Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 106


__ADS_3

Pagi ini tiba-tiba saja Sella terbangun dari tidurnya dan langsung berlari ke kamar mandi karena ada yang ma keluar. Dan benar saja, Sella memuntahkan isi perutnya yang terasa di aduk-aduk. Badannya lemas dan ia terduduk di lantai. Setelah perut yang terasa di aduk-aduk, sekarang kepalanya juga ikut pusing.


Dengan badan yang lemas, Sella berjalan pelan keluar kamar mandi dan berjalan menuju dapur untuk minum air hangat dan berharap semoga perutnya membaik. Sella duduk di meja makan, sambil memegang gelas berisi air hangat, ingatan Sella membawanya pada tamu bulanannya belum datang. Mengingat itu, tiba-tiba tangannya tremor dan matanya memanas.


Bagaimana jika kejadian sebulan lalu, membuatnya hamil. Meski sudah meyakinkan kalau ia akan menerimanya, tapi Sella tak percaya jika hanya melakukannya sekali bisa jadi.


Yang bertanya-tanya dengan Jordan, ia masih terus mengawasi Sella. Meskipun ia lakukan dari jauh, karena beberapa kali mencoba mendekat ke Sella selalu berakhir di usir. Nomor HPnya juga di blokir Sella, jadi jalan satu-satunya ia mengawasi dari jauh.


Sungguh saat ini, Jordan sudah jatuh ke Sella. Mungkin orang bilang kalau ia tidak tegas, bisa saja Jordan memaksa Sella tapi ia tak mau melakukannya. Jordan tak Sella semakin tak nyaman dengannya. Mungkin nanti jika tak berhasil juga, ia akan meminta bantuan pada Fira.


Sama seperti pagi biasanya, mobil Jordan sudah terparkir di depan apartemen Sella. Jordan sampai ganti mobil baru agar Sella tak tau kalau Jordan masih di dekatnya. Jam tangan di tangannya sudah menunjukan jam biasa Sella berangkat kerja, tapi ini Sella belum terlihat dan itu membuat Jordan resah.


" Kemana dia ya? Apa dia baik-baik saja?" gumam Jordan pelan.


Lagi-lagi Jordan melihat jam tangannya, sudah lewat setengah jam dan Sella juga belum terlihat. Akhirnya Jordan memutuskan untuk turun dari mobil, tapi baru membuka pintu, Sella terlihat keluar dari lobby. Jordan melihat wajah Sella sedikit pucat, pakaian yang di pakainya pun berbeda dari biasanya.


Mobil Sella sudah berjalan dan Jordan juga menjalankan mobilnya mengikuti dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Jordan menyadari jika mobil Sella tak menuju ke boutique, melainkan ke rumah sakit yang tak terlalu jauh dari apartemen Sella.


" Apa dia mau ke rumah sakit? Apa dia sakit?" ucap Jordan lagi.


Mobil terus berjalan, dan benar mobil Sella masuk ke kawasan rumah sakit yang Jordan maksud. Jordan memparkirkan mobilnya tidak terlalu jauh dari mobil Sella, dan cukup lama Sella keluar dari mobilnya.


" Kenapa gak keluar -keluar?" gumam Jordan dan matanya terus menatap ke mobil Sella.


Saat Sella keluar dari mobil, kening Jordan berkejut. Itu karena penampilan Sella yang seperti artis yang takut terkena paparazi. Sella keluar dengan menggunakan masker dan topi, tak lupa juga dengan kaca mata hitam.


Sella berjalan sambil melihat sekitar, takutnya ia bertemu dengan orang yang ia kenal. Apalagi saat ini ia berada di poli obgyn, kalau sampai bertemu dengan orang yang ia kenal bisa gawat. Meskipun melihat sekitar, ia tak menyadari Jordan yang mengikutinya.


Mata Jordan melotot saat Sella berhenti di poli obgyn, lututnya juga lemas tapi sekuat tenaga ia bertahan. Di sekitar Sella banyak sekali ibu hamil yang di antar suaminya, ingin rasanya Jordan juga di samping Sella.


Sella melihat ibu-ibu hamil di samping-sampingnya, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Rasanya Sella sudah tak sabar melihat perutnya buncit dan bisa merasakan tendangan dari bayinya. Itu jika saat ini ia benar-benar hamil.


" Mari Mbak saya duluan." ucap seorang ibu hamil di samping Sella yang sudah di panggil.


" Silahkan Bu." jawab Sella, ia juga sampai menurunkan maskernya.


Bosan... itu yang di rasakan Sella, sebab nomor antriannya belum juga di panggil. Sella tak tahu jika bisa mendaftar secara online, jika tahu mungkin ia tak akan menunggu selama ini. Sambil menunggu, Sella mengecek pekerjaannya lewat ipadnya yang sengaja ia bawa.


Karena asik dengan ipadnya, tak terasa akhirnya namanya di panggil...


" Atas nama ibu Sella Marcelina..." ucap seorang perawat di ambang pintu.


" Saya sus.." jawab Sella lalu beranjak dari duduknya.


" Mari Bu.." perawat itu mempersilahkan Sella masuk terlebih dulu.


" Selamat pagi... Saya dokter Tere, maaf dengan ibu siapa? Silahkan duduk. " sapa dokter perempuan itu saat Sella sudah di dalam ruangan dokter.


" Pagi dok... Saya Sella." jawab Sella dan duduk di depan dokter.


" Baik ibu Sella, ada yang bisa saya bantu? Mau periksa kandungan atau apa?" cecar dokter yang terlihat ramah.

