Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 97. Di Antara Dua Pilihan


__ADS_3

Ansori bingung dengan perasaannya sendiri, entah kenapa setelah Annisa memanjatkan do'a di dalam hatinya. Ansori tiba-tiba memiliki getaran rasa yang berbeda terhadap Annisa.


"Ya Allah, mungkinkah hamba mulai menyukainya? Benarkah jika Annisa adalah pilihan yang tepat dari orang tuaku untukku. Lalu, bagaimana dengan Alina? mungkinkah aku harus mengakhiri hubunganku dengannya, demi memenuhi keinginan orang tuaku? terutama ummiku yang telah melahirkanku? Bukankah ridhonya orang tua ada ridhonya Allah juga?" Ansori bertanya-tanya dalam hatinya, di antara dua pilihan yang harus ia pilih membuatnya menjadi dilema.


"Nak, malam nanti kita akan berkunjung ke rumah keluarga Annisa. Ummi harap kau berkenan menerima perjodohan ini, mengingat Annisa pun telah memilihmu untuk menjadi calon suaminya. Annisa adalah wanita Sholihah, keluarganya adalah orang baik-baik. Ayahnya pun seorang ustadz yang kerap kali mengisi ceramah dan juga merangkap sebagai guru mengaji. Ummi yakin, kamu bisa belajar banyak dari Abi Annisa."


"Iya, Nak. Insya Allah pilihan ummi mu adalah yang terbaik untukmu, jadi jangan pernah meragukan sesuatu yang memang sudah tampak baik di depan mata." Abi Ansori pun, ikut memberikan nasehat dan masukan untuk putranya.


"Insya Allah, Ummi, Abi, mohon berikan Ansori waktu untuk berpikir. Izinkan Muzzaki untuk shalat istikharah terlebih dahulu untuk meyakinkan diriku apakah hatiku mantap untuk melanjutkan perjodohan dengan Annisa," ucap Ansori yang tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.


Sementara Annisa mendengar percakapan antara Ansori dan kedua orang tuanya dengan diam seribu bahasa. Tidak sepatah kata pun yang terlontar dari lisan Annisa.


Annisa menyerahkan semua jodoh takdir hidupnya hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, jika nantinya Ansori menolak menjadi calon imamnya.


"Nak, Nisa silakan dicicipi minuman dan cemilannya. Jangan sungkan, anggap seperti keluargamu sendiri. Ummi yakin, anak ummi akan berjodoh denganmu."


"Terima kasih, Ummi. Annisa pun mencicipi hidangan yang ada."


Mereka pun saling bercengkrama satu sama lain. Ansori dan Annisa pun sudah mulai membuka suara masing-masing dan saling bertanya seputar pendidikan kuliahnya.


"Jadi, bang An memilih bidang politik manajemen?" tanya Annisa dengan tetap menundukkan pandangannya.


"Alhamdulillah, iya. Akan tetapi, aku rencananya ingin membuka usaha sendiri tanpa bekerja dengan orang lain!" terang Ansori yang baru menyandang sarjana S1-nya.


"Alhamdulillah, itu adalah niat dan cita-cita yang mulia. Bukankah Rasulullah pun seorang pengusaha sukses yang bergerak dalam bidang perdagangan." Annisa nampak memberikan dukungan pada Ansori yang insya Allah akan menjadi imamnya nanti.


"Kamu sendiri di STAIN memilih jurusan apa?" tanya Ansori yang mulai ingin mengenal sedikit tentang Annisa.

__ADS_1


"Aku memilih jurusan Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini. Insya Allah, lulus dari universitas tersebut aku ingin membuka sekolah Paud Islami, tepatnya aku ingin mengajak teman-teman yang memiliki basic sebagai seorang guru dapat berkecimpung dalam sekolah yang akan aku dirikan nantinya," terang Annisa yang memang memiliki pandangan jauh kedepan.


"Maa syaa Allah, kau lihat nak. Annisa adalah wanita yang cerdas nan sholihah, insya Allah diri mu akan bahagia hidup bersamanya." Ummi Annisa tampak terus menyemangati anaknya.


"Insya Allah, Ummi." Ansori tampak menimbang-nimbang perasaannya. Antara memilih Alina atau Annisa untuk menjadi pendamping hidupnya.


