Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 54. Histeris


__ADS_3

Guntara masih terus memandangi wajah ayu Alina yang kini masih berada dalam dekapannya. Alina pun sebaliknya, ia yang terpana akan perlakuan manis Bagaskara terhadapnya pun balik menatap wajah tampan nan menawan itu. Ia masih terus melingkarkan tangannya di leher Guntara yang begitu setia membopongnya menuju parkiran mobil milik Guntara.


"Kak Gun, apa yang terjadi pada ku? kenapa tiba-tiba aku terpikat pada mu? sepertinya otak ku mulai tidak waras!" bathin Alina.


Alina tiba-tiba terlihat murung dan menangis pilu.


"Hiks ... hiks ... hiks," Alina terisak dalam tangisnya.


"Hey, ada apa dengan mu? kenapa kau menangis?" Guntara meletakkan tubuh Alina pelan di kursi mobil bagian depan, yang pintu mobilnya sudah di buka oleh Reno. Reno bersikap seolah-olah menjadi asisten pribadi antara Alina dan Guntara.


Guntara menyeka air mata Alina yang tiada henti menangis sejak keluar dari kediaman Mbah Rohimah. Gangguan gadis malang tersebut semakin bertambah-tambah.


Guntara mengenakan seat belt untuk Alina sambil menenangkan gadis malang itu. "Jangan terlalu banyak pikiran, kakak yakin Alina pasti sembuh!" ujar Guntara dengan mengelus pucuk kepala Alina yang masih terhalang hijab.


"Alina takut, Kak. Kak Bagas jahat!" ucap Alina seperti anak kecil, kondisi kejiwaan Alina semakin terganggu ketika ia mengetahui Bagaskara telah menghembuskan sihir dan guna-guna padanya, tanpa pernah di sadari olehnya selama ini.


Ilusi Alina kembali pada bayang-bayang masa lalunya, saat-saat pertama kali ia bersama Bagaskara, betapa Abang sepupunya itu begitu sangat menyayanginya, betapa semua itu berubah semenjak dirinya ingin mengakhiri hubungannya dengan Bagaskara, namun justru perasaannya kembali membuncah pada Abang sepupunya itu.


"Jadi, ketika itu Mas Bagas telah melakukan hal keji pada ku! apa salah ku, Mas!" pekik Alina histeris dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat terlalu stress berat. Gangguan kejiwaan dalam diri Alina pun semakin menjadi-jadi.


"Alina, tenangkan jiwa mu!" ucap Guntara dengan menarik Alina dalam dekapan dada bidangnya.


Alina mulai melemah, kehadiran Guntara di sisinya membuatnya sedikit lebih nyaman. Alina pun mulai tenang. Ia pun menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


Setelah Alina merasa lebih nyaman, barulah Guntara melajukan mobilnya.


Sementara Reno semenjak pulang dari gubuk Mbah Rohimah sampai sekarang dirinya nampak bermuram durja. Ia merasa kalah saing dengan Guntara. Pasalnya dari sejak tadi ia harus menyaksikan adegan romantis antara Alina dan Guntara.


Guntara melirik wajah kusut Reno lewat kaca mobilnya, "Mengsedih sekali dia, pasti ia cemburu melihat Alina selalu menempel erat pada ku!" Guntara menerbitkan senyuman termanisnya, membuat Reno yang sedang melamun di belakang mobil pun mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Kenapa loe senyum-senyum sendiri? jangan bilang jika dirimu sedang menertawai ku!" ucap Reno spontan.


"Nggak, hanya lucu aja melihat dirimu seperti itu. Katanya ingin bersaing secara sehat, baru di tempa ujian seperti itu saja sudah menyerah!" sindir Guntara, keduanya pun saling debat satu sama lain. Sementara Alina mulai terlelap, dirinya terlalu lelah menangis dan berpikir mengenai masalah dan penyakit yang dialami olehnya.


"Kamu tolong antarkan Alina pulang! aku akan mengikuti kalian dari arah belakang dengan sepeda motor ku yang masih diparkiran Xx!" titah Reno.


"Maaf, aku hampir lupa sebelum kita pergi ke tempat Mbah Rohimah, motor mu kita tinggal di parkiran Xx!" sangkal Guntara.


Guntara pun berbalik arah, dan kembali mengantarkan Reno untuk mengambil kendaraannya.


***


Dalam perjalanan menuju kediaman Alina.


Alina nampak tertidur pulas, hari ini terlalu banyak hal buruk yang terjadi menimpanya. Mulai dari Bagaskara terciduk selingkuh, Alina juga harus mengalami banyak kejadian aneh yang menimpanya, apalagi setelah ia tahu jika selama ini Bagaskara telah mengguna-gunainya. Alina semakin tertekan lahir dan batinnya.


