
"Iya sayang, calon suami mu mana? mengapa kalian hanya berdua saja disini?" tanya ummi Ansori pada Annisa yang telah ia anggap sebagai calon menantunya.
"Muzzaki lagi ke toilet, Ummi." Annisa merasa tak enak hati dengan Alina, sebab sangat kentara sekali dari raut wajah Alina yang merasa cemburu melihat Ummi Ansori yang terus berusaha mendekatkan dirinya dengan Alina.
Dada Alina merasa sesak ketika mendengar ummi Ansori memanggil Annisa sebagai calon menantunya.
"Jadi, kak Ansori dan kak Annisa telah di jodohkan?" batin Alina dengan rasa kecewa yang kini berkecamuk dalam jiwanya. Ingin rasanya Alina menumpahkan rasa kecewanya, dirinya benar-benar tak menyangka jika Ansori pemuda yang selama ini sangat dicintainya ternyata telah di jodohkan oleh orangtuanya dengan seorang wanita solehah yang lebih baik akhlak dan agamanya dari dirinya, membuat Alina merasa rendah diri.
Ada luka yang tak berdarah, itulah yang dialami oleh Alina kini. Luka yang tak terlihat, namun menyisakan perih di hati. Ingin Alina menangis sejadi-jadinya, namun dirinya berusaha untuk tegar dan terlihat baik-baik saja walau sebenarnya ia merasakan sakit yang sangat luar biasa ketika melihat kenyataan yang terjadi.
"Ya Allah, mengapa ketika aku jatuh hati kepada seorang laki-laki yang sholeh namun justru cintaku diuji? mengapa ada dia diantara kami, dia yang lebih baik dariku. Apalah dayanya diriku yang masih awwam ini? tidak mungkin kak An memilih diriku untuk menjadi pendamping hidupnya? sedangkan jelas-jelas kak Annisa lebih baik dariku!" batin Alina yang mulai patah semangat.
Ansori yang baru balik dari toilet, sama sekali tidak mengetahui jika umminya telah menyatakan secara gamblang jika Annisa telah dijodohkan dengannya.
"Ummi sudah di sini?" tanya Ansori tanpa menaruh curiga jika umminya secara tidak langsung sudah menyakiti wanita yang sangat dicintai olehnya.
"Iya, Nak. Ummi ingin melihat kebersamaanmu dengan Annisa," terang ummi Ansori dengan merangkul tangan calon menantunya.
Alina semakin merasa tidak nyaman. Ingin rasanya, ia menjauh dari hadapan Ansori, umminya dan juga Annisa agar hatinya lebih terjaga dan tidak tersakiti seperti ini.
Alina merasa semakin lemah, kekuatan energi negatif semakin menyerangnya. Dirinya tiba-tiba murung dan bawa perasaan, "Aku benci telah jatuh hati dan mengenal mu kak An!" Alina menundukkan wajahnya.
"Alina, kamu tunggu di sini sebentar ya? biar kakak ambilkan nasi kotak untukmu!" Ansori pun segera berjalan menuju meja panitia.
"Nak, tunggu! ambilkan untuk Annisa juga!" titah ummi Ansori, membuat Ansori menjadi dilema. Ia tidak ingin mengecewakan Alina. Namun, ia pun tidak ingin mengecewakan Umminya.
Ansori pun mengambilkan nasi kotak untuk Alina, Annisa dan juga untuk umminya agar Alina tidak bawa perasaan dan sedih mendengar ucapan umminya.
__ADS_1
"Ini spesial untuk ummi dan ini spesial untukmu Alina!" selanjutnya Ansori pun memberikan nasi kotak untuk Annisa tanpa berbicara sepatah kata pun. Dia hanya fokus untuk memperhatikan Alina.
"Terima kasih Muzzaki!" Annisa merasa tersanjung, setidaknya ada sedikit perhatian Ansori padanya.
"Sama-sama." Ansori hanya berkata satu patah kata tanpa melihat wajah Annisa.
"Kak An, sepertinya semua rangkaian acara kan sudah selesai. Aku ingin pulang!" ucap Alina yang mulai tak betah.
Wajah Alina telah berubah pias, ia tidak sanggup lagi menahan segala kepedihan jiwanya.
