Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 77


__ADS_3

Akhirnya Mama Ratih tidak jadi pergi, ia menemani Fira di kamarnya. Tangis Fira tak kunjung berhenti, itu yang menyebabkan Mama Ratih tak tega meninggalkan Fira. Ia juga tak mau jika menantunya kenapa-kenapa.


Fira menangis seperti orang yang sedang sedih kehilangan seseorang. Mama Ratih sampai bingung bagaimana menenangkannya. HP Arlan ternyata tertinggal, makanya dari tadi telfon gak di angkat. Mama Ratih kepikiran menelfon suaminya yang satu mobil dengan Arlan.


Mama Ratih : " Hallo Pah.... Suruh Arlan pulang gak usah mampir-mampir." ucap cepat Mama Ratih saat telfon di angkat suaminya.


Papa Anton : " Hah... Arlan tadi langsung pulang kok setelah drop Papa di kantor. " jelas Papa Anton.


Mama Ratih : " Tapi belum sampai rumah dia... Ini Fira nangis-nangis nyariin Arlan. Ya sudah kalau begitu Mama mau tanya Dika dulu. " Mama Ratih langsung mematikan telfonnya.


Setelah menelfon itu Mama Ratih menelfon Dika asisten sekaligus sekertaris Arlan. Dika juga bilang kalau Arlan belum sampai kantor. Makin kemana- kemana lah pikiran Mama Ratih, takut kalau anaknya kenapa-kenapa di jalan.


" Aduh kemana lah Arlan ini, bikin khawatir aja. Ya Allah semoga Arlan baik-baik saja.." gumam Mama Ratih sepelan mungkin, ia takut Fira dengar dan ikut khawatir.


Dari tadi Fira tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya. Ia juga mendengar semua percakapan Mama Ratih dan Papa Anton, bahkan saat Mama Ratih menelfon Dika. Fira kesal dengan suaminya, tapi ia juga takut kalau suaminya kenapa-kenapa.


Tiba-tiba saja perut Fira seperti di aduk-aduk, dengan cepat ia bangun dan berjalan cepat ke kamar mandi. Melihat itu Mama Ratih yang sedang sibuk dengan ponselnya, langsung bergegas mengikuti Fira ke kamar mandi.


Dengan telaten Mama Ratih memijat tengkuk Fira, setelah Fira selesai memuntahkan isi perutnya Mama Ratih menuntun Fira kembali ke ranjang.


" Maaf ya Mah Fira ngerepotin Mama, Mama sampai gak jadi pergi juga." tadi Fira juga mendengar Mama Ratih menelfon dan bilang tidak bisa pergi, Fira tebak tadi Mama mertuanya itu menelfon temannya yang sudah janjian.


" Gak ada itu ngerepoti-ngerepoti... Ini minum dulu. Makan ya sayang... perutnya udah kosong lho, tadi belum minum susu juga. Vitaminnya juga belum di minum, mau ya sayang? Kasihan Adek kalau gak makan." Mama Ratih mencoba membujuk Fira agar mau makan.


Dengan pelan Fira mengangguk... sebenarnya ia malas untuk makan, tapi ia juga harus memikirkan anak yang di perutnya.


" Makan sendiri aja Mah.." ucap Fira saat Mama Ratih akan menyuapinya.


" Ya sudah..." Mama Ratih tak mau memaksa.


" Kok udah sayang? Gak selera sama makanannya ya? Pengen makan apa biar Mama masakin? " cecar Mama Ratih saat Fira menyudahin acara makannya, padahal baru beberapa sendok.


" Malah mual lagi Mah rasanya. Nanti Fira makan lagi... kalau siang kan gak mual lagi. " ini tidak bohong, karena perut Fira makin di isi bukannya kenyang malah ingin memuntahkannya lagi.


" Ya sudah kalau begitu... nikmat orang hamil emang begitu. Sabar ya sayang... Sekarang minum vitaminnya terus istirahat, bentar lagi pasti Arlan pulang. " Fira hanya mengangguk dan langsung meminum obat dan vitamin yang sudah di resepkan dokternya.


" Mama ke bawah dulu ya... Kamu istirahat, kalau pengen sesuatu bilang aja sama Mama ya. " ujar Mama Ratih dan Fira hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis.


Rejeki memang tak melulu tentang uang, memiliki mertua yang baik itu juga merupakan rejeki. Tak jarang banyak menantu dan mertua yang tak akur satu sama lain. Beruntungnya Fira memiliki mertua yang selalu baik dan lembut terhadapnya, ia malah seperti anak kandung.


