
Arlan sampai ke rumah sakit dan langsung menggendong Fira dan berteriak...
" Tolong... Siapa pun tolong... Istri saya mau melahirkan." teriak Arlan sambil menggendong Fira yang sedang kesakitan.
" Mari Pak baring kan istrinya di sini." ucap seorang laki-laki dan mirip perawat membawa bangkar.
Lantas dengan perlahan Arlan membaringkan Fira di bangkar. Setelah itu Fira di dorong ke ruang bersalin dan Arlan masih menggenggam tangan Fira. Ia tidak memperdulikan kakinya yang tanpa alaskaki, serta masih menggunakan pakaian kantornya.
" Maaf bapak tunggu dulu di sini, ibu Fira akan di periksa dulu sudah pembukaan berapa dan jika sudah waktunya melahirkan kami akan memanggil bapak." ucap salah satu suster.
Dengan berat hati Arlan mengangguk dan menunggu dengan cemas di depan ruangan itu. Saat Arlan sedang menunggu, Mama Ratih dan Papa Anton datang dengan tergopoh-gopoh.
" Kok kamu di luar? Bagaimana keadaan Fira?" cecar sang Mama saat sudah di dekat Arlan.
" Sedang di periksa.. Abi mana Mah?" jawab Arlan dan mencari keberadaan Abi.
" Di rumah, ini masih malam. Nanti pagi biar Mama jemput." ujar Mama Ratih dan duduk di samping Arlan, begitu juga dengan Papa Anton.
" Sudah lama Fira di periksanya?" tanya Mama lagi dan menatap pintu ruang bersalin itu.
" Ya lumayan lah.." belum selesai Arlan menyelesaikan kalimatnya, pintu itu terbuka dan muncul suster membawa sebuah dokumen.
" Maaf Pak, karena bayi anda jantungnya sudah lemah dan istri anda sudah lemas... Maka tidak bisa melahirkan secara normal karena terlalu beresiko. Tolong tanda tangani surat persetujuan untuk Section Caesarea(SC)." ucap suster itu.
Kaki Arlan lemas mendengarnya, beruntung ada Papa Anton menopangnya jadi ia tak merosot jatuh. Ingatannya kembali pada saat persalinan Bintang istri pertamanya yang juga beresiko dan berujung Bintang tak terselamatkan. Saat ini pikiran Arlan sudah kemana-mana, memikirkan jika Fira juga berakhir sama seperti Bintang.
" Cepat tanda tangan, kamu malah melamun." Mama Ratih menyadarkan Arlan yang hanya diam menatap kertas itu.
" Mah... "
" Sudah cepat, Fira dan Adek akan baik-baik saja." potong Mama Ratih cepat. Ia tahu jika Arlan sedang ketakutan memikirkan yang tidak-tidak.
Dengan bergetar Arlan menandatangani surat persetujuan itu, bahkan air matanya juga menetas membasahi kertas itu.
" Mari pak ikut saya kalau bapak mau menemani istrinya." ucap Suster itu lagi dan bersamaan dengan Fira yang di dorong keluar oleh beberapa suster serta dokter.
Mama dan Papa mendekat menggenggam tangan bergantian sebentar. Fira terlihat sudah menggunakan masker oksigen, menatap kedua mertuanya dengan mata berkaca-kaca seolah meminta do'a.
" Kuat ya sayang... Mama sama Papa tunggu di sini. Sebentar lagi Mama dan Papa kamu juga akan sampai." ucap Mama Ratih dan mengelus tangan sekilas karena bangkar Fira sudah berjalan.
Fira mengangguk sembari ia terus menjauh dari kedua mertuanya. Ia menatap Arlan yang juga ikut mendorong bangkar, terlihat mata Arlan memerah. Dengan sebisanya ia memberi tahu Arlan kalau ia akan baik-baik saja dan Arlan membalas mengangguk dengan senyum walaupun air mata juga menetes.
Operasi Fira sudah di mulai beberapa menit lalu, kini orang tua Fira juga sudah sampai. Kedua orang tua Arlan dan Fira duduk di kursi depan ruang operasi dengan do'a yang terus mereka panjatkan.
__ADS_1
Sudah terdengar suara tangis bayi tapi hanya sebentar saja. Itu sudah membuat sedikit lega karena bayi sudah keluar. Do'a mereka masih berlanjut, pasalnya mereka belum tahu kabar Fira bagaimana. Tak berapa lama pintu terbuka dan seorang suster mendorong troly berisi bayi tampan yang mungil..
