Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 82


__ADS_3

" Yang baik ya Kak, Mommy tunggu di sana." ucap Fira pada Abi saat sudah sampai di sekolah Abi dan menunjuk sebuah cafe di sebrang jalan.


" Oke Mom... Hati-hati menyebrangnya ya Mom." ujar Abi, tak lupa ia mencium pipi dan perut Fira.


Abi masuk bersama Susnya, setelah Abi tak terlihat Fira langsung menuju cafe yang ada di depan sekolah Abi. Banyak orang tua teman-teman Abi yang menunggu di situ, tapi karena tak mengenal maka Fira memutuskan tak bergabung.


" Mari Non saya bantu. " ucap sang supir yang melihat Fira akan menyebrang dan Fira tak menolak.


" Bapak gak mau kopi, ayo pilih sendiri kopi atau mau minum apa." ucap Fira mengajak supirnya untuk ikut masuk setelah berhasil menyebrang.


Karena tak mau menolak, sang supir mengikuti Fira yang sudah berjalan memasuki cafe. Fira memesan coklat hangat dan cheesecake, sedangkan sang supir memesan kopi tapi di take away karena akan minum di mobil saja.


" Terima kasih Non." ucapnya pada Fira yang sudah selesai memesan.


" Cuma kopi Pak, biar gak ngantuk nunggunya. Saya kesana dulu, Bapak tunggu aja di sini kopinya." tadi ia sudah menjelaskan pada pelayannya. Kalau punyanya akan di minum dan makan di tempat dan untuk kopinya minta diberikan ke supirnya.


Fira mengeluarkan laptopnya, ia berencana mengecek laporan yang sudah di kirimkan oleh Sella. Saat sedang serius dengan laptopnya, seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Ia juga menengok ke arah dimana sang supir menunggu kopinya, tapi sang supir sudah tidak ada. Yang artinya supirnya sudah kembali ke mobil.


Sambil menatap keluar jendela, jalanan di depan lumayan ramai tapi tidak sampai macet karena memang bukan jalanan utama. Menyesap coklat hangatnya, pikiran Fira melalang memikirkan suaminya yang dari semalam ia diamkan. Apakah Fira sudah keterlaluan pada suaminya? Tapi jika mengingat suaminya yang berteriak padanya, dadanya kembali berdenyut.


" Adek... Sekarang kemana-kemana di temenin Kakak Abi tidak apa-apa ya? Mungkin sesekali juga di temani Nenek atau Oma. Kita jangan dulu merepotkan Daddy, Daddy sedang banyak perkerjaan. " gumam Fira dalam hati sambil mengelus perutnya. Ia hanya sok tau tentang Arlan yang sedang banyak pekerjaan, tapi itu benar adanya.


Sudah dua jam Fira berada di cafe menunggu Abi yang sedang sekolah. Saat sedang melakukan telfon dengan Sella, Abi menghampiri Fira bersama dengan Susnya.


" Nanti aku telfon lagi, anak ku sudah selesai sekolah. " ucap Fira pada Sella yang berada di sambungan telpon lalu mematikan sepihak.


" Itu sudah habis Kak. " ucap Fira pada Abi yang akan mengangkat gelas minumnya.


" Beli lagi dengan Sus, Sus juga suruh pilih yang Suter mau.. Ini ambil kartu Mommy. " ucapnya lagi sambil memberikan kartunya.


" Oke Mom... Ayo Sus. " ucap Abi dengan semangat dan langsung menggandeng Susternya.


Fira mengemas laptopnya, dari mejanya ia melihat Abi yang tak hentinya tertawa karena menjaili Susternya. Memang benar dengan ucapan yang pernah Fira ucapkan, kalau hanya Abi yang tak pernah mengecewakannya.


"Jangan pernah berubah ya sayang, tetep sayang sama Mommy dan terus menempel pada Mommy ya..." ucap Fira dalam hati, air matanya sampai menetes.


" Mom kenapa menangis?" Fira terkaget saat tiba-tiba mendengar suara Abi.


" Hah... Tidak, mata Mommy terkena debu." jawab cepat Fira bohong.


" Jangan sedih-sedih Mom, nanti Adek juga ikut sedih. Maaf ya Kakak sekolahnya lama.." Abi mendekat, duduk samping Fira lalu menghapus air mata Fira yang tersisa di pipi. Tak lupa mengelus perut Fira.


" Mommy gak sedih Kak, jadi Kakak tidak perlu minta maaf. Tapi Mommy seneng deh, anak Mommy ini sweet banget. Terima kasih ya Kakak Abi..." ujar Fira, lalu ia mengecup kening Abi.


☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎☃︎


Meski hati dan pikirannya saat ini tertuju pada Fira, Arlan tetap memaksakan fokus mengatasi masalah yang terjadi di kantornya. Mulai dari orang yang mengalami kecelakaan, ia sudah memberikan perawatan dan kompensasi untuk keluarganya saat yang bersangkutan tak bisa mencari nafkah. Arlan juga sudah memecat orang yang berlaku curang terhadap laporan keuangan yang tidak sesuai.


Arlan menyandarkan badannya di kursi sambil memijat keningnya.... Lelah sekali rasanya, itu yang Arlan ucapkan dalam hati. Masalahnya datang secara bersamaan. Saat sedang mencoba menghubungi istrinya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa mengetuk dulu sebelumnya.


" Bisakah kau mengetuk pintu dulu, bukan malah mendobraknya." ucap Arlan saat mengetahui siapa pelakunya.