"Tidakkkk, kau kejam Mas! lepaskan aku! aku tidak sanggup lagi bertahan dengan mu! jangan pernah untuk menghantui ku lagi! pergi! pergi!" pekik Alina histeris dalam igauan mimpinya.


Guntara menepikan mobilnya dan membangunkan Alina yang sedang menggigau.


"Alina, apa yang terjadi pada mu! bangun Alina!" Guntara menggoyangkan tubuh Alina pelan. Ia pun mengusap air mata gadis malang itu, dibukanya seat belt yang mengikat tubuh Alina dengan penuh kelembutan.


Alina pun mengerjapkan netranya, "Kak Gun Alina takut!" Alina pun refleks membenamkan wajahnya di dada bidang Guntara. Guntara pun mendekap erat wanita yang sangat dicintainya itu.


"Jangan menangis lagi! kita pulang ya? sebentar lagi kita akan sampai di kediaman mu!" Guntara berusaha untuk menenangkan Alina.


"Kasian sekali dirimu Alina, aku janji aku akan memberikan perhitungan pada Bagaskara Ardhana Putra, ia benar-benar keterlaluan menyiksa mu seperti ini!" Guntara merasa sangat geram. Ingin rasanya saat ini juga ia melayangkan tinjunya pada sosok pemuda yang tak beradab itu.


"Tok ... tok ... tok," suara gedoran pintu dari luar mobil.

__ADS_1


Guntara pun membuka kaca mobilnya, "Reno, kau!"


"Iya, kenapa berhenti lagi? ada apa dengan Alina?" tanya Reno yang memang mengekori dari belakang mobil.


"Ia mengigau dalam tidurnya," terang Guntara apa adanya.


"Baiklah jika begitu, tolong jaga Alina dengan baik dan jangan macam-macam!" ancam Reno.


Semula Reno berpikir Guntara akan melakukan hal yang tidak baik terhadap Alina, efek terlalu cemburu pikiran Reno jadi traveling kemana-mana.


"InsyaAllah, aku akan menjaganya dengan baik. Kau jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya dan aku tidak akan mungkin melakukan hal diluar batasan terhadapnya!" Guntara nampak tersinggung mendengar ucapan Reno yang seolah menyudutkannya untuk melakukan hal yang mesum terhadap Alina. Padahal Guntara begitu sangat menghargai Alina.


"Cemburu dengan seseorang boleh, namun jangan sampai berpikiran yang tidak-tidak, aku sangat menghormati Alina!" tegas Guntara yang mulai risih dengan keposesifan Reno.


"I-iya, maaf!" ucap Reno yang merasa bersalah sebab telah berpikiran yang buruk dengan Guntara.


Alina yang merasakan ada hawa panas antara Reno dan Guntara ia pun mencoba untuk berada di tengah-tengah dan tidak membela siapa pun. Meskipun sebenarnya ia tahu kedua pemuda itu sama-sama peduli padanya.


"Kak Reno, kak Gun, maafkan Alina karena merepotkan kalian!" ucap Alina yang mulai merasa tak nyaman berada di antara dua pemuda yang sedang perang batin tersebut.


"Tidak apa-apa Alina, kami ikhlas menemani mu! maafkan perdebatan kami yang membuat mu merasa tak nyaman!" ucap Guntara dengan tatapan sendunya, ia tidak ingin membebani pikiran Alina atas perdebatan kecilnya dengan Reno.


"Iya, aku juga minta maaf Alina, aku yang salah!" ujar Reno yang tidak ingin membuat Alina larut dalam kesedihan.


"Iya, terimakasih atas kebaikan kak Reno juga kak Gun, Alina beruntung punya teman-teman sebaik kalian!" ucap Alina menekan kata teman. Sebab Alina tidak ingin Reno dan Guntara saling bertentangan memperebutkan dirinya.


"Alina, seandainya kau tahu betapa hatiku telah terpikat pada mu. Aku ingin kau menjadi seorang yang teristimewa dalam hidup ku!" bathin Reno meringis pilu.


"Alina Cahya Kirani, aku janji akan selalu ada untuk mu! tak kan ku biarkan kesedihan terus mendera mu. Akan ku jaga diri mu dengan segenap hati dan jiwaku!" bisikan hati Guntara Arjuna Winata.

__ADS_1


Reno dan Guntara pun, sama-sama membisikan kata hatinya yang di tujukan untuk Alina meskipun yang terkasih tak bisa mendengarkan bisikan hati kecil mereka.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Alina. Sedangkan Reno membuntuti mobil Guntara dari arah belakang, setelah menyelesaikan sedikit kesalahpahaman yang ada di antara mereka.


__ADS_2