
Pagi hari ini cuacanya sedikit mendung, dan hari ini tepat seminggu Jordan dan Sella membangun rumah tangga. Karena Sella dan Jordan tak mau tinggal di mansion, jadi Mami Irene dan Papi Renald memutuskan untuk ikut Karina pulang dulu ke Jerman. Alasan Sella dan Jordan adalah mansion yang terlalu jauh dari kantor dan boutique. Saat Sella akan melahirkan nanti, mereka akan kembali lagi ke indonesia. Selain tidak ada kegiatan, Karina dua bulan lagi akan melahirkan. Dan saat-saat hamil tua begini, Karina lebih membutuhkan Maminya.
" Sayang Mami pulang dulu tidak apa-apa kan? Kakak sebentar lagi melahirkan, jadi Mami di sana dulu ya..." ucap Mami Irene pada Sella yang saat ini ikut mengantar ke Bandara.
" Iya Mami tidak apa-apa,di sini banyak orang kok. Jadi tenang saja..." ujar Sella, sedikit pun ia tak keberatan.
" Sehat-sehat ya sayang... Terus kabari Mami perkembangan cucu Mami ya." ucap Mami dan langsung memeluk menantunya.
" Iya Mami.. Pasti. Mami dan semuanya di sana juga jaga kesehatan ya." balas Sella dan mendapat anggukan dari Mami Irene.
" Jordan... Sini cepat." panggil Mami Irene ke Jordan yang tengah mengobrol dengan kakak iparnya dan intonasinya langsung berubah jika berbicara dengan Jordan.
" Apa Mi?" tanya Jordan saat sudah berdiri di dekat Mami dan Sella.
" Jaga Sella dan cucu Mami baik-baik. Awas aja kamu bikin Sella stress, Mami disini punya mata-mata banyak. Jadi jangan macam-macam yang bisa bikin Sella stress." sang Mami memberi ultimatum ke Jordan.
" Ya pasti lah aku jagain mereka, gak mungkin juga aku mau mereka kenapa-kenapa." timpal Jordan langsung.
" Sudah sana masuk, pesawatnya udah mau terbang." Jordan malah mengusir semua keluarganya.
" Sella... Kakak pulang dulu ya. Kalau kandungannya sudah kuat, main ke Jerman ya... Ajak si bangor itu. Jaga kesehatannya ya Dek." ucap Karina berpamitan lalu memeluk Sella.
" Kakak dan semuanya sehat-sehat juga di sana ya. InsyaAllah nanti aku main kesana." jawab Sella dalam pelukan Karina.
" Papi pamit ya Nak... Yang akur kalian. Dan sehat selalu untuk kamu dan cucu Papi." gantian Papi Renald yang berpamitan dan memeluk Sella sebentar.
" Hati-hati Papi..." balas Sella.
" Dasar anak gak ada akhlak!" sewot Mami Irene melirik ke Jordan.
" Bye sayang..." ucap Mami Irene sambil melambaikan tangannya dan senyum mengembang.
Sella dan Jordan masih berdiri menatap orang tua dan kakaknya serta keponakannya, sampai mereka tak terlihat baru Sella dan Jordan meninggalkan bandara.
" Mau ke boutique?" tanya Jordan saat mereka sudah di dalam mobil.
" Iya aku ada janji temu dengan klien." jawab Sella menoleh sebentar ke Jordan.
" Oke...kabari aku jika mau pulang. " ucap Jordan lalu malajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Tidak usah, aku akan pulang dengan taksi saja." tolak Sella dengan halus.
" Kalau suami mau jemput, itu berarti pulang nunggu suami jemput. Jangan bantah..." ucap Jordan lagi dan membuat Sella mencibir tapi Jordan tidak tahu.
Tak ada obrolan lagi dari pasutri baru itu, Sella larut dalam lamunannya dan Jordan fokus menyetir..
" Ada yang pengen di beli gak? Kita bisa mampir sebelum ke boutique." tanya Jordan tiba-tiba memecah keheningan.
" Tidak ada... Langsung ke boutique saja. Lagian kamu kan harus ke kantor." jawab Sella menoleh ke Jordan dan cukup lama menatap Jordan.