__ADS_1


" Begini dok, saya belum datang bulan. Tadi pagi saya juga muntah, apakah saya hamil?" ujar Sella, sebenarnya ia sangat malu saat ini.


" Apa sudah di tespek bu?" tanya dokter lagi.


" Belum dok." jawab Sella sambil menggeleng.


" Baik... Sekarang kita pindah kesana ibu Sella." ujar dokter sambil menunjuk ke sebuah ranjang.


Sella gugup sampai jantungnya berdetak cepat, keringat dingin juga keluar.


" Santai saja bu Sella, tidak sakit kok. Oiya kenapa suaminya tidak mengantar?" ucap sang dokter seolah tahu kalau Sella sedang gugup.


" Saya.." ucapan Sella terputus saat pintu tiba-tiba saja terbuka.


" Maaf Pak, anda tidak bisa masuk kesini." usir perawat.


" Saya mau menemani istri saya sus. Maaf sayang aku terlambat." ucap Jordan lalu mendekat ke Sella tanpa dosa dan itu membuat perawat menjadi kikuk. Iya...yang masuk secara paksa adalah Jordan.


Mata Sella melotot mendengar ucapan Jordan, bagaimana bisa dengan santainya Jordan membual kalau dirinya adalah istrinya.


" Wah kedatangan bapak pas, saya baru akan mulai." ujar sang dokter, ia sudah duduk dan sedang mengoleskan gel ke perut Sella.


Dengan perlahan alat USG itu bergerak diatas perut Sella, tak menunggu lama di layar monitor terlihat sebuah kantung kecil dengan titik putih di tengahnya.


Air mata Sella langsung keluar saat melihat ke monitor, bukan tidak tahu. Sebab ia pernah menemani Fira periksa kandungannya, jadi ia tahu kalau yang tertera di monitor menggambarkan kalau saat ini ia tengah hamil. Dan calon anaknya telah berada di kantung rahimnya.


" Nah ibu...bapak... Ini adalah kantung rahimnya dan yang putih kecil ini adalah bayi kalian. Selamat ibu Sella dan... maaf dengan bapak siapa?" jelas dokter sambil menunjuk ke monitor.


" Jangan menangis, dia akan sedih jika bundanya sedih." ucap Jordan menenangkan, bahkan Jordan juga menghapus air mata Sella.


" Benar kata bapak Jordan bu, karena anak bisa merasakan apa yang ibunya rasakan." Dokter Tere ikut menimpali.


Sella tak menggubris ucapan kedua orang itu, yang saat ini ia pikirkan adalah bagaimana kedepannya ia menjalani harinya dengan keadaan hamil tanpa suami. Meskipun saat ini di sampingnya ada suami gadungan...


" Selamat sekali lagi ibu Sella dan bapak Jordan. Mari pak kita duduk dulu, saya jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh untuk ibu hamil. " ucap Dokter Tere tulus lalu berjalan menuju kursinya lagi.


Perawat mengelap sisa gel yang ada di perut Sella dan juga membantu Sella merapikan bajunya karena Jordan sudah mengikuti dokter.


Sella bergabung duduk didepan Dokter Tere bersama Jordan.


" Usia kehamilan ibu Sella saat ini adalah tiga minggu, usia dimana masih sangat rentan untuk keguguran. Jadi tolong jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Bapak Jordan tolong di jaga istrinya ya... Saat ini janinnya sehat kok, bulan depan kita bis mendengar detak jantungnya." dokter Tere menjelaskan dan kedua calon orang tua itu mendengarkan dengan tenang.


" Tapi dia bukan... " lagi-lagi ucapan Sella terpotong karena tangannya tiba-tiba di genggam Jordan.


" Baik Dok, saya akan menjaga istri saya dengan baik." potong Jordan cepat.


" Bagus... ini saya resepkan vitamin ya ibu, nanti di tebus di apotik. Apa ada yang mau ditanyakan?" Dokter Tere memberikan resep ke Sella tapi dengan cepat Jordan merebutnya.


" Tidak ada Dok..." jawab Sella, ia sudah ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.


" Baik... kalau ibu ada keluhan atau ada yang ingin di tanyakan, ibu bisa menghubungi saya." ujar Dokter Tere sambil memberikan kartu namanya.

__ADS_1


" Terima kasih Dok... Sus... Kami permisi." ucap Sella lalu keluar dari ruangan.


Sella dan Jordan jalan berdampingan tanpa ada yang membuka suara menuju ke apotik yang ada di rumah sakit itu juga, untuk menebus vitamin yang di resepkan dokter tadi.


" Kamu bisa pulang." ucap Sella saat sudah sampai di apotiknya.


" Jangan ngusir-ngusir aku lagi. Karena sekeras apa kamu mengusir ku, aku tidak akan kemana-mana. Duduk dan biar aku yang membawa resepnya kesana." ucap Jordan tegas dan membuat Sella diam.


Setelah memberikan resep dan kini mengantri lagi, Jordan sibuk dengan ponselnya..


" Laper atau haus gak?" tanya Jordan saat ia menunggu telfonnya diangkat seseorang, ia duduk persis di samping Sella, bahkan lengan mereka bersentuhan.


Sella menoleh sebentar dan hanya menggeleng, ia enggan mengeluarkan suaranya. Tapi detik berikutnya ucapan Jordan membuatnya menoleh cepat ke arah Jordan lagi...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...


Jangan lupa Like & Komen ya..


*Gamsahaeyo **🌹*

__ADS_1


__ADS_2