
Hari demi hari Alina lalui penuh dengan liku onak dan duri, semenjak dirinya dan Ansori saling membatasi diri hubungan keduanya pun menjadi semakin renggang.
Alina merasa pemuda tersebut terasa semakin jauh dari kehidupannya. Tidak ada lagi keindahan seperti dulu, semua seolah terasa semakin suram. Banyak pemuda yang berusaha untuk mendekati Alina termasuk diantaranya Guntara Arjuna Winata, Reno, Arya, Martin, Andre, Yanto, Alan, Raja, Putra, Zhoffar, Rio, Angga, Ade, Hendri, Pian, Sabri dan masih banyak lagi yang tidak bisa author sebutkan satu persatu, mengingat begitu banyaknya pemuda yang mengagumi Alina bahkan ada yang berkali-kali untuk melamar Alina namun tak satupun yang mampu bertahan dengan Alina ketika merasakan begitu banyak keanehan yang terjadi dalam diri Alina ketika para pemuda tersebut berusaha untuk mendapatkan hati dan cintanya.
Ada pula, yang sama-sama saling mencintai dan mengagumi namun akhirnya terselip kebencian dan rasa tersebut bahkan hilang sama sekali.
Bertahun sudah Alina berpisah dengan Ansori, bahkan tak satupun pemuda yang mampu untuk menyentuh hatinya lebih dalam lagi seperti rasa yang pernah ia rasakan bersama sosok pemuda tersebut. Semenjak Ansori mengatakan jika dirinya tidak ingin pacaran dan lebih memilih untuk fokus dengan dakwahnya dan menjadi guru mengaji dirinya pun memutuskan untuk menjaga jarak dengan Alina demi untuk menjaga hati masing-masing agar tidak terlalu larut dalam kekecewaan.
Bertahun sudah perpisahan itu menjadi nyata, dan Ansori pun berkelana mencari jati dirinya. Ia pun tidak memilih Annisa Nur Fadhilah menjadi istrinya, sebab tidak ingin mengecewakan Alina, ia pun tidak lagi menghubungi Alina demi menjaga hatinya agar tidak larut dalam biduk cinta yang semu, perasaan itu ia bunuh sampai dirinya benar-benar menemukan siapa jodoh yang benar-benar di ridhoi Allah untuknya.
"Kak An, dirimu dimana? semenjak kita hilang kontak tiga tahun yang lalu sampai detik ini tak ku dengar lagi kabar dari mu. Sememangnya aku masih terus menunggu mu disini! mungkinkah rasa itu masih melekat pada mu?" Alina bertanya-tanya dalam hatinya.
kini, diusianya yang ke 21 tahun ... 21 kali pula Alina menolak laki-laki untuk melamarnya, entah kenapa setiap ia mulai ingin menerima laki-laki lain dalam hidupnya, ia begitu sangat benci dengan pemuda tersebut, rasanya ia ingin mengamuk dan membenturkan kepalanya ke tembok atau dirinya akan terlihat murung dan sedih jika tiba-tiba ada pemuda yang berusaha untuk melamarnya.
Bahkan, setara ustadz pun sudah ada beberapa yang mencoba untuk melamar Alina. Akan tetapi, selalu saja ada sosok orang ketiga yang mengpengaruhinya dan anehnya Alina selalu memilih orang yang salah yang pada akhirnya tak mampu untuk bertahan dengannya oleh sebab ada campur tangan syaitan dan makhluk yang masih bersarang di tubuhnya selalu memperdayainya untuk melakukan kesalahan yang fatal. Sehingga satu persatu pemuda pun berlalu pergi meninggalkannya tanpa kabar berita, bahkan ada yang sudah menikah karena patah hati ditolak oleh Alina.
"Ya Allah, siapa sebenarnya jodoh hamba? kenapa diriku selalu gagal dan gagal lagi menempuh jenjang pernikahan? semua pun pergi dari hidupku, apalah arti kata cinta jika realitanya aku selalu patah hati dan kecewa? kenapa ya Rabb?" Alina meratapi nasibnya.
