
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, baby Al saat ini sudah berumur enam bulan. Dan hari ini adalah hari pertamanya makan MPASI. Karena ini adalah pengalaman pertama Fira, ia selalu bertanya dengan Mama, kakak iparnya dan Mama mertuanya. Fira juga rajin mencari referensi menu-menu MPASI, tak lupa ia juga membeli alat masak dan alat makan baby Al.
Pagi hari Fira semakin sibuk, ia merasakan memiliki bayi tiga. Semua maunya apa-apa Fira....seperti pagi ini, Abi yang tak mau bersiap bersama pengasuhnya, Arlan yang ribut mencari kaos kaki, padahal malam hari Fira sudah menyiapkan semuanya agar pagi tidak repot. Tapi yang namanya Arlan pasti apa-apa saja kelakuannya agar istrinya tetap mengurusnya dipagi hari.
" Aku pusing deh sama kamu sama Abi Mas, semua mau sama aku. Untung Adek mau aku titip ke Neneknya, kalau Adek juga maunya sama Aku bisa gundul aku lama-lama." Fira mengeluarkan unek-uneknya. Saat ini sedang memasangkan dasi, karena Arlan tak berhentinya berteriak minta di pasangkan dasi.
" Kamu udah gak mau ngurusin aku ya?" tanya Arlan sambil menatap Fira yang tengah memasangkan dasi untuknya.
" Emang aku udah gak ngurusin kamu lagi ya Mas?" Fira bertanya sambil menatap Arlan, tangannya terhenti tapi dasinya belum terpasang sempurna.
" Masih tapi kamu sambil ngomel-ngomel gini." jawab Arlan. Ya Arlan akui jika malam hari Fira tak pernah lupa menyiapkan pakaian kerjanya, lengkap dengan jam tangan serta kaos kaki juga.
" Terus mau tambah istri yang gak ngomel-ngomel saat mengurus kamu gitu?" tanya Fira dan membuat Arlan melotot.
" Aku cuma mau kamu ngerti, saat aku riweuh. Kamu pasang dasi sendiri atau apa pun tanpa berteriak minta aku yang cariin. Abi aja masih bisa aku kasih tau lho Mas, aku emang gak mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sebagian besar di kerjakan bibi dan mbak yang lainnya, tapi aku merasa capek setiap harinya. Kalau kamu mau minta aku buat gak ke boutique, maaf aku gak bisa. Aku akan bagi waktu lagi biar bisa ngurus kamu tanpa ngomel-ngomel dan gak CAPEK. Turun lah aku akan mandi selagi Al masih diam sama Mama." ujar Fira panjang lebar, matanya sudah memerah saat ia mengeluarkan semuanya. Akhir-akhir ini ia merasakan 'LELAH' bukan dalam artian lelah yang sebenarnya.
Fira berlalu begitu saja ke kamar mandi, saat berbalik dan membelakangi Arlan, air matanya langsung menetes. Dan Arlan jadi merasa bersalah setelah mendengar unek-unek Fira. Di pandangnya punggung istrinya yang bergetar, bisa Arlan tebak kalau Fira menangis. Arlan mengejar Fira, tapi bertepatan Fira sudah masuk ke kamar mandi. Saat akan mengetuk pintu, Arlan mendengar Fira seperti sedang menelfon...
" Sus.. Minta tolong antar Abi kesekolah ya. Pergi sama supir Mama, tolong kasih tau Abi kalau saya gak bisa mengantarnya ke sekolah." itu yang Arlan dengar, rupanya istrinya menelfon pengasuh Abi.
__ADS_1
Setiap pagi memang Fira sendiri yang mengantar ke sekolah, dan Sus Rahma dirumah menjaga baby Al. Kebetulan juga lagi ini supir yang Arlan siapkan untuk Fira sedang cuti karena anaknya sakit.
Akhirnya Arlan memutuskan untuk turun kebawah dan segera sarapan. Arlan yang akan mengantar Abi kesekolah. Saat sampai di lantai satu, Abi sudah sarapan bersama Kakek, Nenek dan baby Al yang sudah bisa duduk di baby chair, baby Al sudah selesai belajar sarapan makanan yang sudah di buat Fira pagi-pagi tadi.
