Di Jodohkan Dengan Duda

Di Jodohkan Dengan Duda
Part 81


__ADS_3

Matahari telah terbit dan cuaca hari ini cerah. Fira tidur dengan nyenyak, sepanjang malam ia memeluk Abi tanpa melepaskan sekalipun.


Dengan perlahan mata Fira terbuka, ia menatap Abi yang masih tidur dengan nyenyak membelakanginya. Begitu pun dengan sang suami yang sangat nyenyak, bahkan dengkuran pun terdengar.


Mencium sekilas pilipis Abi, Fira bangun dan beranjak dengan perlahan. Ia tak mau membangunkan dua orang yang masih terlelap. Segera ia berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Pagi ini perutnya hanya mual, sudah siap membungkuk di closet tapi tak ada yang keluar dari perutnya. Kehamilannya sudah memasuki bulan ke empat, mungkin karena sudah masuk ke trimester kedua ia sudah tak memuntahkan isi perutnya di pagi hari.


Setelah selesai mandi, Fira bersiap. Bahkan pagi ini ia juga menggunakan make-up tipis tapi membuat Fira sedikit segar. Biasanya di hari sebelumnya, jangan kan memakai make-up, untuk mandi saja ia sudah lemas duluan. Tak lupa ia juga menyiapkan baju kerja untuk Arlan, meskipun Fira masih dongkol terhadap suaminya ia tetap melakukan kewajibannya.


Berjalan mendekat ke ranjang, suami dan anaknya belum juga bangun. Geleng-geleng saja Fira melihatnya.


" Kakak Abi... bangun yuk, udah siang. Kakak Abi... Ayo bangun." Fira membangunkan Abi perlahan, ia juga mengelus punggung Abi.


Mendengar suara Mommynya, Abi perlahan mengerjapkan matanya. " Pagi Mom... " ucap Abi dengan suara sedikit serak.


" Pagi juga sayangnya Mommy. Ayo bangun dan segera mandi. Nanti kita terlambat kesekolahnya. Bangunkan itu Daddy.." Fira menyuruh Abi membangunkan Arlan yang masih mengorok, ia pergi mengambil tasnya dan laptopnya.


" Dad... Dad...Bangun, sudah siang." Abi menggoyang-goyang tubuh Daddynya.


" Jangan berisik Boy, Daddy masih ngantuk." ucap Arlan tapi matanya masih terpejam.


" Ya sudah kalau tidak mau bangun, kesiangan nanti berangkat ke kantornya terlambat." balas Abi dan beranjak dari kasur meninggalkan Arlan. Ia pergi ke kamarnya bersama dengan sang Mommy.


Kamar terasa sunyi, biasanya Fira istrinya yang membangunkannya. Tapi kali ini, anaknya yang membangunkannya. Perlahan membuka mata, kamarnya sudah sepi. Hanya ada dirinya tinggal sendiri. Ia pikir Fira ada di walk in closet, tapi saat sudah berada di walk in closet ia tak menemukan istrinya di sana.


Terlihat di pintu lemari, baju kerjanya sudah di siapkan beserta dasi dan jasnya. Melihat itu, senyum Arlan mengembang, istrinya masih menyiapkan keperluannya.


Fira dan Abi sudah rapi, keduanya turun bergandengan. Diikuti dengan Susnya Abi di belakang membawa tas sekolah Abi dan laptop yang Fira titipkan untuk ditaruh di mobil. Tadi saat Fira membantu Abi bersiap, ia sudah menyuruh Susternya Abi untuk sarapan. Dan sekarang ia menunggu di mobil. Fira sekarang juga sudah menggunakan supir semenjak hamil.


" Selamat pagi Nenek... mana Kakek? Kenapa tidak ada?" ujar Abi saat sampai di dekat meja makan.


" Pagi Mah... Kakak duduk dulu, Mommy mau bantu Nenek dulu." Fira meletakkan tas di kursi dekat Abi, ia berniat membantu Mama mertuanya yang masih sibuk mondar-mandir membawa makanan untuk sarapan.


