Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 78


__ADS_3

" Eh sayang udah bangun ya..." Arlan baru saja keluar dari ruang kerjanya saat Fira sampai di tangga paling atas.


Fira hanya menatap Arlan sekilas tanpa ada niat menjawab suaminya, ia langsung berjalan menuju kamarnya.


" Gawat bumil lagi mode marah." gumam Arlan saat melihat Fira diam saja dan meninggalkannya memasuki kamar mereka.


Dengan cepat Arlan menyusul Fira ke kamar. Sesampainya di kamar ia tak mendapati istrinya, lalu ia mencari ke walk in closet dan ternyata Fira sedang memilih baju.


" Mau kemana sayang..." tanya Arlan basa-basi dan berjalan mendekat.


Fira sudah menemukan baju yang ingin ia kenakan, lagi-lagi tanpa menjawab suaminya ia berlalu ke kamar mandi. Arlan mengacak-acak rambutnya frustasi, saat ini istrinya sedang merajuk gara-gara kejadian tadi pagi.


Ceklek...


Fira keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju serta wajahnya yang segar setelah cuci muka..


Masih diam dan tak menyapa Arlan, Fira dengan santai duduk di meja riasnya. Ia dengan tenang memoles make-up ke wajahnya tanpa memperdulikan suaminya tengah menatapnya.


Tak banyak make-up yang di gunakan, Fira sudah selesai dan beranjak mengambil tasnya lalu akan segera pergi.


" Tunggu sayang... Mau kemana? Aku temani ya?" Arlan memegang lengan Fira.


" Kemana aja yang penting hatiku senang." sarkas Fira tanpa memandang Arlan.


" Hadap sini dulu..." Arlan meminta Fira berbalik dan menghadapnya, Fira berdiri menurut tapi ia menunduk tak mau menatap Arlan. "Mas minta maaf ya, tadi pagi pergi gak pamit dulu. Mas kira Abi bakal di antar Mama kayak biasanya, tapi tadi pagi Mama gak bisa. Jadi Mas yang antar... supir Papa gak masuk karena sakit jadi tadi sekalian drop Papa ke kantor. Pulang antar Papa ada kecelakaan dan itu bikin macet, makanya Mas lama tadi nyampe rumahnya. Padahal gak ada mampir-mampir. Maaf ya sayang... jangan marah. Maaf ya tadi bikin kamu nangis sampai matanya bengkak. Sayang maaf ya... " Dengan lembut dan panjang lebar Arlan menjelaskan ke Fira, ia juga sambil menggengam tangan Fira.


Haruskah Fira tetap marah pada suaminya, setelah mendengar penjelasan Arlan. Hamil ini benar-benar membuat emosinya naik turun...


" Tapi kenapa gak nungguin aku sampai bangun waktu udah pulang. Malah di tinggal ke ruang kerja... kalau Mas mau kerja ya udah sana berangkat kerja. Aku juga mau pergi... Maaf ya aku banyak ngerepotinnya. " akhirnya Fira mau berbicara dengan Arlan, ia mengungkapkan itu dengan nafas berderu.


" Kok ngomong kayak gitu sih... Aku gak suka ya kamu ngomong kayak gitu lagi. Gak ada yang merepotkan dan di repotkan. " Arlan lagi- lagi menahan Fira yang akan meninggalkannya.


" Sayang udah lah... Ini kan hanya salah paham, kenapa harus berantem gini sih. Aku udah minta maaf dan menjelaskan alasannya, terus mau kamu apa lagi. " Arlan berusaha tidak berteriak pada Fira, sekuat tenaga ia menahannya.


Kata-kata Arlan barusan membuat Fira menatap Arlan dengan tatapan menyalang...


" Ya udah sampai sini aja pembahasannya... Aku mau pergi, aku mau refresing. Aku udah gak mau deket-deket kamu, jadi terserah kamu mau kemana dan ngapain. " setelah mengucapkan itu, Fira melepas paksa tangan yang di pegang Arlan dan berlalu meninggalkan Arlan.


" Kenapa sih kalau marah harus pergi-pergi... selesaikan dulu jangan menghindar Safira Aulia..." teriak Arlan, akhirnya kelepasan juga dia.

