
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini kehamilan Fira sudah masuk ke bulan sembilan. Perutnya sudah sangat besar, itu di karenakan bayinya tumbuh dengan sangat baik. Semua keperluan si Adek sudah semua di siapkan. Saat ini Fira benar-benar tinggal menunggu gelombang cinta dari si Adek.
Semakin dekat dengan lahiran, semakin sibuk juga Arlan di kantor. Setiap hari bisa dia pulang larut malam. Abi dan kedua orang tuanya sudah pernah protes, tapi itu tak membuat Arlan pulang cepat.
Seperti malam ini, Abi menjaili Daddynya dengan mengunci pintu kamar Arlan. Memang selama Arlan pulang malam, Abi yang setia menemani Fira. Mengekor kemana pun Fira pergi...
" Sayang... Buka pintunya. Sayang..." seru Arlan sambil mengetuk pintu.
Cukup lama Arlan menunggu tapi tak kunjung di buka pintunya..
" Sayang pleasee buka pintunya..." Arlan masih mencoba memanggil Fira dan mengetuk pintu.
Di liriknya jam di tangannya, saat ini sudah jam 11 malam. Dan pasti Fira sudah tidur, tak mendengar ia memanggil. Karena haus, Arlan berjalan menuju ke lantai satu. Ia menuang air putih yang ada di meja makan dan duduk disana.
Sambil memijat tengkuknya yang berat, Arlan memejamkan mata. Hari ini ia merasa sangat lelah, tapi sampai rumah malah tak bisa masuk ke kamarnya sendiri.
" Ngapain kamu di situ? Baru pulang?" ucap Mama Ratih tiba-tiba dan mengagetkan Arlan.
" Astaga Mah, bisa tidak bersuara tiba-tiba." protes Arlan dan sambil mengelus dadanya.
" Alah lebay banget kamu." ucap Mama Ratih dan duduk di sebrang Arlan.
" Mau makan?" tanya Mama Ratih tujuan Arlan duduk di meja makan.
" Aku gak bisa masuk ke kamar ku sendiri." jawab Arlan lesu.
" Hahaha... Pasti Abi itu yang mengunci pintunya." Mama Ratih malah menertawakan Arlan.
" Makanya... Sudah tau istri mau lahiran malah kerja lembur terus. Fira tu sudah menghitung hari, kalau saat dia mules terus kamu gak ada di sampingnya gimana?" cecar Mama Ratih, ia sudah menghentikan tawanya.
" Aku lembur juga biar saat Fira lahiran, aku bisa menemaninya full tanpa memikirkan pekerjaan." jawab Arlan membela diri.
" Lagian kamu tu aneh, masih ada Papa, masih ada Dika, tapi kamu masih mengerjakan semuanya sendiri." Mama Ratih bertambah sengit membalas perkataan Arlan.
" Ini bukan pertama kali kamu menghadapi istri mau melahirkan. Masa gak ngerti juga sih.." gemas Mama Ratih.
" Mah, aku sebenarnya takut." jujur Arlan, jujur belakangan ini Arlan takut jika Fira berakhir sama seperti Bintang istri pertamanya.
" Takut apa? Nanti Fira sama kayak Bintang?" tebak Mama Ratih dan Arlan mengangguk lalu menunduk.
" Kita berdoa saja semoga itu tidak terjadi. Makanya sudah cukup kamu lemburnya. Temani Fira, mungkin Fira bilang tidak apa-apa. Tapi pasti ia ingin di temani suaminya disaat akhir-akhir kehamilannya." Mama Ratih mencoba menenangkan Arlan tentang ketakutannya.
" Iya mah.. Aku akan naik, kamar tamu bersih kan?" tanya Arlan yang sudah beranjak dari duduknya dan bersiap untuk naik.
" Kamar tamu selalu di bersihkan, kamu tidur disana saja dulu." ujar Mama Ratih.
Arlan mengangguk dan berjalan gontai menaiki tangga, sesampainya ia di depan kamarnya kembali ia mencoba mengetuk pintu dan memanggil Fira. Di di tunggu beberapa saat, hasilnya sama...tak di buka pintunya.
Kembali melanjutkan jalannya menuju ke kamar tamu, Arlan seakan tak rela jika malam ini harus tidur di kamar tamu. Ia beberapa kali menoleh ke kamarnya, berharap pintu terbuka tapi itu hanyalah menjadi harapan Arlan.
__ADS_1
โกโกโก
Tepat jam 3 subuh, tidur Fira terusik karena perutnya terasa sangat mules. Dengan mata yang berat, ia berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi tapi ap yang membuatnya mules tidak keluar. Sepertinya perut mulesnya karena si Adek mau lahir.
