Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 127


__ADS_3

Keadaan Fira semakin membaik, wajahnya yang kemarin pucat, saat ini sudah terlihat segar. Sudah tiga hari Fira di rawat, dan selama itu juga Fira tak bertemu dengan anak-anak. Fira hanya bisa melihat video yang di kirimkan Mamanya atau kakak iparnya. Abi dan Adek Al masih menginap di rumah orang tua Fira, Abi tidak mau pulang karena ada Sabrina. Kalau dirumah Neneknya kan sepi, apalagi Mommynya sedang di rawat di rumah sakit.


Hari kedua Fira dirumah sakit, Abi memaksa ikut Omanya menjenguk Mommynya. Sesampainya dirumah sakit, melihat Mommynya di infus dan wajahnya pucat, Abi menangis kencang. Awalnya Abi tidak mau pulang dan bilang mau di rumah sakit menjaga Fira. Tapi setelah Fira bilang untuk pulang dan menjaga adek Al, baru lah Abi mau untuk pulang. Karena Asi masih aman stocknya jadi si Adek juga aman, tak rewel juga.


Arlan mengambil cuti selama Fira sakit, bahkan Arlan tak pernah pulang atau meninggalkan Fira. Paling ia pergi hanya ke kantin membeli kopi, itu jarang dan juga hanya sebentar. Lebih sering titip ke driver yang mengantarkan makanan untuknya, karena untuk makan Arlan minta di kirim dari rumah atau pun Mama mertuanya.


" Sayang mau aku kupaskan buah?" tanya Arlan yang duduk dikursi samping ranjang Fira.


" Gak usah... Aku malas ngunyah." jawab Fira dan sibuk dengan ponselnya.


" Apa kita udah bisa ngobrol sayang?" tanya Arlan dan menggenggam tangan Fira yang nganggur.


" Ngobrol soal apa?" tanya Fira balik, ia mengalihkan pandangannya dan menatap Arlan.


" Soal kita..." jawab Arlan dan mereka saling menatap.


" Aku minta maaf sayang, aku yang bikin kamu capek sama sikap aku, aku yang bikin kamu kurang istirahat dan telat makan dan sampai masuk rumah sakit. Aku lihat kamu diam aja dan aku kira kamu baik-baik aja saat aku terlalu sibuk dengan kerjaan kantor. Tapi ternyata kamu gak baik-baik aja, kamu capek sendiri setiap malam jaga si Adek. Kamu masih peduli sama aku, tanya gimana keseharian aku, gimana kantor... kamu selalu tanya sama aku. Tapi aku yang gak tahu diri ini, gak tanya gimana hari-hari kamu, kerjaan kamu gimana? Apa kamu capek? Harusnya aku peka kalau kamu juga butuh support, apalagi ini adalah pengalaman kamu punya bayi. Aku harusnya sadar kalau jadi kamu gak mudah, pasti kamu mau terlihat baik-baik saja di depan Abi. Mau secapek apa, kamu pasti akan selalu antusias mendengar dan memperhatikan semua yang Abi ceritakan dan kerjakan. Dulu saat Abi bayi, aku juga melakukan hal yang sama karena ingin mengalihkan perasaan kehilangan Mamanya Abi, tapi sekarang aku terlalu terlena karena seperti yang aku bilang tadi, aku lihat kamu baik-baik aja. Tapi ternyata dugaan ku salah dan maafin aku sayang..." ujar Arlan panjang lebar, bahkan air matanya juga ikut menetes.


" Aku minta maaf sayang... Aku janji akan berubah. Huhuhu... " sambung Arlan dan saat ini menunduk, menempelkan keningnya ke tangan Fira dan tangisnya semakin pecah.


Melihat Arlan yang menangis, membuat Fira ikut menangis dalam diam. Dadanya terasa sesak mendengar semua ucapan suaminya, Arlan terlihat sangat menyesal dengan tindakannya yang sangat senang bekerja.


" Kenapa menangis? Malu kalau di lihat orang... " ucap Fira, ia mengusap kepala Arlan dan membuat tangis Arlan bertambah kencang.


" Sudah menangisnya, udah kayak Abi aja. Angkat kepalanya... " ucap Fira lagi tapi Arlan malah menggeleng tak mau.


" Beneran gak mau udahan nangisnya?" tany Fira, sebab Arlan masih menangis tapi pelan.

__ADS_1


" Aku sa..sangat ma...malu sayang, kenapa bisa aku punya istri yang sangat pengertian seperti mu." ujar Arlan di sela terisaknya.


" Jadi maunya punya istri yang gak pengertian aja?" tanya Fira, ia kembali mengusap kepala suaminya.


Mendengar itu Arlan langsung duduk dengan tegak dan menatap Fira dengan air matanya di pipinya...


" Jelek banget udah tua nangis..." goda Fira, rasa kesalnya dengan Arlan sudah menguap begitu saja saat Arlan sudah menyadari kesalahannya.


