
Lagi-lagi Jordan di usir Sella, setelah menyusun belanjaan tadi. Tapi Jordan bersikukuh untuk tetap tinggal, dan sekarang mereka berdua berakhir duduk berdua di depan TV.
" Minum susunya, atau lagi pengen makan apa?" ujar Jordan, tadi ia sudah membuatkan susu. Tapi sampai susunya dingin belum juga disentuh Sella.
" Kamu gak kerja ya? Pergi kerja sana, ngapain juga di sini." Sella malah mengalihkan pembicaraan.
" Aku bisa kerja dari sini, lagian aku masih pengen deket sama anakku." jawab Jordan, ia sekarang memegang perut Sella dan membuat Sella membeku.
" ih ngapain sih." Sella melepas tangan Jordan dari perutnya.
" Ya kan mau pegang anak aku, Jordan berusaha mendekat ke Sella.
" Geser dong, gerah nempel-nempel gini." Sella mendorong badan Jordan.
" Ayo menikah, kita besarkan anak kita sama-sama." Jordan menahan Sella yang akan menggeser duduknya.
" Jangan menolak ku lagi, aku serius ngajak kamu nikah. Aku udah jatuh sama kamu, bukan karena kamu hamil, kamu aku ajak kamu nikah. Kalau gak hamil pun aku bakal tetap nikahin kamu." ucap Jordan lagi.
" Kamu tau kan aku masih belum selesai dari masa lalu ku, aku masih takut. Aku juga belum tentu bisa membuka hati ku lagi untuk mu." ujar Sella jujur pada Jordan.
" Aku bakalan bantu kamu, aku juga bakal nunggu sampai kamu bisa buka hati buat aku. Ayo kita menikah Sella Marcelina." ucap Jordan, ia menggenggam tangan Sella.
" Jordan jangan seperti ini, aku benar-benar takut membuat mu kecewa nantinya. Kita bisa besarkan anak ini tanpa kita harus menikah." Sella masih pada pendiriannya.
" Aku mau status anak ku jelas Sella." geram Jordan, pemikiran Sella memang di luar nalar.
" Tunggu Mami sama Papi sampai, kita menikah. Jangan berpikir buat kabur, karena mulai sekarang aku bakal tinggal disini biar kamu gak kabur." ucap Jordan lagi sambil mendekat ke wajah Sella.
" Apa? Gak ada ya kamu tinggal disini. Apa kata orang kalau tau kita tinggal bareng tapi belum menikah." tolak Sella langsung.
" Aku gak peduli apa kata orang, daripada kamu kabur jadi aku tinggal disini." ucap Jordan acuh, ia merebahkan badannya dan kepalanya di paha Sella menghadap ke perut.
" Sayang lagi apa?" Jordan mengajak perut Sella berbicara.
" Kamu ngapain sih?" Sella merasa risih dengan kelakuan Jordan.
" Ngajak anak ku ngobrol, biar kenal dia sama aku. Kamu juga harus sering-sering ngajak dia ngobrol, biar dia juga kenal sama kamu." ujar Jordan, ia mendongak menatap Sella.
" Dia masih sebesar kacang hijau, belum bisa dengar juga." timpal Sella sambil memutar matanya jengah.
" Ya udah sih biarin, kamu jangan coba buat larang-larang aku." ucap Jordan dan Sella hanya mencibirnya.
" Nanti dia panggil kita apa? Jangan Mommy Daddy, aku gak mau samaan sama Arkan dan Fira." tanya Jordan mendongak menatap Sella lagi.
__ADS_1
" Dia masih kecil ngapain udah mikirin manggil apa." jawab Sella.
" Ya kan aku mau ngobrol sama dia, katanya bagus lho bayi di dalam perut sering di ajak mengobrol." timpal Jordan lagi.
" Gak tau, belum kepikiran. Awas deh ah, kamu tu berat." ujar Sella ia berusaha menggeser duduknya agar kepala Jordan jatuh.
" Jangan bergerak, aku masih mau ngobrol sama anakku." Jordan menahan Sella yang terus bergerak.
" Katanya tadi suruh minum susu, awas dulu." ucap Sella beralasan.
" Aku ambilkan, kamu diam aja." Jordan bangun dan dengan cepat mengambil gelas susu dan memberikan ke Sella. Setelah itu ia kembali lagi berbaring di paha Sella dan mencium perut Sella.