" Apa dia akan sabar menungguku membuka hati untuknya, dia saja ganteng begini. Pasti gampang dapat cewek cantik." ucap Sella dalam hati.
" Suaminya ganteng ya, sampai di liatin kayak gitu suaminya." goda Jordan saat tahu Sella dari tadi menatapnya.
" Orang aku lihat pemandangan kok, bukan lihat kamu." elak Sella dengan gugup.
" Masa sih... Kayaknya mata kamu fokus me wajah ku deh." Jordan masih saja menggoda Sella.
__ADS_1
" Ya terserah sih kalau gak percaya." ucap Sella lalu membuang muka menatap ke jendela di sampingnya.
" Dasar gengsi." gumam Jordan pelan, tapi Sella masih bisa mendengarnya dan itu membuatnya malu.
Sella masih saja memalingkan wajahnya, dan lama-lama mata Sella terasa berat. Tak terasa mobil sudah sampai di boutique dan sudah terparkir dengan rapi. Sella masih belum bangun, ia tidur sudah seperti orang yang sangat kelelahan.
" Baby bangun... Baby... Kita sudah sampai di boutique." Jordan membangunkan Sella dengan lembut.
" Eemmm... Udah sampai ya. Maaf aku ketiduran." ucap Sella dan perlahan mengumpulkan nyawa.
" Kalau masih ngantuk tidur aja lagi, aku tungguin." ujar Jordan lalu membelai rambut Sella dan itu membuat mata Sella terbuka sempurna.
" Tidak... Aku sudah tidak mengantuk. Aku masuk dulu, hati-hati ke kantornya." ucap Sella dan ketika akan membuk pintu, lengannya di tahan Jordan.
" Salim dulu sama suaminya... " ujar Jordan sambil menyodorkan tangannya.
Beberapa detik Sella membatu, ia malu karena lagi-lagi Jordan memerankan seorang suami yang dengan telaten mengajari istrinya. Saat sudah tersadar, dengan cepat Sella menyalaminya.
" Aku turun... Hati-hati." ucap Sella cepat, dan saat pintu sudah terbuka setengah. Sella mengangkat sebuah mobil yang ia kenal baru saja parkir di depan boutique. Mobil itu adalah milik Devin mantan kekasihnya. Dan benar saja, pasalnya Devin baru saja keluar dari mobil dan memasuki boutique.
Jordan melihat Sella diam saja setelah melihat sebuah mobil terparkir tak jauh dari mobilnya. Dan pemilik mobil itu adalah mantan pacar Sella. Akhirnya Jordan memutuskan untuk mengantarkan Sella sampai ke dalam. Takutnya jika nanti Sella dan Devin bertengkar, akan membuat Sella stress dan membuat bayinya tidak nyaman.
" Kenapa malah malamun? Gak jadi mau kerja?" tanya Jordan tiba-tiba membuat Sella kaget karena Jordan sudah berdiri di depannya.
" Kok malah turun?" Sella malah balik bertanya dan turun dari mobil, tak lupa menutup pintu.
" Iya.. Aku mau ngantar kamu sampai dalam. Ayo... Katanya mau ketemu klien." Jordan menggenggam tangan Sella lalu berjalan ke boutique.
" Tunggu... Apa dia lihat Devin juga? Bagaimana ini?" ucap Sella dalam hati cemas.
" Sayang kamu sama dia? Ini kenapa kamu gandengan sama dia?"tanya Devin, ia sudah mendekat ke Sella dan Jordan.
" Mau apa lagi Dev? Kita udah putus, jadi jangan datang lagi kesini." Sella tak mau menatap Devin.
" Sayang... " ucapan Devin terputus.
" Stop panggil aku sayang, kita udah putus 3bulan yang lalu Dev. Jadi jangan bersikap kita masih baik-baik saja." ujar Sella menyela ucapan Devin.
" Aku minta maaf... Ayo kita mulai lagi dari awal, kamu mau kita menikah? Ayo kita menikah... " ucap Devin memelas.
