
Hari Senin pun menyapa, setelah kemarin Fai dan Aska menghabiskan waktunya seharian di kamar.Kini mereka kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.Aska sibuk dengan kerjaannya di kantor ,Fai pun sibuk dengan butiknya.Sore nanti Fai dan Aska berencana untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.Ingin mengecek sekaligus konsultasi untuk program hamil.
"Aku dengar kemarin ada yang di jemput nih waktu hujan-hujan."Fai menggoda Malika.
"Apa sih Fai,gak usah mulai deh."Pipi Malika merona.
"Ciieee..yang pipinya merah merona."Mencolek pipi Malika.
"Fai."Malika memukul bahu Fai.
"Cerita dong,masa gak mau cerita sama aku.Gitu ya sekarang,aku ngambek lah."
"Dih,ngambek kok ngomong.Tapi memang gak ada apa-apa Fai."Fai cemberut lalu meninggalkan Malika.
"Fai,tunggu kok ngambek beneran sih."Malika mengejar Fai,Fai tersenyum tipis.
"Apa?Kamu udah gak mau anggap aku sahabat kamu yaa sampai gak mau cerita sama aku.Ya sudah."Fai melanjutkan langkahnya.
"Iiihh..gak gitu."Menahan tangan Fai.
"Terus apa?"
"Ya sudah aku mau cerita,tapi nanti siang saja pas makan siang."
"Oke deal."Fai langsung terus jalan dan masuk ke ruangannya.
Jam makan siang pun tiba,Fai langsung menarik Malika agar mengikutinya.
"Fai mau kemana? itu belum selesai di bereskan."Malika melihat tumpukan baju yang masih berantakan.
"Biar yang lain yang bereskan."
"Mila,tolong lanjutkan pekerjaan Malika ya,saya ada perlu dengannya."Sambil terus menarik Fai keluar butik.
"Mau kemana sih Fai?"Tanya Malika sambil terus mengikuti langkah Fai.
"Mau makan siang lah aku lapar."
"Katanya kau ada perlu sama aku,emang ada perlu apa?"Beo Malika.
"Kamu lupa apa pura-pura lupa?Kamu sudah janji kan mau menceritakan kamu dengan Kak Roy."
"Astaga,aku kira apa Fai."Malika geleng-geleng Kepala.
"Sudah cepat kita cari rumah makan."Fai sudah duduk manis di motor Malika.
"Siap Boss,tapi traktir yaa."Malika nyengir.
"Iya gampang itu mah,udah buruan jalan."
Mereka pun sampai di rumah makan dengan tema prasmanan.Jadi orang-orang mengambil nasi beserta lauk-pauk nya sendiri setelah itu menyerahkan ke kasir untuk langsung di bayar.
"Lapar Boss,banyak banget makannya,tumben."Malika kaget melihat porsi makan Fai yang menggunung.
__ADS_1
"Lapar banget aku Lika."Sambil mulai menyantap makanannya.
Setelah makanan mereka habis,Fai pun langsung menanyakan kepada Malika.
"Terus gimana-gimana kamu sama Kak Roy?"Fai antusias.
"Ya gak gimana-gimana sih Fai.Aku juga bingung sama sikap dia ke aku selama ini."
"Bingung kenapa?"
"Ya bingung aja dia makin perhatian ke aku.Dia sering main ke rumah,bawa makanan buat aku dan keluargaku.Kita bahkan sering chatingan,kalau malam kita sering Video call an."Pipi Malika bersemu.
"Ciiiee,fix itu mah Kak Roy suka sama kamu."
"Tapi sampai sekarang dia gak pernah tuh nyatakan perasaannya ke aku."Malika Menunduk.
"Kamu sendiri gimana perasaannya sama Kak Roy?"Jiwa kepo Fai meronta-ronta.Malika menunduk malu.
"Aku tahu nih jawabannya,kamu sudah ada rasa suka ya sama Kak Roy."Agak lantang.
"Ssttt..Jangan kuat kuat Fai,malu tahu."Fai langsung menutup mulutnya lalu tertawa kecil.
"Tapi aku takut kejadian seperti dulu Fai saat bersama Andika.Saat kami sudah mulai menjalani hubungan dengan serius dan Andika mengenalkan aku pada keluarganya.Keluarganya justru menghina aku dan keluargaku Fai.Mereka berucap aku tak pantas dengan Andika dan hanya menginginkan harta Andika saja."Raut wajah Malika berubah menjadi sedih.Fai pun memegang tangan Malika memberinya kekuatan.
"Aku takut Fai,aku takut kejadian dulu terulang lagi.Itu rasanya sangat sakit.Mereka boleh menghina ku tapi jangan sampai mereka menghina keluargaku,aku tidak terima Fai. makanya sebisa mungkin aku membatasi dan membentengi diriku agar perasaan aku tak terlalu dalam.Aku sadar diri siapa aku dan juga Kak Roy."Fai mendekat ke arah Malika dan memeluk nya.
"Gak semua orang kaya memandang kita dari harta Lika.Buktinya aku,aku tetap jadi sahabat kamu kan?"
