
Kumandang adzan shubuh begitu menggema di desa kediaman Alina Cahya Kirani. Alina kenal betul dengan suara yang nampak merdu mendayu telinganya.
"Mas Bagas, suara mu begitu indah terdengar di telingaku. Namun, entah mengapa bisikan hati ku merasakan kau kini nampak berbeda. Dirimu bukanlah Mas Bagas yang ku kenal dulu, tak kutemukan lagi kesantunan akhlak dan budi pekerti mu. Entah kenapa kini bisikan hati ku berpaling pada kak Muzzaki Ansori, aku kagum dengan kepribadiannya, ia yang selalu membimbing ku dan mengarahkan pada jalan kebaikan dan kebenaran. Satu hal yang aku sukai dari kak Muzzaki, ia tidak pernah mempermainkan perasaan wanita. Ia begitu menghormati ku sebagai wanita."
"Mas Bagas, ingin rasanya aku berpaling dari mu, melupakan semua tentang mu. Namun, mengapa diri mu seolah-olah mengikat ku dan terus menghantui diriku? mengapa diri mu tidak membebaskan ku dari belenggu cinta mu yang sangat menyengsarakan jiwa ku? sungguh, aku tidak ingin terus menderita seperti ini!" bathin Alina menangis pilu.
Air mata Alina tiba-tiba mengalir deras membasahi wajah ayunya. Alina tiba-tiba murung, jiwanya seolah-olah merasa tertekan dengan kondisi fisiknya yang kini tiba-tiba melemah.
"Ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi pada ku? mengapa aku jadi sensitif seperti ini?" Alina tidak menyadari jika ia telah terkena sihir dan guna-guna dari saudara sepupunya Bagaskara Ardhana Putra.
Alina tidak ingin larut dalam kesedihannya, ia pun bergegas mengulangi wudhunya, agar ia bisa lebih tenang untuk menjalankan ibadah sholat shubuhnya. Ia seolah memasrahkan jiwa dan raganya pada sang pemilik kehidupan, atas segala kehinaan, kerendahan, kegelisahan yang tiba-tiba menderanya.
Alina pun menghamparkan sajadahnya sambil menunggu kumandang adzan yang dibawakan oleh Bagaskara selesai. Bagaimana pun, dalam keadaan apapun Alina sangat mengagungkan seruan adzan terlepas dari siapa pun yang mengumandangkannya. Baginya panggilan adzan memiliki posisi yang sangat istimewa di hatinya sebagaimana kumandang adzan yang diserukan oleh sahabat Nabi, Bilal bin Rabah Radhiallahu Anhu pada zamannya, yang dengan kumandang adzan tersebut menjadi pengingat dan panggilan untuk seluruh umat muslim untuk menjalankan kewajiban shalat yang memang telah di perintahkan oleh Allah Subhana wa ta'ala.
***
Di sisi lain.
Panggilan adzan yang diserukan oleh Bagaskara di Mesjid Nurul Iman seakan menyentuh jiwa bagi yang mendengarnya, namun tidak dengan Queensha Putri Fayanna, ia yang mengetahui kebejatan dan kemunafikan Bagaskara Ardhana Putra pun menutup gendang telinganya.
"Oh Tuhan, bukannya aku tidak ingin mendengarkan seruanmu. Namun, telinga ku terasa panas mendengar suara Ustadz munafik tersebut. Jika aku bisa memilih ingin ku matikan microfon Mesjid agar tidak lagi mendengar suaranya!" bisikan hati Putri yang merasa geram mengingat kekejian Bagaskara Ardhana Putra yang merasa sempurna untuk terus menggoda wanita terlepas siapa pun wanita yang akan menjadi korbannya.
"Alhamdulillah, usai sudah kumandang adzannya. Saatnya menunaikan ibadah shalat Shubuh!" timpal Queensha Putri dengan penuh suka-cita.
__ADS_1
Putri pun menjalankan ibadah shalatnya dengan khusu' menghadap Rabb-nya. Ia merasa seolah-olah Tuhan begitu dekat dengan urat nadinya. Sejenak ia melupakan segala kepenatan hati dan jiwanya, ia merasa sangat tenang setelah mengadu kepada Rabb-nya atas segala keluh-kesahnya.
***
Di kediaman Maharani.
Maharani masih bergelut dengan selimut dan bantalnya, ia enggan bangkit dari peraduannya. Sesekali ia menguap menahan kantuknya.
"Hoammm! Aku ngantuk berat, itu suara adzan tadi hampir mirip dengan suara kak Bagas. Tapi, apa mungkin ia mengumandangkan adzan mengingat betapa piciknya dirinya."
