Alina dengan segera beranjak pergi dari kediaman Bagaskara.
"Tunggu, Alina! biar Mas yang mengantarkan mu pulang, kau masih terlihat lemah."
"Aku bisa pulang sendiri, Kak!"
"Jangan membantah Alina!" Bagaskara pun menyeruput minuman jahe bekas bibir Alina hingga tandas. Ia sengaja ingin melakukan pendekatan dengan Alina seperti awal mula mereka jatuh hati dahulu.
"Mas Bagas, kau! itu punya Alina Mas. Tante Laras yang sengaja menyuguhkannya spesial untuk Alina!" timpal Alina dengan menyebikkan bibirnya.
"Ya, ngambek! cup ... cup ... cup, yang mulai manja!" goda Bagaskara dengan menarik pergelangan tangan Alina. Mari kita pulang!" ucap Bagaskara tanpa malu menampakkan kemesraannya di hadapan mama Laras.
__ADS_1
"Ya Allah, aku harus segera menjodohkan Bagaskara dengan anak teman ku!aku tidak mungkin membiarkan putraku dan keponakan ku terjerat dalam cinta buta!" batin mama laras.
Mama Laras merasa tak terima melihat kedekatan Bagaskara dan Alina, ia semakin terdorong untuk memisahkan ikatan cinta kedua saudara sepupu tersebut, dengan cara menikahkan Bagaskara dengan wanita lain, agar Bagaskara berhenti untuk mengejar dan menganggu ketenangan Alina Cahya Kirani.
***
"Mas, aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada ku? kenapa aku tiba-tiba saja ingin menemui Mas? dan anehnya rasa rindu ku semakin membuncah pada Mas!" sarkas Alina dengan melangkah pelan menuju rumahnya.
"Itu berarti dirimu sangat mencintai Mas dan tidak bisa lepas dari Mas Alina!" timpal Bagas dengan menuntun langkah Alina yang masih terlihat lemah.
"Benarkah begitu?" Alina masih memijit kepalanya yang masih sakit, ia sendiri merasa bingung mengapa akhir-akhir ini ia seperti orang linglung, dan mudah lupa. Alina tidak menyadari jika sihir dan guna-guna yang dikirimkan oleh Bagaskara semakin melumpuhkan dirinya secara perlahan, ia seolah seperti hidup segan mati tak mau.
"Benar Alina sayang, kita berdua tidak akan pernah terpisah. Sampai kapanpun hati kita akan tetap menyatu!" timpal Bagaskara. Ia merasa sangat senang sebab Alina masih dalam pengaruh sihirnya.
"Oh, ya?" tanya Alina singkat. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri yang sebentar marah, sebentar benci, sebentar cinta pada sosok Bagaskara Ardhana Putra.
"Iya, sayang. Berarti kamu sudah memaafkan Mas?" Bagaskara menyeringai licik.
Alina pun mengangguk pelan, ia ingin cepat sampai di rumahnya dan segera beristirahat.
"Terimakasih Alina!" ucap Bagaskara dengan menatap wajah cantik Alina yang terlihat pucat oleh sebab penyakit yang sewaktu-waktu menyerangnya.
"Alina, Bagaskara kalian dari mana? kenapa ada noda merah berdarah di baju mu, Nak?" timpal Ibu Chintya yang merasa kaget melihat keadaan Alina yang terlihat acak-acakan.
"Emm ... ini bekas luka kak Bagas Bu." Alina menunjuk ke arah jemari Bagaskara yang di perban olehnya akibat cermin yang retak seribu oleh pukulan Bagaskara.
"Subhanallah, kamu kenapa Bagaskara?" tanya Ibu Chintya dengan menatap jemari tangan Bagaskara yang masih di balut perban.
"Ini hanya luka biasa, Bi. Sebentar juga akan sembuh!" timpal Bagaskara santai.
__ADS_1
"Jangan main-main dengan luka Bagaskara, nanti infeksi!" Ibu Chintya mengingatkan Bagaskara yang nampak tidak menghiraukan lukanya.
"Luka ini belum seberapa, Bi! jika dibandingkan hati ku harus terluka dan kehilangan cinta Alina." Bagaskara membathin dalam hatinya.