Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 124


__ADS_3

Arlan sudah kembali ke kantor, tadi ia juga tak jadi meeting dan makan siang bersama Tania. Setelah menunggu Dika datang, Arlan pergi ke boutique Fira. Tapi saat sudah sampai Arlan tak dapat bertemu dengan Fira, karena Fira berpesan ke staffnya akan istirahat dan tak mau di ganggu. Arlan pikir itu hanya alasan Fira saja yang tak mau bertemu dirinya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kantor saja, dan saat ini ia sedang fokus mengetik pada laptopnya. Fokusnya terpecah karena sering ponselnya, di lihatnya nama Papa mertuanya yang menelfon.


" Tumben Papa telfon, ada apa ya?" gumam Arlan sebelum menjawab panggilan mertuanya.


" Hallo Pah..." jawab Arlan.


" Cepat kerumah sakit yang tak jauh dari boutique, istri mu pingsan. Papa sama Mama tunggu di sini, cepat ya.. Fira belum sadar juga sampai sekarang." ucap Papa Doni, dan sambungan telfonnya terputus.


Arlan terdiam beberapa saat, otaknya sedang mencerna ucapan mertuanya yang mengatakan kalau Fira pingsan dan belum juga sadarkan diri.


"PINGSAN? APAA...." teriak Arlan setelah mencerna ucapan Papa Doni.


Tanpa menunggu lagi, Arlan berlari keluar ruangannya. Arlan tak lagi peduli dengan sekitar, bahkan ia bertabrakan dengan Dika dan Dika jatuh terkapar di lantai tapi tak di hiraukannya. Yang di pikirannya hanya segera sampai di rumah sakit.


Dilihatnya jalanan depan kantornya, jalanan terlihat ramai dan sedikit macet. Akhirnya Arlan memutuskan untuk meminjam sepeda motor milik security.


" Nanti ambil ke rumah sakit sama Dika ya Pak? Saya bawa motornya.." ucap Arlan saat security menyerahkan kunci motornya.


"Siap Bos..." jawab Pak Ahmad si security.


Tak menunggu lagi, Arlan melesat meninggalkan perusahaan. Dari kantor ke daerah boutique Fira lumayan memakan waktu, apalagi saat ini adalah jamnya pulang kerja. Arlan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, beruntung Arlan sampai di rumah sakit dengan selamat.


Setelah memakirkan motornya, Arlan berlari menuju ke ruang perawatan Fira. Mertuanya sudah mengirimi pesan kalau Fira sudah di pindahkan ke ruang perawatan.


Brak....


Arlan membuka pintu dengan kasar, kedua mertuanya sampai kaget. Kebetulan saat Arlan membuka pintu, Fira sadar dan membuka mata dengan perlahan.


" Sayang... Kamu kenapa?" tanya Arlan yang sudah berdiri di sisi Fira.

__ADS_1


" Mah haus..." ucap Fira pelan dan melirik ke Mamanya.


Karena gelas air minumnya dekat dengan Mama Mira, maka dengan cepat Mama memberikan minum Fira dengan sedotan.


" Mah... Pah... Apa kata dokter?" tanya Arlan menatap kedua mertuanya.


" Kata dokter, Fira darah rendah, kelelahan, kurang tidur dan sering telat makan." jawab sang Papa.


" Maafin aku sayang..." ucap Arlan, lalu memegang tangan Fira, akhir-akhir ini dirinya terlalu banyak bekerja. Karena sudah lelah di kantor, dirinya tak lagi menemani Fira jika si Adek mengajak bergadang.


Fira hanya diam saja, ia memejamkan matanya. Badannya terasa lemas, tadi ia sempat melirik ke jam dinding yang ada di kamarnya, ternyata sudah mau magrib. Lumayan cukup lama ia tak sadarkan diri.


" Mama sama Papa pulang dulu ya, udah ada suami kamu. Jangan pikirkan anak-anak, mereka aman dirumah bersama Sherin dan Sadam. Istirahat saja yang banyak, jangan pikirkan pekerjaan juga. Besok Mama kesini lagi Dek. " ucap Mama Mira sambil mengelus kepala anak bontotnya.


" Sus Rahma suruh ambil asi di rumah Mah, hari ini aku gak ada pumping." ucap Fira pelan, untungnya di saat adek Al tidak meminum asi langsung, Fira rajin pumping dan menyimpannya di freezer. Jadi saat seperti ini baby Al masih bisa minum asi.


" Iya tadi udah ambil... Adek kuat banget minum asinya. Yang dibawa tadi udah habis, jangan di pikirin si Adek. Nanti dia rewel, pokoknya sekarang sehat saja dulu." ujar Mama Mira lagi.


