Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 103


__ADS_3

Sella masih terdiam di ranjang, melamun memikirkan kedepannya nasib dirinya. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Saat ia sedang melamun sambil memeluk erat selimut untuk membungkus badannya, Jordan keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


Tanpa berbicara Sella beranjak dengan membawa serta selimutnya ke kamar mandi. Jordan menatap Sella yang dari tadi mendiamkannya. Bisa di tebak jika Sella marah padanya.


Setelah memakai bajunya, Jordan keluar dari kamar Sella. Ia berniat membuat sarapan, meski sudah hampir siang tapi perut sudah perih minta di isi.


Pas saat sarapan sudah siap, Sella keluar kamar sudah berpakaian rapi dan handuk di kepalanya. Tanpa menyapanya Sella mengambil air dingin di kulkas dan minum membelakanginya.


" Ayo sarapan dulu." ajak Jordan.


" Tidak usah, kamu aja. Aku harus segera ke boutique." jawab Sella, ia sudah akan berjalan meninggalkan dapur tapi tangannya di tahan Jordan.


" Duduk." Jordan memaksa Sella duduk di kursi meja makan.


" Makan dulu, baru kita bahas apa yang perlu kita bahas." ucap Jordan lagi.


Tanpa menjawab ucapan Jordan, Sella makan makanan yang sudah di siapkan Jordan. Makan dengan menunduk dan tak berani menatap Jordan, yang bisa ia rasakan kalau Jordan sedari tadi makan sambil menatapnya.


Makanan di piringnya sudah habis tak tersisa, air putih serta jus yang di siapkan Jordan juga sudah tandas tak tersisa. Kemudian Sella berdiri dari duduknya dan langsung berjalan menuju kamarnya.


Jordan menghela nafas melihat Sella menghindarinya. Karena sarapannya juga sudah habis, Jordan membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke wastafel untuk di cucinya.


" Tinggalkan saja, nanti aku yang akan mencucinya." ujar Sella tiba-tiba dan sudah rapi siap pergi.


" Sudah selesai, kamu mau kemana?" kebetulan Jordan juga sudah selesai mencuci piring.


" Aku harus ke boutique." jawab Sella seadanya.


" Bisa kita bicara dulu?" tanya Jordan dan berjalan mendekat ke Sella.


" Bisa kita lupakan saja apa yang terjadi semalam?" Sella enggan membahas kejadian semalam.


" Apa kamu bilang? Lupakan?" tanya Jordan dengan sedikit tak percaya Sella mengucapkan itu.


" Iya, toh kita juga gak ada hubungan apa-apa. Kamu juga gak rugi kan?" Sella menjawabnya dengan santai, tapi jantungnya berdetak dengan kencang.


" Bukannya kamu yang rugi? Aku yang pertama kan? Iya kan?" Jordan terus menatap Sella yang dari tadi tak berani menatapnya.


" Kamu gak usah pikirin aku, kita lupakan saja. Sorry aku harus pergi." setelah mengucapkan itu ia bergegas meninggalkan Jordan.


Jordan rasanya tak percaya dengan apa yang diucapkan Sella. Sella menyuruhnya untuk melupakan kejadian semalam dengan santainya. Jordan tak habis pikir dengan jalan pikiran Sella, kenapa Sella tak memintanya untuk bertanggung jawab atau apa pun. Bukan malah menyuruhnya untuk melupakannya...


Karena Sella sudah pergi meninggalkannya sendiri tanpa merundingkan apa yang akan mereka lakukan kedepannya, Jordan memutuskan untuk pergi dari apartemen Sella. Ia berencana nanti akan mengajak ngobrol lagi Sella.

__ADS_1


✣✣✣✣✣✣✣


Berbeda dengan apartemen Sella yang dari pagi sudah sunyi, di rumah sakit tepatnya di kamar perawatan Fira terlihat sangat ramai. Itu terjadi karena Abi yang tak mau sekolah, Fira sudah mengijinkan tapi berbeda dengan Daddynya. Arlan menyuruh Abi tetap pergi ke sekolah dan berakhir menangis. Ujung-ujungnya Fira juga yang harus turun tangan menenangkan Abi, beruntung saat ini Fira sudah bisa turun dari ranjang. Walaupun jahitan diperutnya kadang masih terasa ngilu.


" Kakak udah dong nangisnya, masa dari tadi gak berhenti nangisnya. Mau saingan nangisnya sama Adek? Masa udah ada Adek masih cengeng gini sih. Kalau gak mau sekolah ya udah, bisa ngomongnya baik-baik aja kan. Gak usah marah-marah gitu, Mommy gak suka deh kalau Kakak jadi suka marah-marah gitu, nanti Adeknya ikutan suka marah-marah." ujar Fira panjang dengan muka seriusnya menasehati Abi. Entah perasaan Fira atau memang Abi lagi sensitif, dekat dengan lahiran Abi suka mencari perhatian. Bukan hanya dengan Fira atau Arlan, tapi dengan seisi rumah.