Jordan seketika kaget, ia menoleh saat Devin mengajak Sella memulai dari awal dan mengajak Sella menikah..
" Aku gak bisa Dev... dan aku juga gak mau." jawab Sella masih tak mau menatap Devin.
" Kenapa? Apa aku tidak bisa mendapat kesempatan kedua?" Devin masih saja berusaha membujuk Sella.
" Tidak ada kesempatan kedua untuk pengkhianatan Dev." tolak Sella lagi.
" Maaf... Tolong maafin aku." ucap Devin, kali ini matanya sudah berkaca-kaca.
" Aku sudah memaafkan mu, tapi aku tidak lupa. Perbuatanmu kemarin membuatku trauma, aku jadi punya ketakutan akan penghianatan. Jadi mari kita cari bahagia masing-masing Dev. Kalau kita tidak sengaja ketemu, tolong jangan sapa aku. Anggap kita tidak pernah saling mengenal. Silahkan kamu pergi dan jangan datang lagi kesini." setelah mengucapakan itu Sella berjalan ke ruangannya.
Tapi dengan cepat Devin menahan lengan Sella, Devin belum terima dengan keputusan Sella...
" Pleaseee sayang...kasih aku kesempatan." ucap Devin lagi, kali ini air matanya sudah jatuh.
" STOP PANGGIL ISTRIKU SAYANG!!" teriak Jordan karena sudah geram dengan Devin.
__ADS_1
" Siapa yang kau panggil istri? Jangan ikut campur!" ucap Devin sambil menunjuk muka Jordan.
" Aku istrinya Dev... Aku sudah menikah dengan dia. Jadi stop... Kita sudah selesai." Sella yang menjawab pertanyaan Devin dengan santai.
" Berangkat lah ke kantor, kamu udah telat. Aku gak apa-apa, nanti aku kabarin saat pulang. Aku naik ya.." ucap Sella ke Jordan, kemudian ia berbalik dan baru akan berjalan, lengannya di tahan. Dan saat menoleh, ia melihat Jordan yang menahannya.
" Salim dulu sama suami... " ucap Jordan sambil menyodorkan tangannya lagi.
" Kan tadi udah.." protes Sella, ia tebak Jordan sengaja karena masih ada Devin.
" Ya gak salah juga kan kalau salim lagi... Ayo sayang, aku udah telat." jawab Jordan dan sengaja memanggil sayang ke Sella. Benar saja, itu membuat Devin yang tengah tertunduk langsung mengangkat kepalanya.
Sella menuruti kemauan Jordan lagi, saat ia mengalami Jordan, suaminya itu mencium keningnya lama. Dan yang Sella rasakan kalau itu tulus...
" Aku pergi... Jangan telat makan dan minum vitamin. Nanti aku suruh Figo kirim makanan kesini, sayang Papa kerja dulu ya, jangan nakal sama Mama ya... " ujar Jordan dan tak lupa berpamitan dengan anaknya dengan mengelus perut Sella.
" Aku yang akan membahagiakannya sekarang... Makasih sudah menyia-nyiakan dia." ucap Jordan sambil menepuk pundak Devin lalu berlalu keluar boutique.
Devin menatap punggung Jordan, kemudian matanya mencari Sella tapi sudah tak ada. Belum selesai keterkejutannya bahwa Sella sudah menikah, barusan kembali ia mengetahui jika Sella tengah mengandung. Dan terlihat Jordan sangat menyayangi Sella. Yang jadi pertanyaan adalah kapan Sella menikah...
Devin akhirnya keluar dari boutique dengan wajah kacau, sesampainya di mobil ia kembali menangis meraung-raung. Devin juga sampai memukuli setir mobil. Sudah tak ada harapan ia kembali pada Sella, andai saja ia mengiyakan Sella untuk menikah waktu itu. Mungkin saat ini lah yang menjadi suami Sella dan ayah dari anak yang di kandung Sella. Tapi semua sudah terlambat, penyesalan saja yang Devin dapat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Annyeong chingudeul...
Jangan lupa Like & Komen ya..
*Gamsahaeyo **🌹*
__ADS_1