Maharani berusaha bangkit dari tidurnya setelah mendengar jika yang adzan memang benar adalah Bagaskara. Namun, Maharani merasakan agak aneh setelah dirinya mengetahui kebobrokan Bagaskara.
"Hemmm, kak Bagas suara mu cukup merdu namun sayang tingkah mu sangat bertolak belakang dengan apa yang telah engkau lakukan terhadap ku. Kau memang laki-laki bejat yang bersembunyi di balik kesholihanmu agar terlihat baik dimata masyarakat.
"Kak Bagas, dirimu memang benar -benar pintar, bersembunyi di balik jubah suci mu. Padahal semua itu untuk menutupi kedokmu!" bisikan hati Maharani. Ia pun segera bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan ibadah shalat shubuhnya yang sempat tertunda lantaran terus berperang dengan pikirannya sendiri.
"Aku tahu, dosaku ini menggunung, namun setidaknya aku meyakini sholat itu ibadah ku pada Tuhan ku, terlepas dari diterima atau tidaknya rukuk dan sujud ku!" bathin Maharani dengan mengenang segala dosa-dosanya. Baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Maharani yang masih labil, pun terus berperang lahir dan batinnya, menemukan kembali jati dirinya yang kini entah hilang kemana, tertutup dosa-dosa dan kemaksiatan yang di perbuat olehnya.
***
Bagaskara yang baru pulang dari Mesjid pun terus menatap rumah kediaman Alina. Ia ingin sekali menemui gadis itu dan melepaskan segala kerinduannya.
__ADS_1
"Alina Cahya Kirani, marah kah kau terhadap ku? maafkan aku yang telah mengabaikan mu! akan tetapi percayalah hanya dirimu yang paling kucintai, sedangkan wanita yang lain mereka hanyalah persinggahan ku. Tempat ku menguji keampuhan ilmu ku!" bisikan hati Bagaskara Ardhana Putra. Ia pun nekad menuju kediaman Alina.
Dengan langkah pelan Bagaskara mengitip Alina lewat jendela kamar Alina yang telah terbuka lebar, yang memang sudah menjadi kebiasaan Alina setiap paginya membiarkan udara segar masuk melalui jendela kamarnya.
Alina yang sedang santai menyandarkan kepalanya di atas tempat tidurnya pun, nampak fokus membaca buku fiqih wanita guna menambah wawasannya. Alina tidak menyadari akan kehadiran Bagaskara yang sedang mengintipnya dari jendela kamarnya.
Alina nampak mengenakan gaun tidur you can see selutut hingga menampakkan kulit putih mulusnya terekspos sempurna, yang bisa mengganggu pandangan mata liar, ketika menyaksikan keindahan tubuh Alina.
"Alina, kau begitu sempurna, ingin sekali aku mereguk manisnya madu cinta mu, akan tetapi kau terus menolak keinginan hasrat ku!" bisikan hati Bagaskara dengan menelan salivanya. Dirinya benar-benar terpukau dengan pesona Alina Cahya Kirani.
Alina yang merasa ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya, ia pun menoleh ke kiri dan ke kanan kemudian beralih pada jendela kamarnya, nampak lah satu sosok bayangan yang sedang mengintipnya tanpa berkedip menatap ke arahnya.
Alina segera mengambil jaket sweater-nya dan mengenakannya, di raihnya kerudung yang menutupi sampai dadanya. Ia malu ketika ada yang memperhatikan kemolekan tubuhnya.
"Mas Bagas, dirimu kah itu? kenapa kau menguntit ku?" pungkas Alina dengan rasa malu yang tiba-tiba menyeruak di relung hatinya. Pasalnya Bagaskara tertangkap basah telah mengintip dan menganggu kenyamanannya.
"Ma-af, Mas tidak bermaksud menguntit mu Alina, Mas tidak sengaja melihat penampilan mu yang seperti tadi!" ucap Bagaskara dengan berusaha mengatur ritme jantungnya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Meskipun tertangkap basah menguntit Alina, pikiran mesum Bagaskara terhadap sepupunya tersebut semakin bergelora dalam hati dan jiwanya.
"Sebaiknya, Mas pergi dari sini! Tidak enak jika ada yang melihat Mas berdiri didepan jendela kamar ku, jangan sampai ada yang mencurigai kita."
"Tapi, aku masih merindukan mu Alina!" timpal Bagaskara yang kini berharap Alina menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
"Ma-af, Mas. Untuk sementara tinggalkan Alina sendiri Mas!" Alina mengusir Bagaskara dari kediamannya. Membuat Bagaskara merasa sakit hati dan kecewa oleh sikap Alina yang begitu dingin padanya.