" Aku minta maaf juga ya Mas, aku masih banyak kurangnya selama jadi istri kamu." ujar Fira dan tangannya mengusap air mata di pipi Arlan.


" Kamu gak ada kurangnya sayang, ayo kita saling melengkapi." balas Arlan dan intens menatap Fira.


" Ayo kita belajar untuk lebih terbuka lagi, jangan ada perasaan gak enak, jangan takut aku capek dan ceritakan semua hal sama aku saat aku pulang kerja. Kamu lebih capek sayang, kamu ngurus dua bocil, kamu kerja juga, kamu kadang masih bantuin Mama. Kerjaan aku gak ada apa-apanya..." ucap Arlan sambil mengusap pipi Fira dan Fira mengangguk dengan senyumnya.


Selanjutnya pasutri itu berpelukan, pelukkannya hangat seolah sudah lama tak merasakannya. Mereka sudah berdamai, saling memaafkan dan kedepannya akan terus belajar bersama. Semua hanya perlu di bicarakan dengan duduk bersama, dan saat ini adalah waktu untuk mereka mendiskusikan semuanya. Meski Fira harus masuk rumah sakit dulu...


" Sayang... Aku belum ngabarin ibu manager, kemarin dia mau pulang gara-gara kamu masuk sakit." ujar Arlan saat menyuapi makan malam Fira.


" Dari kemarin aku telfon nomernya gak bisa, nomer Jordan juga sama. Apa mereka sudah di perjalanan pulang kesini ya?" lanjut Arlan.


" Nomer Kakaknya atau Maminya Mas gak tau?" tanya Fira di sela ia mengunyah makanan.


" Aku taunya nomer indo mereka, dan itu juga udah gak aktif." jawab Arlan, menyuapkan suapan terakhir.


" Aku coba telfon deh.." Fira mencoba menelfon nomer Sella dan menyambung.


" Hallo..." ucapnya.

__ADS_1


" Sella.." panggil Fira, ia takut jika bukan Sella yang bicara.


" Apa? Lo udah sehat?" ternyata yang menjawab telfonnya Sella sendiri.


" Ya lumayan lah, besok udah boleh pulang. Kok kayak lagi ada masalah? Lesu banget suara mu..." jawab Fira dan ia merasa Sella sedang ada sesuatu.


" Aku lagi sebel banget sama Jordan, Lani udah dapet tiket buat aku pulang duluan. Dan Lo tau... paspor Gue di UMPETIN!! " cerocos Sella dan dapat Fira dengar kalau Sella benar-benar emosi di akhirnya.


" HaHAHAHAHA... Ada-ada aja tingkah laki Lo." berkat Sella, akhirnya Fira tertawa lepas.


" Harusnya Gue udah sampai indo, tapi tiket Gue hangus gara-gara kemarin aku sibuk nyari paspor dan lupa gak reschedule tiketnya." Sella lanjut mengomel.


" Ya gak usah pulang, aku udah sehat kok. Lanjut aja liburannya, soalnya kalau udah pulang pasti aku kasih kerjaan. Hahahaha.... Tenang aja, aku udah ada designnya. Sebelum sakit, aku udah sempat stock design. Jadi paling itu yang aku kasih ke costumer, kalau ada yang suka, paling tinggal tambah dikit-dikit aja. Oke ibu manager..." ucap Fira menenangkan Sella. Dirinya tau kalau Sella pasti tak tenang di sana, apalagi sampai masuk rumah sakit dan boutique keteteran. Untungnya saat senggang, Fira selalu membuat design baju dan gaun.


" Udah gak mood lagi liburan, mending kerja kalau Gue mah... Rencana Gue mau ke kantor polisi terus ke KBRI buat paspor sementara, habis itu langsung cabut pulang. Kayak anak kecil banget main ngumpetin barang." ucap Sella dan masih terdengar sangat kesal.


" Sabar Bu... Inget anda sedang hamil, jangan sebel-sebel gitu sama suami. Nanti anak anda sangat mirip dengan bapaknya. Hahahaha... " goda Fira dan ia merasa sangat menyenangkan.


" Ya kalau gak mirip malah di pertanyaan dong!" sewot Sella.


" Ya udah lah ya... Pokonya jangan pulang dulu, jalan-jalan aja dulu. Beliin dulu titipan aku kemarin, pokoknya boutique aman. Bye Sella sayang.... " ujar Fira sebelum menutup telfonnya.


" Ada apa? Kamu sampai ketawa gitu... " tanya Arlan penasaran.


" Sella udah dapat tiket pulang, dan Mas tau... Paspornya di umpetin Jordan.hahaha..." jawab Fira dan tertawa ketika membayangkan usilnya Jordan menyembunyikan paspor Sella.


" Hahahaha... Emang gak berubah itu orang. Pantes Papinya panggil dia bangor." timpal Arlan dan ia ikut tertawa mendengar kelakuan Jordan yang tak pernah berubah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2