Arlan sedikit memasuki rumah dengan sedikit berlari. Saat akan menaiki tangga, suara Mamanya membuat ia berhenti dan berbalik menatap Mamanya.


" Kamu dari mana sih Lan, kenapa lama banget? Udah gak bawa HP, bikin orang khawatir aja deh. " cerocos Mama Ratih menginterogasi.

__ADS_1


" Aku gak ada mampir-mampir kok, tadi ada kecelakan jadi macet jalannya. " jawab Arlan cepat.


" Aku mau naik dulu Mah. " Arlan langsung berlari menaiki tangga.


Mama Ratih hanya geleng-geleng melihat putranya itu. Tapi ia sedikit lega, ketakutannya tadi bagaimana jika Arlan kecelakaan tak terjadi.


Begitu sesampainya di kamar, Arlan melihat istrinya sedang tidur dengan posisi memunggunginya. Arlan berjalan mendekat dan ia kaget kerena mata Fira bengkak dan masih ada bekas air mata di pipinya.


" Maaf ya sayang aku lama antar Abinya..." gumam Arlan pelan sambil mencium mata Fira yang bengkak.


Arlan beranjak, ia tak mau mengganggu istrinya tidur. Ia mengambil HP nya yang di nakas, lalu berjalan ke walk in closetnya untuk berganti baju rumah. Setelah selesai berganti baju, ia melihat Fira masih tidur. Ia memutuskan ke ruang kerjanya saja... sekalian menelfon Dika kalau hari ini ia tidak datang ke kantor.


✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻


Fira terbangun karena ia merasa sangat lapar. Tadi ia berharap saat bangun tidur, ia sudah melihat suaminya. Tapi ternyata tidak sesuai dengan expetasinya. Saat bangun, ia sendirian dan tak melihat suaminya di kamarnya itu.


" Jadi aku di tinggal lagi? Atau memang dari tadi belum pulang?" gemamnya dalam hati. Fira merasa kecewa dengan Arlan yang ingkar janji.


" Sangat menyebalkan... " Fira mendengus kesal, lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Selesai mencuci muka, Fira keluar kamar dan berjalan perlahan menuruni tangga. Sampai di bawah Mama mertuanya sudah rapi, sepertinya mau pergi.


" Mama mau kemana?" tanya Fira berjalan mendekati Mama Ratih.


" Emang Mas Arlan udah pulang Mah? Fira bangun gak ada siapa-siapa tadi di kamar." Fira kaget dan bingung, ternyata suaminya sudah pulang. Tapi kenapa ia tak melihat batang hidungnya.


" Lah... Kemana lagi itu anak. Tadi udah pulang kok sayang, apa pergi lagi? Tapi gak ada pamit sama Mama... Mama dari tadi juga di dapur gak ada di pamitan. " Mama Ratih juga ikutan bingung.


" Iya mungkin pergi lagi dan gak sempet pamit sama Mama. Mama gak jadi jemput Abi? Kalau gak biar Fira aja yang jemput. " ujar Fira yang melihat Mertuanya masih diam saja.


" Eh iya... Mama aja, kamu makan sana Mama udah masak. Mama pergi ya... biar Mama coba telfon Arlannya. " setelah mengucapkan itu Mama Ratih langsung berjalan keluar rumah.


Benar saja... belum jam makan siang tapi meja sudah penuh dengan masakan Mama Ratih. Karena perut sudah minta di isi, Fira langsung duduk dan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.


Sambil melamun Fira mengunyah makanannya, ia memikirkan kemana suaminya itu berada. Sampai tak terasa makanan di piringnya sudah kosong. Ia beranjak membawa piring kotor ke belakang untuk di cuci.


" Biar saya aja Non..." ucap maid senior saat Fira sudah sampai di dapur dan akan mencuci piring makannya.


" Eh gak usah Bik... Cuma satu ini kok. Bibi istirahat aja kalau udah selesai kerjaannya. " ucap Fira menolak dengan lembut.


" Baik Non... Permisi. " jawabnya dan langsung meninggalkan Fira.


Selesai mencuci piring ia langsung berjalan kembali ke kamar. Fira memutuskan untuk pergi ke Boutiquenya saja.. daripada di rumah membuat ia bertambah kesal dengan suaminya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...


Jangan lupa Like & Komen ya..

__ADS_1


*Gamsahaeyo 🌹😘****


__ADS_2