" Kakek sudah pergi sayang Nenek. Kakek pergi golf dengan teman-temannya." Mama Ratih menjawab Abi yang menanyakan Kakeknya.


" Kok udah rapi sayang... Udah kamu duduk aja, ini yang terakhir Mama bawa. Arlan mana?" Mama Ratih tak mengijinkan Fira membantunya. Mama Ratih juga menanyakan keberadaan Arlan.


" Kenapa golfnya pagi-pagi sekali Mah? Kenapa juga Mama tidak ikut Papa?" tanya Fira, ia menurut pada Mama mertuanya untuk duduk saja.


" Daddy tadi sudah dibangunkan Nek, tapi masih ngantuk katanya. Jadi Abi dan Mommy tinggal saja." Abi yang menjawab pertanyaan Neneknya.


" Fira mau mengantar Abi Ma, sekalian nanti mau ngedate sama Abi pulang sekolah. " gantian Fira yang menjawab pertanyaan perihal ia sudah rapi.


" Sereal atau roti sayang? " tanyanya apa Abi.


" Sereal aja Mom. " jawab Abi cepat.


" Mama males ikut Papa golf kalau perginya pagi-pagi. Siang atau sore juga males sih...hihihi. Intinya Mama gak tertarik lah. " ujar Mama Ratih mulai mengisi piringnya.


" Wah cucu Nenek mau ngedate sama Mommynya. Nenek boleh ikut gak ya? " Mama Ratih duduk di sebrang Abi dan menggoda Abi.


" Boleh dong Nek.. iya kan Mommy? " ujar Abi dan langsung menatap Fira.

__ADS_1


" Iya sayang... Kita ngedate bertiga dengan Nenek. " jawab Fira dengan senyum.


" Kalau Daddy boleh ikut Boy? " tanya Arlan tiba-tiba. Ia sudah rapi tapi belum mengenakan dasinya.


" Sayang boleh tolong pasangkan dasinya. " berdiri di samping Fira dengan muka yang di buat memelas.


Tanpa menjawab, Fira berdiri lalu meraih dasi yang di lengan Arlan. " Menunduk..." perintah Fira dan Arlan langsung menurut. Arlan menatap Fira yang dengan muka serius memasangkan dasinya dengan intens. Istrinya ini belum mau berbicara dengannya.


" Sudah." ucap Fira singkat tanpa ekspresi.


" Tidak boleh... Daddy kerja aja. Mommy dan Nenek biar Abi yang jagain." jawabnya langsung menolak.


" Nenek hanya bercanda sayang, pergi hati-hati dengan Mommy. Jagain Mommynya ya.. " ujar Mama Ratih, tadi hanya bercanda.


" Yaaaa kenapa tidak jadi ikut Nek? " tanya Abi sambil mengunyah serealnya.


" Nanti Kakek nyariin kalau pas Kakek pulang, Nenek tidak ada." jawab sang Nenek.


" Daddy saja yang ikut ya Boy?" kembali Arlan mecoba menggoda Abi. Dari tadi ia tak di ajak ngobrol oleh Fira, Abi ataupun Mamanya. Ia juga mengambil sendiri sarapannya.


" Big no... Daddy kerja aja, cari uang yang banyak biar Abi dan Mommy bisa belanja-belanja." tolak Abi langsung.


" Sudah cepat Kakak, nanti jalannya keburu macet terus Kakak nanti telat kesekolahnya. " ujar Fira menyudahi.


" Iya Mom... " jawab Abi, ia langsung menghabiskan sisa segala di mangkuknya.


" Pintarnya cucu Nenek. " Mama Ratih sangat senang melihat Abi tidak membantah Fira, tapi jika dengan Daddynya pasti tidak secepat itu.


" Tunggu... Sama Daddy aja perginya. " tahan Arlan, ia sampai buru-buru mengunyah makanannya dan mendorongnya dengan air minum.


