
Fira saat ini sedang meeting di sebuah restoran, yang ia kira hanya akan memakan waktu sebentar ternyata sampai hampir makan siang meeting belum juga selesai. Design yang ia buat masih ada yang di revisi karena kliennya ada part yang tidak suka, dan kliennya menambah jumlah gaun yang di buat di boutique Fira. Karena setelah ini kliennya ada perjalanan bisnis ke luar negeri, jadi Fira menuntaskan semua kemauan klien untuk semua gaunnya.
Akhirnya klien menyudahi pertemuannya karena harus ke bandara, nanti akan dilanjutkan dengan zoom saja. Fira membereskan ipad dan sketchbooknya untuk di masukan ke tasnya. Sebelum ke boutiquenya Fira memesan makanan untuk staff-staffnya.
Saat Fira sedang menelfon staffnya, matanya menangkap seseorang yang ia sangat kenal. Orang itu adalah suaminya yang baru masuk ke restoran bersama dengan Tania sambil mengobrol dan Tania terlihat tertawa menanggapi Arlan. Fira menatap kedua orang itu, sampai akhirnya Arlan melihat sekitar dan bertatapan dengan Fira. Fira terlebih dulu memutuskan kontak karena pelayan mengantarkan pesanannya. Setelah selesai membayar, tak berniat menyapa Arlan dan Tania, Fira langsung keluar restoran. Arlan yang melihat itu tentu panik dan mengejar Fira.
" Sayang... Tunggu. Aku gak ngapain-ngapian sama Tania, aku hanya akan meeting sambil makan siang. Sebentar lagi Dika juga datang ikut meeting, aku gak berdua aja sama Tania." jelas Arlan dengan menggebu-gebu. Ia takut Fira salah paham, apalagi saat ini keduanya sedang tidak baik-baik saja.
" Ya... Silahkan lanjutkan meetingnya. Aku bawa makanan buat anak-anak di boutique dan mereka sudah menunggu. Masuk lagi aja, semoga berjalan lancar meetingnya." ujar Fira menanggapi, kemudian ia masuk ke mobil dan dengan cepat mobil Fira sudah meninggalkan restoran.
Arlan termangu menatap kepergian Fira, gaya bicara Fira berbeda dengan biasanya. Bahkan tak ada senyum di wajah Fira saat berbicara dengannya. Dengan langkah berat, Arlan kembali masuk ke restoran.
Fira sudah sampai di boutique, ia langsung menyerahkan ke Lani untuk membagikan makanan ke staff yang lain..
" Makasih buat makanannya Mbak..." ucap kompak para staff dan membuat Fira tersenyum.
" Iya sama-sama...maaf ya agak telat. Lani, aku mau tidur sebentar, ngantuk banget aku. Kalau ada yang mau ketemu, bilang nanti sore aja ya. Pleaseee banget ini Lani." ucap Fira, ia mengatupkan kedua tangannya seolah memohon.
" Apa sih Mbak... Iya nanti aku bilang Mbak Fira lagi gak bisa di temui." timpal Lani, ia gemas dengan Fira yang sampai sebegitunya hanya agar tak di ganggu tidurnya.
" Kalian terbaik... Makan dan habiskan." ucap Fira lalu berjalan menaiki tangga.
Sesampai di ruangannya, Fira menutup pintu dan menguncinya. Matanya sangat berat, selain itu kepalanya juga berdenyut, karena itu ia memutuskan untuk tidur sebentar. Daripada nanti berakhir tumbang, ia akan tidak memaksakan badannya.
__ADS_1
Walaupun hanya tidur di sofa panjang ruangannya, Fira tidur dangan sangat nyenyak. Mungkin karena terlalu mengantuk, jadi dimana dana bisa tidur. Karena tenggorokan terasa kering, tidur Fira terganggu dan ia terbangun. Sambil mengumpulkan nyawanya, ia menoleh ke jam dinding dan saat ini ternyata sudah jam empat sore. Perasaan dirinya baru tidur sebentar, tapi ternyata cukup lama juga. Kepalanya kembali berdenyut saat Fira mencoba bangun.
" Kenapa masih sakit sih ni kepala, perasaan makan udah, tidur juga baru bangun. Tapi gak sembuh ni kepala." gumam Fira pelan sambil memijit pelipisnya.
