Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 118


__ADS_3

Sesampainya di ruangannya, Sella baru menangis. Di depan Devin tadi, ia sekuat tenaga menahan agar tak menangis dan tak luluh dengan Devin. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya, Sella merindukan Devin. Ini pertemuannya kembali dengan Devin setelah terakhir waktu di bali. Di hatinya masih ada nama Devin, tak akan mudah menghapus nama Devin. Semoga saja dengan kehadiran Jordan, bisa membantu menghapus nama dan rasa sayang untuk Devin dari hatinya.


Sella menangis sampai matanya bengkak dan hidungnya memerah. Nafasnya sudah terasa berat, ia memutuskan untuk menyudahi menangisi Devin. Sella sudah berjanji pada dirinya sendiri, ini terakhir kalinya menangisi Devin. Kalau sampai Jordan tahu, Sella merasa tak enak.


Selesai menangis, kepala Sella terasa berdenyut. Di pijitnya pelipisnya, kemudian ia menelfon Lani untuk membuatkan teh panas. Tak menunggu lama, Lani datang membawa teh panas.


" Kenapa Mbak? Sakit ya?" tanya Lani saat meletakan teh di meja.


" Kepala ku tiba-tiba sakit." jawab Sella, ia perlahan meminum tehnya.


" Mau aku antar ke dokter Mbak?" tawar Sella.


" Gak usah lah, bentar lagi juga sembuh. Kamu balik kerja aja." jawab Sella, kemudian ia membuka laptop.


" Jangan di paksa Mbak, istirahat aja dulu." ucap Lani saat sampai di ambang pintu.


" Iya Lani.." jawab Sella dengan senyum.


" Aku harus lapor ke Mas Jordan atau tidak ya? Akan aku lihat dulu Mbak Sella, apakah bertambah sakit atau tidak. Kalau bertambah sakit, aku akan melapor ke suaminya." ucap Lani dalam hati, lalu ia kembali bekerja.


Setelah menikah, Jordan pernah berpesan ke Lani untuk memberi tahu jika terjadi sesuatu pada Sella selama di boutique. Karena Jordan yakin jika Sella pasti enggan memberitahu dirinya. Jordan memberikan kartu namanya pada Lani, karyawan yang paling di percaya Fira dan Sella.


Tak berapa lama setelah Lani keluar, pintu ruangannya kembali terbuka. Sella mendongak dan ternyata yang datang adalah Fira berserta kedua anaknya dan pengasuhnya Abi.


" Hai Aunty... Sibuk banget kayaknya." ucap Fira mewakili anak-anaknya.


" Iya sibuk, soalnya Mommy kalian ini melimpahkan kerjaannya ke Aunty." balas Sella sambil menatap Fira sinis dan membuat Fira terbahak.


" Kakak duduk dulu di sana, Mommy mau taruh Adek ke boxnya biar enak boboknya." Fira menyuruh Abi duduk di sofa, sedang ia akan menidurkan baby Al di ranjang bosnya.


Karena baby Al sering ikut ke boutique, Arlan menaruh box bayi agar baby Al tidurnya nyaman. Saat ini ruangan kerja Fira dan Sella sudah seperti tempat bermain, ada playmat dan banyak mainan Abi yang di bawa dari rumah.

__ADS_1


" Kakak Abi gak sekolah?" tanya Sella dari mejanya.


" Udah pulang Aunty, hari ini hanya sebentar saja sekolahnya." jawab Abi, ia sambil memakan camilannya.


" Enak ya sekolahnya sebentar aja." ujar Sella dan membuat Abi meringis memamerkan giginya.


" Muka mu kenapa kayak gitu bentukkannya?" tanya Fira yang sudah berdiri di samping meja Sella.


" Ngantuk." jawab Sella singkat.


" Sus... Tolong ajak Abi keluar dulu. Pergi ke minimarket samping beli yang dia mau tapi jangan permen, kartu masih Sus pegang kan?" ujar Fira, sebab ia harus menginterogasi Sella.


" Iya Buk masih saya pegang... Ayo Mas kita jajan." jawab Sus Rahma, kartu yang di berikan Fira adalah kartu jika Abi minta beli jajan atau mainan dan perginya tidak bersama Fira atau Arlan. Meski kartu tapi isinya tidak terlalu banyak, tapi masih cukup untuk Abi.


" Boleh sama Mommy?" tanya Abi sambil melirik ke Fira.


" Boleh... Pergi sana sama Sus. Tapi jangan permen ya Kak?" ujar Fira menyela.


" Ya ampun gaya banget dia mau traktir. " ucap Sella setelah mendengar ucapan Abi yang akan mentraktir Susnya.