"Kok cepat sekali? ada hal penting yang harus kakak bicarakan padamu?" Ansori merasa keberatan ketika Alina hendak pamit pulang.
Alina mulai tak betah, ingin rasanya ia berteriak untuk mengeluarkan segala kekesalannya. "Aku ingin pulang!" tegas Alina dengan raut wajah yang mulai tidak terkontrol lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa setelah aku balik dari toilet Alina berubah menjadi datar dan tidak bersahabat!" bisikan hati Ansori yang mulai merasakan ada keganjilan dalam diri Alina.
"Ini tidak boleh terjadi, aku harus segera mengantarkannya ke halte bus. Aku merasakan ada kekuatan energi negatif yang menyerangnya. Pasti ada kata-kata dan ucapan dari ummi Annisa yang menyakitinya?" batin Ansori menerka-nerka.
"Baiklah, mari kakak antar! kakak miliki tanggung jawab atasmu! agar tidak perlu numpang becak untuk menuju halte!" ucap Ansori dengan mengarahkan Alina menuju tempat parkir motornya.
"Ummi, Muzzaki antarkan Alina pulang dulu!" ucap Ansori dengan berlalu pergi dari hadapan umminya. Ia tidak ingin berlama-lama apalagi melihat kekuatan energi negatif semakin menyerang Alina.
Alina tiba-tiba disergapi rasa benci terhadap Ummi Ansori dan juga Annisa. Ingin rasanya ia memaki kedua wanita yang membuatnya dirundung nestapa itu.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada diri ku sebenarnya? kenapa aku menjadi jijik melihat wajah Ummi Ansori dan juga kak Annisa? rasanya perasaan ku begitu sakit dan teriris sembilu," batin Alina.
Namun, Alina berusaha untuk pamit pada ummi Ansori juga Annisa." Ummi Alina pulang dulu!" ucap Alina dengan mencium punggung tangan ummi Ansori, yang sebelumnya ia anggap untuk menjadi calon mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati!" Ummi Ansori terpaksa melayani Alina, walau dirinya tahu jika ia tidak menyukai Alina.
Alina pun berlanjut berpamitan dengan Annisa. Keduanya pun saling menyalami dan merangkul satu sama lain.
"Sampai bertemu lagi Alina!" ucap Annisa dengan mengusap bahu Alina dengan penuh kasih.
"Insya Allah, Kak." Alina pun melepaskan rangkulannya terhadap Annisa Nur Fadhilah. Ia pun mengikuti Ansori yang sedang mengambil sepeda motornya di parkiran.
Keduanya pun berboncengan dan saling diam. Alina menjaga jarak ketika berboncengan dengan Ansori. Ia hampir saja duduk di penghujung jok motor. Mungkin air galon bisa muat sebagai pembatas di antara mereka.
"Duduknya jangan terlalu jauh, nanti jatuh!" Ansori mengingatkan.
Alina pun menggeserkan tubuhnya kedepan, ia enggan berbicara pada Ansori mengingat kepedihan yang kini mendera hatinya.
"Kakak minta maaf, jika tadi telah meninggalkan mu. Ummi dan Annisa tidak bicara apa-apa pada mu, kan?" tanya Ansori sambil melirik wajah Alina lewat kaca spionnya.
"Tidakkk bicara apa-apa!" ucap Alina terdengar ketus.
Ansori melihat kejanggalan dan keanehan yang terjadi dalam diri Alina.
"Sepertinya ia kembali dalam pengaruh energi negatif? Aku yakin ada satu hal yang menyakiti perasaannya? akan tetapi apa?" Ansori mencoba membuat kesimpulan sendiri, ketika melihat Alina sedang berduka.
"Turun di sini saja, Kak! Alina bisa berjalan sendiri ke halte bis. Ini sudah sangat dekat."
"Tidak, biar kakak antar sampai tujuan!" ucap Ansori yang tidak ingin membiarkan Alina berjalan sendirian.
Namun, handphonenya berbunyi nyaring hingga percakapannya dengan Alina terhenti.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, ummi ada apa?"
"Wa'alaikumsalam ... kamu dimana, Nak? jangan lama-lama, kasian Annisa sendirian." Ummi Ansori mengingatkan di balik telfon.