
"Awas kau Alina, aku tidak terima atas perlakuan burukmu terhadap ku. Tak kan ku biarkan kau lepas dari genggaman ku! kau semakin berani mengacuhkan ku dan menolak diri ku, jangan harap kau bisa menikmati hari-hari mu selama langkah kaki ku masih berpijak di muka bumi ini! kau hanya milik ku seorang Alina Cahya Kirani!" tegas Bagaskara dengan mengepalkan tangannya.
"Alina, kau yang memancing emosi ku agar bertindak tegas pada mu, aku akan mencari cara yang lebih halus untuk melumpuhkan ego mu!" bathin Bagaskara dengan rasa dendam yang semakin membara di dadanya.
"Arggghhhhh!" Bagaskara memegang kedua pelipisnya, ia yang tak terima dengan penolakan Alina terhadapnya pun melemparkan semua barang-barang berharga di kamarnya kesegala arah.
"Aku benci pada mu Alina, namun aku pun sangat mencintaimu. Kau benar-benar telah membuat diri ku tergila-gila pada mu!" Bagaskara bertingkah seolah-olah seperti orang yang sedang kesurupan, bola matanya terlihat merah menyala, kekuatan energi negatif tiba-tiba merasuki tubuhnya, makhluk tak kasat mata terus menguasai dirinya yang sedang dilanda amarah dan dendam yang membara pada sosok Alina Cahya Kirani.
prankkk ... prank ... prank, Bagaskara kembali melempar barang-barang di kamarnya ke segala arah. Lampu tidur, cermin pun retak seribu di hantam olehnya. Semua pakaian dalam lemari pun habis dibongkar olehnya.
"Ini kau Alina, ini dirimu sayang, akhirnya bertemu juga disini! kau cantik sekali, sungguh aku bisa mati jika tanpamu di sisiku." Bagaskara mengecup-ngecup bingkai foto Alina yang begitu terlihat anggun dan mempesona.
"Alina, kau begitu manis sekali! aku ingin mereguk manisnya bercinta dengan mu!" gumam Bagaskara dengan melukiskan foto Alina menggunakan tetesan darah yang mengalir dari jari-jari tangannya yang terluka akibat melayangkan tinjunya pada cermin sebagai pelampiasan amarahnya.
Darah segar terus mengalir dari jemari tangan Bagaskara Ardhana Putra. Ia benar-benar seperti orang kesetanan, berbicara sendiri dan marah-marah sendiri. Bagaskara seperti orang gila yang telah kehilangan akal sehatnya, ilmu sihir yang dimilikinya seolah-olah semakin menyesatkan di kebeningan hati dan jiwanya. Ia terus menciumi dan menjilati foto Alina yang telah tertutupi oleh noda darahnya.
"Alina, kau benar-benar membangkitkan gairah ku!" Bagaskara kembali komat-kamit membaca mantra saktinya yang di hembuskan olehnya melalui foto gadis cantik nan ayu tersebut. Ia terus menusuk-nusuk foto Alina dengan beberapa tusukan jarum untuk menusuk jantung hati Alina agar terpikat padanya.
"Rasakan oleh mu Alina Cahya Kirani, ha ... ha ... ha, kau tak akan bisa lepas dari ku, aku akan selalu mengikat mu!" tawa Bagaskara menghiasi seluruh penjuru kamarnya yang telah acak-acakan di porak-porandakan olehnya.
"Bagaskara, hentikan Nak! kau benar-benar sudah gila, Alina itu adik sepupu mu. Kenapa kau begitu kejam terhadapnya? Di mana hati nurani mu, Nak? sadar Nak! kau telah menyakiti jiwa yang tak berdosa!" Mama Larasati merangkul tubuh putranya dengan penuh kasih. Air mata Mama Laras berlinang membasahi pipinya, ia merasakan kesedihan yang teramat dalam ketika melihat tingkah laku putranya yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Bagas tersungkur dalam pelukan ibunya, "Bagas mencintai Alina, Ma! tidak bisakah aku bersatu dalam ikatan cinta dengannya!" ucap Bagaskara yang mulai melemah dalam pangkuan mamanya.
__ADS_1
"Dengarkan ibu, Nak! bukan begini caranya bersikap, tak semestinya kau menempuh jalan syaitan ini, taubat Nak! taubat! Gusti Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya meskipun dosa para hamba-Nya sebanyak buih di lautan! jangan biarkan diri mu terus terjerumus dalam kesesatan ini!" nasehat Mama Laras dengan terus menasehati dan menenangkan putranya.
Bagaskara yang di dera rasa cinta membara terhadap Alina pun berusaha menekan rasa ego yang membuncah di dalam jiwanya. Ia terus berperang melawan pergolakan batinnya agar tidak menyakiti ibunya yang telah melahirkannya.