" Tidak usah... Ayo Kak. Mah kami berangkat.. " tolak Fira langsung dan kembali berpamitan pada Mama mertuanya. Dengan menggandeng Abi, Fira meninggalkan Arlan yang hanya bengong.


" Hati-hati sayang... " teriak Mama Ratih.


Arlan kembali duduk dengan lesu, istrinya belum mau dekat-dekat dengannya. Jangan dekat, untuk ngobrol saja istrinya enggan.


" Kalian kenapa? Kalau mau jawab gak kenapa-kenapa, Mama gak akan percaya. Jadi cepat ceritakan." ucap selidik Mama Ratih.


" Aku gak sengaja bentak Fira kemarin Mah." Arlan akhirnya memberi tahu Mamanya kenapa Fira mendiamkan.


" APAA..." teriak Mama Ratih setelah ia menyemburkan teh yang sedang di minum.


" Mama gimana sih, baju ku jadi basah." protes Arlan karena terkena semburan teh sang Mama.


" Kamu juga kenapa membentak menantu kesayangan Mama yang sedang hamil itu." ucap sang Mama menggebu-gebu.


" Gak sengaja Mah... Aku udah minta maaf karena pergi nganter Abi gak pamit. Aku udah minta maaf karena waktu Fira tidur aku tinggal tidur ke ruang kerja tapi Fira terus marah dan mendiamkan aku. Kebetulan ada sedikit masalah di kantor kemarin, di tambah Fira yang begitu jadi aku kelepasan Mah." Arlan menjelaskan.


Kemarin saat menghubungi Dika, sang asisten sekaligus sekertaris memberi tahu kalau ada kecelakaan di proyek yang sedang di kerjakan. Di tambah dengan ada laporan yang tidak sesuai.


Saat ia bermaksud hati ingin meminta ijin ke Fira untuk kekantor, malah berakhir dengan bertengkar dengan Fira dan Fira meninggalkannya pergi. Selain ingin memberi ruang untuk istrinya, akhirnya ia kembali ke ruang kerjanya. Arlan memutuskan bekerja dari rumah, ia takut kalau Fira pulang ia tak di rumah lagi dan membuat Fira semakin mendiamkannya.

__ADS_1


Sang Mama menghela nafas mendengar ucapan Arlan. " Harusnya kamu lebih sabar lagi, kamu harusnya ingat kalau istri mu itu sedang hamil. Kamu gak tau apa saja yang Fira rasakan selama hamil ini, harusnya kamu senang saat Fira mau dekat-dekat dengan kamu. Ada ibu hamil yang tak mau sama sekali dekat dengan suaminya, jangankan dekat... mencium bau badannya ada yang sudah mual. Mama juga yakin kalau tidak sedang hamil Fira tak akan meminta kamu untuk gak kerja, dulu sebelum hamil jika ingin dekat dengan mu ia tinggal ikut kemana kamu pergi. Mau pergi ke kantor atau keluar kota. Tapi saat ini berbeda Lan... Itu bawaan hamilnya. " Mama Ratih menasehati sang putra dengan pelan.


" Beri dia waktu, nanti Mama bantu untuk bujuk Fira untuk tidak lagi mendiamkan mu. " ucap Mama Ratih lagi.


" Tapi semalam Fira udah minta Abi untuk menemani Fira kemana-kemana." ujar Arlan lesu.


Kembali sang Mama menghela nafas kasar. "Begitu juga bagus, memang hanya Abi yang tidak pernah mengecewakan Fira. Kamu lebih sering membuatnya menangis, bahkan Mama juga pernah membuatnya menangis. Sudah lah sana berangkat kerja." Mama Ratih beranjak meninggalkan meja makan dan meninggalkan Arlan yang terdiam karena ucapan Mamanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Annyeong chingudeul...


Jangan lupa Like & Komen ya..

__ADS_1


*Gamsahaeyo 🌹😘****


__ADS_2