
Selang berapa menit kemudian, mobil travel yang di tunggu Alina kini telah berhenti dipinggir jalan. Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil sambil menyeret koper bajunya.
Alina melambaikan tangannya pada kedua orangtuanya dari dalam mobil. Berat baginya untuk meninggalkan kedua orang tuanya, akan tetapi ia terpaksa melakukan itu semua demi menjauhi Bagaskara yang senantiasa memantau setiap pergerakannya.
Setiap ada kaum Adam yang hendak mendekatinya dan bertandang ke rumahnya tak henti-hentinya Bagaskara memantaunya dengan berulang kali melintasi jalan raya dengan niat menguntit siapa-siapa pemuda yang berani mendekati Alina. Hingga akhirnya semua pemuda tersebut mundur dengan teratur karena merasa ada keanehan dalam diri Alina.
Dan sekarang, Alina memilih untuk pergi demi menjauh dari pandangan Bagaskara. Ia pun harus mengorbankan perasaannya jauh dari orang-orang terkasihnya. Ayah dan ibunya hanya tinggal berdua, sebab kakak perempuannya Andara kini telah menetap di kota P bersama suaminya Dimas Sidqi Amrullah. Alina lah satu-satunya yang menjadi penghibur untuk kedua orang tuanya. Akan tetapi, Alina memilih untuk pergi demi menjauh dari kehidupan Abang sepupunya yang kerap kali mengikat dan menyerangnya dengan buhul-buhul ghaib tanpa disadari olehnya. Sehingga Alina harus mengalami penyakit dan penderitaan sepanjang tahun yang terus menggerogoti tubuhnya, lahir dan batinnya.
''Stopppp di sini Banggg!'' pekik Alina ketika ia sudah sampai di sebuah persimpangan kawasan perumahan xx yang ada di kota S, yang memang menjadi salah satu tempat untuk penitipan khusus anak-anak bayi dan balita yang di bangun oleh salah satu teman pengajian Alina. Dan Alina pun ditawarkan oleh sahabatnya mbak Diah untuk berkecimpung di penitipan anak Khansa Day Care yang baru dibangun 2 bulan terakhir ini.
Mobil travel tersebut pun hanya bisa berhenti di pinggir jalan dan tidak bisa masuk ke dalam. Hanya mobil angkutan kota yang bisa masuk di kawasan perumahan xx tersebut.
Alina memilih untuk berjalan kaki sambil mendorong kopernya menuju perumahan penitipan anak Khansa Day Care yang akan menjadi tempatnya bernaung.
''Ya Allah, capek juga menyeret koper menuju kesana, mana angkot belum ada yang masuk ke dalam. Aku harus berusaha untuk cepat sampai di sana,'' pungkas Alina sambil mempercepat langkahnya menuju penitipan anak Khansa Day Care.
Tanpa ia sadari ada seorang pemuda memandanginya dari teras rumahnya, sambil memetik gitar dan menyanyikan lagu kesayangannya. Melihat pesona Alina pemuda yang terkenal dengan bad boy itu pun seolah terhipnotis dengan keanggunan Alina yang berbalut kerudung merah yang menutupi wajahnya sampai menutupi lekuk tubuhnya dengan atasan gamis yang berpadu dengan rok yang di kenakan oleh gadis ayu itu.
''Gadis berkerudung merah, amboi cantiknya! andai saja aku bisa mendapatkan hatinya. Tapi, apa kah mungkin dengan penampilan ku yang seperti anak band ini ia akan tertarik pada ku? bukankah hanya laki-laki yang setara ustadz atau orang-orang alim atau apalah namanya yang bisa menyentuh hati wanita seperti itu. Gila, dia benar-benar seperti bidadari syurga,'' ucap pemuda yang bernama Fajar Guntur Ramadhan.
__ADS_1
Akan tetapi, di usianya yang ke 20 tahun pemuda tersebut harus menempuh pergaulan bebas bersama teman-teman remajanya. Dirinya pun, kerap kali meneguk minuman haram bersama teman-temannya. Minuman yang memabukkan sejenis khamr menjadi teman untuk menghibur dirinya dan masa mudanya yang kerap kali jatuh bangun dan hilang arah bersama teman-teman sepermainannya.
Fajar Guntur Ramadhan memiliki kedua orang tua yang sangat taat dalam agama, akan tetapi entah kenapa Fajar tidak sebening dan sesuci namanya. Ia lebih memilih berhura-hura di masa mudanya. Ilmu agama perlahan-lahan telah memudar dari hati dan pikirannya, ibadah shalat pun telah lama ditinggalkan olehnya. Ia lebih memilih untuk berbuat maksiat dan bergelimangan dosa ketimbang mengisi masa mudanya dengan ilmu syar'i. Ia pun kerap kali gonta-ganti pacar selama 2 tahun terakhir ini semenjak dirinya mengenal wanita di tempat hiburan manggungnya dan juga teman sebayanya.