" Gak usah mengalihkan pembicaraan, cepat cerita. Itu muka kenapa kayak gitu? Ribut sama Jordan?" ujar Fira sambil berkacak pinggang.


Sella membuang nafasnya kasar, ia sangat heran dengan Fira. Fira bisa tau kalau di bohongi, seolah-olah Fira ini bisa membaca mukanya.


" Cepat... Malah melamun. Di jidat mu ada tulisannya kalau kamu gak ngantuk." ucap Fira lagi karena Sella masih diam.


" Iyaa... Tadi Devin kesini. Ketemu sama Jordan juga, dan sekarang dia tau kalau aku sudah menikah." ucap Sella menjawab.


" Terus? Jordan berantem gitu sama Devin?' tanya Fira penasaran.


" Gak sampai berantem, cuma saling teriak aja." jawab Sella.

__ADS_1


" Terus kamu nangisin apa? Tau aku kalau mata mu bengkak gara-gara nangis." todong Fira sambil memicingkan mata.


" Ketemu Devin, membuat hati ku kembali sakit Ra. Di samping rasa sakit penghianatan yang Devin berikan, aku juga merindukan dia. Bahkan namanya masih ada di hati ini, itu membuat ku semakin sakit. Dia sudah menyakitiku, aku membencinya tapi hati ini juga merindukannya." jawab Sella, kembali ia menangis.


" Iyaa aku paham, tidak mudah pasti melupakan Devin. 5 tahun bukan waktu yang sebentar, banyak kenangan manis kalian. Pelan-pelan saja, jangan terlalu terburu-buru. Kamu udah ngasih tau Devin, kalau kamu udah nikah sama Jordan. Jadi sekarang waktunya untuk menjalaninya hidup sama Jordan, belajar perlahan membuka hati untuk Jordan." ujar Fira, meskipun ia belum pernah pacaran, tapi ia paham. Melupakan orang yang memberikan banyak kenangan indah tidaklah mudah, terlebih untuk waktu yang tidak sebentar.


" Aku juga sudah memutuskan, ini terakhir kalinya aku menangisi Devin. Biarlah kenangan bersamanya hilang di telan waktu. Semoga saja aku segera sembuh..." ucap Sella yakin, ia menghapus air mata yang kembali menetes.


" Bagus itu... Sekarang perbanyak waktu bersama Jordan. Kata orang tua dulu, cinta akan tumbuh seiring kebersamaan." timpal Fira, sebisa mungkin ia akan mendukung apa pun yang membuat sahabatnya bahagia.


" Kok tumben boleh kesini sama Arlan?" tanya Sella mengalihkan pembicaraan. Semenjak tau kalau dirinya hamil, Fira jadi rajin ke boutique. Tapi karena datang bersama dengan krucil-kricilnya, Fira tidak sampai sore di boutique. Begitu juga dengan Sella, matahari masih terlihat ia sudah di jemput Jordan.


" Mas Arlan lagi keluar kota, jadi boleh deh. Lagian kan gak lama juga aku kerjanya." jawab Fira, ia sudah duduk di kursi meja kerjanya.


" Besok-besok kerja dari rumah aja kayak biasa. Aku kasihan sama baby Al kalau ikut kesini, lagian kenapa gak di titip sama Mama Ratih." ujar Sella, ia sambil mengoleskan minyak angin di pelipisnya. Sakit kepalanya kembali lagi.


" Mama Ratih, Mama Mira, Papa Doni sama Papa Anton lagi roadtrip ke Bali tau. Jadi di rumah cuma ada Bibi sama mbak yang lain. Kita cari orang aja... Nanti aku minta Lani buat lowongan pekerjaan." jawab Fira, kedua mertuanya dan kedua orang tuanya sedang pergi. Untungnya Arlan besok sudah pulang jadi tak terlalu kesepian.


Kemarin sempat ada anak magang di boutique, tapi sekarang anaknya sudah kembali berkuliah. Sempat di tawari untuk part-time di boutique di sela-sela kuliahnya, tapi anaknya belum minat.


" Enak banget roadtrip ke Bali, kita yang dari dulu punya rencana malah para orang tua yang ngelakuin. Sangat iri... " ucap Sella sambil bibirnya manyun.


" Kita kan emang banyak rencana aja, merealisasikannya gak terpikir." ujar Fira dan membuat Sella tertawa.


" Nah gitu cantik... Perbanyak tertawa dan bahagia lah." ucap Fira yang melihat Sella yang tertawa.


" Makasih bestie... Kita semua harus bahagia." ujar Sella, ia berdiri dan berjalan ke meja Fira dan memeluk sahabatnya itu.


Rejeki memang tak melulu tentang uang, memiliki sahabat yang selalu ada untuk kita, yang selalu mensupport dan yang tak pernah menjudge.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2