" Sus.. Ini cucu saya? Dia baik-baik saja kan Sus? " tabyay Mama Mira, ia mencegat jalannya suster yang mendorong troly.
" Iya Bu... Ini bayi Ibu Fira dan bapak Arlan. Untuk sekarang keadaan cucu ibu baik-baik saja. Tapi nanti akan di periksa lebih lanjut. Maaf saya harus permisi, nanti kalau melihatnya bisa ke ruang bayi." jawab Suster itu lalu berjalan meninggalakan mereka.
Saat suster itu sudah tak kelihatan, mereka baru ingat kalau tadi lupa menanyakan keadaan Fira. Semua menghela nafas dan kembali duduk menunggu lagi.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka lagibdan kali ini Arlan yang keluar dan masih menggunakan baju medis...
" Bagaimana dengan Fira Lan?" Mama Mira langsung menodong pertanyaan ke Arlan.
" Fira baik Mah... Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke kamar perawatan." jawab Arlan.
Mama Mira langsung bernafas lega saat mendengar jawaban Arlan, beruntung ada Papa Doni di belakangnya menopang.
" Selamat Nak, benar kan Fira akan baik-baik saja." Mama Ratih memeluk Arlan dan mengusap punggungnya, Arlan juga membalas pelukan Mamanya dengan erat.
" Ini semua do'a tak lepas do'a dari Mama dan yang lain." ucap Arlan masih dalam dekapan Mamanya.
Setelah Mama sekarang gantian Papa Anton yang memeluk serta mengucapkan selamat untuk Arlan. Begitu juga dengan kedua mertuanya juga memeluknya.
Tak selang beberapa lama, pintu terbuka lagi dan sekarang bangkar Fira yang di dorong keluar. Fira sudah sadar tapi terlihat lemas akibat bius. Semua orang mendekat dan mengucapkan selamat secara bergantian. Tapi dijawab Fira hanya dengan matanya saja karena badannya terasa sangat lemas.
" Mommy..." seru Abi ketika melihat Fira dan minta ingin naik ke bangkar Fira.
" Nanti ya Boy, Mommy masih sakit." Arlan menahan Abi dan menggendongnya untuk mencium Fira sekilas.
" Adek mana Dad?" tanya Abi sambil menoleh sekeliling mencari adiknya.
" Ayo Nenek sama Kakek antar sayang..." ujar Mama Ratih.
" Dad, turunkan aku. Aku mau melihat Adek..." Abi berontak dari gendongan Arlan.
" Ayo Nek... antar ke tempat Adek." rengek Abi dan langsung menarik Neneknya.
Akhirnya Mama Ratih dan Papa Anton menggandeng Abi berjalan menuju ruang bayi. Sedangkan Mama Mira dan Papa Doni serta Arlan masuk ke kamar perawatan Fira.
" Pak biarkan Ibu Fira istirahat dulu ya... Kami permisi dulu, jika ada yang apa-apa bisa panggil kami." setelah mengucapkan itu perawat yang mengantar Fira tadi langsung keluar.
" Istirahat lah sayang, aku tidak kemana-mana. Panggil saja jika perlu apa-apa." ujar Arlan pada Fira dan diangguki Fira.
Arlan menutup tirai agar Fira tak terganggu istirahatnya..
__ADS_1
" Ganti baju dan makan dulu Lan, lihat laa penampilan mu itu. Kalau perlu sekalian mandi biar segar." suruh Mama Mira karena melihat Arlan yang terlihat kusut, kebetulan Mama Mira juga tadi membawa makanan.
" Iya Mah... " jawab Arlan dan langsung masuk ke kamar mandi membawa baju ganti.
Orang tua Fira sudah bisa bernafas lega, pasalnya setelah beri tahu besannya kalau Fira akan melahirkan dan harus Section Caesarea(SC). Itu membuatnya cemas, mulai dari rumah dan sepanjang jalan kedua orang tua itu tak berhenti berdoa. Tapi setelah mengetahui bayi dan Fira baik-baik saja, dada ini terasa plong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Annyeong chingudeul...
Jangan lupa Like & Komen ya..
__ADS_1
*Gamsahaeyo 🌹😘****