"Alina Cahya Kirani, bagiku engkaulah nafas hidupku, detak jantungku, kau mengalir dalam darah ku. Sumpah mati di setiap hembusan nafas ku selalu ku hembuskan nama mu, engkaulah cinta sejati dalam hidup ku! aku gila karena cinta mu Alina." Bagaskara terus membatin dalam hatinya yang hanya tertuju pada Alina. Rasa cinta di hatinya semakin membara dan merindu dendam pada sosok Alina Cahya Kirani.
***
💔💔💔 Flash back on 💔💔💔
Alina yang sedang terbaring santai di kamarnya, tiba-tiba didera rasa pergolakan batin yang sangat luar biasa, buku yang ia bacapun terlepas dalam genggamannya. Hawa nafsu buruknya tiba-tiba menyerangnya.
Setelah kepergian Bagaskara dari kediamannya, keinginan Alina untuk menyalurkan nafsu birahinya pun semakin memuncak. Ia merasakan area sensitifnya seolah dipaksakan untuk melakukan hubungan intim layaknya sepasang pengantin yang tengah memadu kasih.
Tubuh Alina bergetar hebat, ia pun bicara meracau seorang diri. "Mas Bagas, kau dimana? Alina merindukan, Mas!" ucap Alina dengan terus melawan pergolakan batinnya.
Alina menekuk kedua lututnya, ia pun melipatkan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya bertumpu pada lututnya.
"Ya Allah, hamba benar-benar tidak mampu lagi meredam keinginan syahwat ini!" Alina merasakan tubuhnya seolah di gerayangi oleh makhluk tak kasat mata. Ia pun terkulai lemas, seperti seorang yang sedang selesai melakukan ritual cinta di malam pertama. Jantung hatinya seolah diketuk untuk segera melangkahkan kakinya menuju rumah Bagaskara Ardhana Putra.
"Mas Bagas, aku harus menemui mu! sungguh, aku tak kuasa menahan gejolak rasa ku. Aku tak sanggup jika tidak melihat rona wajah mu!" Alina hendak membuka pintu kamarnya, sambil memegang jantung hatinya yang terasa tersusuk oleh ribuan jarum. Jika tidak segera menemui Bagaskara ia merasakan kehausan yang luar biasa, biduk hawa nafsunya harus segera ia tuntaskan untuk menemui Bagaskara di kediamannya.
Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Ayah Farel dan Ibu Cynthia, Alina menyelinap keluar rumahnya, dengan menghimpun semua kekuatannya Alina terus menyusuri jalan setapak menuju kediaman Bagaskara.
__ADS_1
Beruntung, cuaca di pagi hari masih terlihat gelap. Tidak ada yang mengetahui langkah kaki Alina yang sempoyongan menuju rumah Bagaskara dengan memegang jantung hatinya yang seolah terpanggil untuk mendatangi sosok Bagaskara Ardhana Putra yang tiba-tiba terlintas dalam hati dan pikirannya.
💔💔💔 Flash back off 💔💔💔
***
Brukkkk! bunyi beban berat jatuh tepat di pintu kamar Bagaskara, membuat Bagaskara dan mama Laras beranjak dari dalam kamar Bagaskara untuk melihat sesuatu yang mengagetkan tersebut.
"Astaghfirullah! seperti ada sesuatu yang terjatuh di depan pintu kamar mu, Nak. Biar ibu lihat dulu!" ucap mama Laras dengan melerai dekapannya pada tubuh putranya.
"Bagas ikut, Ma!" Bagaskara pun bangkit mengekori mamanya.
"Astaghfirullah, Alinaaa!" pekik Mama Laras dengan merengkuh tubuh Alina yang terkapar dan tak sadarkan diri didepan kamar Bagaskara.
"Alina, kau tidak apa-apa sayang? maafkan Mas yang telah menodai dan menyakiti mu!" bathin Bagaskara yang seolah-olah ia merasakan aura mistis yang merasuki dirinya, ia seolah-olah melakukan ritual penyatuan raga ketika menghembuskan buhul-buhul cintanya pada Alina Cahya Kirani.
"Maksud mu apa, Nak?" mama Laras menatap nyalang ke arah Bagaskara.
Bagaskara nampak tertunduk malu, sebab telah keceplosan di hadapan mamanya.
"Jawab mama Bagaskara! kau tidak benar-benar melakukan ritual penyatuan raga dengan Alina?" emosi mama Laras tiba-tiba memuncak.
"Tidak, Ma! Bagas hanya melafalkan mantra untuk mengikat Alina agar tidak bisa dekat dengan laki-laki lain, selain Bagas." Bagaskara berbicara jujur. Ia tidak ingin melihat mamanya tiba-tiba didera serangan jantung, jika terus membohongi mamanya.
__ADS_1
"Kau semakin gila Bagaskara, sudah mama peringatkan tinggalkan ilmu yang menyesatkan itu! Lihat gara-gara ulahmu, Alina tak sadarkan diri! jika terjadi apa-apa dengan Alina, mama tidak akan memaafkan mu!" tegas mama Laras dengan sejuta rasa kecewanya terhadap kelakuan bejat putranya tersebut.