Ruangannya malah terasa berputar saat Fira berdiri, dengan perlahan ia berjalan ke mejanya dan akan mencari obat di lacinya. Ternyata di lacinya tak ada obat sakit kepala, ia memutuskan untuk minum agar tenggorakannya tidak kering.
Melihat ke arah pintu, pintu ruangannya terlihat sangat jauh. Padahal jika tidak sakit kepala, pintunya itu tidak terlalu jauh. Dengan perlahan dan berpegangan apa saja, Fira berhasil mencapai pintu dan membuka kuncinya. Baru saja akan melangkah keluar setelah pintu terbuka, pandangan Fira tiba-tiba gelap lalu Fira jatuh tak sadarkan diri.
Sekrang staff yang baru saja akan turun ke bawah, kaget melihat Fira tergeletak di depan ruangannya tak sadarkan diri. Dengan panik dia berteriak memanggil staff yang lain, dan tak menunggu lama mereka datang dan kaget juga melihat Fira tergeletak.
" Mbak Fira kenapa Ci?" tanya Lani pada staff yang bernama Cici.
" Gak tau aku Lani, aku saat melihatnya sudah tergeletak begini." jawab Cici sedikit takut jika dituduh membuat Fira pingsan.
" Bagaimana ini Lani?" tanya Salah satu staff bernama Sari.
" Panggil ambulan cepat!!" ucap Lani sedikit berteriak, karena ia mencoba membangunkan dengan mengoleskan minyak angin di hidung Fira dan tak kunjung bangun juga.
Tak menunggu lama, terdengar sirine ambulans. Dan petugas ambulans bersama staff yang menunggu di depan langsung berlari ke tempat Fira yang belum bangun.
" Kalian tutup boutiquenya saja dan setelah semua terkunci kalian pulang saja." ucap Lani, ia mengambil tasnya dan akan ikut ambulans menemani Fira.
" Iya Lani, kabari kami ya nanti jika Mbak Fira sudah siuman." ucap Cici yang sudah menangis karena takut Fira kenapa-kenapa. Bukan hanya Cici yang menangis, semua staff juga menangis.
__ADS_1
Ambulans sudah meninggalkan boutique, dan sepanjang jalan Lani menggenggam tangan Fira. Ia berdoa dalam hati semoga Fira baik-baik saja. Fira dibawa ke rumah sakit yang paling terdekat dari boutique, dan saat ini ambulans sudah berhenti di depan pintu UGD.
Sudah sampai di rumah sakit, tapi Fira tak kunjung juga sadar. Saking paniknya, Lani belum memberi tahu Arlan atau orang tua Fira. Karena Fira sedang di periksa, Lani memutuskan untuk memberi tahu orang tua Fira. Kenapa menghubungi orang tua Fira? Itu karena Lani tidak mempunyai nomor HP Arlan. Hp Fira juga tertinggal di boutique jadi maj tidak mau ia hanya memberi tahu orang tua Fira.
Mama Mira dan Papa Doni yang sedang bermain dengan cucu-cucunya kaget mendapat telfon dari salah satu staff Fira, memberi tahu kalau Fira pingsan dan saat ini ada di rumah sakit yang tak jauh dari boutique.
Tanpa membawa Abi dan Adek Al, Mama Mira dan Papa Doni langsung menunju rumah sakit. Beruntung ada Sherin jadi bisa mengawasi Abi dan Adek Al yang di jaga pengasuhnya.
" Lani..." panggil Mama Mira saat tiba di rumah sakit dan melihat Lani menunggu di depan UGD.
" Ibu.." balas Lani, ia berdiri dari duduknya dan mengalami Mama Mira dan Papa Doni.
" Bagaimana ceritanya kok Fira bisa pingsan?" tanya Mama Mira.
" Tadi Mbak Fira datang ke boutique udah siang, terus Mbak Fira bilang mau tidur karena ngantuk banget dan kalau ada yang mau ketemu sore aja. Kami bilang iya Mbak gitu, kami juga gak ada bangunin. Sampai Cici yang baru mau turun kebawah, melihat Mbak Fira udah tergeletak di depan ruangannya." jelas Lani sambil menatap kedua orang tua Fira yang terlihat cemas.
" Arlan mana? Kamu gak telfon dia?" kali ini yang bertanya Papa Doni.
" Saya gak tau nomornya Pak... Maaf." jawab Lani lalu ia menunduk.
Papa Doni langsung mengambil ponsel di saku celananya, lalu berjalan menjauh. Sepertinya Papa Doni menghubungi Arlan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1