Dan anehnya, ia selalu berharap Muzzaki Ansori akan datang kembali padanya. Akan tetapi, semua itu hanya mimpi. Ia ingin memeluk gunung akan tetapi tak mampu untuk ia raih.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Alina. Ia pun segera membuka pintu kamarnya yang ia tutup rapat.
"Ibu, silahkan masuk!" ucap Alina yang memang enggan keluar dari kamarnya.
Ibu Chintya pun masuk ke dalam kamar Alina, ia pun mengelus pucuk kepala anaknya. "Nak, ada undangan pernikahan dari seseorang, ibu harap kamu harus tegar dan kuat. Semua ini sudah menjadi jalan takdirnya Allah subhana wata'alla," terang ibu Chintya sambil mengusap pundak Alina pelan.
Alina pun melebarkan matanya dan membuka surat undangan tersebut, seketika butiran beningpun mengalir deras dari kedua pelupuk mata Alina.
"Kak Guntara Arjuna Winata, ia menikah dengan Dela sahabat ku?" ucap Alina dengan rasa tak percayanya.
"Iya, Nak!" lirih ibu Chintya yang tak tega melihat kepedihan di mata putrinya.
Guntara menjadi satu-satunya sahabat sejati yang memaninya ketika dirinya sedang terpuruk bahkan patah hati berkali-kali. Guntara pun senantiasa menghibur dirinya ketika ia membutuhkan.
Guntara pun menjadi satu-satunya teman yang selalu mengunjunginya ketika penyakitnya mulai kumat. Dan Guntara pun menjadi salah satu pemuda yang menempati urutan ke-21 gagal melamar Alina sampai ke pelaminan.
"Maafkan aku kak Gun, yang ketika itu menolak mu. Entah kenapa aku rasanya ingin mengamuk ketika mendengar kau ingin melamar ku, hingga aku tanpa sadar melontarkan kata-kata yang menyakitimu," sesal Alina yang entah kenapa perasaannya seolah di tarik ulur untuk mencintai Guntara ketika pemuda itu akan menikah dengan Dela sahabatnya.
"Ya Allah, ujian apa lagi ini? ketika kak Gun hendak menikah, anehnya diriku tiba-tiba nelangsa?" Alina sama sekali tidak menyadari jika makhluk tak kasat mata yang bersarang di tubuhnya hampir setiap detik menguasai hati dan pikirannya, sehingga dirinya pun tak kuasa merintih dalam tangisnya seolah-olah luka begitu dalam menyayat hatinya.
__ADS_1
"Semua pun pergi!" teriak Alina histeris dengan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit luar biasa.
Makhluk tak kasat mata kembali mengambil alih dan menguasai tubuh Alina.
"Sakittttt! aku benci semuanya!" pekik Alina dengan isak tangisnya, membisingkan isi ruang kamarnya yang terasa sunyi.
"Alina, sabar Nak! ini sudah suratan takdir, kau harus ikhlas menerimanya." Ibu Chintya memeluk erat tubuh putrinya yang sedang mengamuk seperti orang kerasukan.
***
Di sisi lain.
Bagaskara, tak henti-hentinya komat-kamit membaca mantra yang ditujukan atas nama Alina Cahya Kirani. Ia merasa senang dan bahagia ketika melihat Alina terpuruk dan gagal menikah berkali-kali.
"He ... he ... he, sudah kukatakan Alina sampai kapanpun tak kubiarkan laki-laki manapun bisa mendekati mu, apalagi sampai mendekati mu. Bahkan, setara ustadz pun belum ada yang mampu untuk meraih mu. Ternyata ilmu mereka sangat lemah!" sombong Bagaskara dengan terkekeh.
Bagaskara seolah-olah membayangkan wajah Alina yang terlihat kusut oleh sebab patah hati dan kekecewaan yang menderanya.
"Mas Bagas, berhentilah untuk menyakiti Alina dengan ilmu sihir dan guna-guna mu sebelum azab Allah datang kepada mu!" sentak Queensha Putri yang merasa jengah dengan perbuatan keji Bagaskara yang selama empat tahun pernikahan mereka tak kunjung taubat dan berubah dari segala kebejatannya.
__ADS_1