Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 131. Getaran Aneh


__ADS_3

"Terimakasih, sudah mengantarkan makanannya kemari. Salam untuk ummi Zainab dan juga Abi Sofyan," ujar Alina yang terpaksa duduk lesehan di lantai yang masih digelar puzzle bermain anak-anak paud yang ada di ruang depan.


"Sama- sama kak Alina, bagaimana rutinitas hari ini? kak Alina terlihat lelah, istirahat dulu sambil dicicipi makanan titipan ummi,'' ucap Fajar sambil membuka rantang berisi makanan yang dibawanya.


"Terima kasih!" Alina pun terpaksa mengiyakan permintaan Fajar. Ia telah berusaha untuk menghindari pria yang memiliki rentang usia dua tahun lebih muda darinya itu.


Setidaknya Alina merasa nyaman, sebab Fajar kembali memanggilnya dengan sebutan kakak.


"Semoga saja tidak ada udang di balik batu, apa ini salah satu caranya mendekati ku dengan menyematkan panggilan kakak terhadap ku? jangan sampai adik kakak berubah menjadi seorang yang spesial di hati," batin Alina sambil melirik sekilas pada wajah manis sosok pria muda dihadapannya yang sedang fokus mengeluarkan segala isi makanan yang ada di rantang.


Fajar tidak menyadari jika Alina sedang mengamati dirinya saat ini. Ia hanya fokus dengan makanan yang ada di rantang. Tanpa keduanya sadari Nur Syifa diam-diam telah menjauh dari hadapan mereka tanpa permisi.


"Maafkan aku ya Rabb, bukannya hamba ingin menjerumuskan Fajar adik ku bersama Alina. Semoga saja dengan begini mereka lebih leluasa bertukar pikiran," batin Nur Syifa sambil melangkah pelan menuju kamar mandi.


Nur Syifa hendak membersihkan diri setelah seharian rutinitas mengasuh, mengajar, mendidik dan bermain dengan anak- anak asuhnya. Ia pun meninggalkan Fajar dan Alina yang masih berinteraksi satu sama lain.


"Kak Alina, ini adalah ayam bakar buatan ummi, ada lalapan juga daun kemangi, kembang kol dan juga mentimun. Ada sambal cabe hijau sama sayur nangka santan. Ini bisa dibilang seperti masakan ala rumah makan Padang," tutur Fajar sambil menampakkan deretan gigi putihnya. Ia pun mendongakkan wajahnya setelah memeriksa isi rantang titipan ummi Zainab.


Deg! netra keduanya pun tidak sengaja bertemu pandang, getaran aneh pun perlahan menyelinap di hati keduanya. Alina mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Aku ambil piring dulu, kamu tunggu disini!" ujar Alina mencairkan suasana setelah tanpa sengaja antara ia dan Fajar saling memandangi satu sama lain.


''Iya, silahkan kak Alina!" Fajar tersenyum, hatinya merasakan kehangatan ketika melihat tatapan Alina yang begitu memikat hatinya.


Alina pun segera berjalan menuju dapur, ''Ya Allah ... apa yang terjadi pada ku? aku tidak mungkin memiliki rasa padanya. Ia masih dibawah umur ku, aku tidak ingin memiliki pasangan lebih muda dari ku. Aku yakin ini hanya perasaan semu yang kerap kali terjadi pada wanita yang terkena gangguan seperti ku. Nanti juga getaran aneh ini akan hilang dengan sendirinya,'' batin Alina sambil memegang dadanya yang sedang berdebar tak karuan.


Gadis berkerudung merah itu pun segera mengambil piring yang ada di rak piring. Ia mengambil tiga piring dan sendok makan untuk dirinya, Fajar dan juga Nur Syifa.


"Astaghfirullah, aku baru menyadari Nur Syifa hilang jejak. Untung saja ia tidak memperhatikan apa yang terjadi dengan ku dan Fajar barusan." Alina masih merasakan getaran aneh dihatinya.


"Ya Allah, aku tidak boleh jatuh hati padanya. Ia pantas untuk ku anggap adik, tidak lebih!" gumam Alina sambil menahan debaran didalam dadanya.


"Hemmm, ternyata Nur Syifa mandi. Tidak mengapa kalau begitu aku dan Fajar santap duluan," gumam Alina sambil membawa piring dan sendok nasi kedepannya.


