
Bagaskara berjalan menelusuri rumahnya. Ia yang memiliki kunci duplikat rumahnya dengan sangat mudah memasuki rumahnya seperti biasanya. Ia membaringkan tubuhnya di kasurnya. Tangannya masih mengusap pelan wajahnya yang masih terasa sakit oleh bogem mentah dan tamparan pedas dari Dimas dan Alina padanya.
"Kurang ajar si Dimas, berani-beraninya ia memukulku di hadapan Alina. Ia menjadi ancaman terbesar untukku. Bagaimana jika ia berani menceritakan pada Om Farel dan bibi Chintya tentang semua yang kulakukan terhadap Alina? ini tidak boleh terjadi! untuk sementara aku harus menjauhi Alina. Menjauhi bukan berarti aku ikhlas melepaskan Alina dengan laki-laki manapun. Karena sampai kapanpun jiwa dan raganya tetap milikku meski aku tak bisa memiliki tubuhnya secara kasat mata." Bagaskara terus bermonolog di dalam hatinya, dia akan terus menghembuskan Alina dengan buhul-buhul cintanya sampai tak ada satupun laki-laki yang sanggup mendekati Alina dengan cara apapun.
Bagaskara hendak memejamkan matanya. Namun ia masih terus teringat dengan wajah Dimas, ia pun berniat ingin melumpuhkan Dimas dengan ilmu sihir yang dimilikinya.
Perlahan Bagaskara komat-kamit membaca mantra untuk mengirimkan sihir mematikan untuk Dimas Sidqi Amrulloh yang telah berani-beraninya hendak ikut campur dalam urusannya.
"Ku pastikan dengan ilmu sihirku ini kau akan mati secara perlahan Dimas Sidqi Amrulloh!" batin Bagaskara yang semakin dipenuhi nafsu setannya. Mata hatinya benar-benar telah buta oleh cinta dan ilmu hitam yang telah menyesatkannya dalam sumur dosa yang lebih dalam lagi.
Bagaskara selalu menggunakan sihirnya untuk melumpuhkan kekuatan seseorang. Ia sangat bangga dengan ilmu yang dimilikinya. Dengan begitu dia merasa dirinya adalah orang paling tangguh dan paling berkuasa di semesta jagat raya.
"Aaaaaaaaa!" Bagaskara terpental membentur tembok kamarnya. Ia pun memuntahkan darah segar dari mulutnya, ketika hendak melakukan penyerangan pada Dimas Sidqi Amrulloh, kakak iparnya Alina.
Bagaskara tidak mengetahui jika Dimas selalu membentengi dirinya dengan ayat-ayat Allah sehingga tidak ada satupun kekuatan magic yang mampu menyerangnya.
Bagaskara meringis kesakitan menahan rasa sesak di dadanya. Ia merasa kaget dengan kekuatan yang menyerangnya. "ilmu apa yang dimiliki oleh Dimas? kenapa aku tidak bisa memudharatkannya?" ucap Bagaskara pelan sambil memegang dadanya yang sakit. Ia pun pun menutup matanya. Bagaskara pingsan tak sadarkan diri terbujur kaku di dalam kamarnya oleh seberkas cahaya yang berlawanan menyerangnya.
Mama Laras berlari ke kamar Bagaskara, ketika mendengar pekikan suara dari dalam kamar Bagaskara.
"Apa yang terjadi denganmu, Nak!" pekik Mama laras dengan mengguncang tubuh putranya. Mama laras menangis ketika melihat Bagaskara terkapar dengan muntahan darah segar yang keluar dari dalam mulutnya.
"Bukankah Bagaskara sedang berada di rumah Putri istrinya? Kenapa dia tiba-tiba berada di sini?" ucap Mama Laras dengan rasa kagetnya ketika melihat putranya tiba-tiba berada di dalam rumahnya.
Namun Mama Laras lebih fokus dengan keadaan Bagas yang sedang terbujur pingsan. Daripada memikirkan kenapa putranya tiba-tiba berada di rumahnya.
__ADS_1
"Bagassss, bangun Nak!" Mama Laras mendekap tubuh putranya dengan penuh kasih.
"Sepertinya kau kembali mengamalkan ilmu sesat itu, Nak!" ucap Mama Laras dengan menangis tersedu-sedu. Ia khawatir putranya menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan yang tak lazim.
"Tolongggggg!" pekik Mama Laras ketika merasa tidak ada pergerakan dari tubuh anaknya. Ia terus meraung-raung menangis meratapi kedukaannya. Mama Laras tidak sempat lagi untuk menghubungi siapapun lewat ponselnya. Ia kebingungan harus melakukan apa untuk anaknya. Kecuali menangisi dan meratapi keadaannya.
"Ya Allah wahai zat yang mendengar segala do'a-do'a, sembuhkanlah anakku Bagaskara Ardhana Putra. Ampunilah segala dosa-dosanya!" rintih Mama Laras dalam do'anya. Berharap masih ada kesempatan hidup untuk putranya. Ia pun terus menghibah dengan do'a-do'anya. Berharap Allah mengabulkan doanya, meskipun anaknya telah melakukan dosa besar dan menyekutukan Allah dengan ilmu sihirnya.