Fajar pun memilih untuk putus sekolah pada saat menempuh jenjang pendidikan setara SMA kelas 1. Kedua orangtuanya pun sudah tidak bisa lagi membimbing putranya yang kerap kali berhura-hura dan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Mereka hanya berharap datang keajaiban agar putranya segera mendapatkan hidayah dan bertaubat dari segala kemaksiatan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Do'a selalu dipanjatkan oleh kedua orang tua fajar pada anak sulungnya.
Namun, entah kenapa ketika melihat penampilan dan keanggunan Alina dirinya seolah terjerat dengan pesona gadis tersebut.
Fajar pun mematikan puntung rokoknya, dan berniat untuk membantu Alina yang sedang kepayahan menyeret kopernya. Ia nampak PD dengan penampilan bad boynya yang terlihat sangat metal seperti pank rock jalanan atau sejenis anak geng motor yang mungkin akan mengagetkan Alina yang sama sekali tidak menyukai laki-laki yang berpenampilan seperti berandalan.
''Ada yang bisa saya bantu?'' tanya bad boy tersebut dengan penampilan anak band-nya yang membuat Alina sedikit menjaga jaraknya, ketika pemuda tersebut tampak mengenakan anting di hidungnya seperti vocalis Charlie band.
Namun, tidak dengan Alina dirinya sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki yang kini berdiri di hadapannya. Akan tetapi, sebagai sosok wanita muslimah Alina berusaha untuk menghargai siapapun. Ia tidak ingin bersikap angkuh dan sombong. Baginya, semua manusia itu sama yang membedakan hanya derajat ketaqwaannya di hadapan Allah.
Cukup sudah pengalaman pahitnya bersama abang sepupunya Bagaskara Ardhana Putra yang telah menyiksa lahir dan batinnya secara mistis hingga dirinya harus menahan penyakit yang kerap kali menyiksa dirinya dengan kejadian-kejadian aneh yang selalu mengganggu aktivitas kehidupannya, yang hampir saja membuat gila karena hampir saja kehilangan warasnya oleh sebab gangguan jin dan sihir yang kerap kali menggerobati tubuhnya. Dan ia tidak ingin salah berucap sehingga membuat tubuhnya binasa jika ada orang yang tersinggung dengan sikap dan perbuatannya.
''Maaf, saya berangkat dulu, Dek! tempat yang dituju sudah hampir dekat dari sini,'' pamit Alina untuk sekedar basa-basi pada pemuda yang ia anggap lebih muda darinya.
Alina mengira pemuda itu masih berusia 17 tahun sebab dari perawakannya yang masih terlihat bronies alias brondong manis. Kenyataannya, usia Fajar memang lebih muda 2 tahun darinya yakni 20 tahun sedangkan Alina sudah menginjak usia 22 tahun. Jadi, wajar jika Alina memanggil fajar dengan sebutan adik untuk menghormati orang yang lebih muda darinya.
__ADS_1
''Ia memanggil ku adik? seperti itukah diriku dalam pandangannya?'' Fajar mengernyitkan keningnya. Akan tetapi, dirinya tetap nekat untuk mendekati Alina.
''Biar aku bantu!'' tawar pemuda tersebut dengan mengambil alih koper yang ada di tangan Alina.
''Baiklah,'' Alina terpaksa menerima niat baik pemuda tersebut yang ia anggap sebagai seorang adik untuknya.
Alina mempersilahkan Fajar untuk berjalan duluan menuju penitipan Khansa Day Care. Ia tidak ingin berjalan di hadapan bukan mahramnya kendatipun seseorang itu lebih muda darinya. Akan tidak mungkin anak panah mata setan menggoda iman setiap manusia untuk melakukan kekejian yang terbesit dalam hati dan jiwa seseorang yang mungkin saja memiliki sedikit niat untuk menaruh rasa padanya dan Alina tidak ingin itu terjadi berkali-kali dalam hidupnya.
''Sampai di sini dulu, terima kasih sudah membantu!'' Alina hendak membuka pintu pagar perumahan tempat penitipan anak di mana dirinya akan mulai beraktivitas dengan pekerjaan barunya.
''Tunggu dulu! kenalkan namaku Fajar Guntur Ramadhan. Kau boleh memanggil ku dengan panggilan apa saja,'' tutur bad boy tersebut sambil menjulurkan tangannya memperkenalkan dirinya pada Alina.
''Alina Cahya Kirani,'' ucap Alina sambil menelungkupkan tangan di dadanya.
Fajar menarik kembali tangannya, ketika melihat Alina yang tidak menerima uluran tangannya. Kelembutan dan kesantunan Alina seolah semakin membuat Fajar tertarik untuk mendekati wanita yang ia yakini seumuran dengannya.
''Alina Cahya Kirani, nama yang sangat bagus,'' ujar Fajar dengan menerbitkan dua lesung pipinya. Ia benar-benar terjerat dengan pesona sosok wanita shalihah yang kini ada di hadapannya.
''Aku masuk dulu,'' ujar Alina sambil menundukkan pandangannya agar tidak bersitatap dengan anak muda yang ada di hadapannya.
__ADS_1