Sudah berdiri menatap ranjang dan tak mendapati suaminya tapi hanya ada Abi. Sebegitu banyak pekerjaannya sampai jam segini Arlan belum pulang pikir Fira.
Berjalan ke pintu dan ketika mencoba membukanya ternyata di kunci. Bisa di tebak kalau Abi yang mengunci pintunya. Saat akan melangkah keluar, perutnya sangat sakit. Alhasil ia kembali ke ranjang untuk membangunkan Abi.
" Kakak... Bangun dong Kak... Kakak. Ssssshhh..." Fira mengguncang Abi dengan menahan sakit.
" Apa Mom?" tanya Abi sudah terusik tidurnya.
" Tolong ke kamar Nenek dan bilang kalau Adek sudah mau lahir." ucap Fira dan membuat mata Abi terbuka lebar lalu terduduk.
" Hah yang benar Mom?" tanya Abi memastikan dan Fira hanya mengangguk.
" Oke...Tunggu sebentar, Abi ke kamar Nenek dulu." ucap Abi, ia langsung melompat dan melesat dengan cepat ke kamar Neneknya.
" Nek... Nenek buka pintunya... Nek.. Nenek." panggil Abi sambil menggedor pintu kamar Neneknya.
Tak berapa lama pintu terbuka dan terlihat Nenek juga Kakeknya dengan muka bantal...
" Kenapa sayang? Kenapa bangun?" tanya Mama Ratih heran Abi pagi buta menggedor pintu kamarnya.
" Adek sudah mau lahir." jawab Abi cepat.
" APAAA..." teriak Nenek dan Kakek berbarengan.
" Ya sudah ayo kita ke Mommy, Pah cepat bangunkan Arlan di kamar tamu." ujar Mama Ratih lalu menggandeng Abi dan Papa Anton tanpa bertanya banyak langsung menuju kamar tamu.
Sesampainya di kamar, Mama Ratih melihat Fira sudah duduk di ranjang dan wajahnya sudah basah akan keringat.
" Sayang ayo kita kerumah sakit sekarang." ajak Mama Ratih dan mendekat ke Fira.
" Tapi Mas Arlan belum pulang Mah." ujar Fira dan berhenti menatap mertuanya.
" Di sudah pulang dan sedang tidur di ruang tamu. Tapi sudah di bangunkan Papa, tenang saja." jawab Mama Ratih dan menuntun Fira dengan hati-hati menuruni tangga.
" Kenapa juga tidak kepikiran membuat lift, kalau begini kan jadi repot." cerocos Mama Ratih yang terasa lama menuruni tangga bersama Fira.
" Tidak apa-apa Mah, ini kan sudah sampai bawah meskipun lama. Hehehe...sssshhh." ujar Fira sambil tertawa tapi kemudian ia kesakitan.
Dengan tak menggunakan alas kaki, Arlan berlari dari dalam rumah...
" Sayang kamu sudah mau lahiran ya?" tanya Arlan saat Fira akan memasuki mobil.
" Ya iyalah, pakai nanya segala. Sudah cepat sana ke rumah sakit. Mama nanti menyusul setelah mengambil tas keperluan Fira dan Adek." Mama Ratih yang menjawab dengan sewot, dilihatnya Fira sudah kesakitan maah bertanya lagi.
Arlan membawa mobilnya sangat laju tetapi masih aman. Beruntung rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari rumah.
__ADS_1
" Abi di rumah saja ya sayang?" ucap Mama Ratih saat kembali dari mengambil tas milik Fira.
" Tapi Nek Abi mau menemani Mommy." jawab Abi dengan air mata yang meleleh dari tadi. Sejak tadi Abi menangis tanpa suara karena melihat Mommynya kesakitan.
" Anak kecil tidak boleh ke rumah sakit malam-malam begini sayang. Di rumah dulu dengan Suster ya? Besok Nenek jemput...doa kan Mommy sama Adek ya sayang." Mama Ratih mencoba membujuk Abi.
" Baiklah Nek, tapi janji besok pagi jemput Abi ya? Abi tidak sabar melihat Adek." akhirnya Abi mau tinggal di rumah.
" Iya Nenek janji, sekarang kembali tidur dan hanya sebentar Nenek sudah datang menjemput Abi." ucap Mama Ratih dan mengacak-acak rambut Abi lalu segera masuk ke mobil.
Abi masih menatap mobil Nenek dan Kakeknya, sampai tak terlihat lagi baru ia masuk bersama dengan Susternya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Annyeong chingudeul...
Jangan lupa Like & Komen ya..
__ADS_1
*Gamsahaeyo ๐น๐****