Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 76


__ADS_3

Pagi hari Fira bangun telat, entah lah. Semenjak hamil ini suaminya sering bangun lebih dulu. Ia bangun saat suaminya sudah selesai mandi... bahkan sedang mengenakan pakaiannya yang ia pilih sendiri karena tak tega membangunkan sang istri.


" Selamat pagi suami..." sapa Fira sambil memeluk Arlan dari belakang.


" Pagi juga istri..." jawab Arlan, ia memandang Fira dengan senyum dari pantulan kaca.


" Kok gak bangunin aku sih..." Fira masih betah memeluk suaminya sambil menciumi punggung Arlan.


" Rencananya tadi habis selesai mandi baru mau Mas bangunin sayang... Eh udah bangun sendiri ni sibumil. Cup... morning kiss. " Arlan berbalik dan mencium bibir Fira sekilas.


" Tolong dong sayang pasangin dasinya... " pinta Arlan.


Dengan telaten Fira memasang dasi suaminya, semenjak menikah dengan Arlan lah ia menjadi terampil memasang dasi. Ya karena setiap hari pasti suaminya itu minta di pasangkan dasinya.


" Oke sudah ganteng pak bos... " ucap Fira setelah selesai memasangnya.


Fira kembali memeluk pinggang Arlan, ia mendongak menatap wajah suaminya yang juga menatapnya...


..." Kenapa sih sayang... kok tumben..." tanya Arlan penasaran, karena pagi ini Fira tak seperti biasanya. ...


" Kok ganteng banget sih... Nanti kalau ada yang naksir Mas gimana? Jangan ganteng-ganteng... Takut aku nanti Mas di ambil orang. " Fira masih terus memandang wajah Arlan.


" Hahaha... Bisa aja kamu ini. Si ganteng ini udah jadi suami kamu, gak mau juga aku sama yang lain. Mau sama bumil cantik ini aja. " timpal Arlan, ia gemas pada Fira lalu mencium pipi Fira.


" Bisa gak... gak usah kerja Mas? " pagi ini Fira tak mau di tinggal kerja suaminya. Bukannya membiarkan Arlan pergi bekerja, ia malah semakin erat memeluk Arlan. Sampai kepalanya sudah bersandar di dada Arlan.


" Kamu kok tumben sih sayang... biasanya gak papa di tinggal kerja. Adek yang mau ya?" Arlan membalas pelukan Fira dan mengelus punggung istrinya. Ia senang istrinya bersikap manja terhadapnya, soalnya ini mungkin terjadi di saat Fira hamil saja.


" Gak tau... Iya kali Adek yang mau, aku pengan deket sama Mas. Pengen peluk kayak gini hari ini... " jawab Fira dan terus mengeratkan pelukannya.


" Tapi Mas hari ini di suruh ke kantor Papa sayang... Ada hal peting katanya... Mau ikut aja? Atau mau tetep di rumah? Biar Mas bilang Papa dulu... " semalam Papanya sudah bilang kalau pagi ini menyuruh Arlan datang kantornya. Ia juga bingung kenapa harus di kantor, sedang mereka tinggal satu atap.


" Lama gak nanti? " Fira menatap Arlan.


" Ya gak tau sayang... Udah kamu mandi dulu sana, Mas ke bawah dulu bilang sama Papa kalau kamu lagi gak mau di tinggal. Kalau gak, biar Mas tanya hal apa yang mau di omongin di kantor biar gak usah ke kantor Papa lagi. " ujar Arlan sambil mengelus kepala Fira.


" Tapi jangan di tinggal ya kalau aku pergi mandi? " Fira sudah berdiri menatap Arlan sengit.


" Iya... Janji. Bumil mandi dulu sana biar gak bau. Hehehe.... " setelah mengucapkan itu Arlan langsung melarikan diri.


Sesampainya di bawah, semua orang sudah memulai sarapan. Tak ketinggalan juga Kakak Abi yang anteng memakan serealnya...


" Kesiangan kamu ya Lan? Fira belum bangun? " tanya Mama Ratih saat Arlan sampai di meja makan dan duduk dekat Abi.


" Mommy mana Dad? " tanya Abi karena hanya melihat Daddynya turun.

__ADS_1


" Mommy sedang mandi Boy... " mendengar jawaban Daddynya Abi melanjutkan makannya.