"Tidak apa-apa, Kak!" Fajar terlihat santai, ia tidak ingin kentara jika dadanya dari sejak tadi pun berdebar- debar jika berhadapan dengan Alina.


"Kita mulai makan!" ajak Alina menginterupsi. Ia pun mengambil nasi dan lauk untuk Dirinya dan juga Fajar.


"Kenapa nasinya dua porsi kak? itu untuk kak Nur Syifa?" tanya Fajar yang tidak menyadari jika piring yang satunya lagi adalah untuk dirinya.

__ADS_1


"Bukan, ini untuk mu? nanti Nur Syifa bisa menyusul kita, ia masih melakukan ritual mandi. Kau makanlah agar aku tak makan sendiri,'' titah Alina dengan melirik sekilas pada sosok Fajar.


"Tapi, ini untuk kak Alina. Nanti jika kakak lapar di tengah malam bagaimana? makanan ini sengaja dititipkan ummi untuk mu," tolak Fajar dengan halus.


"Kau juga harus ikut makan, jika tidak akupun tidak akan makan," keluh Alina sambil meletakkan kembali sendok makan di piringnya. Untuk sekali ini entah kenapa Alina mulai bersikap manja pada sang Fajar, jika sampai keinginannya ditolak.


"Baiklah, jika kak Alina tetap memaksa aku pun akan ikut makan. Mari ku pimpin do'a," ucap Fajar yang memang telah menghafalkan doa- do'a harian setelah melalui proses hijrahnya yang memang terkesan cepat dan dadakan.


Semenjak mengenal Alina Fajar berusaha untuk menyeimbangkan antara dirinya dan Alina. Ia begitu bersemangat untuk meraih hati sang bidadari yang sudah mencuri ketenangan hati dan jiwanya.


Fajar pun tidak pernah lagi manggung, hura-hura, balap motor dan minum- minuman yang memabukkan bersama teman- teman gengnya. Fajar melakukan itu semua demi Alina.


"Bagaimana rasa masakan ummi ku? apa kak Alina suka?" tanya Fajar yang sengaja memanggil Alina dengan sebutan kakak agar dirinya lebih leluasa untuk menjalani proses penjajakan demi untuk mendapatkan hati seorang Alina Cahya Kirani.


"Alhamdulillah, ini enak sekali. Ayam gorengnya juga empuk. Sambalnya juga enak, seperti nasi Padang favoritku. Ummi Zainab ternyata pintar masak," puji Alina yang mulai akrab dengan Fajar.


"Alhamdulillah, ummi memang jago masak. Itulah kenapa Abi Sofyan semakin sayang dengan ummi ku. Selain jago masak, ummi pun sangat santun dan lembut sama seperti kak Nur Syifa dan kak Alina juga baik dan lembut,'' ucap Fajar yang tiba-tiba berubah menjadi sosok pria yang memuji wanita yang dicintainya.


"Pujiannya terlalu berlebihan, aku ini begitu banyak kelemahan dan kekurangan. Buktinya saja aku sudah puluhan kali gagal menjalani hubungan bersama orang yang kucintai. Dan aku pun kerap kali menyakiti orang- orang yang tulus mencintai ku. Jadi, aku tidak ingin lagi terlalu berharap lebih pada makhluk. Jika itu akan membuat diriku ku menyakiti dan disakiti," ujar Alina sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Tapi, bagiku ini benar kak. Kak Alina juga Sholihah dan lembut seperti ummiku, lupakan tentang sekelumit cerita dimasa lalu. Kak Alina tidak perlu mengingat kembali apa-apa yang telah menyakiti perasaan kakak. Mulai sekarang jemputlah masa depan yang lebih cerah. Di luar sana masih banyak yang menyayangi kakak,'' ujar Fajar dengan menenangkan Alina.


"Tapi, aku sudah jera dekat dengan laki-laki. Berteman itu akan jauh lebih baik dan nyaman daripada memiliki pendamping hidup yang nantinya tidak bisa menerima keadaan ku dan pada akhirnya justru aku yang tersakiti," ujar Alina sambil menahan derai airmatanya hampir saja lolos dari kedua pelupuk mata indahnya.


__ADS_2