Sella yang tengah meminum susu, langsung membeku saat Jordan mencium perutnya. Meskipun yang dicium anaknya, tapi tetap saja membuat Sella kaget.
" Enak juga ternyata susu ibu hamil. Nanti malam coba rasa yang lain." ucap Sella dalam hati.
Di belahan bumi lainnya...
Setelah mendapat telfon dari Jordan suasananya rumah dari kakak Jordan menjadi ramai. Pasalnya sang Mami heboh memberi tahu semua isi rumah kalau akan memiliki cucu dari Jordan. Tentu saja kabar itu membuat semua orang kaget.
Saat ini yang tinggal di rumah tinggal Mami, Papi dan Kakak Jordan. Suami kakaknya sudah pergi bekerja, sedangkan anak-anak Kakak Jordan sudah pergi ke sekolah.
" Mami ini pagi-pagi sudah heboh bawa berita yang belum benar." ucap Karina kakak Jordan.
" Ya Mami juga kaget, tapi siapa yang di hamili Jordan ya? Apa Sella? Atau perempuan lain?" ujar Mami dengan muka bingung.
" Katanya sih temannya, kemarin waktu Mami pulang di bawa ke mansion." jawab sang Mami menjelaskan.
" Mami masih nyuruh-nyuruh dia nikah ya?" tanya Karina, Maminya ini lagi gencar-gencarnya menyuruh Jordan menikah. Itu lah sebabnya Jordan kabur pulang ke Indonesia.
" Ya apa salahnya sih Kak? Mami kan udah pengen lihat dia menikah dan punya anak." jawab Mami Irene santai tanpa beban.
" Mungkin dia udah frustasi sama desakan Mami, sekarang dia berakhir menghamili anak orang." ujar Karina, dulu juga bernasib sama dengan adiknya. Sampai akhirnya ia di jodohkan dengan suaminya sekarang.
" Kalian itu sama aja, mungkin kalau Papi gak jodohin Kakak sama anak kolega Papi pasti juga belum menikah. Kalian itu terlalu asik sama dunia sendiri, jadi gak kepikiran buat berumah tangga kalau tidak di desak." ucap Mami Irene, ia baru akan mencarikan wanita untuk di jodohkan dengan Jordan sama seperti Karina dulu.
"Tapi Mami lihat kan, sekarang aku hanya diam di rumah. Beruntung dulu sebelum menikah sudah melakukan apa yang aku mau." timpal Karina lagi, dulu ia memang tak kenal waktu jika sudah bekerja. Ia menggeluti pekerjaan seperti Fira. Yaitu seorang desainer, tapi saat itu Karina masih bekerja dengan orang.
" Perempuan memang begitu, tinggal di rumah mengurus suami dan anak saja." ucap Mami Irene tak mau kalah dan Karina hanya geleng-geleng melihat Maminya yang masih saja punya pemikiran kuno.
" Jadi gimana? Coba lah Mami telfon Jordan, tanya benar apa tidak." suruh Karina.
" Mami mau pulang aja, biar lebih jelas. Nanti kalau benar dia hamilin anak orang, kalian menyusul pulang juga." ujar Mami dan langsung pergi mencari suaminya untuk diajak bersiap.
__ADS_1
Dan sekarang dua orang tua itu sudah di bandara untuk menuju ke Indonesia, beruntung mereka mendapatkan tiketnya. Sambil menunggu masuk ke pesawat, Mami Irene terus mencoba menelfon Jordan si bocah tengik itu.
" Ayo Mam, itu sudah di panggil." ujar Papi Renald.
" Anak Papi itu memang minta di gunduli." geram Mami Irene, setelah itu berjalan masuk ke pesawat.
" Namanya anak muda, yang penting dia mau tanggung jawab. Kalau dia gak mau tanggung jawab baru kita gunduli dia." timpal Papi Renald sambil berjalan berdampingan.
" Kita liat saja nanti, bakalan habis dia sama Mami." ucap Mami Irene geram.
Pesawat sudah take off, dan perjalanan akan di tempuh dengan waktu kurang lebih 16 jam. Dan sudah di pastikan kedua orang tua itu akan bosan. Ini lah alasan mereka berdua malas pulang ke Indonesia, jika tidak penting mereka tidak akan pulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Annyeong chingudeul...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Komen ya..
*Gamsahaeyo **🌹*