" I.. Iya Mommy." jawab Abi sambil terisak.


" Minta maaf sama Daddy, Daddy tu capek lho Kak. Masa tadi Daddy ngomongnya baik-baik, tapi Kakak marah-marah sama Daddy." suruh Fira tegas, meski sebenarnya tak tega melihat Abi menangis sampai terisak.


Kebetulan Arlan sedang menggendong baby Al yang baru saja selesai mandi. Dari tadi hanya diam saja melihat Fira yang berbicara dengan Abi. Arlan tak keberatan dengan ketegasan Fira terhadap Abi, karena itu juga buat Abi kedepannya.


Abi berjalan mendekat ke Arlan yang sedang berjalan-jalan mengitari kamar sambil menggendong baby Al..


" Dad... Abi minta maaf." ucap Abi, ia menarik ujung kaos Arlan.


" Minta maaf kenapa?" tanya Arlan, ia berjalan mendekat ke Fira dan Abi juga mengikutinya.


" Tadi aku udah marah-marah sama Daddy, padahal Daddy gak marah-marah sama aku." jawab Abi sambil menunduk.


" Adek sama Mommy dulu ya.." ucap Arlan dan memindahkan baby Al ke Fira.


" Sini Boy..." suruh Arlan, ia sudah duduk di samping Fira dan menyuruh Abi naik ke pangkuannya.


" Daddy lihat, akhir-akhir ini Kakak suka cari perhatian ke Mommy, ke Daddy sama Nenek Kakek juga. Kenapa Kak? Kakak mau cerita sama Daddy Mommy?" tanya Arlan penasaran dan sambil menghapus air mata yang masih ada di pipi Abi.


" Aku hanya takut jika Adek udah lahir, kalian semua pasti akan fokus ke Adek. Jadi sebelum Adek lahir, aku ingin mendapatkan semua itu." jawab Abi dengan suara pelan, dan masih dengan menunduk.


Arlan dan Fira tentu kaget mendengar jawaban Abi, padahal dari jauh-jauh hari dan sering sudah Fira kasih pengertian kalau tidak akan ada yang berubah. Dari sebelum ada Adek atau setelah Adek lahir. Ya namanya anak-anak pasti pemikirannya selalu ajaib.


" Astaga Kakak... Kan Mommy udah sering bilang kalau semua itu gak akan terjadi. Semua akan sama, belum ada Adek atau setelah ada Adek." komentar Fira, kali ini ia berbicara dengan lembut.


" Benar kata Mommy Boy, Mommy Daddy tidak akan seperti itu. Kalau Adek lagi sama Mommy, Kakak bisa main sama Daddy. Kalau Daddy lagi kerja bisa sama Nenek atau Kakek. Daddy yakin Nenek Kakek juga akan tetap sama, sayang sama Kakak Abi dan juga masih mau menemani bermain." ujar Arlan panjang dan membuat Abi mengangkat kepalanya menatap Arlan dan Fira bergantian.


" Ngerti kan sayang? Adek tu gak bakalan mengambil semuanya Kak. Lihat dia masih suka bobok, waktu kami semua masih banyak buat Kakak Abi." ucap Fira lagi.


" Iya mengerti Mom... Maaf." jawab Abi dan kembali meminta maaf.


" Sini cium dulu Mommynya sama Adek." pinta Fira dan Abi langsung turun dari pangkuan Daddynya.


" Kakak mau kan temani Daddy sarapan? Kasihan Daddy belum sempat sarapan, dari tadi mengurusi Mommy dan juga Kakak kan." Sebisa mungkin Fira akan melibatkan Abi, agar Abi tak merasa di tinggalkan.


" Oke Mom... Ayo Dad." Jawab Abi semangat dan langsung menarik tangan Daddynya.

__ADS_1


" Kamu gak apa-apa sendiri sayang?" tanya Arlan, karena ragu meninggalkan Fira sendirian hanya bersama baby Al.


" Tidak apa-apa, sudah kamu sarapan dulu sana. Biar dia juga gak cuma diam menonton TV. Mama juga pasti sebentar lagi datang, jadi nikmati waktunya bersama Abi." jawab Fira dan menunjuk Abi dengan matanya.


" Kalau ada apa-apa langsung telfon aku ya sayang." perintah Arlan dan Fira juga langsung mengangguk.


Arlan menggandeng Abi keluar dan menuju ke kantin. Saat akan masuk lift, ternyata Mama dan Mama mertuanya datang dengan berbagai tentengan. Melihat itu, membuat Arlan tenang


meninggalkan Fira untuk makan dengan Abi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Komen ya..


*Gamsahaeyo **🌹😘*


__ADS_2