"Dih apaan sih kamu pake acara minder segala.Pokoknya kamu gak boleh merasa rendah diri.Merasa gak pantas sama siapapun termasuk kak Roy.Aku yakin sih kalau orang tua Kak Roy itu orangnya welcome banget."
"Emang kamu sudah bertemu dengan orangtuanya kak Roy?"
"Sudah sih baru sekali tapi,waktu acara pernikahan aku."Fai nyengir.
"Masa itu di jadikan patokan kalau mereka welcome."
"Pokoknya kamu gak usah pikirin yang negatif dulu deh,jalani saja dulu."
"Justru itu Fai,selagi aku belum terlalu dalam perasaan yang aku punya untuk Kak Roy, sepertinya aku mundur saja."
"Apaan pakai acara mundur segala,masa mengalah sebelum berperang.Gak boleh itu,Ayolah mana Malika yang aku kenal yang selalu berpikir positif dan pantang menyerah."Malika hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu.
Tapi ini tak semudah yang kamu lihat Fai...Batin Malika
...****************...
Sore hari, sesuai rencana pagi tadi setelah pulang kerja mereka ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan mereka.Selama perjalanan ke rumah sakit,Fai tampak gugup.Aska yang mengerti keadaan Fai langsung menggenggam tangan istrinya yang tampak dingin.
"Jangan di paksakan sayang,kalau kamu belum siap,kita bisa lain kali saja yaa."Sambil melirik Fai sekilas.
"Aku gak apa-apa mas,aku hanya sedikit gugup."Fai tersenyum di paksakan.
"Dokternya teman aku waktu SMA, orangnya ramah dan juga enak di ajak Cerita kamu pasti nanti nyaman sama dia."Aska menenangkan Fai.
__ADS_1
"Tapi kalau hasilnya aku..."
"Apapun hasilnya aku akan selalu ada di sisi kamu sayang,jangan mencemaskan yang belum tentu terjadi."Potong Aska cepat.
Mereka pun sampai di rumah sakit,Aska sudah lebih dulu menghubungi temannya itu.Tak butuh waktu lama,nama Fai pun di panggil.
"Faiza Az-Zahra,mari dokter sudah menunggu anda."Perawat memanggilnya sopan.
"Rileks saja sayang."Bisik Aska dan menggenggam tangan Fai lebih erat.
"Selamat sore Nona Faiza Az-Zahra,Aska apa kabar?"Sapa dokter Nadya ramah.
"Sore Bu dokter,kabarku baik."Aska tersenyum.
"Bagaimana,apa yang di keluhkan?"
"Begini Bu dokter, istri saya ini cemas karena sampai sekarang belum hamil juga."Aska yang menjawab, sedangkan Fai hanya terdiam.
"Sudah berapa lama kalian menikah?Karena aku tak mendapat kabar darimu kalau kamu menikah.Jahat sekali kau ini."Nadya pura-pura kesal.Aska tersenyum kecil
"Kami Baru empat bulan menikah nad,tapi kami baru sekitar dua bulanan melakukan hal itu."Ucap Aska tanpa malu.Nadya yang paham hanya tertawa dan menggeleng.Sementara Fai semakin menunduk karena malu mendengar ucapan suaminya itu.
"Belum lama,jadi wajar kalau belum hamil.Kalau begitu kita periksa dulu yuk.Sus tolong di bantu yaa."
Fai tidur di brankar,lalu Nadya mulai mengolesi gel ke perut Fai.
"Rahim nya bagus,bersih kok tak ada masalah,siap di buahi ini.Kapan terakhir menstruasi?"Tanya Nadya masih terus memutar alat USG.
"Sabtu kemarin baru selesai haid dok."Ucap Fai pelan.
"Waahh..Pas sekali ini lagi masa suburnya,jika di buahi kemungkinan untuk hamil sangat besar."Nadya menyudahi memeriksa perut Fai.
"Tak perlu ada yang di khawatirkan, semua nya sehat Faiza.Saya panggil apa nih ?"
"Fai saja dok."
"Oke,Fai tak perlu cemas,jika sudah waktunya hamil kamu pasti hamil.Jangan terlalu di pikirkan justru itu bisa membuat kamu menjadi stress dan itu tidak baik untuk Yang sedang program hamil."Fai mengangguk.
"Nanti saya akan resepkan vitamin ya untuk Nona Fai.Ingat jangan terlalu stress dan jangan terlalu di pikirkan."
"Baik dokter."Ucap Fai.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya Nadya.Makasih sudah mau menunggui kami."
Mereka pun keluar dari ruang dokter kandungan dan menuju apotek untuk menebus vitamin yang di resepkan oleh dokter Nadya.Setelah selesei menebus obat Fai dan Aska pulang ke rumah.
"Sekarang sudah lega kan,tak perlu ada yang di khawatirkan.Jadi mulai nanti malam Aku akan semakin semangat membuahi mu sayang.Mumpung lagi masa subur kan."Aska menaikturunkan alisnya.
"Itu mah akal bulus kamu saja mas."
"Lho kok akal bulus,kan Dokter Nadya sendiri yang bilang."
"Terserah kamu mas."Fai tak ingin berdebat lagi dengan suaminya,dirinya pasti kalah.
__ADS_1