" Mommy mana Dad? Nanti aku terlambat..." tanya Abi dengan mulut penuh sereal.
" Mommy mandi, berangkat ke sekolahnya sama Daddy." jawab Arlan, ia sambil mengisi piringnya.
" Oke..." ucap Abi pasrah, Abi sebenarnya tak suka ke sekolah di antar Daddynya.
Karena saat di mobil suasananya sangat sunyi, terkadang hanya terdengar suara Daddynya yang berkomentar mengenai iklan di baliho atau macetnya jalanan. Berbeda jika berangkat bersama Mommynya, alunan musik kesukaan Mommynya menggema. Mommynya juga sering mengajaknya mengobrol, membahas pelajaran atau teman-temannya di sekolah. Saat ini Abi sudah masuk ke SD jadi temannya lebih banyak lagi, dan Abi bersekolah di sekolah internasional.
" Adek... Kakak berangkat sekolah dulu ya. Nanti pulang sekolah, kita main bareng lagi." pamit Abi ke baby Al, ia menciumi pipi baby Al dan baby Al tertawa karena kegelian.
Baby Al sudah tau jika di tinggal, melihat Daddy dan Kakaknya pergi, alhasil baby Al menangis kencang. Jika sudah bisa berbicara, mungkin ia akan berteriak ikut ke Daddy dan Kakaknya.
Mama Ratih menggendong baby Al dan ikut berjalan ke depan menyusul Arlan dan Abi. Tapi baru sampai tangga, Fira terlihat turun dengan rambut yang masih basah serta mata yang memerah.
" Mau kemana Mah?" tanya Fira saat sudah sampai di tanggal terakhir dan dengan suara serak.
__ADS_1
" Ini dia nangis lihat Daddynya sama Kakak Abi pergi. Jadi Mama berniat ke depan, kenapa gak di keringkan dulu rambutnya sayang. Nanti masuk angin..." jelas Mama Ratih dan memperhatikan Fira.
" Aku takut Adek nangis, lama aku tinggal tadi. Pasti Mama belum sarapan kan, Mama sarapan dulu. Biar aku mandikan dia dulu Mah. Makasih Nenek udah jagain Adek..." ucap Fira, lalu mengambil baby Al dari gendongan mertuanya. Baby Al ini sehari-hati sangat lengket dengan Fira. Kalau sedang tidak mau di gendong selain Fira, maka baby Al sampai nangis tidak mau. Tapi saat mau, ya dia akan mau di gendong siapa saja. Termasuk bibi dan mbak pekerja di rumah.
" Fira naik dulu Mah..." pamit Fira, saat melihat Arlan masuk lagi kedalam rumah.
" Kalian bertengkar?" selidik Mama Ratih, ternyata HP Arlan tertinggal di mana makan.
" Sedikit... Aku berangkat." jawab Arlan dan langsung berlalu begitu saja.
" Astaga anak itu..." ucap Mama Ratih sambil geleng-geleng.
" Mau kemana Mah?" tanya Papa Anton yang masih duduk di meja makan sambil membaca koran.
" Ke Fira, Mama mau tanya kenapa dengan mereka." jawab Mama Ratih, Mama sudah bersiap menaiki tangga tapi terhenti karena ucapan suaminya.
" Mama jangan ikut campur, nanti saja. Kasih ruang buat Fira. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, kita orang tua jangan terlalu ikut campur. Kecuali Fira atau Arlan minta pendapat kita. " ujar Papa Anton bijak, karena Papa jika terlalu ikut campur rumah tangga anak, itu tidak akan baik kedepannya untuk rumah tangga anaknya.
Mama Ratih menatap lantai atas, setelah berpikir sebentar akhirnya Mama Ratih mengurungkan niatnya. Mama Ratih berjalan ke meja makan, dan akan duduk minum teh menemani suaminya.
__ADS_1
Sudah lama Mama Ratih lihat, Arlan dan Fira tak bertengkar. Mama Ratih bis tebak jika Fira disini yang banyak mengalah. Mama Ratih sangat paham anak satu-satunya itu jika di rumah, apa-apa mengandalkan Fira. Sebagian orang tua hanya bisa mendoakan, semoga anak dan menantunya segara akur seperti biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...