" Iya Mah... Titip anak-anak ya Mah, maaf kami merepotkan." ucap Arlan, sungguh dirinya tidak enak merepotkan mertuanya.


" Gak ngerepotin, Mama seneng kalau cucu-cucu kumpul semua. Udah ya Mama sama Papa pulang." timpal Mama Mira dan Papa Doni mencium kening Fira sebelum keluar kamar perawatan anaknya.


Suasana kamar menjadi hening saat kedua orang tua Fira sudah pulang. Antra Fira dan Arlan bingung mau memulai obrolan dari mana. Saat keduanya larut dalam pikiran masing-masing, pintu kamar di ketuk dan tak lama muncul orang seperti perawat membawa makan malam untuk Fira.


" Ini makan malam untuk Ibu Fira ya Pak.." ucap orang itu dan meletakan makanannya di nakas.


" Terima kasih..." ucap Arlan saat orang itu akan keluar kamar.


Baru akan bertanya pada Fira mau makan sekarang atau nanti, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini yang datang adalah perawat yang mengantarkan obat.

__ADS_1


" Pak... Ibunya makan dulu baru minum obat ya." ucap perawat itu dan langsung keluar lagi.


" Iya Sus... Terima kasih." ucap Arlan.


" Sayang ayo makan dulu terus minum obat." ujar Arlan pelan dan sudah bersiap menyuapi Fira.


Mau tak mau Fira menerima suapan dari Arlan dan Fira makan dengan pelan dan diam saja. Baru masuk tiga suap Fira sudah menutup mulutnya rapat-rapat. Perutnya terasa tak nyaman, jika di paksakan takutnya malah muntah dan yang tiga suap tadi terbuang sia-sia.


" Minum..." minta Fira, dan dengan cepat Arlan mengambilkan gelas air minumnya.


" Udah ini makannya?" tanya Arlan dan Fira hanya mengangguk.


Arlan menyimpan kembali tray makannya di nakas, selanjutnya ia memberikan obat ke Fira. Lagi-lagi tanpa bicara Fira meminum obatnya dan langsung merebahkan badannya.


" Maafin aku ya sayang... Cepat sembuh, jangan sakit-sakit lagi." ucap Arlan, ia menggenggam tangan Fira.


" Aku juga gak mau sakit gini, jadi jauh sama anak-anak." balas Fira dengan suara pelan.


" Jadi jauh sama aku gak apa-apa." tanya Arlan iseng, ia mencoba mencairkan suasana.


" Iya... Jauh dekat sama aja kok. Aku juga gak dapat perannya." jawab Fira dan membuat Arlan kaget hingga matanya melotot.


" Sayang... " panggil Arlan pelan, ia tak percaya Fira akan mengucapkan itu.


" Aku mau tidur, kalau mau pulang, pulang aja." ucap Fira, lalu setelah itu ia membalikkan badannya membelakangi Arlan.


Air mata tak di minta pun menetes dengan derasnyamembasahi bantal. Fira sudah di tahap lelah dengan Arlan, akhir-akhir ini suaminya itu terlalu giat dalam bekerja. Sampai-sampai waktu untuknya dan untuk anak-anak hampir tak ada. Maka dari itu tadi Fira bilang kalau tak mendapatkan peran Arlan sebagai suami dan ayah untuk anak-anaknya. Ternyata yang ucapan mertuanya itu benar, Mama mertuanya mengatakan kalau Arlan sudah gila kerja, maka Arlan fokus dan tak memperhatikan sekitar. Mama mertuanya pernah cerita, saking gilanya kerja Arlan melewatkan moment-moment penting Abi dan kedua orang tuanya.


Fira mencoba mengerti Arlan, dengan tak memaksakan untuk mengobrol karena Arlan pulang selalu larut dan sudah pasti lelah. Tak mengajak gantian kala si Adek mau bergadang, tapi semua itu malah membuat Arlan sadar dan malah tambah giat bekerja. Interaksi dengan anak-anaknya juga hanya pagi hari saat sarapan, beruntung anak-anaknya terutama Abi sudah hafal dengan kebiasaan Daddynya.

__ADS_1


Capek badan, capek hati, dan capek pikiran Fira hanya ia pendam sendiri. Orang yang di harapkan bisa jadi tempat berbagi tak sesuai harapan. Mungkin Fira juga ikut andil, Fira juga salah di sini. Bukan Fira tak mau menegur, Fira mau melihat seberapa peka Arlan. Tapi lagi-lagi Fira mendapatkan kalau Arlan memang tak peka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2