Sementara, Abi Ansori pun ikut memberi support pada putranya. "Abi harap dirimu segera menyetujui perjodohan ini!" Abi Ansori menepuk-nepuk pundak putranya.


Cukup lama mereka berbincang-bincang Annisa pun pamit undur diri.


"Ummi, Abi, bang An. Annisa pamit dulu, sudah sore. Terima kasih atas jamuannya."


"Maa syaa Allah, cepat sekali Nak. Ummi yang berterima kasih, sebab dirimu sudah menemani Ummi menghadiri acara wisuda Muzzaki Ansori, anak Ummi."


"Sama-sama Ummi." Annisa pun menyalami ummi Ansori. Sedangkan, ketika berhadapan dengan Ansori dan Abinya, Annisa menelungkupkan tangan di dadanya.


***


Di sisi lain, Alina dan Guntara telah sampai di kediamannya.


"Kak, turun di sini saja. Biar aku berjalan saja pulang kerumah, khawatir menjadi tanda tanya Ayah dan Ibu jika aku pulang bersama laki-laki asing."


Shitttt, Guntara pun menginjak rem secara mendadak ketika mendengar Alina tiba-tiba minta turun di pinggir jalan yang tidak jauh lagi dari kediamannya.


"Kenapa? bukankah kedua orang tua mu sudah mengenal ku ketika aku dan Reno mengantarkan mu pulang ke rumah ketika dirimu pulang dari gubuk Mbah Rohimah untuk berobat?" tanya Guntara yang tak rela jika dirinya melihat Alina pulang berjalan kaki.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku jalan kaki saja dari sini," ucap Alina hendak turun dari boncengan Guntara.

__ADS_1


"Alinaaa," pekik teman-temannya ketika melihat Alina berboncengan dengan seorang pria yang terlihat tampan dan gagah dengan motor gedenya.


"Dela, Chika, kalian dari mana?" tanya Alina yang masih berada di atas motor Guntara.


"Habis pulang kajian, Lin. Alhamdullillah ada yang menemani ku ikut kajian, jadi aku tidak sendiri." Dela terlihat religius dengan jubah syar'inya. Begitu pun Chika yang baru belajar menuntut ilmu syar'i, ia terlihat imut dengan gamis dan hijab segi empatnya.


"Maa syaa Allah, maaf aku sudah berapa pekan tidak mengikuti kajian. Apa kabar mbak Diah dan teman-teman semuanya?"


"Alhamdulillah, semuanya baik kak Alina. Di sana semakin banyak yang ikut kajian, kak Lina kapan lagi kajian bareng kita?" tanya Chika yang memang terlihat lebih muda usianya dari pada Alina dan Chika. Namun, perawakan mereka terlihat sama-sama muda.


"Insya Allah, Minggu depan aku ikut bersama kalian!" Alina tanpa sadar menyandarkan dagunya di bahu Guntara yang dari sejak tadi setia mendampinginya berada di atas motor pemuda tampan tersebut.


"So sweet sekali, Kak. Tapi, kata pak Ustadz Hanan tadi kita tidak boleh berdua-duaan dengan bukan mahram, sebab yang ketiganya adalah syaitan," ceplos Chika membuat Alina menjaga jaraknya dengan Guntara.


"Maaf, nggak sengaja!" ucap Alina seraya nyengir kuda.


Sementara Dela hanya menerbitkan senyumannya melihat tingkah laku Chika yang memang selalu ceplas-ceplos dalam keadaan apapun, tidak mengenal tempat dan keadaan.


"Maaf kak, teman kami yang satu ini memang agak labil." Dela mewakili permainan maafnya atas tingkah absurd Chika. Ia merasa tidak enak hati dengan Guntara.


"Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak," sela Guntara yang tujuannya adalah untuk sekedar bercanda.


"Enak saja di bilang anak-anak, bentar lagi usia Chika sudah 16 tahun kelas dua SMA," killah Chika membela diri. Seketika, semua yang mendengar celotehan Chika tertawa renyah.


Mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata menatap dengan penuh amarah dan kebencian ke arah Alina yang masih betah berada di atas motor Guntara.


"Alina, dia bersama siapa? tak kan kubiarkan dirimu bersama laki-laki manapun Aliina Cahya Kirani!" batin Bagaskara dengan bola mata merah menyala meredam gemuruh emosi di dadanya ketika melihat Alina berboncengan dengan pria lain selain dirinya-

__ADS_1


__ADS_2