***
Di sisi lain, di kediaman Alina yang berdekatan dengan rumah Bagaskara.
Dimas Sidqi Amrulloh nampak khusuk dengan shalat malamnya, ia pun tidak lupa membacakan ayat-ayat Allah yang dapat membentengi dirinya dari serangan makhluk lainnya baik dari jin dan manusia yang hendak memudharatkannya.
Dimas pun merasa seolah-olah ada kekuatan energi negatif yang hendak menyerangnya, namun ia terus melawannya dengan terus berlindung kepada Allah dari segala kejahatan yang tak kasat mata. Hingga akhirnya, ilmu sihir yang hendak dihembuskan oleh Bagaskara terkalahkan oleh ayat-ayat Allah dan menyebabkan Bagaskara langsung terkapar dan menyemburkan darah segar dari mulutnya akibat berlawanan dengan kekuatan energi positif dari Dimas Sidqi Amrulloh.
Suasana kamar yang semula dipenuhi oleh aura mistis kini hilang dan lenyap seketika. Dimas pun bersujud syukur kepada Rabb-nya karena senantiasa menjaganya dari segala macam mala petaka dan bahaya yang tidak disadari olehnya.
"Kak Dimas, kau sudah bangun sayang? kenapa tidak membangunkanku untuk shalat tahajjud!" ucap Andara yang terlihat manja pada suaminya yang telah selesai menjalankan ibadah shalat malamnya.
"Kakak tidak tega membangunkanmu sepertinya kamu kelelahan!" ucap Dimas dengan mengecup kening istrinya yang baru terbangun dari tidurnya.
Dimas tidak memberitahukan Andara jika dirinya baru saja mengalami kejadian aneh. Namun ia yakin yang menyerangnya adalah Bagaskara Ardhana Putra yang merasa dendam padanya. Oleh sebab dirinya menyelamatkan Alina dari kebejatan Bagaskara.
"Mari kakak temani kamu berwudhu, Dek!" ucap Dimas dengan mengamit tangan istrinya berjalan menuju toilet yang ada di dapur agar istrinya merasa lebih tenang dan nyaman jika ada dirinya yang menemani.
__ADS_1
Namun keduanya dikejutkan oleh pekikan suara dari arah rumah Bagaskara, sehingga Andara mengurungkan dirinya untuk melakukan ritual wudhunya.
"Kak, itu suara apa? sepertinya berasal dari rumah tante Laras!" ucap Andara dengan menerka-nerka asal suara tersebut.
"Sepertinya, iya Dek!" ucap Dimas dengan mendengar kembali apakah benar itu pekikan dari rumah tante Laras.
"Apa yang terjadi dengan tante Laras? kalian juga mendengarkan teriakan suara yang hendak minta tolong itu?" tanya Alina yang baru keluar dari toilet.
Alina sudah selesai melaksanakan ritual wudhunya. Ia pun hendak melaksanakan shalat malam, setelah ia sadar dari pengaruh hembusan sihir Bagaskara yang telah membangunkannya di tengah malam buta hanya untuk bertemu di belakang rumahnya.
Alina bersyukur, sebab ada kakak iparnya Dimas yang telah menyelamatkannya dari kejahatan Bagaskara ketika dirinya berada di kegelapan malam dekat pohon belakang rumahnya.
"Alina, kau di sini?" Dimas kaget ketika melihat Alina kini tiba-tiba terlihat sangat bercahaya dan mempesona oleh pengaruh makhluk tak kasat mata yang masih bersemayam di dalam tubuhnya.
Semua laki-laki pasti akan terpesona melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Alina Cahya Kirani. Akan tetapi sayangnya, setiap yang mendekatinya pasti akan merasakan keanehan ketika berdekatan dengan Alina.
"Ia sangat cantik, akan tetapi aku merasa ada sesuatu yang menghalangi pandanganku untuk berdekatan dengannya!" batin Dimas dengan terus beristighfar di dalam hatinya. Ia tidak ingin tergoda dengan kecantikan adik iparnya sendiri.
Alina menundukkan pandangannya, ketika menyadari manik matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Dimas Sidqi Amrulloh kakak iparnya.
"Kak Andara, kak Dimas. Sebaiknya kita membangunkan ayah dan ibu, sepertinya itu memang suara dari arah rumah tante Laras. Kita harus menemuinya, khawatir terjadi sesuatu pada tante Laras!" ucap Alina memecahkan keheningan.
"Kamu benar, Dek!" Andara pun berjalan menuju kamar kedua orang tuanya untuk membangunkan Ayah Farel dan Ibu Chintya yang masih belum terbangun dari tidurnya. Ia pun tidak sengaja meninggalkan Alina dan Dimas suaminya yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku!" ucap Alina pada Dimas kakak iparnya ketika kakaknya Andara telah menjauh pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
"I-iya, sama-sama!" ucap Dimas gelagapan ketika berhadapan dengan Alina adik iparnya.