__ADS_1


" Maaf Tuan... Saya sudah berusaha mencegahnya tadi." ucap Gina, ia adalah sekertaris tambahan untuk membantu Dika. Ya bisa di bilang Gina adalah sekertaris Dika. (Bagaimana ini, sekertaris punya sekertaris. 😬)


" Santai dong Bos... Aku sudah sangat rindu pada mu, jadi aku tidak sabaran." jawab Jordan sambil cengengesan.


Jordan adalah teman bahkan bisa di bilang sahabat Arlan dari SMA sampai kuliah. Tapi karena Jordan harus mengembangkan perusahan keluarganya yang ada di luar negeri, maka mereka ini sudah lama tak berjumpa.


" Kamu boleh pergi Gina, sekarang biar saya yang urus. " ujar Arlan, Gina mengangguk dan langsung meninggalkan tempat.


" Aku dengar kamu udah nikah lagi ya Ar? Wah memang pesonamu tidak pernah hilang. Aku saja sekali belum, kamu malah udah dua kali." ucap Jordan, ia sudah mendudukan dirinya di sofa. Tak lupa ia juga membuka kulkas kecil di samping sofa untuk mengambil minum.


" Ya begitu lah Dan (panggilan Arlan untuk Jordan) anak ku juga butuh kasih sayang seorang ibu." jawab Arlan, ia juga sudah duduk di sebrang Jordan.


" Terus kamu juga butuh kan sebagai laki-laki." ucap Jordan frontal.


" Kapan sampai jakarta? Om dan Tante sehat kan?" tanya Arlan mengalihkan pembicaraan.


" Mengalihkan pembicaraan huh?" cibir Jordan saat menyadari Arlan mengalihkan pembicaraan.


" Orang tua ku sehat, mereka saat ini sedang tinggal dengan Kakak ku di Aussie dan bermain dengan cucunya." ucapnya lagi.


" Terus cucu darimu sudah berapa?" goda Arlan, ia tahu kalau Jordan bukan orang yang serius untuk berkomitmen.


" Cucu dari Kakak ku sudah 4, jadi dari ku bisa kapan-kapan. Ayo kenalkan aku dengan istri baru mu. Kau menikah pun tak mengundang ku." ujar Jordan sambil meminum kaleng soda ditangannya.


" Dia sedang ngedate dengan Abi, lagi gak mau di ganggu sama siapa-siapa. Adeknya Abi lagi pengen di temenin Kakaknya aja, Daddynya di suruh cari uang saja." jela Arlan, ia semalam sempat mendengar obrolan Fira dan Abi makanya ia bisa tau.


" Adeknya Abi? Istri mu sedang hamil?" selidik Jordan.


" Iya... Baru masuk bulan ke empat, doa kan sehat ya Bro." jawab Arlan dengan senyum.


" Makanya cept cari jodoh mu, mau nunggu apa lagi?" ujar Arlan memberi pendapat.


" Nanti lah, kalau sudah dapat yang pas. Kalau saat itu datang, pasti aku tidak akan menunda-nunda untuk menikah." balas Jordan, sebenarnya ada keinginan untuk segera menikah. Tapi saat ini belum ada perempuan yang menurutnya cocok dengannya.


" Kau sudah makan siang? " tanya Arlan, ia ingat belum makan siang juga.


" Itu rencana ku tadi kesini, mengajak mu makan siang bareng. Ngomong-ngomong dari tadi aku di sini tidak lihat Dika, apa sudah kau pecat?" ucap Jordan yang baru ingat tujuannya mengunjungi sahabatnya.


" Dia sedang keluar... Ayo kita makan diluar saja. " Arlan bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya mengambil hpnya.


" Jadi sekertaris mu ada dua? " tany Jordan penasaran.


" Gina tugasnya membantu Dika, ya bisa dibilang Gina sekertarisnya Dika." jelas Arlan sambil berjalan keluar beriringan.


" Gina... Saya akan makan siang di luar, kalau Dika kembali dan ada hal penting segera hubungi saya. " ucap Arlan saat sudah sampai di meja Gina.


" Baik Pak... " jawab Gina cepat dan Arlan langsung meninggalkan mejanya.


" Mari... selamat siang... " ucap Jordan sambil senyum ke Gina dan hanya di balas senyum dan mengangguk oleh Gina.


" Gila senyumnya manis banget tu cewek. " gumam pelan Jordan sambil berjalan di samping Arlan.

__ADS_1


" Siapa yang manis senyumnya? Gina yang senyumnya manis? Suka sama Gina? Biar aku bantu, kayaknya masih jomblo dia. " ucap Arlan dengan semangat. Ternyata Arlan dengar ucapan Jordan yang sudah pelan itu.


" Apaan sih... Salah dengar kuping mu itu." jawabnya Jordan sewot karena ketahuan Arlan, ia bahkan dengan cepat masuk ke lift saat liftnya sudah terbuka.


" Hahahaha... Salting ya? Cinta pandangan pertama tuh sama Gina. Hahahahaha.... " Arlan terlihat sangat puas meledek Jordan.


" Dah gila kau.!! " sewot Jordan, tapi telinganya merah karena salting di goda Arlan. Ya harap maklum, karena sudah lama ia tak dekat dengan perempuan. Kalau sekedar hangout sih ada lah...


Tapi thanks to Jordan yang secara tidak langsung membuat Arlan tertawa, setelah setengah hari ini galau karena pekerjaan dan juga Fira.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Komen ya..


*Gamsahaeyo 🌹😘****


__ADS_2