__ADS_1


Ini lah sifat Fira yang tak di sukai Arlan, kalau marah Fira akan pergi dan menghindarinya. Bukan cepat di selesaikan dan malah merembet kemana-kemana. Tapi tidak begitu bagi Fira... ya mungkin kata orang ia akan di bilang kekanak-kanakan. Dari dulu saat Fira marah dengan Sella, Kakaknya atau orang tuanya... ia akan pergi sejenak menenangkan dirinya. Sehari sampai 3hari, baru ia akan mencoba membicarakannya lagi. Dan sampai sekarang Fira masih begitu, atau ini karena hormon kehamilannya.


Mendengar Arlan berteriak hingga menyebutkan namanya pertama kali, membuat Fira menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya. Air matanya menetes, tanpa menunggu lama ia segera keluar dari kamar.


Melihat itu, Arlan panik. Ia baru menyadari kalau sudah tadi berteriak pada istrinya...


Fira terus berjalan menuruni tangga dengan cepat, bahkan ia sudah tak memikirkan bayi yang ada di perutnya. Saat sampai di bawah ia bertemu dengan Bibi yang kebetulan baru dari luar.


" Non ada apa?" tanyanya, ketika melihat Fira menuruni tangga dengan cepat dan di sertai dengan menangis.


Tak berniat menjawab pertanyaan sang Bibi, Fira terus berjalan menuju mobilnya. Setelah berhasil masuk dan mengunci pintu, tangis Fira semakin kencang.


" Maaf sayang... Maaf Mommy lupa kalau ada kamu di perut Mommy." ucap Fira pelan di sela tangisannya, ia mengelus perutnya dan meminta maaf pada anaknya.


" Sayang buka pintunya... Gak baik saat emosi mengendarai mobil begini. Sayang... aku minta maaf tadi tak sengaja berteriak padamu. " Arlan mencoba membuka pintu mobil Fira, tapi tak bisa karena sudah Fira kunci dari dalam.


Fira tak menggubris Arlan yang terus memohon untuknya keluar dari mobil, bukannya keluar ia malah menjalankan mobilnya meninggalkan Arlan yang terus mengejar dan menggedor jendelanya.


"Arrrgghhhh kenapa malah jadi begini..." Arlan berteriak dan menjambak rambutnya hingga berantakan.


༻༺༻༺༻༺༻༺༻༺༻༺༻༺


Dengan kecepatan sedang akhrinya Fira sampai di apartementnya yang ditinggali Sella. Di tengah perjalanan tadi ia memutuskan untuk menenangkan diri di apartement Sella saja. Fira juga tak bilang pada Sella, ia tak mau mengganggu Sella di jam sibuk ini. Toh ia juga tau password pintunya, itu pun kalau belum diganti.


Fira bingung mau melakukan apa, tadi ia juga tak sempat membawa alat gambarnya ataupun laptopnya. Ia memutuskan untuk menuju ruang tamu dan menyalakan TV, siapa tau ada acara atau film yang menarik dan bisa menemaninya sampai Sella pulang.


Tak terasa sore sudah tiba, matahari sudah berganti menjadi jingga. Apartement Sella hanya terdengar suara TV yang menampilkan sebuah film, orang yang menonton tadi sudah terlelap dengan nyenyak.


Begitu pintu terbuka, Sella sudah bisa mendengar suara TV. Dan benar saja.. TV nya menyala tapi tak terlihat orang yang menonton.


" Apa ada maling di apartku? Perasaan tadi pagi aku tidak menyalakan TV." gumam Sella dalam hati, ia berjalan pelan mendekati ruang tamu dengan membawa sebuah payung.


Sella berdiri di dekat sofa, ia melihat ada seseorang yang tidur lengkap dengan selimut.. di meja juga terdapat gelas air minum dan beberapa snack yang sudah di makan. Dengan perlahan Sella mendekat dan sikap siaganya tadi langsung hilang saat melihat siapa yang tidur.



" Huuufftt... hampir saja aku memukulinya. Kenapa juga ni bocah tidur di sini." gumam Sella menatap Fira dengan intens.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Komen ya..


*Gamsahaeyo 🌹😘****


__ADS_2