" Udah dari tadi siapnya, tapi ada nyegat tadi di atas." jawabnya sambil mengisi piringnya.


" Di cegat siapa emangnya.?" tanya Mama Ratih lagi penasaran.


" Si Bumil cantik... Tiba-tiba gak mau di tinggal. Oiya Papa nyuruh aku ke kantor Papa mau bicarain apa? Fira minta aku gak berangkat kerja." Arlan menatap Papanya yang sedang membaca koran.


" Hemmm... Mama kira siapa yang nyegat kamu di atas. Bawaan bayi kali... Si Adek lagi pengen deket Daddynya." ujar Mama Ratih dan kembali melanjutkan makannya.


" Papa rencananya mau pensiun, Papa udah capek ke kantor... pengen di rumah aja maen sama cucu." Papa Anton sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari dan Mama Ratih mendukung apa keputusan suaminya.


Sebenarnya perusahaan yang Arlan kelola adalah cabang dari perusahaan yang di pegang Papa Anton. Kedua perusahan itu dan beberapa perusahaan cabang di luar kota masuk dalam Prama Grup. Dan saat ini kepemilikannya masih dipegang oleh Papa Anton. Karena Arlan berhasil mengembangkan perusahaan yang ia keleloa, maka Papa Anton sudah yakin kalau Arlan sudah layak menggantikannya.


" Terus maksudnya gimana Pah?" Arlan masih belum mengerti dengan maksud Papanya.


" Ini siapa yang akan mengantarku sekolah... Aku sudah selesai sarapan." Abi menyela perbincangan Daddy dan Kakeknya.


" Maaf sayang Nenek tidak bisa hari ini, sama Daddy dulu gak papa ya." Mama Ratih sudah ada acara pagi ini. Kalau tempat acaranya searah dengan sekolah Abi maka Mama Ratih tidak masalah mengantar dulu cucunya itu.


" Tidak apa-apa Nek... Ayo Dad nanti aku telat lho." anaknya pada Daddynya yang kebetulan sudah selesai sarapan.


" Mah nanti bilang Fira kalo Arlan antar Abi sebentar." pintanya pada Mamanya.


" Iya... Sudah sana berangkat." Mama Ratih mengiyakan putranya.


" Ya sudah ayo..." Arlan menyusul Abi yang sudah keluar bersama Susnya.


Hari-hari biasanya juga Arlan yang mengantar Abi, kalau tidak ya Mama Ratih. Dan yang menjemput pulang sekolah Fira.


Saat Mama Ratih dan seorang maid membereskan meja makan, Fira turun dan langsung seperti mencari seseorang...


" Cari Abi ya sayang... Udah berangkat sama Daddy dan Kakeknya barusan. Ayo sarapan dulu... Mama bikinin susunya dulu." ujar Mama Ratih pada Fira yang diam saja.


" Tadi udah janji gak di tinggal, tapi kok di tinggal... Huuaaa... Huuaaa..." ucap Fira lalu tiba-tiba menangis kencang disertai air mata.


" Eh... Kok nangis sayang." Mama Ratih bingung dan segera menghampiri Fira yang menangis.


" Tadi Mas Arlan nyuruh Fira mandi, udah janji gak di tinggal tapi sekarang udah pergi. Huu... Huu... Huu... Huu..." tangisan Fira semakin menjadi.


" Ayo duduk dulu sayang... Bik... Bik... Cepat telfon Arlan suruh segera pulang setelah mengantar Abi. " Mama Ratih mengajak Fira duduk di sofa ruang tamu dan menyuruh maid senior menelpon Arlan.


" Udah gak usah Mah... Bik... Fira mau ke atas dulu. " setelah mengucapkan itu, Fira langsung berjalan menaiki tangga perlahan.


" Tapi kamu belum sarapan sayang... " teriak Mama Ratih yang tak di gubris Fira.

__ADS_1


Mama Ratih memutuskan akan membawakan sarapan dan susunya ke kamar Fira. Meskipun ia tidak yakin kalau Fira mau memakannya. Nanti ia akan mencoba membujuknya. Ia jug mencoba menelpon Arlan tapi tak kunjung di angkat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...


Jangan lupa Like & Komen ya..

__ADS_1


*Gamsahaeyo 🌹😘****


__ADS_2